Konten dari Pengguna

Kisah Kuartet Pria Sepuh Penuh Semangat dan Optimismistis

Mohamad Jokomono
Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
9 Desember 2025 14:52 WIB
·
waktu baca 12 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kisah Kuartet Pria Sepuh Penuh Semangat dan Optimismistis
Tuhan mengaruniai kita rahasia hikmah melalui berbagai cara. Dengan pertemuan yang sederhana dengan para lelaki lansia, yang jauh lebih tua dari saya, rahasia hikmah itu hadir memperkokoh semangat ini
Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sekadar ilustrasi tentang empat lelaki tua berusia di atas 70 tahun yang tetap energik dan memandang kehidupan dengan optimistis. (Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Sekadar ilustrasi tentang empat lelaki tua berusia di atas 70 tahun yang tetap energik dan memandang kehidupan dengan optimistis. (Sumber: Gemini AI)
Saya meyakini, setiap pertemuan yang tampak berlangsung secara kebetulan itu ternyata sudah menjadi kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam. Al-Qur'an, Surah Ar-Ra’d ayat 39 menegaskan, semua ketetapan-Nya telah tertulis Lauh Mahfuz, sebagai kitab induk segala catatan. “Aĺlah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).”
Semua kejadian termasuk pertemuan dengan seseorang yang kita alami, menurut isi petunjuk yang termaktub di dalam surah ini, telah terabadikan sebelumnya menjadi tulisan dan merupakan kendali pengaturan di dalam Lauh Mahfuzh yang berada di sisi Allah. Dengan demikian, tidak ada segala sesuatu kejadian di seantero jagat ini yang terlepas dari pengetahuan Allah 'Azza wa Jalla.
Sementara itu, Hadis Riwayat Ahmad mengungkapkan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ketahuilah bahwa apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan luput darimu. Dan, apa yang luput darimu, tidak akan pernah menjadi milikmu”. Begitulah pertemuan itu agaknya sudah menjadi bagian dari takdir yang mesti terjadi. Barangkali Tuhan memang hendak mengaruniai rahasia hikmah di dalamnya.
Kebetulan. Atau, dalam kalimat yang agamais: Qodarullah wa maa syaa’a fa’ala (Ini takdir Allah. Apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan). Ucapan ini untuk mengaksentuasikan keyakinan, bahwa segala sesuatu kejadian yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik itu kejadian yang membahagiakan hati maupun sebaliknya, kejadian yang menyedihkan hati, semua itu merupakan kehendak dan ketetapan-Nya.
Pertemuan Tak Terduga
Semua terjadi dari pertemuan yang tidak terduga. Begitu saja berlangsung. Mengalir secara alami. Saya bertemu dengan empat lelaki tua berusia di atas 70 tahun. Tidak bersamaan, tetapi pada waktu dan tempat berlainan. Ada rentang bulan yang mengisi celah noktah demi noktah pertemuan itu. Mereka, kalau saya boleh meminjam istilah World Health Organization (WHO), termasuk kategori usia yang berada di tengah-tengah antara elderly (60-74 tahun) dan old (75-90 tahun).
Saya ingin memulai mengguratkan narasi dari noktah pertemuan yang terakhir. Pada Jumat (5/12/2025) lalu, setelah menunaikan Salat Jumat, saya berjalan menghampiri sebuah halte Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang berada tidak jauh dari masjid. Sekitar 300-an meter. Saya tidak langsung pulang ke Perumahan Bukit Kencana Jaya Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Saya mengambil arah sebaliknya. Ke Balai Kota yang berada di pusat keramaian Kota Lumpia. Ada satu keperluan di sekitar tempat itu. Nah, saat menunggu kedatangan BRT (ada padanan bahasa Indonesia, yaitu Bus Cepat Transit atau Bus Raya Terpadu) itulah saya duduk di bangku halte, bersebelahan dengan seorang lelaki yang berdasarkan kondisi fisik dan pengakuannya kemudian, telah berusia 75 tahun. Dia menyebut kelahirannya pada April 1950 ketika kami sudah masuk BRT Koridor V Meteseh - PRPP. Kalau demikian, ada lebih sekitar delapan hingga sembilan bulan.
Sebagaimana lazimnya orang Jawa tempo doeloe, breaking ice-nya sudah bisa ditebak. Pertanyaan seputar ke mana tujuan perjalanan. Tidak dinyana, beliau seorang yang enak diajak bicara. Bukan termasuk orang yang suka banyak berbicara yang ngalor ngidul. Fokus pada beberapa topik menarik. Saya tidak berani jemawa, cara beliau mengomunikasikan gagasan yang begitu runtut itu, apakah juga karena andil saya juga dalam menggiring pertanyaan. Ah, tapi saya sekali lagi tidak berani jemawa. Namun lepas dari itu, logikanya betul-betul mengalir dengan baik.
Seorang lelaki berusia 75 tahun, berkacamata, menceritakan, bahwa dirinya beberapa jam lalu menjalani cuci darah di Rumah Sakit Wongso Negoro (RSWN) Kota Semarang. (Sumber: Gemini AI)
Dari hanya dua topik pembicaraan, saya membatasi pada satu topik saja. Saya tertarik pada penuturannya, bahwa pria sepuh 75 tahun itu baru saja pulang dari kontrol rutin tiap hari Jumat di Rumah Sakit Kanjeng Raden Mas Tumenggung Wongso Negoro Kota Semarang. Lebih akrab dikenal dengan singkatan RSWN. Terutama bagi pengguna setia BRT koridor V yang melewati Ketileng. Begitulah karena ginjalnya tidak lagi berfungsi normal, dia harus menjalani cuci darah setiap minggu sekali.
Yang menjadi catatan menarik, setiap kali melakukan cuci darah, pria sepuh itu melakukannya sendiri. Dan, proses pergi dan pulang ke dan dari RSWN, dia jalani dengan menumpang BRT. “Dari 20 pasien yang bareng-bareng menjalani rawat cuci darah dengan saya, hanya saya sendiri dan seorang bapak, yang datang tanpa ditemani. Tapi, kadang memang tidak berjalan mulus. Saya pernah terpaksa turun di Peterongan. Hanya untuk mengeluarkan muntah ke plastik yang sudah saya bawa dari rumah. Setelah itu, tubuh menjadi enakan. Lalu saya teruskan perjalanan ke RSWN,” ungkapnya.
Setelah berhenti beberapa jenak, dia pun melanjutkan perkataannya, “Sebetulnya, satu jam setelah proses penanganan usai, itulah masa krusial karena tubuh menjadi lemas. Sesuai dengan prosedur baku, mesti beristirahat yang memadai. Tapi, saya lebih suka mampir ke warung dan memesan segelas teh manis untuk memulihkan tenaga. Setelah itu bisa istirahat di halte sambil menunggu BRT datang. Dan, melanjutkan istirahat setelah naik BRT.”
Dalam usia 75 tahun, dia pernah kena darah tinggi dan stroke sebelah. Lalu ginjal tidak berfungsi normal. Harus cuci darah (dialisis) tiap seminggu satu kali. Proses ini meletihkan dan acapkali mengakibatkan tubuh pasien melemah setelah usai. Belum lagi bepergian sendirian. Naik BRT dari Kota Lama - Ketileng, pergi dan pulang. Kemampuan tersebut menunjukkan suatu kekuatan dan kemandirian yang patut memperoleh acungan dua jempol sekaligus.
Rangkaian tindakan sedemikian dari lelaki sepuh itu, tidak teragukan lagi telah menunjukkan teladan mengenai kisah ketangguhan, kemandirian, dan kobaran semangat hidup yang terus menyalakan hasrat untuk menjadi sang penyintas. Ini bisa menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering terutama bagi mereka yang lebih muda dan tengah berjuang melawan tantangan kesehatan yang sangat serius.
Jalan Kaki secara Rutin
Jalan kaki tiap pagi secara teratur bagi lansia dapat membantu mempertahankan daya ingat dan fungsi kognitif. (Sumber: Gemini AI)
Saya dan pria sepuh itu, kira-kira beberapa belas menit berada di halte BRT. Kebetulan, pada siang hari setelah Salat Jumat itu, lumayan juga jumlah calon penumpang Koridor V yang bersama kami. Sempat tebersit di relung kekhawatiran saya, bagaimana kalau BRT bagian depan yang khusus untu tempat duduk para lelaki sudah terisi penuh. Namun, itu segera saya tepis jauh-jauh, karena menurut pengalaman selama ini, biasanya yang muda akan dengan senang hati memberikan tempat duduknya kepada lansia. Meski kadang tidak selalu begitu. Hanya kejadian orang muda yang duduk dan tidak tergerak hatinya saat melihat lansia berdiri, kasusnya sangat langka di Kota Semarang.
Untunglah, masih ada beberapa tempat duduk kosong, ketika sebuah BRT Koridor V dari arah Meteseh menuju ke PRPP berhenti di halte kami. Lelaki sepuh itu mendapat tempat duduk persis berhadapan dengan tempat duduk saya yang berada dekat dengan pintu masuk dan keluar di tengah. Dia tampak lebih banyak terdiam. Tampaknya ingin benar-benar memanfaatkan waktu untuk beristirahat setelah tadi menjalani cuci darah.
Tidak enak hati, karena komunikasi terputus, saya memancing konversasi dengan memuji penampilannya yang masih tampak gagah. Dia tersenyum. Lalu dia pun menuturkan secara singkat mulai dari terkena darah tinggi, stroke sebelah tubuh, hingga perjuangannya untuk pulih. Dan, terakhir soal ginjalnya yang tidak dapat berfungsi normal hingga harus menjalani cuci darah satu kali dalam seminggu.
Kami terdiam lagi. BRT Koridor V yang kami tumpangi masih melaju dengan kecepatan maksimal 50 kilometer per jam. Saya pun lalu menceletuk ganti topik, “Wah, saya yang baru 61 tahun ini, belakangan waktu sudah sering lupa, Pak. Ada kendala untuk bisa mengingat dengan baik”. Spontan pria sepuh itu tersenyum lagi. Dan, dari mulutnya muncul saran untuk membiasakan jalan kaki secara rutin. Ada alokasi waktu yang memang disediakan khusus untuk kegiatan tersebut. Ini penting bagi para lansia, tandas lelaki sepuh itu.
“Analoginya begini. Orang terutama lansia seperti kita, bila tidak menyediakan waktu yang rutin untuk jalan kaki dan memang ada alokasi waktu yang tersedia dengan teratur sejauh secara fisik mampu. Maka, ibaratnya seperti ujung jari yang diikat kuat-kuat dengan karet gelang. Karena aliran darahnya terhambat, jadilah ujung jari itu membiru. Demikian halnya lansia yang jarang jalan kaki, aliran darahnya ke otak menjadi tidak lancar. Nah, sering lupa itu terjadi karena demikian,” paparnya.
Lalu pria sepuh itu kembali terdiam. Saya melihatnya betul-betul ingin beristirahat di antara guncangan kecil BRT yang melaju tidak terlalu kencang. Saya tidak tega mengganggunya dengan pertanyaan lagi. Terlebih beberapa saat kemudian, dia menutup mulutnya dengan masker. Tampaknya dia betul-betul ingin memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Di halte BRT Bank BCA Jalan Pemuda Semarang (hanya beberapa ratus meter dari halte Balai Kota), pria sepuh itu, setelah membuka maskernya, menepuk lutut saya, menyatakan dirinya turun lebih dahulu. Saya jawab dalam bahasa Jawa krama inggil, “Monggo, Pak, nderekaken. Atos-atos (Silakan, Pak. Hati-hati).”
Pria sepuh itu memang benar. Berjalan kaki secara rutin bagi para lansia bisa merawat ketahanan dan kemampuan daya ingat serta fungsi kognitif mereka ke dalam kondisi yang relatif lebih baik. Terdapat sejumlah bukti ilmiah yang meletakkan dukungan pada relasi ini. Dengan aktivitas berjalan kaki, terjadi peningkatan aliran darah ke seluruh tubuh dan tidak terkecuali ke otak. Dengan sirkulasi darah yang lebih baik memberikan kepastian pasokan oksigen dan nutrisi yang mencukupi ke jaringan otak. Ini merupakan persyaratan yang sangat penting agar fungsi kognitif berjalan secara optimal.
Bagi lansia, berjalan kaki itu tidak ubahnya seperti olahraga. Dan, olahraga dapat menjadi pemicu pelepasan bahan kimia di otak, seperti brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Dengan demikian, otak memiliki kemampuan neuroplastisitas yang lebih optimal dalam beradaptasi, berubah, dan membentuk koneksi baru.
Serta, kemampuan neurogenesis, dengan membentuk sel-sel saraf (neuron) baru, terutama di hippocampus. Bagian otak yang berperan sangat vital untuk melakukan pembelajaran dan mempertahankan daya ingat (memori). Dengan berolahraga, dan salah satunya berjalan kaki secara rutin bagi lansia, dapat meningkatkan ukuran dan fungsi hippocampus itu.
Melakukan kegiatan berjalan kaki secara rutin dan teratur sebagai konsepsi olahraga bagi lansia, dapat memberikan kondisi positif guna meminimalisasi risiko penurunan daya ingat, seperti Demensia dan Alzheimer. Selain itu, ada efek antiinflamasi atau antiperadangan pada tubuh otak. Dan, peradangan kronis bisa mengakibatkan penurunan kognituf. Berjalan kaki rutin dan teratur dapat pula membantu pengelolaan dan pengontrolan risiko vaskular untuk Demensia, antara lain tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.
Pendek kata, aktivitas berjalan kaki merupakan bentuk latihan aerobik dengan usungan dampak rendah dan sangat memberikan manfaat bagi lansia. Efek positifnya pada daya ingat atau memori yaang bersifat langsung lewat peningkatan BDNF dan aliran darah. Adapun efek tidak langsung lewat pengurangan faktor risiko penyakit. Studi kedokteran menunjukkan, lansia yang aktif secara fisik akan menemui risiko penurunan kognitif lebih rendah daripada yang pasif.
Tiga Lelaki Tua Lainnya
Tiga lelaki berusia di atas 70 tahun lainnya, yang akan saya kisahkan dalam esai ini, adalah juga mereka yang mencerahkan pandangan diri ini. Bahwa usia yang dalam hitungan kuantitas kian merangkak ke perbukitan senja kala, bukanlah halangan untuk memetiki kuntum-kuntum kebahagiaan di hati. Mereka semua menatap pesona kehidupan dengan senyum optimisme. Tidak sekadar menunggu sesuatu yang sudah pasti akan datang menghampiri.
Ada seorang lelaki sepuh yang dengan pancaran wajah penuh semangat hidup dan humor kuat, saya temui saat kontrol ke dokter spesialis ortopedi, Aristida Cahyono Putro, di Rumah Sakit Panti Wiloso Dokter Cipto Semarang, sekitar sepuluh bulan lalu. Saya lupa persisnya kapan. Tapi yang jelas saat itu jadwal kontrol saya setelah menjalani operasi ringan untuk patah tulang tumit kaki sebelah kiri akibat terpeleset dan jatuh dari halte BRT di kawasan Bukit, Meteseh, Tembalang.
Pertemuan itu terjadi saat lelaki sepuh itu bersama saya (ketika itu Si Sulung yang mengantar) menunggu giliran antrean pemeriksaan dokter. Terjadilah konversasi ringan di antara kami sebagai perintang rasa jenuh menunggu. Caranya bertutur kata, menunjukkan pria sepuh itu seorang yang pintar menata kalimat. Hal yang sebenarnya sederhana saja, dapat dia ungkapkan dengan menarik.
Termasuk saat pria sepuh itu menyebutkan angka 28 tahun saat berbicara tentang usianya. Nah, tentu angka itu adalah yang terbalik dari usia dia yang sebenarnya (baca: 82 tahun) saat itu. Humor kecil ini, bagi saya, itu adalah ekspresi dari penerimaan yang tulus tentang penurunan kondisi fisik yang sudah wajar terjadi secara alami. Terutama terkait dengan kondisi kesehatan tulangnya. Meski demikian, pria sepuh itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang mengindikasikan, bahwa dirinya sudah tidak lagi mampu memetik tangkai harapan menuju ke kondisi yang lebih baik.
Lalu ada seorang pria sepuh lagi, yang sering saya temui beberapa waktu lalu, tetapi belakangan sudah semakin jarang. Dia seorang pensiunan aparatur sipil negara dari sebuah dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, belasan tahun lalu. Usianya 72 tahun. Tiga putra-putrinya sudah membangun keluarga masing-masing, satu berdomisili di Semarang dan dua di luar kota. Dia sendiri bersama istri tinggal di Perumahan Sendang Mulyo.
Saya sering bertemu dengannya beberapa waktu lalu, saat hendak berangkat atau pulang dari menunaikan Salat Jumat, di dalam BRT atau sejak di halte BRT. Koridor V juga. Dia lebih nyaman dengan pertimbangan pragmatisnya ketika memilih menunaikan Salat Jumat di masjid depan RSWN. Sementara itu, saya lebih enjoy secara spiritual, di Masjid Al-Wali. Lokasi kedua masjid itu boleh dikatakan satu kawasan.
Pria sepuh yang satu ini banyak mengajari saya tentang bagaimana memantapkan langkah, dengan sedapat mungkin memimalisasi keraguan, dengan istikamah merawat akal sehat, dalam mengikuti alur panjang perguliran hidup yang terkadang memang tidak mudah. Cara dia berjalan, dari melangkahkan kaki hingga menapakkannya kembali ke tanah, kanan dan kiri saling berganti, berikut tatapannya yang lurus ke depan, merupakan totalitas gestur pria sepuh ini yang seolah menyediakan ruang interpretasi bagi saya tentang jalinan kisah upaya mematangkan tiap kesempatan yang datang menghambur ke pelukannya.
Adapun pria sepuh terakhir yang akan saya tampilkan dalam narasi esai ini, dia adalah seorang sopir keluarga yang dengan setia mengantar momongannya ke ruang ekstrakurikuler batik di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Semarang. Momongannya itu dahulu merupahan siswa dan alumnus sekolah tersebut beberapa tahun ajaran lampau. Oleh karena fokus ketertarikan sang momongan pria sepuh itu terhadap keterampilan membatik begitu luar biasa, setelah lulus dia tetap mendapat kesempatan berkarya di ruang kelas batik sekolah tersebut. Tentu saja setelah melalui prosedur izin dan berbagai pertimbangan.
Begitulah pria sepuh ini begitu setia menemani sang momongan tiap hari sekolah. Usianya sudah lebih dari 70 tahun, sedangkan momongan lelakinya kira-kira hampir pertengahan 20 tahun. Meskipun demikian, keterampilan pria sepuh itu menyopir tidak berkurang. Dia juga menjadi muazin ketika Salat Zuhur tiba di Musala Qurrota A’yun, SLBN Semarang. Dari pria sepuh terakhir ini saya banyak belajar mengenai ketulusannya untuk mencintai pekerjaan. Sering saya lihat pada pagi yang cerah, dia berlari kecil di sekitar lingkungan sekolah. Coba mengakrabi kebugaran tubuhnya, demi tetap bisa mengawal sang momongan tersayang.
Benang merah yang dapat menghubungkan empat pria sepuh yang saya kisahkan dalam esai ini, yaitu di dalam dada mereka semua terisi dengan penuh semangat dan optimistis. Ada yang terekspresikan lewat rangkaian kata yang menggegap-gempitai dengan harapan konstruktif. Ada pula yang menunjukkan lewat tindakan dan gestur tubuh yang membuka ruang tafsir tentang kobaran api ikhtiar yang tak pernah padam di balik tubuh yang tak lagi sebugar dahulu. ***
Trending Now