Konten dari Pengguna

Kucing dan Cara Kerja Semesta

Minhajuddin
Karyawan Unisa Bandung - Peneliti pada Kajian Strategis Hubungan Internasional (KSHI).
7 Juli 2025 18:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kucing dan Cara Kerja Semesta
Seringkali kita mendengar cerita ada orang yang dirawat bertahun-tahun di rumah sakit tetapi tidak menemukan ajalnya, bahkan orang yang menjaganya lebih dulu meninggal
Minhajuddin
Tulisan dari Minhajuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang bocil sedang memandangi kucing di taman. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Seorang bocil sedang memandangi kucing di taman. Photo: Dokumentasi Pribadi
Dua bulan lalu, kucing liar yang mondok di rumah kami, melahirkan enam anak. Tiga telon dan tiga oyen. Kucing memang binatang yang cukup produktif karena bisa melahirkan banyak anak dalam sekali persalinan. Inilah yang membuat komunitas kucing ada di mana-mana.
Saya tidak pernah terlalu peduli dengan kucing-kucing yang sering datang ke rumah kami karena saya bukan pencinta kucing, pun saya juga tidak terlalu benci-benci amat sama kucing. Hanya saja saya sesekali terganggu jika mereka sering buang hajat di sembarang tempat.
Anak saya memberikan nama unik bagi kucing yang mondok di rumah kami; One eye karena buta satu. Sumbul, kalau ini saya tidak tahu apa alasannya. Mumu, dan beberapa nama yang rada asing di telinga saya sebagai orang yang bukan cat lover.
Saat lahiran, kondisi keenam anaknya sangat berbeda. Tiga oyen terlihat segar bugar sementara tiga telon nampaknya hanya menghitung waktu saja untuk bernafas bahkan salah satu dari telon buta satu.
Sekian hari berlalu, benar saja salah satu dari telon berpulang duluan karena memang kondisi yang cukup parah. Saya memperkirakan bahwa dua telon yang lain pun segera menyusul.
Tebakan saya keliru. Sekira sebulan lamanya, dua oyen yang sebelumnya segar bugar, mati dengan penyebab yang berbeda. Ada yang ditabrak motor sementara yang satunya sakit. Pemandangan lain yang tak kalah menarik bahwa telon kini tumbuh sehat bahkan yang buta satu pun sudah segar bugar.
***
Demikianlah kehidupan memberikan kita pelajaran bahwa cara kerja semesta tidak bisa dirasionalisasi dengan akal manusia. Seringkali kita mendengar cerita ada orang yang dirawat bertahun-tahun di rumah sakit tetapi tidak menemui ajalnya, bahkan orang yang menjaganya lebih dulu meninggal. Ada orang yang sepanjang hidupnya sakit-sakitan tetapi berumur panjang namun ada yang rajin olahraga, sehat bugar namun umur pendek.
Fenomena semacam itu sebetulnya merupakan pelajaran bagi setiap manusia yang berfikir bahwa ada Power di luar kuasa manusia. Makanya saya selalu heran - meskipun tetap menghormati pilihannya - kepada orang-orang yang memilih untuk tidak percaya akan eksistensi Tuhan karena mereka tidak mampu memastikannya secara empirik, padahal semesta ini memberikan kita begitu banyak kisah yang tidak bisa diindrawi, tidak kausalitas, maupun tidak bisa dikuantifikasi.
Jika demikian halnya, maka seharusnya memang ada kekuatan Maha Besar di luar kemampuan manusia, dan saya meyakini itu kekuatan Tuhan.
Atau misalnya ketika manusia sedang mengalami kegagalan. Respons mereka atas kegagalan diartikulasikan secara berbeda, ada yang menganggap bahwa mereka harus menerima kegagalan karena sudah takdir dan ada yang seakan ingin menyalahkan Tuhan. Artinya bahwa dalam dua respons yang berbeda, entitas Tuhan tetap ada di kedua respons meskipun berbeda.
Jadi secara naluriah, manusia meyakini bahwa ada Dzat di luar dirinya yang menentukan cara kerja hidup ini. Orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan mungkin sedang berusaha mengartikulasikan eksistensi Tuhan dari cara dan perspektif yang berbeda.
Jika kita tidak bisa menentukan kematian kita secara pasti berarti ada yang menentukannya. Kecuali jika bunuh diri karena bukan kematian alami.
Analoginya seperti ini, ada dua orang yang melakukan usaha yang sama untuk menjaga kesehatan. Makan makanan yang persis sama dan olahraga yang sama, namun apakah keduanya mampu memastikan bahwa mereka akan panjang umur dan meninggal dalam umur yang sama? tentu saja tidak. Artinya bahwa ada usaha manusia yang tidak kausalitas.
Jika sebagai manusia, kita masih sering merasa kecewa, sedih, bahagia, dan perasaan lain yang muncul secara manusiawi berarti ada kuasa di luar kita. Meskipun mereka yang mengingkari Tuhan meyakini bahwa perasaan-perasaan seperti itu bisa dijelaskan secara sains.
Namun demikianlah, jika kita ingin sedikit menundukkan kepala maka kita akan menemukan diri kita yang sejatinya, bukan diri yang merasa serba bisa dalam semua hal.
Trending Now