Konten dari Pengguna
Media Massa Indonesia dalam Lintasan Sejarah dari Kolonial hingga Digital
18 Juli 2025 13:30 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Media Massa Indonesia dalam Lintasan Sejarah dari Kolonial hingga Digital
Tulisan ini mengulas perjalanan panjang media massa di Indonesia, mulai dari masa kolonial hingga era digital saat ini. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai alaMirza Azkia Muhammad Adiba
Tulisan dari Mirza Azkia Muhammad Adiba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wajah Indonesia sejak dulu hingga saat ini tidak lepas dari peran media massa yang sangat signifikan. Tidak hanya sebatas menyampaikan informasi saja, melainkan sebagai ruang publik untuk menyampaikan gagasan, pendapat, dan membangun narasi kolektif. Melihat masyarakat Indonesia yang sangat beragam, media merupakan perantara dari berbagai perbedaan, sosial, budaya dan geografis sehingga memunculkan pemahaman yang menopang integrasi bangsa. Lewat informasi yang disampaikan media, identitas kebangsaan dan semangat kebersamaan dapat tercipta.
Media massa memiliki peran dalam membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat, melalui konten edukatif, sosialisasi kesehatan dan wacana-wacana publik. Media juga berperan dalam membangun pemahaman dan kesadaran terhadap isu sosial seperti kesetaraan gender, hak asasi manusia dan lingkungan hidup. Artinya, media tidak sebatas sebagai penyalur informasi semata, tetapi juga bagian dari agen perubahan sosial.
Dalam politik, media massa berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Paradigma sistem demokrasi, media posisinya berfungsi sebagai penjaga kekuasaan atau biasa disebut dengan watchdog yang mengawasi jalannya roda pemerintah dan menyuarakan kepentingan publik. Selain itu, media juga dapat memperkuat partisipasi politik warga negara dengan cara menyampaikan informasi berkaitan dengan kebijakan publik, pemilu dan aktivitas politik yang lain. Media massa ketika dijalankan secara bebas dan profesional maka menjadi kekuatan keempat dalam sistem demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Dalam wilayah budaya, media ikut serta dalam melestarikan dan menyebarkan warisan budaya lokal maupun nasional. Contohnya melalui film, musik, acara televisi hingga konten digital, nilai budaya Indonesia dapat dikenalkan ke generasi muda saja, tetapi juga ke khalayak global. Media menjadi wadah kontestasi budaya, tempat berbagi identitas dan ekspresi budaya bersaing dan saling mempengaruhi. Melihat garis perjalanannya, media memiliki peran yang tidak boleh diabaikan dalam kontribusinya dalam membentuk budaya di era transformasi teknologi.
Media masa juga bagian dari gambaran tentang dinamika sosial dan politik yang terjadi dalam masyarakat. Menelaah ke belakang munculnya di Indonesia, media sudah digunakan sebagai alat kekuasaan serta perlawanan. Dahulu, pemerintah kolonial Belanda menggunakan media sebagai pengontrol narasi dan mempertahankan dominasi. Pada waktu bersamaan, kelompok pergerakan nasional melakukan hal yang sama namun dengan tujuan berbeda, kelompok ini menggubajab media sebagai sarana perjuangan melawan kolonialisme dan membangkitkan kesadaran kebangsaan. Ini memperlihatkan, media pada posisi pusaran kepentingan politik yang sangat dinamis sesuai dengan konteks sejarahnya.
Media massa seiring dengan pesatnya teknologi telah bertransformasi mulai dari bentuknya, luasnya jangkauan sampai dampaknya di masyarakat. Seperti surat kabar cetak yang beredar terbatas dan mayoritas ada pada kalangan elit dan terdidik, kemudian ada radio dan televisi yang dengan kecanggihannya pada saat itu mampu mengisi ruang-ruang di rumah, hingga era digital yang semua orang bisa mengaksesnya. Perlu dipahami, teknologi akan membawa perubahan dalam bagaimana cara masyarakat mampu memperoleh akses dan memahami informasi. Teknologi tidak sebatas mampu memperluas distribusi pesan, tetapi juga mengubah peran audiens dari penerima pasif menjadi partisipan aktif.
Media massa menjadi refleksi dari kesadaran kolektif masyarakat pada periode tertentu. Media secara tidak langsung merekam aspirasi, kecemasan serta cita-cita kolektif yang berkembang dalam masyarakat. Contohnya pada era orde baru, media banyak dibungkam dan dikendalikan negara, ini menunjukkan rendahnya kebebasan berekspresi. Memasuki masa pasca reformasi, kebebasan pers meningkat dan media menjadi wadah untuk menuangkan ekspresi masyarakat secara lebih luas dan terbuka. Inilah awal mula kesadaran akan pentingnya kebebasan informasi mulai tumbuh dan dibarengi dengan berkembangnya demokrasi.
Perjalanan media massa di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika kekuasaan politik, kemajuan teknologi dan evolusi cara berpikir masyarakat. Setiap masa berkembangnya media memperlihatkan bagaimana kekuasaan mencoba mengatur informasi, teknologi memperluas jangkauan pesan dan cara masyarakat menempatkan posisinya sebagai arus komunikasi yang lebih besar. Melihat kondisi ini, memahami evolusi media massa bukan sekedar mengenali bentuk medianya, tetapi juga menyelami konteks sosial politik dan budaya yang ikut serta dalam proses pembentukannya.
Salah satu yang paling terlihat dari perkembangan teknologi digital adalah cara media melakukan interaksi dengan publik. Sebelumnya, media cetak surat kabar dan majalah menjadi sumber informasi utama yang sifatnya satu arah, terbatas pada ruang dan waktu. Melihat kondisi tersebut, munculnya internet dan perangkat digital sudah menciptakan model komunikasi yang berbeda dari sebelumnya, yakni lebih cepat, interaktif dan tak mengenal batas geografis. Sekarang media tidak lagi linier dan terpusat, tetapi menjadi ruang dinamis di mana publik dapat mengakses, membagikan dan memproduksi informasi sendiri.
Kondisi ini memiliki efek signifikan pada cara masyarakat dalam mengkonsumsi informasi. Sebelumnya, orang-orang menunggu informasi melalui koran pada pagi atau sore hari atau menyaksikan siaran televisi pada malam hari, kini informasi dapat dengan mudah kapan saja dan di mana saja melalui ponsel pintar dan sosial media. Faktor yang mempengaruhi keadaan ini adalah kecepatan dan kenyamanan dalam memilih sumber informasi. Seperti dua mata pisau, kemudahan ini juga membawa tantangan, seperti derasnya arus informasi, disinformasi serta makin berkurangnya nalar kritis terhadap kualitas dan kedalaman berita.
Tidak hanya pola konsumsi saja yang berubah, pergeseran juga terjadi pada peran media dalam membentuk opini publik dan struktur kekuasaan informasi. Sekarang media tidak lagi menjadi tumpuan informasi, karena saat ini publik memiliki wadah yang sama dalam memproduksi dan menyebarkan wacana. Contohnya saja Blogger, Content Creator, sosial media memiliki pengaruh yang dapat disandingkan dengan media massa, bahkan lebih besar dibandingkan dengan media yang masih memakai sistem tradisional. Hanya saja, keadaan ini memunculkan masalah baru dari segi akuntabilitas dan etika jurnalistik.
Media digital dalam masyarakat modern telah menjadi tempat menyuarakan wacana secara terbuka dan cair. Pada kondisi tertentu, suara-suara yang selama ini tidak mendapat ruang menjadi mempunyai wadah untuk mengemukakan pandangannya dan memperkuat kebebasan berekspresi dan partisipasi masyarakat. Namun, tanpa adanya regulasi yang jelas dan literasi digital yang kuat, ruang ini bisa menjadi tempat polarisasi, ujaran kebencian dan manipulasi informasi. Karena itu, memahami perubahan ini tidak hanya penting bagi pelaku media, tetapi juga bagi masyarakat umum agar tetap beradaptasi dan memiliki nalar kritis di tengah transformasi media yang berlangsung cepat.
Mempelajari tentang dinamika perkembangan di Indonesia penting dilakukan untuk memahami bagaimana media bertransformasi seiring dengan perubahan politik, sosial dan teknologi. Media berkembang dalam relasi yang erat dengan kekuasan dan dinamika masyarakat. Dari masa kolonial hingga digital, media massa Indonesia telah mengalami banyak perubahan bentuk, fungsi dan posisi sosial. Dengan menapaki jejak sejarah ini secara kronologis, dapat mempelajari bagaimana kekuasaan membentuk, membatasi dan bahkan memberdayakan media dalam setiap periode sejarah.
Era kolonialisme media massa ada sebagai alat kontrol dan propaganda pemerintah kolonial, namun juga dimanfaatkan oleh kalangan pergerakan sebagai alat perjuangan. Surat kabar dengan menggunakan bahasa Belanda dan Melayu menjadi tempat pertarungan wacana antara penjajah dan tokoh pribumi. Saat itu kondisi pers masing sangat dibatasi, akan tetapi semangat perlawanan lewat jalur tulisan tumbuh dengan subur, ini juga menjadi pondasi munculnya kesadaran nasional. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana media dapat menjadi sarana perlawanan sekaligus kekuasaan.
Pada era kemerdekaan hingga orde baru, manusia mengalami pasang surut kebebasan. Satu sisi, media memiliki fungsi sebagai perantara aspirasi rakyat dan penguat identitas nasional, pada posisi lain, kekuasaan acap kali memperlakukan media sebagai alat legitimasi dan kontrol ideologi. Sensor, pembredelan dan regulasi ketat menjadi bagian dari sejarah kelam pers di Indonesia. Namun, pada reformasi 1998 menjadi titik balik yang sangat penting untuk membuka ruang baru bagi kebebasan pers dan kemunculan media alternatif yang lebih beragam.
Era digital seperti saat ini membuat media massa memasuki gerbang baru dengan ditandai oleh keterbukaan, kecepatan dan partisipasi publik yang semakin luas. Seiring dengan itu, pasti akan memunculkan tantangan baru seperti disinformasi, algoritma yang menciptakan gelembung informasi hingga berkurangnya kepercayaan publik terhadap media. Kajian ini akan membedah, mendalami secara analitis setiap periode yang ada, tidak sebatas pada perubahan bentuk medianya saja, tetapi juga menilai sejauh mana dampaknya terhadap kebebasan pers dan melihat partisipasi masyarakat terlibat aktif dalam ruang komunikasi publik. Dengan pendekatan ini, diharapkan mampu memahami evolusi media sebagai bagian yang ikut dalam perjuangan demokrasi dan refleksi kesadaran kolektif bangsa.

