Konten dari Pengguna
Retaknya Kesantunan Akademik: Membaca Ulang Relasi Dosen-Mahasiswa
24 Juni 2025 12:53 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Retaknya Kesantunan Akademik: Membaca Ulang Relasi Dosen-Mahasiswa
Ketidaksantunan dalam komunikasi dosen-mahasiswa kian marak. Artikel ini mengulas penyebabnya dan menawarkan refleksi di era digital.Mohammad Ali Yafi
Tulisan dari Mohammad Ali Yafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, relasi antara dosen dan mahasiswa mengalami transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Interaksi yang dulu terbatas pada ruang kelas dan pertemuan formal kini meluas ke ruang-ruang digital seperti WhatsApp, email, dan bahkan media sosial. Perubahan ini membawa berbagai kemudahan, namun sekaligus membuka ruang baru bagi munculnya friksi komunikasi, salah satunya dalam bentuk ketidaksantunan. Hari-hari ini, kita sering melihat unggahan percakapan antara dosen dan mahasiswa yang menjadi viral di media sosial. Sebagian besar memperlihatkan bentuk komunikasi yang tidak elok, tidak sopan, atau bahkan menyerang secara personal.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa ketidaksantunan dalam komunikasi akademik menjadi begitu umum? Apakah ini semata-mata masalah etika personal, ataukah ada faktor-faktor struktural dan pragmatik yang menyertainya?
Perbedaan Ekspektasi Sosial dan Gaya Komunikasi Antar Generasi
Salah satu penyebab utama ketidaksantunan antara dosen dan mahasiswa adalah perbedaan ekspektasi dalam gaya komunikasi. Mahasiswa generasi digital (Gen Z) tumbuh dalam budaya komunikasi yang cepat, ringkas, dan informal. Mereka terbiasa menyapa guru atau dosen dengan singkat, langsung ke inti pesan, dan tanpa struktur formal. Namun, dalam konteks akademik yang menjunjung tinggi hierarki dan kesantunan, gaya ini sering dianggap tidak sopan.
Sebaliknya, dosen, terutama dari generasi yang lebih senior, masih memegang teguh norma kesantunan klasik, yang menuntut salam pembuka, kalimat transisi, dan penutup yang sopan. Ketika norma ini dilanggar, walaupun tidak dengan niat buruk, maka muncul kesan tidak hormat atau bahkan ofensif.
Kurangnya Literasi Pragmatik Akademik
Banyak mahasiswa belum memahami bahwa bahasa tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk hubungan sosial. Dalam pragmatik, hal ini disebut dengan relational work. Ketika seorang mahasiswa menulis “Pak, revisinya mana?” tanpa salam atau ungkapan permintaan, ini dapat ditafsirkan sebagai bentuk bald on record impoliteness menurut teori ketidaksantunan dari Culpeper (1996), yaitu ujaran yang langsung, tanpa upaya mitigasi terhadap wajah lawan bicara.
Literasi pragmatik yang minim menjadikan mahasiswa tidak menyadari bahwa bentuk ujaran mereka bisa menimbulkan ancaman terhadap negative face atau otonomi dosen. Hal ini adalah sesuatu yang sangat sensitif dalam budaya akademik yaitu upaya untuk menjunjung otoritas dan senioritas.
Perubahan Media Komunikasi dan Hilangnya Konteks Non-verbal
Transformasi komunikasi dari tatap muka ke ruang digital juga berkontribusi pada miskomunikasi. Dalam pertemuan langsung, gestur, intonasi, dan ekspresi wajah menjadi penanda penting untuk menunjukkan niat baik. Namun, dalam teks tertulis seperti chat atau email, semua indikator tersebut hilang. Kalimat seperti “Saya sudah kerjakan, Bu” bisa terdengar datar, tegas, atau bahkan menantang tergantung siapa yang membaca dan dalam konteks apa.
Dalam teori im/politeness, konteks sangat memengaruhi persepsi. Ketika konteks tidak hadir secara eksplisit, maka interpretasi menjadi liar. Hal ini kerap menjadi sumber kesalahpahaman antara dosen dan mahasiswa.
Ketimpangan Kekuasaan yang Tidak Selalu Disadari
Relasi dosen dan mahasiswa secara struktural bersifat asimetris. Dosen memiliki otoritas akademik, administratif, dan simbolik yang lebih tinggi. Namun dalam praktiknya, ketimpangan ini tidak selalu disadari secara eksplisit, baik oleh dosen maupun mahasiswa.
Dosen yang terlalu menekankan kekuasaan bisa terdorong untuk menggunakan gaya bahasa yang otoriter, bahkan merendahkan, misalnya, “Baca dulu pedomannya. Jangan malas!” Sementara mahasiswa, dalam posisi tertekan dan kurang terampil mengelola emosi, bisa merespons dengan sindiran, bahasa pasif-agresif, atau bahkan diam membalas. Keduanya merupakan bentuk face-threatening acts yang memperkeruh komunikasi.
Tekanan Emosional dan Keletihan Akademik
Baik dosen maupun mahasiswa tidak lepas dari tekanan emosional yang intens. Beban kerja yang berat, tenggat waktu yang menumpuk, serta ekspektasi yang tinggi sering kali membuat individu berkomunikasi secara impulsif. Dalam kondisi seperti ini, upaya menjaga kesantunan sering kali diabaikan.
Culpeper (2011) menyebutkan adanya emotional impoliteness, yakni ketidaksantunan yang tidak sepenuhnya disengaja, tetapi muncul sebagai akibat dari tekanan afektif dan kelelahan psikologis. Ini menjelaskan mengapa bahkan dosen atau mahasiswa yang biasanya santun, bisa tiba-tiba menggunakan bahasa yang kasar atau menyinggung.
Ilusi Keakraban di Media Sosial
Faktor yang kian memperkuat kaburnya batas komunikasi akademik adalah kehadiran media sosial. Banyak dosen kini aktif sebagai content creator di Instagram, TikTok, atau YouTube, menyampaikan pesan edukatif dalam format yang ringan, santai, dan kadang humoris. Di sisi lain, mahasiswa menjadi pengikut (followers) dari akun-akun ini, bahkan ikut memberikan komentar yang kadang terlalu akrab, sarkastik, atau tidak relevan secara akademik.
Fenomena ini menciptakan parasocial interaction (Harton and Wohl, 1956), yakni hubungan semu yang membuat mahasiswa merasa dekat secara personal dengan dosennya, padahal relasi akademik tetap menuntut jarak profesional. Ilusi ini membuat mahasiswa merasa bebas untuk menyapa dosennya seperti teman sebaya—sesuatu yang pada akhirnya bisa menimbulkan ketegangan atau bahkan konflik, terutama jika dosen menafsirkan komentar tersebut sebagai bentuk tidak hormat.
Membangun Ulang Kesantunan dalam Relasi Akademik
Ketidaksantunan dalam komunikasi antara dosen dan mahasiswa bukan hanya soal etika pribadi, melainkan mencerminkan perubahan cara kita membangun relasi di dunia pendidikan. Perbedaan generasi, tekanan emosional, dan kehadiran media sosial telah mengubah cara kita menyapa, menyampaikan maksud, bahkan menegur. Di tengah perubahan ini, penting bagi kita—baik dosen maupun mahasiswa—untuk saling belajar memahami konteks dan cara berkomunikasi yang tepat.
Barangkali, yang kita perlukan bukan aturan komunikasi yang kaku, tetapi ruang dialog yang jujur dan saling menghargai. Supaya relasi akademik tidak hanya berjalan secara administratif, tapi juga tumbuh dalam suasana yang sehat, setara, dan manusiawi. Karena di balik semua pesan yang dikirimkan, ada manusia yang ingin didengar, dipahami, dan dihargai.

