Konten dari Pengguna

Integrasi Teori Komunikasi Massa ke dalam Praktik Komunikasi di Era Digital

Mirza Azkia Muhammad Adiba
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
3 September 2025 13:03 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Integrasi Teori Komunikasi Massa ke dalam Praktik Komunikasi di Era Digital
Di tengah derasnya arus informasi digital, teori komunikasi massa ternyata masih sangat relevan. Bukan hanya untuk akademisi, tetapi juga untuk jurnalis hingga masyarakat luas. #userstory
Mirza Azkia Muhammad Adiba
Tulisan dari Mirza Azkia Muhammad Adiba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: ChatGPT
Kehadiran teori komunikasi massa mempunyai peranan penting dalam memahami bagaimana pesan itu disusun, disebarkan dan diterima oleh khalayak luas. Dengan tanpa adanya teori, komunikasi hanya berjalan secara spontan dan tanpa tujuan yang jelas. Teori memberikan kerangka berpikir teratur untuk memahami proses komunikasi tidak sebatas aktivitas teknis saja, melainkan sebagai fenomena sosial yang cukup kompleks.
Teori komunikasi massa ikut membantu menerangkan akibat dari pesan yang disebarkan melalui berbagai media yang ada, contohnya ketika bagaimana berita dapat mempengaruhi opini publik, bagaimana iklan membentuk pola konsumsi, hingga tayangan hiburan mampu menggeser nilai dan budaya masyarakat. Dengan menggunakan kerangka teori, fenomena yang muncul tidak sebatas diamati secara kasat mata saja, namun bisa juga dianalisis secara sistematis dan kritis.
Memahami teori komunikasi massa menandakan juga memahami tentang mekanisme bagaimana informasi itu bisa dikonsumsi oleh publik. Teori tidak hanya mempunyai manfaat bagi akademisi dan praktisi media saja, tetapi juga untuk khalayak luas yang lebih kritis dalam menyikapi informasi. Artinya, teori komunikasi massa tidak sekadar konsep abstrak, melainkan panduan nyata untuk melihat bagaimana media membentuk cara berpikir, bertindak dan berinteraksi dalam kehidupan sosial.
Ilustrasi mengobrol dengan teman. Foto: fizkes/Shutterstock
Teori komunikasi massa dalam era digital dihadapkan dengan tantangan baru karena terjadi perubahan signifikan dalam pola konsumsi informasi. Dulu media massa sifatnya adalah satu arah, kini interaksi media dengan khalayak menjadi lebih dinamis dan cair. Media sosial contohnya, setiap individu tidak hanya sebagai penerima pesan saja, tetapi juga sebagai produsen informasi dan dapat memengaruhi publik secara luas. Situasi ini menuntut teori-teori komunikasi untuk adaptif dengan realitas komunikasi yang semakin partisipatif.
Tantangan lain dalam kecepatan arus informasi adalah munculnya berita hoaks, disinformasi dan polarisasi opini publik. Teori komunikasi massa sebelumnya membahas tentang peran media tradisional kini juga harus menjawab tantangan mengenai bagaimana algoritma, big data dan kecerdasan buatan memengaruhi alur informasi. Artinya, relevansi teori komunikasi massa tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana media bekerja, tetapi juga bagaimana teknologi digital mengubah struktur interaksi sosial.
Perubahan ini membuka ruang untuk pengembangan teori maupun reinterpretasi agar tetap relevan. Contohnya, teori agenda setting sekarang tidak hanya membatasi bagaimana media menentukan isu penting, tetapi tentang algoritma platform digital membentuk agenda publik melalui personalisasi konten. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana komunikasi massa tetap dibutuhkan untuk memahami fenomena komunikasi di era digital yang sangat cepat dan kompleks.
Teori komunikasi massa tidak sekadar konsep akademis, tetapi memiliki relevansi nyata dalam praktik komunikasi sehari-hari. Bagi praktisi media, jurnalis hingga komunikator publik dapat menggunakan teori sebagai panduan dalam merancang pesan yang efektif dan memahami audiensnya. Contohnya, teori uses and gratifications membantu untuk memahami motivasi khalayak dalam mengkonsumsi media sehingga konten yang disajikan bisa lebih sesuai dengan kebutuhan.
Contoh lain dalam dunia pemasaran dan periklanan, teori komunikasi massa menjadi acuan penting. Contoh teori difusi inovasi yang digunakan untuk memetakan bagaimana produk atau ide baru dapat menyebar di masyarakat. Misalkan juga teori framing yang bisa membantu untuk bagaimana penyajian pesan dapat membentuk cara orang memandang suatu isu. Secara tidak langsung, teori tidak berhenti pada ruang kuliah saja, akan tetapi dapat hidup dalam praktik komunikasi profesional.
Ilustrasi ibu ngobrol dengan teman. Foto: maroke/Shutterstock
Relevansi teori juga terasa dalam upaya untuk membangun komunikasi yang etis, lewat pemahaman teori kritis, praktisi media dapat lebih peka terhadap isu representasi, ketidakadilan dan dominasi dalam menyajikan pesan. Ini menunjukkan bahwa teori komunikasi massa tidak hanya membantu memahami fenomena, tetapi juga memberikan arah untuk praktik komunikasi yang bertanggung jawab.
Kajian teori komunikasi massa semakin mendesak untuk dipahami, apalagi di era derasnya informasi digital. Munculnya media sosial, algoritma dan platform digital mengubah pola konsumsi sekaligus produksi pesan yang mengakibatkan teori klasik perlu ditinjau ulang dan disesuaikan dengan konteks baru. Dengan teori, khalayak tidak hanya melihat fenomena komunikasi secara permukaan, tetapi juga mampu menelaah struktur, pola dan dampak yang muncul secara sembunyi.
Pentingnya teori juga berada pada kemampuannya untuk membekali masyarakat untuk lebih kritis dalam melakukan interaksi dengan media. Tanpa ada landasan teoritis, masyarakat sangat mudah terjebak dalam arus informasi yang bias, manipulatif atau menyesatkan. Teori memberikan kerangka berpikir untuk menilai apakah pesan itu hanya sebatas hiburan, alat persuasi hingga bagian dari instrumen kekuasaan.
Untuk itu, memahami relevansi teori komunikasi massa di era digital tidak sekadar penting bagi kalangan akademisi saja, melainkan juga untuk kalangan media, pembuat kebijakan hingga masyarakat umum. Teori harus menjadi kompas yang memberikan arah komunikasi agar terus memiliki nilai, makna dan tujuan konstruktif di tengah kompleksitas dunia digital.
Trending Now