Konten dari Pengguna
Upskilling: Perlindungan Sosial Baru bagi Driver Online di Era Digital
17 November 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Upskilling: Perlindungan Sosial Baru bagi Driver Online di Era Digital
Banyak driver online hidup dalam ketidakpastian. Upskilling jadi cara baru melindungi mereka; membuka peluang karier yang lebih stabil di era digital. #userstoryPutu Dyah Permatha Korry
Tulisan dari Putu Dyah Permatha Korry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari, ribuan pengemudi ojek online menavigasi jalanan demi mendapatkan penghasilan harian, tetapi dibalik hal tersebut mereka menyadari bahwa profesi ini tidak bisa mereka jalani selamanya. Seiring berjalannya waktu, usia bertambah dan juga pendapatan tidak pasti.
Dalam situasi tersebut, upskilling dipandang sebagai upaya peningkatan keterampilan untuk membuka peluang karier baru bagi mereka; tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan sosial bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem digital platform.
Fenomena Gig Ekonomi: Fleksibel, tapi Rapuh
Perkembangan gig ekonomi melahirkan fenomena baru di dunia kerja. Ketika sektor formal terpukul oleh ketidakpastian ekonomi dan gelombak PHK, ribuan orang beralih menjadi pengemudi ojek online sebagai jalan keluar untuk memperoleh penghasilan. Sifat pekerjaan yang fleksibel dan mudah diakses membuat profesi ini menjadi “bantalan sosial” di tengah keterbatasan pekerjaan formal.
Namun, sifatnya yang berbasis orderan membuat posisi pengemudi ojek online menjadi sangat rentan. Tanpa adanya jaminan kerja, penghasilan akan berhenti ketika mereka tidak mengambil orderan. Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik pengemudi mengalami penurunan, membuat kondisi ketidakpastian ekonomi semakin terasa.
Di titik ini, isu keberlanjutan karier bagi pengemudi menjadi isu yang penting untuk dibahas; bukan hanya sekadar dari sisi perlindungan sosial formal semata, melainkan bagaimana peluang kerja untuk bisa transisi ke sektor lain yang lebih stabil secara jangka panjang.
Menyadari Batas: Momentum Transisi bagi Pengemudi
Temuan riset dan hasil diskusi dengan pengemudi di tiga kota besar (Jakarta, Bali dan Yogyakarta) menunjukkan adanya kesadaran kolektif dari pengemudi bahwa mereka tidak bisa menjalani pekerjaan ini seumur hidup. Mayoritas responden yang sudah menjalani profesi ini lebih dari lima tahun dan memiliki pengalaman yang cukup panjang di lapangan mulai menyadari adanya batasan fisik serta risiko jangka panjang yang mereka hadapi di jalanan.
Mereka memandang upskilling sebagai salah satu langkah penting untuk mempersiapkan diri untuk berpindah ke sektor lain melalui pelatihan untuk peningkatan kualitas kerja dalam platform maupun untuk transisi saat keluar dari ekosistem ride-hailing.
Dua Arah Upskilling: Dari Mitra Unggul menuju Karier Baru
Diskusi yang dilakukan dengan pengemudi online di tiga kota menunjukkan bahwa mereka tidak melihat pekerjaan ini sebagai tujuan akhir. Persaingan yang semakin ketat dan juga pendapatan yang semakin tidak pasti membuat mereka menyadari kebutuhan akan upskilling sebagai jalan untuk bertahan, sekaligus melangkah maju. Berikut merupakan dua arah besar upskilling yang dibutuhkan oleh pengemudi.
Pertama, upskilling di dalam ekosistem platform. Sejumlah pengemudi menyatakan bahwa mereka membutuhkan pelatihan untuk bisa meningkatkan kompetensi agar bisa “naik kelas” dalam platform, misalnya dari pengemudi motor ke mobil maupun ke layanan premium.
Antusiasme pengemudi ditunjukkan pada program pelatihan untuk peningkatan daya saing berbasis kualitas dan bukannya harga, salah satunya melalui pelatihan bahasa asing, pelayanan pelanggan, dan juga grooming, yang menjadi contoh pelatihan yang mendapat apresiasi dari pengemudi karena dipandang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan pengemudi.
Kedua, upskilling untuk pivot karir. Kelompok ini melihat bahwa profesi pengemudi adalah “pekerjaan sementara” dan bukun tujuan akhir mereka. Mereka berharap mendapat pelatihan yang membuka jalan untuk kembali di sektor formal atau membuka usaha sendiri, seperti pelatihan kewirausahaan, digital marketing, dan keahlian vokasional.
Harapan mereka adalah pelatihan ini tidak hanya disediakan oleh platform, tetapi juga oleh pemerintah maupun lembaga pendidikan dalam bentuk micro-credential, sehingga bisa diakui secara resmi dan membantu mereka dalam mencari pekerjaan.
“Kami ingin pelatihan yang benar-benar bisa dipakai setelah tidak lagi menjadi driver, kalau bisa ada sertifikat resmi, bukan hanya sekedar pelatihan formal,” ungkap salah satu pengemudi di Yogyakarta.
Upskilling Perlu Kolaborasi, bukan Tugas Sepihak Platform
Bagi para pengemudi, pelatihan bukan hanya sekedar bonus tambahan bagi mereka, melainkan fondasi penting bagi masa depan mereka, sehingga mereka memandang upskilling harus menjadi tanggung jawab bersama.
Platform diharapkan fokus memberikan pelatihan teknis yang berkaitan dengan ekosistem, seperti pelatihan peningkatan kualitas layanan, adaptasi teknologi, maupun pelatihan bahasa, sedangkan pemerintah berperan menyediakan pelatihan untuk transisi karier ke sektor lainnya.
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah penting adanya perubahan regulasi untuk mendorong kompetisi di dalam ekosistem yang fokus pada kompetiti berbasis kualitas dan bukannya perang tarif. Dalam kondisi persaingan harga antar-platform yang begitu ketat, peningkatan keterampilan dirasa tidak berdampak pada peningkatan pendapatan.
Hal ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah yang cukup krusial untuk menetapkan regulasi yang mengatur tarif yang adil agar mencegah perang harga yang tidak wajar, serta memberikan pelatihan jangka panjang yang dapat berdampak pada mobilitas pengemudi secara jangka panjang.
Upskilling: Bentuk Instrumen Perlindungan Sosial Baru
Selama ini, bentuk perlindungan sosial bagi pengemudi terbatas pada jaminan kesehatan dan kecelakaan yang mereka terima hanya pada saat “on job”, upskilling menawarkan dimensi baru sebagai jaminan sosial bagi pengemudi berupa alat bagi mereka untuk bergerak naik. Pelatihan bukan hanya soal peningkatan kompetensi, melainkan sebagai salah satu mekanisme untuk memperluas peluang ekonomi dan mobilitas sosial.
Dalam konteks kebijakan publik, upskilling dapat berfungsi sebagai salah satu integrative instrument kebijakan ketenagakerjaan, pendidikan, dan ekonomi digital. Program pelatihan berbasis micro-credentials yang dirancang bersama oleh pemerintah, digital platform, universitas, dan sektor industri dapat membuka jalan bagi pengemudi untuk mengakses pekerjaan formal, menjadi wirausahawan kecil, atau berperan dalam sektor ekonomi baru.
Jalan ke Depan: Dari Bertahan menuju Berkembang
Peran pengemudi dalam ekonomi digital Indonesia sangat signifikan. Mereka bukan hanya pekerja, melainkan juga shock absorber ketika ekonomi goyah. Namun agar peran ini tidak menjebak mereka dalam siklus kerentanan, perlu ada strategi transisi yang terencana.
Upskilling memberikan peluang nyata untuk perubahan tersebut. Dengan kolaborasi lintas sektor, pengemudi dapat bertransformasi dari sekadar bertahan hidup di jalan menjadi aktor ekonomi yang berdaya dan adaptif.
Pekerjaan sebagai pengemudi ojek online mungkin tidak selamanya, tetapi dengan dukungan pelatihan yang tepat, pengalaman mereka bisa menjadi pijakan kuat untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

