Konten dari Pengguna
Pria yang Kembali Terpuruk
26 Juni 2025 11:33 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Pria yang Kembali Terpuruk
Dia merasa kalah berkali-kali dan ingin mundur dari medan peperangan tetapi bagaimanapun, pria itu punya tanggung jawab yang harus ditunaikan.Minhajuddin
Tulisan dari Minhajuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pria itu, dengan dada yang sesak atas gundah yang membuncah, tertunduk lesu keluar dari sebuah ruangan. Wajah sayu dengan perasaan berkecamuk setelah menyadari apa yang baru saja dia alami. Pria itu menangis sejadi-jadinya di dalam dirinya meski tak terlihat. Tidak ada air mata namun yang tersisa hanya sesak di dada.
Sekali lagi, pria itu terpuruk dalam hari yang kelam. Semua angan-angan yang selama ini diimpikan, tiba-tiba terkubur oleh satu menit suasana yang tak terdamaikan. Menangislah, tapi dalam diam, hati yang entah kemana lagi akan diarahkan.
Dia merasa kalah berkali-kali dan ingin mundur dari medan peperangan tetapi bagaimanapun, pria itu punya tanggung jawab yang harus ditunaikan. Sebuah pergumulan moral yang setiap hari membuatnya harus tertatih dalam melangkah. Antara melepaskan tetapi dihantam rasa bersalah atau tetap bergerak namun rapuh.
Dia bangkit sekuat tenaga agar tetap bertahan berjalan karena dia masih menyimpan sisa-sisa asa yang mungkin saja masih terang di depan. Sebagaimana manusia, dia ampun berkali-kali atas keterpurukan yang selalu datang menghantam setiap kali dia sedang menanjak.
Manusia seringkali mampu bertahan untuk hal-hal yang sifatnya fisik tetapi ketika ego yang dihantam, maka perjuangan memulihkan diri adalah perjuangan sepanjang hari. Luka tidak terlihat namun perih tak dapat ditanggung.
Pria itu, sudah seharusnya menemukan dirinya yang sejati, namun yang ada hanya hampa. Perasaan kosong yang tak dapat dia maknai selama empat puluh tahun hidup.
***
Suatu waktu di sebuah forum diskusi yang rutin diadakan setiap bulan di Cikini, seorang vokalis yang juga penggiat kegiatan tersebut menjelaskan tentang kata Insya Allah. Dia mengelaborasi bahwa rentang Insya Allah itu adalah rentang keraguan. Meskipun kita sudah yakin bahwa semua akan berjalan dengan baik karena sudah dipersiapkan secara matang namun kita tidak boleh melupakan Insya Allah.
Seringkali ketika kita sudah sangat yakin akan rencana kita dan percaya 100 persen terhadap kemampuan diri, tiba-tiba saja semua berantakan diporak-porandakan oleh semesta. Itu pola yang terjadi bahkan di hampir setiap episode kehidupan kita.
Pada titik inilah, manusia seharusnya meyakini bahwa ada Divine yang menggenggam kehidupan ini karena manusia tidak benar-benar memiliki kehendak bebas. Jika seandainya manusia benar-benar berdaulat atas dirinya dalam semua hal, maka seharusnya semua rencananya tidak batas atas hal di luar dirinya. Namun yang seringkali terjadi bahwa ada saja hal yang mengacaukan rencana manusia yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya dari masa asalnya.
Atau pada banyak hal di mana manusia mengalami sesuatu yang di luar kondisinya. Kenapa seseorang menderita penyakit parah sementara dia sepanjang hidupnya menjaga kesehatan, sementara begitu banyak manusia yang hidupnya sehat sampai tua padahal dia tidak peduli pada kesehatan.
Kenapa ada manusia sukses dan gagal sementara mereka melakukan usaha yang sama bahkan yang gagal seringkali lebih keras usahanya. Maka hidup bukan kausalitas dan tidak bisa dikuantifikasi. Ada Dzat di luar kuasa manusia yang menentukan hasil akhir dari semua aksi manusia.
Itu juga yang mungkin dialami oleh pria tadi. Dia terlalu yakin atas kemampuan dirinya kemudian dihancurleburkan oleh suasana yang tidak bisa dia kendalikan, bahkan sehancur-hancurnya.
Dia tidak punya lagi sisa wajah yang bisa ditutupi karena semua terkuak dengan terang benderang.
***
Keterpurukan adalah sesuatu yang lumrah dalam hidup manusia. Selalu ada jalan berikutnya untuk menambal bekas perih yang tercoreng meski tidak bisa dihilangkan. Noda-noda masa lalu merupakan pembelajaran untuk lebih kuat lagi dalam menjejak setiap fase kehidupan yang akan dijalani.
Salah satu cara untuk meneguhkan hati ketika sedang terpuruk adalah membayangkan bahwa apa yang sedang dialami sama sekali belum ada sepersekian keperihan yang dialami olah bangsa Palestina. Setiap hari mereka dalam penjara kehidupan yang tak pernah terpikirkan kapan berakhir.
Mereka dikelilingi oleh sesama bangsa Muslim tetapi tidak ada satupun yang benar-benar memberikan bantuan untuk lepas dari neraka dunia. Hanya sebatas mengumpat yang akhirnya menguap begitu saja.
Keterpurukan akan menjadi sangat berharga ketika dijadikan sebagai sebuah pembelajaran bagi perjalanan berikutnya karena sejatinya, hidup adalah proses belajar sampai akhir. Setiap titik persinggahan yang dijumpai menyimpan hikmah yang sudah semestinya dipungut oleh manusia.
Pada titik tertentu, manusia akhirnya akan bergumam, oh, ini toh maksud dari setiap kejadian yang saya alami selama ini.

