Konten dari Pengguna

Dampak Komunikasi Massa terhadap Kehidupan Manusia dalam Interaksi dengan Media

Mirza Azkia Muhammad Adiba
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
6 Agustus 2025 18:18 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dampak Komunikasi Massa terhadap Kehidupan Manusia dalam Interaksi dengan Media
Di era digital saat ini, media tidak hanya menyampaikan informasi, tapi juga membentuk realitas, membingkai opini, bahkan menentukan selera publik. Tulisan ini membahas bagaimana komunikasi massa tela
Mirza Azkia Muhammad Adiba
Tulisan dari Mirza Azkia Muhammad Adiba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: AI Chat GpT
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: AI Chat GpT
Munculnya media massa merupakan inovasi baru yang menghubungkan antara satu dengan lainnya dan membuka wawasan terbarukan, terlebih dengan hadirnya internet membuat manusia lebih banyak mendapatkan informasi. Efek dari paparan ini secara tidak langsung juga akan membentuk paradigma baru bagi khalayak dalam melihat realitas dan memberikan reaksi terhadap isu sosial, budaya, politik dan lainnya. Sehingga, secara tidak langsung komunikasi massa posisinya tidak sekedar menyampaikan informasi saja, tetapi menjadi kunci utama dalam membentuk opini publik dan persepsi yang beragam di khalayak.
Media ketika menyampaikan pesannya secara berkala akan memperkuat norma sosial di masyarakat, bisa juga memberikan doktrin baru terhadap selera budaya hingga menentukan mana yang penting dan tidak penting. Karena posisinya yang kuat, membuat komunikasi massa dianggap sebagai kekuatan keempat dalam sistem demokrasi, setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Media juga membuka public sphere melalui diskusi yang mampu melibatkan banyak orang, melalui ruang tersebut khalayak bisa bertukar pikiran, berdialog, beradu gagasan, argumentasi, meski tidak harus kenal dan bertatap secara langsung. Dari era televisi hingga media sosial seperti sekarang ini, keduanya saling memperkuat koneksi maskatakat di tengah kompleksitas dunia modern. Karena hal tersebut, media tidak dapat dilepaskan sebagai struktur dan kontrol sosial.
Ketika media massa menyampaikan sebuah informasi berita, sebenarnya tidak hanya sekedar menyampaikan informasi berdasarkan fakta di lapangan saja, tetapi media juga membingkai realitas. Setiap media memiliki cara berbeda dalam melaporkan, mengemas, dan menyorot sebuah peristiwa. Media bisa memilih untuk menarik sisi humanistik pembaca, biasanya ini dilakukan dalam pemberitaan feature. Sementara media juga bisa membentuk persepsi berbeda ketika menampilkan sebuah konflik yang melibatkan dua kubu atau lebih.
Dalam membentuk opini diperlukan kekuatan melalui pemilihan kata, gambar dan narasi yang dibangun. Contohnya dalam membingkai permasalahan tentang politik, ekonomi, dan dinamika sosial. Media harus bisa mempengaruhi khalayak terhadap isu tersebut sebagai hal serius atau biasa saja atau penting atau tidak penting. Kajian Ilmu Komunikasi menyebutnya dengan framing, hal inilah yang menyebabkan media mempunyai kekuatan untuk memberikan pengaruh terhadap pandangan hingga perilaku masyarakat yang mengkonsumsi media.
Media sebagai arus utama dalam menyampaikan informasi kepada khalayak membuat posisinya sangat sakral, masyarakat bisa jadi bergantung pada narasi yang dibentuk media. Hanya saja, media harus dipahami lebih dalam lagi, ia tidak selalu benar dan bisa juga bias. Salah satu bekal untuk menghadapi ini adalah kemampuan literasi media, agar mereka tidak sekedar sebagai penerima pasif, tetapi juga harus bisa memilah dan bagaimana realitas ini dikonstruksi media.
Terdapat perbedaan cukup signifikan terhadap hubungan antara manusia di era digital, hal ini terlihat pada posisi audiens yang bukan lagi sebagai penerima informasi saja, tetapi juga sebagai pembuat konten melalui media sosial, blog atau platform lainnya. Melalui komunikasi intens ini akhirnya ruang publik menjadi dinamis dengan nyaris tidak bisa dibedakan media dan pengguna.
Melihat kondisi tersebut, ini bisa dikatakan sebagai transformasi komunikasi tradisional ke ke partisipatif. Sekarang setiap individu mempunyai kesempatan sama untuk membuat narasi ke publik, dan ini tidak terjadi sebelum munculnya media baru. Fenomena yang terlihat adalah gerakan sosial atau opini yang tumbuh secara otodidak, tidak lagi karena media arus utama, melainkan adanya campur tangan khalayak di media sosial yang saling terkoneksi satu sama lain.
Dampak nyatanya adalah pola komunikasi di kehidupan sehari-hari juga mengalami perubahan, obrolan yang sebelumnya masuk ke ranah privat bisa meluas ke ruang digital. Identitas seseorang bisa dicerminkan melalui komentar, reaksi dan percakapan. Melalui proses ini, juga membentuk cara baru untuk membangun hubungan, diskusi, dan aktif dalam kehidupan sosial.
Komunikasi massa tidak sebatas menyampaikan berita atau memberikan hiburan, tetapi ikut menyuntikkan nilai, ideologi dan cara berpikir. Karena itu, individu khalayak perlu membangun nalar kritis ketika menerima segala informasi. Jika tidak mempunyai bekal ini, media dapat dengan mudah untuk membentuk opini publik dan dapat mempengaruhi keputusan masyarakat secara tidak langsung.
Trending Now