Konten dari Pengguna
Mengenang Pekerjaan Mengedit Berita saat Internet Belum Membudaya
21 Mei 2025 17:07 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengenang Pekerjaan Mengedit Berita saat Internet Belum Membudaya
Ada kisah yang tak terlupakan dalam pekerjaan mengedit berita saat internet belum membudaya. Seperti harus membukai lembar-lembar kamus. Atau, menelateni bendelan koran-koran arsip.Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kini semua hanya mungkin bisa dipuja sebagai Dewi Kenangan. Saat-saat pekerjaan editorial dilakukan di tengah realitas internet belum bisa diakses secara praktis. Kira-kira hingga pertengahan tahun 2010-an. Ada celah-celah pekerjaan yang mesti diupayakan dengan cara yang butuh waktu tidak cepat.
Contoh sederhana. Untuk memastikan kata dengan penulisan baku. Kata yang diseyogiakan penggunaannya. Tatkala mengasyiki proses pengeditan berita di platform editorial yang disediakan perusahaan.
Saat itu, untuk meraih hasil yang maksimal, desk editor harus menyediakan waktu membukai lembar-lembar buku versi cetak Kamus BesarBahasa Indonesia (KBBI). Sebab, belum tersedia versi daringnya.
Ini tentu membutuhkan tempo yang mesti terjalani. Untunglah saat itu, di meja tiap desk tersedia KBBI cetak. Dengan demikian, tidak perlu repot-repot berjalan menuju ke ruang perpustakaan. Hanya untuk tujuan sekadar memastikan manakah bentuk penulisan yang baku atas suatu kata. Meski demikian, butuh ketelatenan membalik-balik lembar pagina kamus.
Contoh lain. Untuk sekadar memastikan konsistensi nama pejabat dari sisi ejaan penulisannya. Desk editor perlu melacaknya dari bendelan koran yang telah terbit sebelumnya. Biasanya satu bendel berisi koran-koran yang terbit selama sebulan.
Belum lagi kalau dalam pencarian itu kemudian ditemukan beberapa versi ejaan penulisan nama untuk pejabat yang sama. Nah, jika sudah begini tumpuan kepastian adalah bertanya kepada Redaktur Pelaksana atau kepala desk editor.
Ketika akses internet sudah mulai membudaya, kedua persoalan di atas dapat relatif lebih mudah solusinya. Dengan adanya KBBI versi daring, untuk memastikan penulisan kata yang baku dapat lebih mudah pengaksesannya.
Rekam jejak digital sejumlah media yang bonafide dapat menjadi acuan soal penulisan nama pejabat. Relatif lebih praktis prosedurnya dengan hanya menyaksamai gawai. Dengan demikian, tinggal mengikuti kelaziman penulisannya.
Layanan Koran Elektronik
Selanjutnya layanan koran elektronik (e-paper), tak pelak lagi menjadi bukti yang kian mengakrabkan kami dengan budaya internet.
Memang ini tidak secara langsung terkait dengan pekerjaan mengedit berita. Tapi bolehlah sebagai tambahan ilustrasi, tentang kebiasaan para pekerja media mengakses koran, sebelum layanan koran elektronik muncul.
Sebelum ada layanan e-paper, dahulu sekali menurut cerita para sesepuh, agar segera dapat mengakses koran sesegera mungkin, mereka berlangganan. Dan, biaya langganan akan diganti pihak kantor.
Dahulu, ada pula yang hanya mengandalkan saat masuk kerja. Jam kerja kami saat itu ada yang mulai pukul 14:00 WIB (redaktur daerah). Ada pula yang datang sore hari hingga setelah magrib (redaktur olahraga, ekonomi, nasional).
Dengan mengandalkan jam masuk, agaknya jarang ada yang bisa segera membaca koran pada pagi hari. Hanya sedikit orang saja, seperti redaktur opini dan editor bahasa sif pagi, yang dapat membaca koran di pagi hari. Itu pun biasanya setelah lewat pukul 09:00 WIB. Pernah ada masanya mereka diplot masuk pagi.
Dengan adanya e-paper yang hadir setia setiap pagi, kesempatan untuk menikmati berita-berita yang tersaji dapat segera tertunaikan. Di samping itu, andai e-paper sudah ada di kisaran 2006-2012, tentu proses evaluasi bahasa pada berita-berita yang terbit, bisa dilakukan dengan lebih nyaman. Kalau perlu, perhari dengan hasil evaluasi yang disampaikan via grup WhatsApp.

