Konten dari Pengguna
Menelusuri Bahasa Gaul dari Waktu ke Waktu
4 November 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 22 menit
Kiriman Pengguna
Menelusuri Bahasa Gaul dari Waktu ke Waktu
Bahasa gaul, dalam artian sebagai bahasa nonformal, santai, untuk percakapan sehari-baik ada pada di sepanjang masa. Tidak harus kalangan anak muda, bisa juga di kalangan terdidik. Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bila bahasa gaul menerima sentuhan pemahaman sebagai ragam bahasa nonstandar, santai, tidak baku dalam suatu percakapan yang berlangsung sehari-hari. Maka sangat bisa jadi pola campur kode (penggunaan kosakata dari dua bahasa yang berbeda) bisa masuk sebagai salah satu bentuk ekspresi ragam bahasa tersebut.
Campur kode ini yang mewarnai bahasa gaul pada masa Pemerintah Hindia Belanda berkuasa di Nusantara. Dalam realisasinya, terjadi percampuran kata bahasa Belanda dan Melayu. Biasanya ini dilakukan oleh kalangan terdidik di masa itu. Mereka yang suda bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) setingkat SMP dan Hoogere Burgerschool (HBS) setingkat SMA sudah termasuk relatif terdidik.
Apalagi, mereka yang menempuh dan menyelesaikan pendidikan di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra. Atau, Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Demikian pula, predikat well educated juga tersematkan pada mereka yang dapat mengenyam bangku kuliah di Rechts Hoogeschool, Sekolah Tinggi Hukum. Juga di Nederlandsch-Indische Artsen School, Sekolah Dokter Hindia Belanda.
Deretan Contoh
Campur kode dalam bahasa gaul di kalangan terdidik pada masa Pemerintah Hindia Belanda, terlihat pada ungkapan kalimat, “Ikheb geen idee, mijnheer (Saya tidak tahu, Tuan). Tetapi saya rasa akan ada masalah”. Atau, sebagaimana tertuang pada kalimat ucapan, “Dat klopt (Itu benar). Kita harus hati-hati. Tapi, saya harus pergi sekarang”. Demikian pula dengan perkataan, “Coba kasih tahu saya, apa gebeurt er (yang terjadi)?”
Contoh campur kode lainnya tertuang dalam kalimat peringatan, “Tolong jangan sentuh obat ini. Karena termasuk obat gevaarlijk (berbahaya). Hanya boleh diminum dengan resep dokter.” Atau, lewat uluran pertanyaan, “Apakah kamu sudah gevaarlijk?”, ketika seorang dokter bertanya kepada pasiennya, apakah yang bersangkutan sudah mendapatkan vaksinasi sebelumnya.
Bisa jadi, pada masa itu, seorang terpelajar dari lulusan sekolah pemerintah, seusai menyaksikan adegan lawak pada Komedie Stamboel (teater keliling yang pendiriannya di Surabaya pada 1891), kemudian memberi respons, “Ah, itu flauw (tidak lucu).” Atau, seorang siswa HBS meminta kepada teman yang rumahnya searah dengannya, “Besok kita studeren (belajar) di rumahku, ya.”
Selain penggunaan campur kode, bahasa gaul di zaman Pemerintahan Hindia Belanda, dapat mengambil wujud ekspresi berupa pemendekan atau pemelayuan atau pelafalan secara informal beberapa istilah Belanda. Contohnya penggunaan kata “rapo” dari rapport (rapor atau laporan nilai); kata “sepor” dari spoor (kereta api); kata “prei” dari vrij (libur).
Tahun 1940-an
Bahasa gaul pada tahun 1940-an erat berkaitan dengan istilah militer informal. Pada masa ini, Indonesia berada dalam ketegangan konflik bersenjata yang memanas. Dua momen penting, yaitu masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan Perang Kemerdekaan (1945-1949).
Pada masa Perang Kemerdekaan, istilah militer informal di Indonesia banyak memperoleh warna dari kondisi lapangan manakala tahap penbentukan kekuatan bersenjatanya masih berproses. Istilah-istilah informal itu banyak menerima sentuhan dari situasi perang gerilya, interaksi dengan rakyat, berikut ambilan pengaruh dari bahasa Belanda serta Jepang.
Kata “laskar” misalnya mewadahi makna sebutan bagi kelompok pejuang rakyat yang bukan merupakan struktur militer formal sebagaimana Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sementara itu, kata “prajurit” adalah sebutan untuk personel tentara dengan realisasi penggunaan luas dan informal pada masa itu.
Lalu ada gabungan kata “senapan panggul”. Ini sebutan informal untuk senjata perorangan, seperti senapan atau karabin. Untuk membedakan senjata yang lebih berat. Demikian halnya dengan “granat nangka” karena bentuknya yang mirip dengan buah tersebut. Ini contoh metafora benda sehari-hari dengan alat tempur.
Selanjutnya ada kata “ransum” hasil serapan dari bahasa Belanda rantsoen. Jatah makanan untuk prajurit. Kemudian ada kata “gerilya” yang memuat makna secara informal sebagai taktik bersembunyi dan menyerang tiba-tiba dari hutan atau desa.
Terdapat pula kata “berondong”. Istilah informal untuk menembak dengan menggunakan senjata otomatis yang berlangsung secara terus-menerus. Mirip dengan biji jagung yang meletup-letup ketika berada dalam proses penggorengan. Tak ketinggalan, kata “sandi”, yaitu pesan rahasia antarpejuang agar terhindar dari deteksi musuh.
Gabungan kata “lari bungkem” merupakan istilah militer informal dari perintah untuk melakukan suatu tindakan dengan tidak menimbulkan suara. Selebihnya ada kata “bapak” untuk panggilan honorifik, menunjukkan rasa hormat dari prajurit kepada atasan atau pemimpin mereka. Adapun sebutan informal untuk mengekspresikan solidaritas sesama pejuang, pilihan jatuh pada penggunaan kata sapaan “kawan”.
Tahun 1950-an
Boleh terbilang semakin banyak tahun melangkah dari noktah awal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, pengaruh bahasa Belanda semakin memudar dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Realitas ini sedikit banyak agaknya juga mendapat dukungan berkat kebijakan larangan menggunakan bahasa Belanda ketika masa pendudukan Jepang pada 1942-1945.
Demikianlah realitas pengaruh bahasa Belanda yang mulai memudar itu semakin menunjukkan rautnya pada tahun 1950-an. Meskipun demikian, pengaruh tersebut tidak berarti sama sekali berhenti total. Ia masih mewujud, tetapi dengan intensitas yang relatif jauh lebih berkurang.
Pada masa itu, masih ada serapan dari bahasa Belanda yang lazim berada di dalam ranah penggunaan bahasa gaul sehari-hari, seperti “setopan” (dari stoppen) yang bermakna “tempat perhentian (bus atau angkutan umum)” atau “onderdil” (dari onderdeel) yang bermakna “suku cadang”.
Seiring dengan kian memudar pengaruh bahasa Belanda, mulai masuk pengaruh bahasa Inggris dalam bahasa gaul. Pada tahun 1950-an, kata serapan “oke” dari okay, untuk menyatakan persetujuan, sudah muncul dalam percakapan sehari-hari. Adaptasi kata secara parsial pun sudah mulai tampak, seperti “solusi” dari solution, “indikasi” dari indication, dan “demonstrasi” dari demonstration.
Selain itu ada catatan, kontribusi bahasa daerah di Jakarta, yaitu bahasa Betawi, memberikan pengaruh variasi dalam pembentukan bahasa gaul atau percakapan di kalangan anak muda. Ada kata sapaan, yaitu “lu” (kamu), “gue” (aku), “engkong” (kakek) yang sesungguhnya berasal dari bahasa Hokkian, salah satu dialek bahasa Mandarin. Bahkan, sudah diserap ke dalam bahasa Betawi sejak abad ke-16.
Pada tahun 1950-an, kata-kata tersebut yang pada mulanya tersebar melalui interaksi para pedagang dari Tiongkok dengan penduduk lokal, terutama di daerah sekitar pelabuhan dan sentra perniagaan seperti Batavia, sudah sangat lazim menjadi bagian dari tuturan masyarakat Jakarta dan tentu saja termasuk keturunan Tionghoa.
Lalu, kata “duit” yang diadopsi bahasa Betawi dari bahasa Melayu. Dan, bahasa Melayu mengadopsinya dari bahasa Belanda, yang berarti uang logam kecil. Lalu bahasa Betawi menambahkan adaptasi nominal mata uang dari hasil adaptasi bahasa Mandarin dialek Hokkian. Yang populer, yaitu “gocap” (50), “gopek” (500), “seceng” (1.000), “noceng” (2.000), “goceng” (5.000).
Terkait dengan bahasa Betawi ini, terdapat pola yang biasa terjadi dalam bahasa gaul, yaitu penghilangan konsonan pertama atau penyingkatan ucapan dalam bentuk yang sangat simpel. Misalnya kata “udah” yang ternyata merupakan penghilangan konsonan pertama “s” dari kata “sudah”. Dan, kata “abis” yang terbentuk karena penghilangan konsonan pertama “h” dari kata “habis”.
Lalu kata “nongkrong” juga sudah digunakan pada tahun 1950-an. Sudah menjadi aktivitas sosial di akhir dasawarsa ini, terutama di kota-kota besar. Saat itu, tatkala area hiburan seperti yang terdapat di Senen, Jakarta mengalami penggusuran, tidak sedikit orang yang mencari tempat lain untuk “nongkrong”. Suatu tempat untuk menjalin kebersamaan. Sekadar mengobrol bareng atau melakukan aktivitas yang menghibur diri.
Kata “nongkrong” secara etimologi berasal dari bahasa Jawa ngongkrong dan bentuk dasarnya tongkrong. Kegiatan duduk santai, bisa juga dengan berjongkok, untuk sekadar membenamkan diri di waktu senggang. Begitulah, setelah terserap ke bahasa Indonesia, ia lebih sering berada pada ranah bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari. Kegiatan “nongkrong” bisa mengambil tempat di angkringan seperti yang umum terlihat di Yogyakarta saat itu.
Tahun 1960-an
Terdapat kemiripan perkembangan kata-kata bahasa gaul antara tahun 1950-an dan tahun 1960-an. Hanya tentu saja dengan intensitas penambahan yang lebih tampak. Misalnya kata “aje” (saja) dari bahasa Betawi yang sering berfungsi untuk memberi penekanan, seperti pada “capek aje” (capai sekali) atau “enak aje” (ungkapan ketidaksetujuan atau protes).
Kata “muke” (muka/wajah) dalam bahasa Betawi juga hadir dalam bahasa gaul. Sebagaimana tertuang dalam ujaran, “Kokmuke lu cemberut begitu?” atau “Gile bener, cantik banget mukecewek itu”. Dari contoh terakhir ini, kita juga dapat menemukan kata “gile” (gila) sebagai ungkapan rasa tidak percaya, terkejut, heran, atau bisa juga kagum atas suatu kejadian atau fakta di luar dugaan. Untuk konteks wajah yang cantik, maknanya lebih dekat dengan ungkapan kekaguman melihat kecantikan seorang gadis muda misalnya karena yang bersangkutan tengah berada di sebuah desa terpencil.
Kemudian, dalam contoh di atas, juga dapat kita temui kata “cewek”. Bentukan morfologis yang dikenal dalam bahasa gaul pada era 1960-an ini merupakan serapan bahasa Mandarin dialek Hokkian, chwek (perempuan atau gadis). Sementara itu kata “cowok” dari chouw (lelaki atau pria). Kendati begitu, kedua kata ini telah lama populer dan sudah akrab dalam pemakauan bahasa sehari-hari di kalangan masyarakat Betawi. Jadilah, kedua kata itu seolah-olah menjadi bagian bahasa masyarakat Betawi.
Bentukan “senewen” (gugup, cemas, bingung), “cengengesan” (tertawa-tawa tanpa alasan jelas), “ngedekem” (tinggal di suatu tempat dalam waktu lama), merupakan tiga kata dari bahasa Jawa yang masuk sebagai bahasa gaul Jakarta pada dekade tersebut.
Lalu ada kata “keret” yang merupakan penyingkatan dari “kereta”. Penyebutan khas untuk sepeda motor di Medan dan sekitarnya pada masa itu. Bisa jadi karena sepeda motor mereka anggap sebagai kendaraan beroda yang bergerak seperti kereta kuda. Uniknya, justru “motor” mereka gunakan untuk menyebut mobil.
Tahun 1970-an
Pada tahun 1970-an, bahasa gaul semakin menampakkan pembentukannya. Ia merupakan dialek bahasa Indonesia nonformal dalam pergaulan sehari-hari pada komunitas tertentu. Perbendaharaan kosakatanya terdiri atas dialek Indonesia-Jakarta, bahasa daerah, bahasa asing, serta bahasa prokem.
Adapun kata "prokem" adalah kata "preman" yang mengalami modifikasi pembentukan dari dua huruf konsonan awal “pr-”yang mendapat sisipan “-ok-” dan mempertahankan huruf vokal - konsonan “em” dan menghilangkan hurif vokal -konsonan “-an”. Jadilah "preman" ---> "prokem".
Ada sedikit catatan untuk bahasa prokem. Pada awalnya merupakan bahasa sandi hasil ciptaan para preman dan pemuda jalanan guna berkomunikasi secara rahasia antarmereka. Tujuannya, agar bahasa mereka tidak dimengerti terutama oleh polisi atau orang dewasa.
Kemudian bahasa prokem mengalami perkembangan dari sebatas eksklusif menuju ke penutur yang lebih luas, terlebih di kalangan remaja Jakarta pada 1970-an. Seiring dengan perjalanan waktu, kata-kata bahasa prokem menemukan realisasi pemakaian yang menyebar luas secara lebih umum sebagai sarana komunikasi sehari-hari.
Pola pembentukan kata bahasa prokem, ada yang dengan mempertshankan satu atau dua konsonan awal. Lalu menyisipkan "-ok-" dan mempertahankan satu atau dua huruf berikutnya. Serta menghilangkan satu atau dua huruf akhir. Seperti kata “bokap” (bapak) merupakan penyisipan “-ok-” setelah satu konsonan awal “b-” yang berlanjut dengan “-ap”. Untuk huruf vokal - konsonan "ak” dihilangk
Pun dengan “nyokap” (nyak) setelah dua konsonan awal “ny-” mendapat sisipan “-ok-”. Agaknya salah satu konsonan “k”-nya luluh jadi satu. Dan, secara manasuka agar memiliki struktur bunyi akhir yang sama dengan “bokap” kemudian terjadi penambahan huruf “-p”. Begitu pula dengan “gila” menjadi “gokil”, polanya setelah huruf konsonan awal “g” lalu mendapat sisipan “-ok-”, selanjutnya mempertahankan huruf vokal - konsonal “il” dan menghilangkan huruf vokal “a” di akhir kata.
Contoh lain dari “bini” menjadi “bokin” (pacar atau kekasih), dari konsonan awal “b-” mendapat sisipan “-ok-” lalu mempertahankan huruf vokal - konsonan “-in” dan menghilangkan huruf vokal “-i” terakhir. Kata “siapa” menjadi “sokap” pun ada sisipan “-ok-” setelah konsonan awal “s” dan mempertahankan huruf vokal - konsonan "ap" dan menghilangkan huruf vokal “a” terakhir. Kata “berak” menjadi “boker” (buang air besar) juga setelah konsonan awal “b” mendapat sisipan “-ok-”, mempertahankan huruf vokal - konsonan “er” dan menghilangkan huruf vokal - konsonan “ak” di akhir kata.
Sementara itu, dari “bohong” menjadi “bokis” hanya ada sisipan”-ok-” setelah konsonan awal “b”. Kemudian ada bentukan “bok-” yang mendapat tambahan “-is” itu merupakan kreasi fonetik baru. Termasuk kategori pembentukan ini, yaitu kata “polisi” menjadi “plokis”. Sisipan “-ok-” setelah huruf konsonan awal “p” dan pergeseran huruf konsonan “l” sebagai kreasi fonetik baru. Sudah itu, mempertahankan vokal - konsonan “is". Dan, menghilangkan huruf vokal “i” terakhir.
Tidak semua kata dalam bahasa gaul memiliki pembentukan dengan pola yang sama. Ada pula kata-kata serapan dari bahasa Mandarin dialek Hokkian yang sudah menyatu dengan bahasa Betawi, seperti “gue”, “lu”, “cewek”, “cowok” yang sudah muncul pada dasawarsa sebelumnya, menjadi kian populer penggunaannya pada tahun 1970-an ini.
Kata-kata bahasa gaul makin kaya dengan kehadiran “doi” (dia yang merujuk pada sang tambatan hati), “kemek” (makan), “kongko” (kumpul bareng), “katrok”(norak), “ngetham” (enak), “sapath” (jalan), “jongkok” (mencuri), “kecian” (kasihan), “uban” (uang), “ogah” (tidak mau), “jijay” (jijik banget).
Ada pula kata bahasa gaul yang berupa akronim, seperti “gatot”(gagal total). Lalu ada yang terdiri atas dua kata, contoh “nggak asoi” (tidak menyenangkan). Juga berupa ungkapan, antara lain “au ah gelap”, yang menyatakan sikap tidak peduli atau bisa juga pasrah.
Tahun 1980-an
Kata-kata gaul yang muncul pada dekade-dekade sebelumnya, seperti “bokap” (atah), “bokin” (pacar), “doi” (dia merujuk pada sang kekasih), “jijay” (jijik banget), “kemek” (makan), “kongko” (kumpul bareng), “nyokap” (ibu), “sokap” (siapa), masih mewarnai perbendaharaan khazanah kosakata bahasa gaul pada tahun 1980-an.
Selain itu, juga ada kata “ajojing” (menari atau berdansa). Lalu ada “brokap” (berapa) dengan pola pembentukan mempertahankan huruf konsonan “b”, menghilangkan huruf vokal “e”, mempertahankan huruf konsonan “r”, menyisipkan “-ok-”, mempertahan huruf vokal dan konsonan “ap”, serta menghilangkan huruf vokal “a” yang terakhir.
Kemudian ada kata “doku” (duit). Pola pembentukannya: mempertahankan huruf konsonan “d”, menambahkan sisipan “-ok-”, mempertahankan huruf vokal “u”, serta menghilangkan huruf vokal - konsonan “it”. Selanjutnya ada kata “dongdot”, merupakan pelesetan dari kata “dong”. Termasuk partikel fatis untuk memberi penekanan pada kalimat ujaran.
Masih terdapat pula kata “gokil” (gila). Bila pada dekade sebelumnya merupakan ungkapan rasa tidak percaya, maka pada tahun 1980-an ini ada pergeseran makna seperti untuk menekankan kehebatan atau keren. Selanjutnya ada kata “jiper” (gugup atau takut). Ada kata “mokat” (mati). Pembentukannya dengan mempertahankan huruf konsonan “m”, memberikan sisipan “-ok-”, mempertahankan huruf vokal - konsonan “at”, dan menghilangkan huruf vokal “i”.
Seterusnya ada kata “pembokat” (pembantu) dengan pola pembentukan bahasa prokem yang unik. Kali ini ada empat huruf awal, yaitu “pemb-” yang tetap dipertahankan. Kemudian baru disisipi dengan “-ok-”. Lalu huruf vokal “a” dipertahankan. Huruf konsonan “n” dihilangkan. Huruf konsonan “t” dipertahankan. Dan, huruf vokal “u” dihilangkan.
Begitu juga dengan kata “rokum” (rumah). Pola pembentukan ala prokem tetap diikuti. Huruf konsonan awal “r” tetap dipertahankan. Selanjutnya disisipi “-ok-”. Dan, kombinasi huruf vokal - konsonan “um” tetap dipertahankan. Serta, huruf vokal - konsonan “ah” dihilangkan.
Di samping itu, ada kata “selow” yang merupakan representasi bunyi ujaran atau pelafalan dari kata dalam bahasa Inggris, slow. Maknanya adalah santai. Kemudian ada kata “sepokat” (sepatu). Dengan pola pembentukan prokem, kombinasi huruf konsonan vokal konsonan “sep-” di awal kata dipertahankan. Lalu disisipi “-ok-”. Huruf vokal - konsonan “at” dipertahankan. Dan, huruf vokal “u” dihilangkan. Selebihnya ada kata “yongkru” yang bermakna “ya” atau “iya”.
Ada baiknya juga, dilengkapi dengan contoh kalimat. Setidaknya untuk menghidupkan kembali bagaimana kata-kata bahasa gaul itu memainkan perannya dalam komunikasi santai antarteman sebaya pada era 1980-an.
Misalnya dalam kalimat ujaran, “Gue tadi liat bokap lu lagi ajojing sama nyokap di klub” (Saya tadi melihat ayahmu sedang berdansa dengan ibumu di klub). Atau, “ Sokap sih yang tadi jiper di depan cewek itu?” (Siapa sih yang tadi gugup di depan gadus itu?). Atau lagi, “Bokin gue minta doku buat beli sepokat baru” (Pacar saya minta uang untuk beli sepatu baru).
Tahun 1990-an
Banyak kata bahasa gaul dari dekade-dekade sebelumnya yang tetap hadir sebagai bagian dari khazanah perbendaharaan bahasa gaul pada tahun 1990-an. Beberapa di antaranya “doi” (dia), “kongko” (kumpul barng), “bokin” (pacar), “yongkru” (iya), “kemek” (makan), “bokis” (bohong), “gue” (aku), “lu” (kau), “bokap” (ayah), “nyokap” (ibu). Juga akronim atau singkatan, antara lain “gatot” (gagal total), EGP (emang gue pikirin). Ungkapan “au ah gelap” (masa bodoh).
Pada dekade ini muncul pula kata “ogut” (saya), “dolang” (uang). Kata serapan dari bahasa Inggris “def” yang merupakan singkatan definitely, sering untuk menekankan kepastian. Kemudian frasa “the bomb” yang populer untuk menilai sesuatu yang mengesankan.
Di samping itu, pada tahun 1990-an muncul bahasa gaul internet. Berupa singkatan OTOH (on the other hand, di sisi lain), IOW (inother words, dengan kata lain), F2F (face to face, bertatap muka), L&T (lovely and talented, cantik dan berbakat), POTS (plain oldtelephone service, telepon umum), QOS (quality of service, untuk mengomentari kualitas layanan), TTYL (talk to you later, sampai nanti), BRB (be right back, segera kembali).
Bahasa gaul pada tahun 1990-an ini juga populer berkat penayangan film atau sinetron serta majalah remaja yang terbit saat itu. Misalnya ungkapkan “kebelet gaul”, pengin terlihat menjadi bagian tren, namun tidak sesuai dengan jati diri sendiri. Lalu ada kata “kepo” (ingin tahu), “curcol” (curhat colongan, curhat sebentar), “tengsin” (malu).
Muncul kata “barokah” dengan makna sesuai dengan konteks kalimat tuturan. Untuk menyatakan rasa surprise (“Eh, dia bisadapetin tiket gratis. Barokah banget, ya”). Bisa pula sebagai penegasan atau persetujuan (“Lagi banyak proyek, kerjaan lancar terus. Barokah banget kita”).
Dalam konteks ironi, seperti kalimat ujaran, “Udah jatuh, ketiban tangga, masih juga disalahin. Barokah banget deh hidup lu”. Pas pula untuk respons syukur, seperti pada kalimat tuturan, “Habis nraktir temen-temen makan, eh langsung dapat bonus. Barokah banget hari ini”.
Ada lagi kata “nokap” (kenapa). Ungkapan “kecap basah” untuk perpisahan. Kata “cepirit” (cepat), “sotoy” (sok tahu). Singkatan “jaim”, jaga image (citra). Contoh dalam kalimat: “Nongkrong di mana, sokap aja yang dateng?” (“Berkumpul di mana, siapa saja yang datang?).
Lainnya, “Dasar kepo, deh. Mau campur tangan aja urusan orang lain” (“Dasar ingin tahu, deh. Ingin campur tangan urusan orang lain”); "Jangan tengsin, ah. Kita kan udah teman lama" (“Jangan malu, ah. Kita kan sudah teman lama”); “Gimana, kemek dulu, yuk?" (Bagaimana, makan dulu, yuk?).
Tahun 2000-an
Pembentukan akronim dan singkatan, pembalikan huruf dalam kata, penyerapan dan pengkreasian kata, banyak mewarnai bahasa gaul tahun 2000-an. Termasuk penyingkatan dalam bentuk akronim, antara lain “apasu” (kombibasi kata “apa” dan “susahnya”, terjemahan what’s up, biasa untuk percakapan saat menelepon).
Kemudian ada “jebe” (singkatan berupa pelafalan huruf “j” dan “b” dalam bahasa Indonesia). Merupakan kependekan dari “join bareng”. Lalu ada singkatan SGM, singkatan dengan kepanjangan dari Sinting, Gila, Miring. Di kalangan anak muda, penyebutan singkatan ini dalam konteks santai dan dengan sentuhan humor, bukan hinaan serius. Juga ada singkatan PHP, pemberi harapan palsu).
Pembalikan huruf, lebih tepatnya pembalikan silabel, dalam satu kata, seperti “bisa” menjadi “sabi”, “tidur” menjadi “rudit”, “pacaran” menjadi “naracap”, “nongkrong” menjadi “krongnon”, “sampah” menjadi “hapmas”, “belok” menjadi “koleb”.
Pengkreasian kata juga muncul dalam bahasa gaul tahun 2000-an ini, antara lain “saiko” (penulisan bentuk pelafalan secara lisan dari psycho. Maknanya maniak). Ada kata “rempong” (merepotkan). Ada kata “peres” (pura-pura, tidak tulus, bohong” seperti dalam kalimat ujaran, “Ih, lu peres banget sih” (“Kamu pura-pura banget sih”).
Terdapat “sekem” yang juga agaknya merupakan versi penulisan dari pengucapan lisan dari kata bahasa Inggris scam. Maknanya terkena penipuan. Lalu ada akronim “baper” (bawa perasaan) untuk menyebut orang yang mudah tersinggung. Hati yang sensitif. Ada pula yang diserap dari bahasa Inggris, yaitu “chillax”, kombinasi dari chill dan relax. Kata yang terkait dengan upaya menenangkan seseorang.
Tahun 2010-an
Kata “kepo” yang ternyata merupakan akronim dari knowingevery particular object, sebutan untuk orang yang selalu ingin mengetahui urusan orang lain, yang sudah ada pada dekade sebelumnya, masih bertahan pemakaiannya pada tahun 2010-an. Masih ada pula dalam percakapan bahasa gaul sehari-hari, akronim “baper” (bawa perasaan) dan “mager” (malas gerak). Begitu pula dengan “curcol” (curhat colongan/sebentar)
Ada pula kata “galau” untuk menggambarkan suasana perasaan gelisah atau nelangsa lantaran masalah asmara di kalangan muda-mudi. Tidak ketinggalan akronim “jones” (jomblo ngenes), “caper” (cari perhatian), “alay” (anak layangan, merujuk pada gaya yang kurang sesuai), “lebay” (lebih banyak, berlebihan).
Juga ada ungkapan “makan temen”, mengkhianati teman dengan merebut pacar atau menebar fitnah. Lalu ada kata “receh” untuk menyebut lelucon yang sama sekali tidak lucu. Kemudian kata “gebetan”, yaitu calon pacar. “Gue lagi dekat sama gebetan. Doain ya biar jadi” (“Aku sedang dengan seorang yang kusukai. Doakan ya agar kami bisa jadi).
Pengaruh dari bahasa Inggris juga memasuki wilayah bahasa gaul. Ada singkatan TWF, bisa “that was funny” (itu lucu) dan bisa pula “that was fun” (itu menyenangkan). Dalam bahasa gaul, biasa untuk menyebutkan bahwa suatu pengalaman atau kejadian itu menyenangkan atau lucu.
Contoh penerapan, “Udah lama gue nggak main skateboard. Sekujur badan ini rasanya sakit, tapi TWF” (“Sudah lama saya tidak bermain skateboard. Seluruh tubuh saya terasa sakit, tapi ini menyenangkan”).
Masih terkait dengan singkatan, ada GWS (get well soon, semoga cepat sembuh), LOL (laughing out loud, tertawa terbahak-bahak), OTW (on the way, sedang dalam perjalanan), YOLO (you only live once, kamu hidup hanya sekali). Ada pula singkatan SWAG (stylewith a bit gangster). Untuk melukiskan gaya berpakaian, sikap, atau cara seseorang berpenampilan keren, percaya diri, dan modis.
Selanjutnya ada kata “slay” dari bahasa Inggris. Secara harfiah maknanya “membunuh” atau “menghancurkan”. Namun, ada ada pergeseran makna ke arah pujian positif dalam bahasa gaul.
Dalam bahasa gaul, makna slay bukan membunuh atau menghancurkan, melainkan memuji kepada seseorang yang melakukan sesuatu dengan sangat baik; tampak luar biasa, atau sukses besar. Realisasi penerapannya, seperti “Gaunmu cantik sekali. You absolutely slay (Kamu tampil sangat menawan)”. Atau, “Penampilan band semalam slay (keren) banget. Aku takjub”.
Selanjutnya kata “twerk”, terkait dengan twerking, tarian dengan gerakan pinggul dan bokong secara cepat dan berulang, sering dalam posisi berjongkok atau membungkuk. “Setelah nonton video tutorial, aku nyoba twerk di kamar. Tapi, malah pegal-pegal”. Kalimat ujaran ini, tentang orang yang menuturkan pengalamannya belajar tari twerking.
Ada pula kata “on fleek” (sempurna, keren, luar biasa). Muncul pada 2014 sebagai hasil ciptaan di Vine. Aplikasi media sosial berbagi video pendek. Contoh pemakaian dalam kalimat tuturan, “Presentasimu tadi pagi on fleek banget. Semua poin tersampaikan dengan jelas”. Atau, “Alisnya on fleek. Rapi banget kayak diukir”. Atau lagi, “Riasanmu hari ini on fleek banget. Bikin pangling”.
Bahasa gaul juga menemukan bentuk ekspresi lewat cara pengetikan kalimat yang tidak selazimnya. Di samping huruf, ada pemanfaatan angka untuk menggantikan huruf. Dalam hal ini angka “4” untuk menggantikan huruf vokal “a”. Sementara itu, angka “9” menggantikan huruf konsonan “g”. Plus huruf konsonan “c” menyulihi “s” pada bentukan “c4y4b9”.
Kata-kata dalam bahasa gaul lainnya yang muncul pada tahun 2010-an, ada “fesbuk” (sebutan gaul untuk Facebook). Ungkapan “Demi apa?” untuk menyatakan rasa tidak percaya atau terkejut. Ilustrasi konteksnya, ada seorang teman membeberkan rahasia atau berita yang mengejutkan. Dan, responsnya, “Demi apa? Gue enggak percaya".
Kata-kata gaul tahun 2010-an lainnya, yaitu “maksimal” (sebutan untuk sesuatu yang luar biasa), “kece” (keren, cantik), “keleus” (kali), kata seru untuk menyatakan rasa heran atau tidak setuju. Lalu terdapat kata serapan bahasa Inggris “legit” (versi pendek legitimate: autentik atau tepercaya). Dapat ditambahkan pula, “gaje” (gak jelas), “jayus” (garing atau tidak lucu), “ciyus” (pelesetan dari kata “serius”, “cung” (akronim “cupu nanggung”).
Tahun 2020-an
Hingga tahun kelima dasawarsa 2020-an ini, telah muncul sejumlah singkatan bahasa Inggris dalam bahasa gaul. Sebut saja TMI (too much information, terlalu banyak informasi). Pemberian informasi yang terlalu terinci hingga menyentuh hal-hal pribadi dan tidak relevan sehingga mitra bicaranya tidak ingin mendengarnya lagi.
Kalimat ujaran yang representatif untuk menunjukkan realisasi pemakaian singkatan TMI, yakni “Aku nggak mau tahu detailnya, TMI”. Atau, “Maaf, kemarin aku cerita terlalu banyak. TMI, ya?". Atau lagi, "Gue mau curhat nih, tapi TMI banget nggak sih?"
Ada pula singkatan bahasa Inggris WDYM (what do you mean, apa maksudnya). Sebagaimana TMI, singkatan WDYM sering berada dalam ranah penggunaan secara daring di media sosial. Selain itu, WDYM, juga lazim muncul di aplikasi pesan instan, dan forum untuk mengklarifikasi atau mengekspresikan ketidakpercayaan.
Akronim ASAP (as soon as possible, secepat atau sesegera mungkin). Sering hadir dalam komunikasi informal, seperti pesan teks atau surat elektronik. Tujuan pemakaian untuk memperlihatkan nilai urgensi dan perlu tindak lanjut dalam waktu dekat. Lalu ada akronim FOMO (fear of missing out, takut ketinggalan tren atau acara). Terdapat juga singkatan “Tbh” (tobe honest, sejujurnya). Tidak ketinggalan CMIIW (correct me ifI’m wrong, koreksi jika saya salah). Dan, VC (video call, panggilan video). POV (point of view, sudut pandang).
Selain berupa singkatan atau akronim, pengaruh bahasa Inggris dalam bahasa gaul di Indonesia pada tahun 2020-an (hingga 2025), juga terwujud sebagai kata. Contohnya “flexing” (pamer kekayaan atau pencapaian suatu prestasi), “ghosting” (menghilang tiba-tiba tanpa kabar), “healing” (menyembuhkan diri atau beraktivitas menenangkan diri, wujud aktivitasnya sering berupa jalan-jalan).
Kata “cringe” (tidak nyaman ketika menyaksikan hal yang tidak pantas). Kata “basic” (untuk menyebut seseorang yang mempunyai selera umum, standar, dan tidak orisinal). Kata “nocap” (tidak bohong, jujur, serius untuk meyakinkan orang lain. Contoh kalimat, “Presentasi kamu tadi bagus banget. No cap” (penyampaian opini secara jujur).
Pengombinasian bahasa Indonesia dan Inggris lazim dilakukan dalam komunikasi gaul kalangan anak muda di Jakarta Selatan (Jaksel). Mereka banyak menggunakan kata-kata Inggris, seperti literally, basically, actually, exactly, whis is. Selain itu, mereka banyak memakai singkatan baik dari bahasa Indonesia seperti “cuks” (cukup tahu) atau “nyes” (menyesal) maupun singkatan bahasa Inggris seperti FYI (for your information).
Akronim lokal pun memberada dalam kancah bahasa gaul. Sebut saja “modus” (modal dusta, ada niatan yang kurang baik di belakang perkataan dan perbuatan yang tampak baik). Lalu ada akronim “pansos” (panjat sosial, senang pamer di media sosial guna memperoleh curahan perhatian).
Dalam bahasa gaul, terdapat juga akronim campuran. Terbentuk dari dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Akronim campuran dimaksud “gamon”, kepanjangannya gagal move on. Dalam hal ini kata yang dikenali sebagai bahasa Indonesia yaitu gagal, sedangkan kata yang dikenali sebagai bahasa Inggris yakni move on.
Beberapa akronim lokal yang masih eksis dan tampaknya sudah muncul pada dekade-dekade sebelumnya, antara lain “mager” (malas gerak), “gaje” (gak jelas), “baper” (bawa perasaan). Sudah ada pula pada rentang waktu terdahulu, akronim “bucin” (budak cinta, orang yang sangat mencintai pasangannya). Mulai populer pada 2019 berkat konten hasil kreasi You Tuber Jovial da Lo Lopez.
Akronim lokal “mager” (malas gerak) dan “gercep” (gerak cepat) jauh lebih tua lagi. Mulai populer pada tahun 2010-an. Hal ini seiring dengan semakin meluas pemanfaatan media sosial dan pesan instan di kalangan anak muda. Kemudian “japri” (jaringan pribadi) mulai sering muncul di kisaran di atas 2010-an. Adapun “baper” (bawa perasaan) menangguk popularitas pemakaian di kisaran 2014-2015.
Sementara itu, akronim “mantul” (mantap betul) mulai populer pada tahun 2018. Boyband asal Korea Selatan, Winner, pada November tahun itu menyapa para penggemar Indonesianya di Jakarta dengan menggunakan akronim “mantul” ini. Akronim “salfok” (salah fokus) mulai menunjukkan peningkatan frekuensi pemakaian terutama di media sosial pada tahun 2019.
Dalam bahasa gaul terdapat istilah unik dari media sosial. Ini terkait dengan gaya berpakaian di kalangan wanita muda. Ada tiga kategori, yakni penyuka gaya warna-warni disebut “cewek kue”, gaya warna yang dekat dengan suasana alami disebut “cewek bumi”, dan serbahitam disebut “cewek mamba”.
Selanjutnya ada kata “cepmek” (cepol mekar, gaya rambut khas bonge yang viral saat fenomena Citayam Fashion Week pada 2022. Lalu kata “skibidi” (populer di kalangan Generasi Alpha, kelahiran 2010 - 2024, untuk menggambarkan sesuatu yang kurang baik). Misalnya untuk menginformasikan situasi yang kacau, seperti pada kalimat, “Tadi ada masalah di sekolah. Pokoknya skibidi banget deh'". ***
.

