Konten dari Pengguna

Citra, Simbol, dan Stereotip: Media dalam Membentuk Representasi Budaya

Mirza Azkia Muhammad Adiba
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
24 September 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Citra, Simbol, dan Stereotip: Media dalam Membentuk Representasi Budaya
Media bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara kita melihat budaya, identitas, dan kelompok sosial. Dari simbol budaya yang dipopulerkan televisi hingga stereotip yang berulang.
Mirza Azkia Muhammad Adiba
Tulisan dari Mirza Azkia Muhammad Adiba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Gambar: Chat GpT AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Chat GpT AI
Media memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari kita, terutama dalam membentuk cara kita melihat dan memahami budaya. Di era globalisasi seperti sekarang, media tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi tempat di mana nilai-nilai dan tradisi budaya dipertahankan dan diwariskan. Media seperti televisi, film, dan media sosial memungkinkan berbagai simbol budaya untuk dikenal dan diterima oleh banyak orang.
Simbol budaya muncul di media menjadi cara efektif dalam menyampaikan isi pesan. Sebagai contoh pakaian tradisional, Bahasa atau musik yang sering kali diperdengarkan di media massa, baik televisi, radio atau platform streaming. Simbol ini akan lebih mudah dikenali dan dibanggakan oleh masyarakat karena bagian dari budaya sendiri.
Akan tetapi tidak serta merta segala hal yang disampaikan media itu selalu akurat, media terkadang melakukan cara dengan pola stereotip untuk mempermudah pemahaman, dan itu berpotensi untuk menimbulkan kesalahpahaman hingga pandangan tertentu dalam kelompok masyarakat. Pandangan ini dapat memperkuat stigma yang tidak baik dan membuat pandangan khalayak menjadi terbatas tentang keberagaman sosial.
Melihat situasi tersebut, sangat penting bagi khalayak untuk kritis ketika menerima informasi dari media. Melalui tahap ini, khalayak dapat bijaksana dalam menerima dan memahami bagaimana media dapat membentuk identitas budaya dan memperlakukan berbagai keberagaman. Media harus menjadi perantara yang kuat untuk membangun masyarakat inklusif dan saling menghargai jika digunakan dengan secara tepat.
Perlu diketahui bahwa konten yang diproduksi media sejatinya tidak pernah netral, setiap konten yang muncul selalu membawa irisan nilai, tradisi dan gaya hidup dengan membawa cerminan budaya tertentu. Representasi merupakan Langkah untuk mengenalkan, menguatkan hingga mengubah paradigma masyarakat mengenai identitas budaya.
Contoh yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari adalah tayangan melalui media dengan menayangkan kehidupan modern secara ideal. Misalnya dengan gaya berpakaian modern atau hubungan sosial yang rukun. Paparan ini secara tidak langsung juga membentuk standar khusus dan memiliki pengaruh pada masyarakat dengan menilai dirinya dan sekitarnya. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, representasi ini juga dapat menanamkan nilai baru dan bisa mengubah tradisi lama.
Media dalam merepresentasikan budaya tidak selalu mencerminkan keberagaman yang seutuhnya, frekuensi yang ditampilkan secara terus menerus merupakan budaya yang popular dan memberikan keuntungan dalam segi finansial. Situasi ini akhirnya membuat beberapa tradisi atau nilai lokal menjadi terasingkan, sementara budaya dominan semakin diperkuat. Fenomena ini memperlihatkan bahwasannya media memiliki relasi kuasa untuk menentukan budaya mana yang terlihat dan tersembunyi.
Representasi budaya melalui konten media membentuk masyarakat dalam memandang identitas kolektif, sehingga ketika media sering memberikan paparan maka secara perlahan akan dianggap sebagai cerminan realitas, walaupun tidak selalu seperti ini. Perlu dipahami secara mendalam, media bukan hanya sebagai cerminan budaya saja, tetapi mempunyai peran penting yang ikut berkontribusi dalam membentuknya.
Media mempunyai kekuatan untuk membentuk cara pandang masyarakat dalam melihat kelompok sosial lewat paparan berita, tayangan hiburan dengan penggambaran tertentu hingga membuat stereotip tertentu. Contohnya, kelompok tertentu digambarkan selalu lemah, kuat, modern atau justru terbelakang. Gambaran yang yang dilakukan secara berulang-ulang akan berdampak pada cara masyarakat menilai kelompok tersebut.
Stereotip ini bisa berdampak positif, misalkan dengan mempertunjukkan perempuan mandiri atau anak muda kreatif yang bisa membanggakan bangsa. Hanya saja, dalam praktiknya stereotip ini ini sifatnya negatif dengan penggambaran etnis, kelas sosial atau profesi tertentu dengan sudut pandang sempit dan tidak adil. Dampak yang muncul adalah publik menganggap gambaran itu adalah sebuah kebenaran, padahal fakta di lapangan jauh lebih kompleks.
Demi kepentingan komersial media secara berkala terus mengulang pola stereotip ini, misalnya dalam penggambaran watak dalam film sebagai pandangan umum yang mudah untuk dipahami penonton. Meski ini bisa efektif untuk menarik perhatian khalayak, dalam sisi lain situasi ini memperkuat pandangan sempit dan membuat masyarakat terbatas dalam melihat keberagaman identitas sebenarnya,
Melihat situasi ini hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan dan kesadaran kritis ketika mengonsumsi media. Masyarakat perlu paham bahwa representasi media itu tidak murni, melainkan hasil dari konstruksi bias membawa bias tertentu. Publik juga diharapkan agar tidak terjebak dan terpengaruh dengan stereotip sempit dengan melihat keberagaman sosial budaya dan sosial secara adil.
Media selain memberikan informasi kepada masyarakat, juga mempunyai peran dalam membentuk masyarakat untuk memahami dirinya dan lingkungan sekitar. Simbol budaya dan pola stereotip yang ditampilkan secara berkala dapat memberikan pengaruh besar terhadap identitas individu atau secara kolektif. Ketika terus mendapat terpaan, sering melihat, mendengar maka secara perlahan akan dianggap sebagai bagian dari realitas sosial
Pengaruh ini dapat memperkuat kebanggaan budaya dengan menampilkan tradisi lokal, bahasa daerah atau tokoh inspiratif dan berbagi komunitas. Dalam sisi lain media juga dapat melemahkan kesadaran budaya ketika lebih banyak menampilkan budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai lokal. Hal ini menciptakan tarik ulur antara mempertahankan tradisi atau mengikuti modernisasi.
Stereotip diperkuat media yang sering kalo membuat kelompok tertentu menjadi terpinggirkan, identitas ini tidak dibentuk oleh pengalaman langsung, melainkan melalui citra yang dibangun media. Jika situasi ini tidak dimitgasi, kondisi ini dapat melahirkan rasa rendah diri, diskriminasi bahkan konflik social antar kelompok.
Karena itu, literasi media menjadi sangat penting agar masyarakat mampu memahami dampak media terhadap pembentukan identitas. Dengan kesadaran kritis, publik bisa memilih simbol budaya yang memperkuat jati diri sekaligus menolak stereotip sempit yang merugikan. Pada akhirnya, media seharusnya menjadi sarana memperkaya kesadaran budaya, bukan alat pembatas yang menyempitkan cara pandang masyarakat.
Trending Now