Konten dari Pengguna
"Nur”, Nama Perempuan Itu
6 Desember 2025 13:10 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
"Nur”, Nama Perempuan Itu
Pada belasan hingga puluhan tahun yang lewat, nama Nur untuk perempuan lazim dan pernah populer. Kata Nur biasanya menjadi pilihan di kalangan keluarga pemeluk agama Islam. Dewasa ini ada fenmena lainMohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua puluh tiga tahun silam, saya menikahi perempuan bernama Nur Hayati. Ada kata “Dwi” di depannya, karena dia anak nomor dua dari tiga bersaudara. Kakaknya Nur Aini (entah saya tidak tahu kenapa, di awalnya tidak ada kata “eka”). Dan, adiknya Nur Hasanah (entah juga saya tidak tahu, kenapa tidak didahului kata “tri”). Mereka lahir pada tahun 1971, 1975, dan 1978. Jadi, kompak di dekade 1970-an.
Istri saya yang masa kecilnya hingga kelas III sekolah dasar pernah tinggal di wilayah Kauman, Kaliwungu, Kendal sebelum pindah ke Kraton Lor, Kota Pekalongan, sama-sama di Jawa Tengah, dalam banyak kesempatan pernah menceritakan kepada saya, teman-teman sebayanya kelahiran 1974, 1975, 1976. Ternyata, kata “Nur” dengan berbagai varian pasangannya begitu populer menjadi nama anak perempuan pada era itu.
Dia menyebut seorang kawan karibnya semasa kecil. Namanya Nur Wahidah yang berbakat melukis. Kakaknya bernama Nur Azizah dan adiknya Nur Amalia. Lalu ada sahabatnya yang lain, Nur Latifah, memiliki keterbatasan berjalan karena terkena polio. Teman semasa kerjanya dahulu di sebuah pabrik yang memproduksi perkakas rumah tangga dari keramik di kawasan Tugu, Kota Semarang, beberapa belas tahun silam, ada yang bernama Nur Hidayah.
Saat saya masih kuliah, ada teman yang bernama Nur Khalidah. Saya pernah keliru memanggilnya Nur Afifah. Mungkin karena sama-sama berima akhir “ah”. Saat si Bungsu masih bersekolah di Play Group Alam Ar-Ridho Kota Semarang, ada orang tua murid seorang temannya yang bernama Nur Shalihah. Keduanya kelahiran medio hingga akhir dekade 1970-an. Dan, entahlah bisa jadi belasan hingga puluhan tahun lalu, ada di suatu tempat perempuan yang bernama Nur Hanifah, Nur Sa’adah, Nur Khofifah, Nur Halimah, atau Nur Mahmudah.
Akan tetapi, istri saya Nur Hayati yang aktif di Posyandu Anyelir RW 13 Perumahan Bukit Kencana Jaya Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, dalam sepuluh tahun terakhir ini sudah sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, menemukan di daftar presensi, nama anak perempuan yang melibatkan kata “nur”. Saya tidak tahu, apakah daftar presensi posyandu-posyandu di wilayah yang agak marginal, fenomena tersebut juga berlaku.
Intinya pada Nur
Pada intinya, seluruh nama di atas bermula dari kata dasar bahasa Arab "nur", nūr (نور). Maknanya "cahaya". Dalam taut kiasan sebagai cahaya yang menyinari, memberi penerangan, memperlihatkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan banyak orang. Bisa juga cahaya yang menjadi petunjuk menuju ke jalan yang mendapatkan cinta dan rida Allah Subhanahu wa ta’ala. Bisa pula cahaya kemuliaan bagi orang yang menyandang “nur” ketika berpadu dengan berbagai varian pasangan namanya yang tentu saja bermakna baik.
“Nur” tatkala bertemu dengan “Hayati”, pastilah cahaya itu untuk menerangi hayātī (حياتي), hidup atau kehidupan. Dalam bahasa Indonesia mirip dengan ungkapan “sayangku” atau “cintaku”. Lambang vitalitas dan kebahagiaan. Harapan bagi pemilik nama ini, bisa menjadi cahaya kehidupan atau cinta dalam keluarganya. Mencahayai cinta kepada suami dan anak-anak serta menantu berikut cucu-cucunya kelak.
“Nur” manakala bersua dengan “Aini”, bahasa Arabnya`aynī (عَيْنِي), cahaya itu merujuk pada “mata (hati) yang indah (filantropis)” sebagai “sumber kehidupan (yang bahagia)” bagi keluarganya. Lalu, ketika bersama dengan “Hasanah”, ḥasanah (حَسَنَة), bentuk feminin dari ḥasan (حسن), mengacu pada cahaya yang menerangi kualitas etika dan moral dari pemilik nama ini.
Nah, “Nur” tatkala bertemu dengan “Wahidah”, wāḥīdah (وحيدة) yang merupakan bentuk feminin dari wāḥīd (وحيد). Cahaya itu menerangi kualitas kemanusiannya yang utama, tidak tertandingi, unik, hanya satu-satunya. Ketika bertemu “Azizah”, ʿazīzah (عزيزة) bentuk feminin dari ʿazīz (عزيز), cahaya itu menerangi kemuliaan pikiran dan perasaannya. Dan saat mendekat ke “Amalia”, ʻamalīyah (أَمَلِيَا), cahaya itu membimbing ke arah harapan, tindakan, dan pemerolehannya dengan ketekunan.
Kemudian, manakala “Nur” berdempetan sebagai nama perempuan dengan “Latifah”, latīfah (لطيفة), bentuk feminin dari laṭīf (لطيف), cahaya itu menerangi kualitas pribadi yang lembut, baik hati, halus, ramah. Dan, saat berimpitan dengan “Hidayah”, hidāyah (هداية), cahaya yang menggapai petunjuk Allah Subhanahu wa ta’ala, untuk menapaki jalan kebahagiaan, dan perlu penjemputan secara aktif lewat kesungguhan beribadah dan menuntut ilmu.
Lalu ada “Nur” yang berjejer dengan “Khalidah”, khālidah (خَالِدَة) bentuk feminin dari khālid (خالد). Cahaya itu menerangi jalan menuju kehidupan yang kekal abadi. Dan, ketika bersanding dengan “Afifah”, 'afīfah (عفيفة) bentuk feminin dari ‘afif (عفيف), cahaya itu membimbing sang pemilik nama untuk senantiasa menjaga martabat dan kehormatan dirinya.
Bila “Nur” bersanding dengan “Hanifah”, Ḥanīfah (حنيفة) bentuk feminin dari Ḥanīf (حنيف), maka cahaya itu akan menerangi sifat positif si pemilik nama, yaitu taat beragama, benar-benar beriman, berjalan di akses yang benar dan lurus sesuai dengan ajaran keyakinannya. Dan, saat bersanding dengan “Sa’adah”, sa'ādah (سعادة), bentuk feminin dari sa'ād (سَعْد), cahaya itu menyinari tekad untuk menjemput kebahagiaan yang mendalam.
Ketika “Nur” berpaut dengan “Khofifah”, khaffifah (خفيفة), bentuk feminin dari khafif (خفيف), cahaya itu menyinari keberhakan pemilik nama ini dengan kegesitan dan kelincahannya berolah pikir, rasa, dan raga sehingga pantas menjadi subjek yang mendapat curahan cinta.
Manakala “Nur” bersanding dengan “Halimah”, haleemah (حليمة), bentuk feminin dari haleem (حليم), cahaya itu menerangi pemunculan perangainya yang lembut, sabar, toleran, dan santun. Seterusnya, dengan “Mahmudah”, maḥmūdah (مَحْمُودَةٌ), bentuk feminim dari maḥmūd (محمود), cahaya itu menegaskan sifat yang jujur, sabar, pemaaf, dan berani membela kebenaran.
Tentang Nuriah
Ada lagi nama “Nuriah”, nūriyah (نوريّة), menurut tata bahasa Arab (nahw), merupakan satu kesatuan morfologis yang utuh. Ia juga berasal dari akar kata nūr (نور). Selanjutnya memperoleh imbuhan -iyah (يّة). Fungsinya membentuk nisbah, adjektiva yang menunjukkan relasi atau kepemilikan sifat. Dan, akhiran ta' marbutah (ة), menunjukkan ia bentuk feminin. Usungan maknanya adalah cahaya yang cemerlang. Prestasi nan gemilang.
Berlainan dengan contoh terdahulu, seperti Nur Hayati, Nur Aini, Nur Hasanah, Nur Wahidah, dan Nur Azizah. Nama-nama ini merupakan gabungan dua nomina. Bukan merupakan kata tunggal yang utuh seperti Nuriah, melainkan berstruktur frasa yang terdiri atas dua komponen yang masing-masing berdiri sendiri dengan kandungan makna yang berlainan.
Komponen pertama, yaitu “Nur”. Nomina (isim) yang memiliki fungsi sebagai inti frasa. Dalam tautan gramatika Arab disebut mubtada. Bagian awal frasa genitif (idaafah). Adapun komponen kedua, yakni Hayati, Aini, Hasanah, Wahidah, Azizah. Merupakan kata-kata pelengkap makna. Dalam gramatika Arab disebut khabar. Bagian akhir frasa genitif (idaafah). Oleh karena itu, saya sengaja menempatkan “Nuriah” pada subjudul yang tersendiri.
Nah, berbicara tentang “Nuriah”, saya menjadi teringat dengan seorang qariah dan hafizah kelahiran 2012 dari Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Namanya Nuriah Jurian Arga. Dia meraih juara III dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Internasional di Teheran, Iran, Februari 2024. Adapun kategori yang diikutinya Hafalan Al-Qur’an 30 Juz Putri. Usianya kini baru 13 tahun. Nama “Nur” masih disandangnya.
Saya ingin memungkasi esai ini dengan sederet pertanyaan. Sudah semakin jarangkah pemakaian kata “Nur” di Indonesia dewasa ini? Ataukah, persoalannya hanya terletak pada bagaimana kata “Nur” itu berkombinasi dengan kata lain yang lebih kreatif? Dan, kombinasi klasik “Nur” dengan kata-kata yang sudah kelewat lazim menjadi pilihan nama untuk anak perempuan pada masa lalu mulai jarang menemukan realisasi pemakaiannya lagi?
Siapa bilang “Nur” sudah mulai dilupakan? Di media online masih terbetik berita tentang perempuan pebola voli Nurlaili Kusuma yang kelahiran Bandung, 23 November 2003. Usianya masih muda, baru 22 tahun. Ada pula Amiliya Nur Rosyidah, kelahiran Malang, 11 September 2003, yang menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Malang pada tahun ajaran 2020/2021 hanya selama dua tahun.
Juga Klintan Nur Indriyana, mahasiswi Program Studi Ekonomi Angkatan 2022 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang sukses meraih penghargaan Bos Muda dalam ajang prestise Wirausaha Pemuda Kabupaten Tegal, baru-baru ini. Tak ketinggalan Azida Nur Rohmah, alumnus Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan International Arabic Language Class Programme, kini guru di SMP Negeri 7 Kebumen, yang sukses meraih Juara I Lomba Dai Muda Nahdlatul Ulama Kebumen 2025.
Semua ini, bukankah merupakan fakta, betapa, “Nur” nama perempuan itu, sesungguhnya masih (meski bukan lagi pilihan populer) terlintas di benak para orang tua (setidaknya tiga belas tahun lalu), ketika memberi nama anak perempuannya? Dengan kombinasi yang tidak terlalu klasik? Atau, dengan kombinasi yang lebih kreatif? ***

