Konten dari Pengguna
Mengerling Kursi Roda, Teman Setia Penderita Lumpuh Kaki
28 Agustus 2025 17:52 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Mengerling Kursi Roda, Teman Setia Penderita Lumpuh Kaki
Ada dua jenis kursi roda. Pertama, didesain hanya untuk didorong oleh pendamping. Kedua, didesain agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh penggunanya yang lumpuh kaki.Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kursi roda itu begitu berarti bagi para penyandang tunadaksa, teristimewa mereka yang mengalami lumpuh kaki. Tidak hanya itu. Penderita asam urat akut pun membutuhkan kehadiran kursi roda. Konon jika penyakit ini tidak memperoleh penanganan intens, komplikasi yang bisa saja muncul, seperti kerusakan sendi permanen dan kemampuan mobilitas yang menjadi sangat terbatas.
Demikianlah yang diderita oleh Raja Philip II (21 Mei 1527 - 13 September 1598). Dia memerintah Kekaisaran Spanyol dari 16 Januari 1556 hingga wafat pada 13 September 1598. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Eropa, Amerika, Asia, serta sejumlah daerah Afrika.
Raja Philip II mulai membutuhkan kursi roda pada 1595. Asam urat yang sangat parah diidapnya. Raja yang mendapat julukan Felipe el Prudente (Philip yang Bijaksana) itu mengalami kesulitan berjalan. Kursi roda dalam tiga tahun terakhir masa hidupnya telah membantu mobilitasnya dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.
Kursi roda yang digunakan Raja Philip II dibuat dengan desain rumit. Terlebih lagi dengan statusnya sebagai penguasa kekaisaran dengan wilayah yang sedemikian luas, kursi roda itu hadir dengan pelapis mewah. Ada sandaran lengan dan kaki yang dibuat dengan ornamen indah. Ada pula empat roda kecil, sehingga abdi kerajaan dapat mendorongnya dengan nyaman.
Tujuh puluh tahun kemudian, pada 1665, ditemukan kursi roda self-propelled pertama. Maksudnya, jenis manual yang bisa digerakkan sendiri oleh si penyandang tunadaksa, dalam hal ini penderita lumpuh kaki. Ada dua roda besar di bagian belakang dilengkapi dengan pelek sebagai kemudi yang dioperasikan oleh tangan. Sementara itu, dua roda bagian depan berukuran kecil.
Di Nuremberg, Jerman, pada 1655, seorang pembuat jam tangan, Stephan Farffler (12 November 1633 - 24 Oktober 1689) merancang kursi roda self-propelled. Sejak kecil dia menderita paraplegia. Patah tulang punggung menyebabkannya lumpuh dari pinggang ke bawah. Temuannya ini menyerupai sepeda statis modern. Ada engkol tangan sehingga kursi roda itu bisa digerakkan.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, produksi komersial kursi roda biasanya bersandaran tinggi, tempat duduk lebar, ada sandaran tangannya, sandaran kaki yang bisa menyesuaikan dengan kenyamanan pengguna, dan jarak sumbu roda yang besar. Roda dengan jari-jari dari kawat pun mulai menggantikan roda kayu.
Kursi Roda Modern
Adalah Herbert A. Everest, seorang insinyur mesin yang menderita cacat fisik akibat mengalami kecelakaan dalam suatu aktivitas penambangan pada 1918. Insiden itu mengakibat dirinya menderita lumpuh kaki. Dia mengungkapkan kepada mitranya yang juga insinyur mesin, Harry C. Jennings Sr, tentang kursi roda produksi 1930-an yang kurang memenuhi asas kenyamanan menurut perspektifnya.
Harry C. Jennings Sr dan Herbert A. Everest kemudian mendirikan perusahaan Everest and Jennings. Pada 1932 di bawah prakarsa Harry C. Jenning kemudian terciptalah kursi roda modern yang pertama. Rangkanya dari bahan baja tubular (berbentuk tabung, silinder, atau persegi panjang). Dapat dilipat. Portabel dengan desain X-brace. Desain ini selanjutkan dimohonkan hak patennya dan dikabulkan pada Oktober 1937.
Konsep pendesainan kursi roda self-propelled tetap mengacu pada jenis manual. Namun porsi rancangan cenderung memberat pada bagaimana pengguna juga memiliki ruang kemampuan untuk secara mandiri mengoperasikannya hingga batas-batas yang lebih fleksibel. Pelek dorong di roda belakang menjadi peranti yang memungkinkan pengendalian arah pergerakan berada di bawah kendali sepenuhnya dari pengguna.
Untuk lebih mengaksentuasikan kemampuan pengendalian atas kursi roda self-propelled itu, memang membutuhkan kekuatan tubuh bagian atas dari penggunanya. Keberadaan pelek dorong (push rim) di roda belakang adalah peranti yang disediakan dalam langkah upaya pengoperasian secara mandiri dimaksud. Dan, bentuk roda belakang yang besar relatif menggampangkan pengguna untuk mengendalikannya. Adapun roda depan yang kecil berfungsi untuk mengondisikan keseimbangan dan memfasilitasi manuver.
Dalam situasi tertentu, seperti tatkala melewati jalanan menanjak atau melewati rintangan atau permukaan bergelombang, bantuan orang lain terkadang diperlukan juga. Oleh karena itu, ada relevansinya juga kelengkapan pegangan untuk pendamping di bagian belakang atas kursi roda tersebut.
Meskipun demikian, sedikit bantuan dari orang lain tidak akan mengurangi sensasi kemandirian. Masih ada gumpalan martabat yang terjaga di hati, ketika seseorang dengan kelumpuhan pada kedua kaki, mampu melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan seminimal mungkin menerima uluran bantuan orang lain.
Hanya untuk Didorong
Selain kursi roda self-propelled, terdapat jenis manual berbeda. Ada kursi roda transit (transportasi) yang dirancang hanya untuk didorong pendamping. Roda belakangnya lebih kecil daripada kursi roda self-propelled. Ada pula yang keempat rodanya kecil semua. Tidak ada pelek dorong untuk digerakkan oleh pengguna secara mandiri. Ini sebenarnya merupakan jenis kursi roda manual yang konvensional.
Selain itu, ada pula versi kursi roda yang lebih ringan daripada kursi roda standar. Material seperti alumunium. Lebih praktis dibawa, didorong, dilipat, diangkat oleh pendamping. Ada juga versi lebih kecil dari kursi roda standar, dengan acuan dimensi fisiknya yang ringkas agar mudah digunakan di ruang sempit, kendati materialnya tidak selalu ringan. Dan, ini memudahkan pendamping untuk menolong pengguna kursi roda jenis ini.
Perspektif Penjenisan Kursi Roda
Dari sudut pandang tenaga penggeraknya, pada uraian di atas telah disebutkan kursi roda manual. Penggunaannya dengan cara didorong oleh pendamping, dioperasikan secara mandiri oleh pengguna. Atau, kombinasi keduanya. Jenis ini yang paling banyak dipakai. Tersedia dengan model dan ukuran yang bervariasi.
Masih terengkuh dalam perspektif tenaga penggeraknya, terdapat juga kursi roda elektrik. Motor listrik dan baterai menjadi sumber tenaga untuk memobilisasikannya. Pengendalian pergerakan lewat panel kontrol (joystick). Penemu asal Kanada, George Johann Klein (15 Agustus 1904 - 4 November 1992), merupakan pionir yang mengembangkan kursi roda elektrik pertama pada 1953. Mulai diproduksi masif oleh Everest & Jennings pada 1956.
Seterusnya, berdasarkan perspektif penggunanya, terdapat kursi roda bariatrik, untuk orang dengan berat badan berlebih. Konstruksi dan kapasitasnya pun menyesuaikan. Lalu kursi roda pediatrik dengan desain, ukuran, dan fitur bagi anak-anak. Kemudian kursi roda olahraga untuk atlet penyandang disabilitas lumpuh kaki dengan konsep rancangan ringan, aerodinamis, dan desain performa tinggi.
Masih dari perspektif penggunanya, ada kursi roda cerebralpalsy, dengan pengguna yang menderita gangguan gerakan, otot, atau postur tubuh sebagai akibat dari cedera otak. Dapat tercatat pula kursi roda multifungsi, dengan fitur tambahan, seperti untuk rebahan, dudukan yang dapat dilepas, dan meja untuk keperluan makan. Bahkan ada pula fitur tambahan untuk keperluan buang air besar.
Selebihnya, kursi roda dalam perspektif adanya fungsi tambahan. Ada kursi roda recliner, yang sandaran punggungnya bisa tertata sedemikian rupa, sehingga si pengguna dapat rebahan dengan nyaman. Ada lagi kursi roda tilt yang membuka akses bagi pengguna untuk mengubah sudut kemiringan kursi roda.
Dan, patut pula dicatat kursi roda dalam perspektif penggunaan. Ada kursi roda standar yang lazim dipakai oleh penyandang tunadaksa, terutama lumpuh kaki, dalam aktivitas keseharian mereka. Ada lagi kursi roda traveling untuk kepentingan bepergian yang praktis dan bisa dilipat. Ada pula kursi roda commode yang mempunyai kelengkapan toilet portabel.

