Konten dari Pengguna

Neurosains di Balik Sulitnya Move On usai Putus Cinta

Moses Wilbert
Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
26 November 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Neurosains di Balik Sulitnya Move On usai Putus Cinta
Kenapa sih kita sulit untuk move on? pada risalah ini akan membahas neurosains dibalik sulitnya move on setelah penolakan cinta.
Moses Wilbert
Tulisan dari Moses Wilbert tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto oleh ATC Comm Photo: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-memegang-kertas-putih-dengan-gambar-berbentuk-hati-3732384/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh ATC Comm Photo: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-memegang-kertas-putih-dengan-gambar-berbentuk-hati-3732384/
Semua orang bilang, “Udah lupain aja dia!” Tapi kenapa setelah blokir kontak, unfollow, dan cari pelarian, kita masih aja kepikiran dan liatin akun dia lagi? Rasanya kaya terjebak di lingkaran yang bikin kita ngak nyaman. Jangan-jangan, ini bukan cuma masalah hati yang lemah atau ada yang salah di otak kita? Kesulitan untuk move on dapat terjadi diakibatkan respon adiktif yang dipicu oleh aktivitas neurokimia pada otak. Pada risalah ini, akan membahas neurosains dibalik sulitnya move on setelah penolakan cinta. Mulai dari mengapa kita merasakan rasa sakit saat terjadi penolakan, mengapa cinta dapat menjadi adiksi, dan mengapa kita sulit keluar dari adiksi ini.
Mengapa Kita Merasakan Sakit saat Terjadi Penolakan?
Perlu kita ketahui, sebenarnya rasa sakit yang kita alami saat mendapatkan penolakan dalam otak kita hampir serupa dengan rasa sakit secara fisik. Sebuah penelitian menggunakan fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) dalam pengecekannya, ketika penolakan dipicu dengan meminta orang yang baru saja mengalami putus cinta yang ia tidak inginkan, melihat foto mantan pasangannya sembari memikirkan momen-momen saat ia ditolak. Hal ini, mendukung sensorik dari nyeri fisik (secondary somatosen-sory cortex; dorsal posterior insula) menjadi aktif. Pada alat tersebut menunjukkan adanya tumpang tindih antara penolakan sosial dan nyeri fisik pada individu yang sama di secondary somatosensory cortex dan dorsal posterior insula activity. Maka dari itu, penolakan dan nyeri fisik tidak hanya serupa dalam hal sama-sama menyedihkan, tetapi juga berbagi representasi somatosensori yang sama.
Mengapa Cinta dapat Menjadi Adiksi?
Meski menyakitkan, kenapa sih kita tetep ngak bisa move on dan malah jadi candu? Sebuah penelitian menunjukan saat seseorang berasa dalam kondisi yang sedang kacau secara emosional, dalam hal ini adalah dorongan untuk mendapatkan kembali pasangan yang telah menolak mereka, terjadi aktivitas saraf di area kortikal dan subkortikal. Area ini terkait dengan keinginan dan kecanduan, khususnya pada area nucleus accumbens dan orbitofrontal/prefrontal cortex. Hal ini, didukung karena nucleus accumbens aktif selama pemberian kokain dan aktivitas di wilayah ini juga aktif saat sesorang menginginkan kembali kokain tersebut. Selain itu, area angular gyrus yang dikaitkan dengan cinta yang romantis berkorelasi dengan keinginan merokok. Maka dari itu, penemuan-penemuan tersebut membuktikan bahwa dorongan untuk mendapatkan kembali pasangan melibatkan sistem saraf yang sama yang mendasari berbagai kecanduan. Perspektif lain menunjukan bahwa penolakan dalam cinta melibatkan subcortical reward gain/loss systems yang penting untuk manusia karena membantu memandu perilaku yang mengarah pada hasil yang menguntungkan dan menghindari hasil yang merugikan. Hal ini, menjelaskan mengapa perasaan dan perilaku yang memiliki kaitan dengan penolakan romantis sulit untuk dikendalikan. Maka dari itu, tidak heran maraknya bunuh diri, pembunuhan, dan depresi dapat disebabkan oleh penolakan cinta.
Mengapa Kita Sulit Keluar dari Adiksi Ini?
Setelah membaca paragraf diatas, kita dapat mengetahui bahwa candu pada penolakan cinta melibatkan sistem saraf yang sama dengan kecanduan obat-obatan. Lalu, mengapa rasanya sulit sekali untuk lepas dari rasa candu ini? Jika disangkutkan dengan pengunaan narkoba, tubuh kita memiliki hormon dopamin, hormon ini adalah hormon yang dapat membuat manusia senang, rileks, dan nyaman ibarat hadiah bagi otak kita. Sebenarnya, tubuh kita dapat secara alami memperoleh dopamin dari kegiatan sehari-hari. Namun ketika mengonsumsi narkoba, dopamin muncul dalam jumlah yang tidak wajar dan membuat otak kebanjiran hormon.
Dalam sebuah penelitian, menggunakan positron emission tomography (PET), mereka melacak kondisi otak pada orang-orang yang kecanduan kokain, heroin, alkohol, dan metamfetamin. Penelitian ini, menunjukkan kelainan pada subjek yaitu menurunnya pelepasan dopamin di striatum (termasuk nucleus accumbens). Menurunnya dopamin menyebabkan penurunan minat pada rangsangan lingkungan sehari-hari, yang membuat subjek cenderung mencari rangsangan dari obat lagi untuk mendapatkan dopamin. Disinilah yang mendasari transisi dari mengonsumsi obat untuk dopamin berlebih menjadi mengomsumsi obat untuk kembali merasa normal. Kecuanduan narkoba juga mempengaruhi penurunan aktivitas di orbitofrontal cortex dan anterior cingulate gyrus, dampaknya adalah pencandu akan mengesampingkan kencenderungan berbabis kognitif yang bersaing untuk tidak mengambil obat. Selain itu, penurunan di orbitofrontal cortex dan anterior cingulate gyrus memicu gangguan dalam pemantauan diri dan kontrol perilaku.
Jika dikaitkan dengan rasa ingin kembali kepada pasangan kita yang bersifat serupa dengan rasa menginginkan kembali narkoba, kita dapat melihat, mengapa kita susah untuk lepas dari candu tersebut. Kehilangan cinta akan membuat kita sedih, cemas, depresi, bahkan berkurangnya minat pada lingkungan sekitar. Hal ini, dikarenakan hilangnya dopamin dalam tubuh kita sehingga kita akan mencari cara agar kembali pada cinta tersebut. Akibatnya, kita tidak bisa lepas dari rasa candu dan menginginkan kembali pada pasangan kita. Selain itu, menurunnya fungsi kognisi juga menjadi alasan mengapa kita tidak dapat mengambil keputusan yang logis seperti tiba-tiba ingin menelepon, mengirim pesan, datang kerumahnya, dan hal-hal tidak logis lainnya. Oleh karena itu, dapat kita artikan bahwa cinta dapat membunuh atau mematikan rasionalitas kita yang membuat kita tidak berfikir secara logis dan menjadi susah keluar dari adiksi tersebut.
Bagaimana Kita dapat Keluar dari Adiksi Ini?
Selanjutnya, bagaimana kita dapat keluar dari adiksi ini atau move on dari pasangan kita? Kita harus sadar bahwa adiksi dari penolakan cinta adalah suatu masalah. Setelah itu, kita bersabar, menerima, dan menghadapi rasa sakit ini. Selanjutnya batasi pemicu yang membuat kita teringat kembali kepada pasangan kita seperti foto, chatlog, dan akun media sosial. Untuk mengurangi rasa ketergantungan, kita dapat mengganti sumber reward kedalam hal-hal yang membuat nyaman, tenang, dan bahagia seperti berolahraga, beribadah, dan mengobrol bersama teman. Setelah kita menjalani hal-hal ini, otak kita akan pulih kembali dan kita dapat terlepas dari adiksi ini. “Acceptance of what has happened is the first step to overcoming the consequences of any misfortune.” — William James.
Trending Now