Konten dari Pengguna

Soal Guyon Politik

Mohammad Ali Yafi
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta - Mahasiswa Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa, Univeritas Negeri Semarang
10 Januari 2026 7:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Soal Guyon Politik
Soal guyon politik: Ulasan tentang guyon politik sebagai praktik bahasa, kritik kuasa, dan humor dalam ruang publik. #userstory
Mohammad Ali Yafi
Tulisan dari Mohammad Ali Yafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi humor politik. Foto oleh Rosemary Ketchum: https://www.pexels.com/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi humor politik. Foto oleh Rosemary Ketchum: https://www.pexels.com/
Guyon politik sering muncul di tengah suasana yang serius. Ia hadir dalam pidato, wawancara, panggung hiburan, hingga media sosial. Banyak orang menganggapnya sekadar selingan atau bumbu komunikasi. Padahal, guyon politik adalah praktik berbahasa yang sarat makna sosial.
Dalam berbagai kajian akademik, humor politik mencakup candaan tentang kebijakan, institusi, partai, tokoh politik, termasuk humor yang diproduksi oleh politisi itu sendiri.
Humor semacam ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan publik. Ia muncul bersamaan dengan lahirnya kekuasaan dan kritik terhadapnya. Literatur tentang humor politik menunjukkan bahwa tawa sering kali menyertai ketegangan sosial yang nyata.
Dalam perspektif sosiolinguistik, guyon dipahami sebagai praktik sosial yang sangat kontekstual. Candaan tidak pernah berdiri sendiri tanpa latar sosial. Siapa yang bercanda, kepada siapa, dan di ruang apa menjadi penentu makna.
Guyon dari pejabat publik membawa beban berbeda dibandingkan guyon warga biasa. Guyon dapat memperpendek jarak sosial, tetapi juga dapat menegaskan hierarki. Penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa humor politik sangat dipengaruhi pengalaman kolektif masyarakat. Karena itu, satu guyon bisa saja diterima hangat di satu tempat, tetapi bisa ditolak di tempat lain.
Ilustrasi lelucon. Foto: Nikola Spasenoski/Shutterstock
Jika ditarik ke belakang, guyon politik bukanlah fenomena baru. Lelucon tentang penguasa sudah ditemukan sejak peradaban kuno. Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi memiliki tradisi satire politik yang kuat. Aristophanes menggunakan panggung teater untuk menertawakan perang dan elite politik.
Di Eropa modern, pamflet dan kartun politik menjadi sarana kritik populer. Media cetak kemudian memperluas jangkauan humor politik ke khalayak luas. Kini, tradisi itu berlanjut dalam format digital.
Dari segi linguistik, guyon politik bekerja melalui kejutan makna. Tawa muncul karena pendengar diarahkan pada satu pemahaman tertentu. Di saat yang sama, pemahaman itu dipatahkan oleh makna lain yang tidak terduga.
Teori pertentangan skrip menjelaskan proses ini dengan cukup sederhana. Humor lahir ketika dua kerangka makna saling bertabrakan. Proses ini menuntut pengetahuan bersama antara penutur dan audiens.
Dalam hal ini, permainain bunyi dan makna menjadi alat utama dalam menyampaikan kritik. Humor bekerja melalui kejutan semantik yang terkontrol.
Ilustrasi menceritakan humor. Foto: Shutter Stock
Banyak kajian membedakan jenis guyon politik berdasarkan sasaran kritiknya. Ada guyon yang menertawakan tokoh dan institusi politik. Ada pula guyon yang menyoroti kondisi sosial, seperti korupsi dan ketimpangan. Pembagian ini dikenal dengan denigration joke dan exposure joke.
Dalam konteks Indonesia, lelucon yang menyasar tokoh politik lebih dominan. Hal ini sering dikaitkan dengan rasa kecewa publik terhadap elite. Humor menjadi jalan aman untuk menyampaikan kritik. Tawa berfungsi sebagai pelindung pesan. Kritik disampaikan tanpa harus berhadapan langsung dengan kekuasaan.
Dalam kajian pragmatik, guyon dipahami sebagai tindak tutur yang penuh strategi. Candaan selalu membawa maksud tertentu. Humor bisa digunakan untuk mencairkan suasana politik yang kaku.
Di sisi lain, humor juga bisa menyudutkan pihak tertentu secara halus yang kerap dimanfaatkan ambuguitasnya oleh para politisi. Jika guyon disambut tawa, citra positif terbentuk. Jika menuai kritik, guyon bisa dibela sebagai sekadar candaan. Penelitian komunikasi politik menunjukkan bahwa strategi ini lazim digunakan. Humor memberi ruang aman dalam komunikasi publik yang berisiko.
Media sosial mengubah cara guyon politik beredar. Meme, parodi, dan video pendek kini menjadi medium utama. Humor politik menyebar cepat dan melintasi batas sosial. Warga biasa ikut memproduksi dan memodifikasi satire. Relasi antara elite dan publik terasa lebih cair.
Ilustrasi relasi menguat. Foto: Getty Images
Namun, pesan politik sering didapatkan secara ekstrem. Isu rumit diringkas dalam satu gambar atau kalimat. Penelitian menunjukkan bahwa humor digital dapat memperkuat polarisasi. Tawa tetap membawa dampak politis meski tampil ringan.
Menariknya, humor politik juga memengaruhi cara orang mengingat informasi. Pesan politik yang lucu lebih mudah melekat di ingatan dan orang cenderung ingin membagikannya kepada orang lain.
Studi neurokognitif menjelaskan bahwa humor mengaktifkan empati sosial, sehingga pendengar dapat membayangkan reaksi orang lain terhadap guyon tersebut. Proses ini membuat pesan terasa relevan dan dekat. Humor membantu politik masuk ke percakapan sehari hari yang pada gilirannya dapat memperpanjang umur pesan politik di ruang publik.
Pada akhirnya, guyon politik adalah cermin kehidupan demokrasi. Ia merekam ketegangan, kekecewaan, dan harapan masyarakat. Tawa tidak selalu berarti setuju atau puas. Dalam banyak kasus, tawa justru menyimpan kritik di mana humor membuka ruang ekspresi yang tidak selalu tersedia secara formal.
Membaca guyon politik membutuhkan kepekaan berbahasa. Kita perlu melihat siapa yang berbicara dan dalam situasi apa. Di balik tawa, politik sedang berbicara dengan caranya sendiri.
Trending Now