Konten dari Pengguna
Tentang Kata “Tesmak” yang Kedengaran seperti Suara dari Masa Lalu
2 November 2025 15:37 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Tentang Kata “Tesmak” yang Kedengaran seperti Suara dari Masa Lalu
Kata "tesmak" menjadi unsur serapan yang semula dikenali sebagai kata bahasa Persia. Melalui bahasa Melayu sebagai lingua franca, kata ini kemudian masuk ke bahasa Jawa. Mohamad Jokomono
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah mendengar kata “tesmak”? Kalau tidak familer, saya bisa memahami. Karena memang, kata yang berpadanan atau bersinonim dengan “kacamata” ini, kedengarannya seperti suara yang datang datang dari masa lalu. Ia tidak lagi sering disebut orang dalam percakapan sehari-hari bahasa Jawa atau Indonesia sekarang ini. Kata “kacamata” lebih lazim dipakai.
Sebelum terjadi proses penyerapan ke dalam bahasa Jawa. Dan, bahasa Jawa pun menyerapnya dari bahasa Melayu, kata “tesmak” dikenali sebagai bagian dari bahasa Persia (atau Farsi). Rumpun Indo-Eropa yang menjadi salah satu bahasa resmi di Iran, Afghanistan, dan Tajikistan. Secara etimologis, memang ada kata tashmak (تشمک) dalam bahasa tersebut. Kemiripan fonetik dan semantik menjadi bukti linguistik yang kuat.
Bahasa Jawa
Kata “tesmak” dalam bahasa Jawa diserap dari bahasa Melayu sebagai lingua franca. Bahasa yang menjadi alat komunikasi berbagai kelompok masyarakat yang berbeda bahasa. Hal itu mulai berlangsung sejak abad ke-7 hingga awal abad ke-20. Melalui hubungan perdagangan, tidak sedikit kata bahasa Persia yang diserap ke dalam bahasa Melayu.
Selain “tesmak”, kata-kata dari bahasa Persia yang terserap ke dalam bahasa Melayu, antara lain “anggur” dari angūr (انگور), buah anggur; “bazar” dari baha-char (بهاچار), pasar atau tempat jual-beli; “piala” dari piyāle (پياله), mangkuk tempat minum; “syabandar” dari šâh bandar (شاهبندر), petugas pelabuhan; “seluar” dari shalwār atau shalvār (شلوار), sirwal atau celana cingkrang.
Sebagai lingua franca, bahasa Melayu menjadi jembatan bagi kata-kata dari bahasa Persia untuk masuk sebagai unsur serapan ke dalam bahasa-bahasa daerah lain di Nusantara. Dan, bahasa Jawa termasuk salah satu di antaranya. Begitulah kata “tesmak” masuk ke bahasa Jawa via bahasa Melayu.
Menurut catatan sejarah, sejak abad ke-13, para pedagang asal Persia memiliki peran yang tidak kecil andilnya dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Interaksi secara intensif juga mereka lakukan dengan masyarakat di pesisir utara Jawa. Kegiatan perniagaan menjadi perekatnya.
Para pedagang asal Persia itu ternyata tidak hanya datang dengan membawa barang-barang untuk mereka jual. Akan tetapi, juga membawa pengaruh berupa bahasa, budaya, dan teknologi sederhana yang mereka kuasai. Ada tersedia ruang kemungkinan, kata “tesmak” merupakan buah dari interaksi para pedagang atau ulama Persia dengan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat Jawa, di Nusantara.
Di Eropa, tesmak atau kacamata baru dikenal pada abad ke-13. Pada realitasnya membutuhkan waktu lama, sebelum alat untuk mengatasi kekurangan pada kemampuan fungsional indra penglihatan seseorang itu, menyebar luas di kalangan masyarakat. Kemungkinan besar, “tesmak” belum sering dan muncul secara luas menjadi kata dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari pada masa Kerajaan Mataram Islam (akhir abad ke-16 hingga pengujung wekasan abad ke-17).
Bisa jadi di zaman Kerajaan Mataram Islam, tesmak merupakan benda yang masih terbilang langka dan mewah. Hanya segelintir orang dari kalangan bangsawan kala itu dan pedagang kaya yang mempunyainya. Dengan demikian, benda tersebut belum banyak diketahui masyarakat kebanyakan. Otomatis, kata “tesmak” yang menjadi rujukannya tidak banyak disebut atau hampir tidak pernah disebut dalam percakapan sehari-hari.
Secara Bertahap
Proses penyerapan kata “tesmak” ke dalam bahasa Jawa konon berlangsung secara bertahap. Mungkin karena media penyampaiannya hanya melalui komunikasi bersemuka (face to face) dalam perdagangan atau syiar agama. Bisa disebut pula, penyebaran dari mulut ke mulut.
Selama berabad-abad proses itu berlangsung. Popularitas suatu kata serapan, pada masa itu, jika dibarengi dengan keberadaan benda yang dirujuk niscaya akan dengan segera dikenal masyarakat dalam cakupan yang luas.
Kata “tesmak”, besar kemungkinan baru dikenal luas oleh masyarakat Jawa pada periode pasca-Mataram Islam di kisaran abad ke-18. Sementara itu pada abad ke-17, bangsa Belanda melalui VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie (Perusahaan Hindia Timur Belanda), mulai 20 Maret 1602 hingga 31 Desember 1799 menapakkan kekuasaannya di Nusantara.
Setelah perusahaan tersebut resmi dibubarkan karena bangkrut akibat banyak kasus korupsi, kendali pemerintahan diambil alih oleh Kerajaan Belanda. Terbentuklah Pemerintah Hindia Belanda, Nederlands-Indië, yang secara resmi berkuasa di Nusantara sejak 1 Januari 1800 hingga terakhir kali efektif berkuasa pada Maret 1942 setelah invasi Jepang.
Pada rentang masa itu entah kapan titimangsa persisnya, Belanda memperkenalkan secara lebih luas kepada masyarakat di Nusantara, tidak terkecuali masyarakat Jawa, benda yang menurut bahasa mereka adalah lesebrille (kacamata baca) atau zichtglaas (kaca penglihatan).
Meski demikian, kata “tesmak” masih tetap digunakan oleh masyarakat Jawa. Keberadaan riil kata ini dalam kalimat ujaran bahasa Jawa dapat diukur dari tingkat logika kegramatikalannya saat ada di lingkungan kata-kata bahasa Jawa yang lain.
Dalam bahasa Jawa Ngoko, dapat dicontohkan kalimat ujaran, “Mbah Kung, tesmake wis ketenu durung?” (“Kakek, kacamatanya sudah ketemu apa belum?”. Atau, “Mripatku wis rada suda, mulane yen maca koran kudu nganggo tesmak” (“Penglihatan saya sudah berkurang, karena itu kalau membaca surat kabar harus mengenakan kacamata”). Atau lagi, “Yen adoh, pandelengku ora pati cetha. Prelu tesmak” (“Untuk jarak jauh, pandanganku tidak begitu jelas. Perlu bantuan kacamata”).
Kemudian contoh dalam bahasa Jawa Krama. “Bapak, tesmakipun punapa sampun kepanggih?” (“Bapak, apakah kacamatanya sudah ketemu?”). Atau, “Ibu, ingkang dipun kersaaken punapa tesmak kagem maos?” (“Ibu, yang dikehendaki apakah kacamata untuk keperluan membaca?”. Atau lagi, “Nyuwun pangapunten, Pakde, tesmak panjenengan risak. Ndedugi boten kajarag dipun lenggahi Mbah Putri” (“Maaf Paman, kacamata (milik Paman) rusak. Sebab, secara tidak sengaja diduduki oleh Nenek”).
Titik Perkiraan 1980-an
Kata “tesmak” dalam bahasa Jawa sebelum era 1980-an masih relatif sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Akan tetapi, setelah era tersebut kian berangsur jarang terdengar. Titik waktu mulai berkurang realisasi penggunaan kata tersebut sangat berhubungan dengan dinamika sosial, pendidikan, dan kebijakan bahasa di Indonesia selama Pemerintahan Orde Baru.
Pada era 1980-an terjadi masifikasi pendidikan antara lain lewat pembangunan gedung sekolah dasar secara besar-besaran (terkenal dengan SD inpres saat itu) di seluruh pelosok negeri. Sekolah-sekolah itu menggunakan pengantar bahasa Indonesia. Di wilayah penutur bahasa Jawa, hal ini menyebabkan penyerapan kosakata bahasa Indonesia, termasuk “kacamata”, menjadi lebih cepat kepada generasi muda saat itu daripada “tesmak”.
Walaupun sesungguhnya, bahasa Indonesia sendiri juga menyerap kata “tesmak” dari bahasa Melayu. Hanya saja, karena “kacamata” lebih sering dipakai daripada “tesmak”. Jadilah, penggunaan kata “tesmak” cenderung mengalami penurunan frekuensi dibandingkan dengan waktu sebelum tahun 1980-an tersebut.
Pada era ini mulai terasa adanya dominasi media massa berbahasa Indonesia. Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai satu-satunya stasiun televisi di Tanah Air pada waktu itu serta media cetak, seperti surat kabar dan majalah, yang terbit pada masa itu sudah menunjukkan mayoritas berbahasa Indonesia.
Paparan media massa dari aspek bahasa yang terjadi secara konsisten itu membangun kebiasaan masyarakat, termasuk yang berada di wilayah perdesaan Jawa, untuk memasukkan kosakata yang lebih lazim muncul dalam bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa. Kasus kata “kacamata” yang lebih sering digunakan daripada “tesmak” inilah salah satu contohnya.
Hal lain yang berpengaruh pada fenomena pergeseran pemakaian kata “tesmak” menjadi “kacamata” ini, tidak terlepas dari Kebijakan Bahasa Nasional Pemerintah Orde Batu. Negara lebih memberikan penekanan yang kuat pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sementara itu, bahasa daerah pada posisi sekunder sebagai identitas lokal.
Generasi yang tumbuh pada 1980-an dan seterusnya (hingga kini), karena itu cenderung lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam interaksi mereka sehari-hari. Bahkan, tidak hanya sebatas di sekolah atau lingkungan pergaulan di masyarakat, di dalam lingkungan keluarganya pun terjadi kecenderungan serupa. Muncul sebagai buah akibat, penggunaan kata lokal seperti “tesmak” menjadi semakin teralingi dengan kata “kacamata” yang lebih sering muncul.
Secara simultan, faktor-faktor inilah yang berkontribusi dalam mengikis setahap demi setahap pemakaian kata “tesmak” yang lebih spesifik dalam bahasa Jawa. Meskipun demikian, sesungguhnya ia tidak seutuhnya hilang. Ia setidaknya masih bertahan sebagai lema dalam Kamus Bahasa Jawa - Indonesia (KBJI). Balai Bahasa Provinsi Daerah Yogyakarta telah meluncurkan versi digitalnya pada 2022.
***

