Konten dari Pengguna

Jangan Buru-Buru Somasi, Masih Banyak Cara untuk Menjawab Kritik

Muchlis Fatahillah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY
7 Juli 2023 9:27 WIB
Β·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jangan Buru-Buru Somasi, Masih Banyak Cara untuk Menjawab Kritik
Somasi tidak akan menjadi masalah apabila tidak sampai bocor ke media sosial. Akan tetapi, saat ini sepertinya sulit.
Muchlis Fatahillah
Tulisan dari Muchlis Fatahillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi surat somasi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi surat somasi. Foto: Shutter Stock
Beberapa hari yang lalu, jagad Twitter dihebohkan dengan cuitan salah satu mahasiswa atau sekarang jadi mantan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Raffi Azzami (@Rafilsafat).
Dalam akun Twitternya, ia membuat thread yang cukup panjang terkait keluhan-keluhan yang ia rasakan selama menjadi mahasiswa di UMM, seperti fasilitas yang buruk, dosen yang jarang masuk, hingga larangan mahasiswa berambut gondrong oleh Rektor UMM juga tak luput dari pengamatannya.
Keributan yang disebabkan oleh tweet Rafi terkait kampusnya ini bukan yang pertama terjadi. Beberapa bulan yang lalu, ia juga membuat video kemarahan terhadap panitia ospek kampus yang tidak memberikan kesempatan untuk bertanya, padahal ia mengangkat tangan dan berdiri lebih dahulu dibanding mahasiswa lain.
Kejadian inilah yang membuat saya pribadi tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan Rafi dan memutuskan untuk membisukan akunnya dari timeline Twitter saya. Alasannya sederhana, pertama, akun Twitter bagi saya adalah tempat untuk mencari hiburan di tengah peliknya masalah hidup.
Kedua, pemilihan diksi yang digunakan Raffi cukup frontal dan keras. Alih-alih menyampaikan kritik yang membangun, ia seolah-olah sedang menginginkan dunia ini berjalan atas kendalinya, yang bagi saya itu mustahil.
Terkait keributan antara Rafi dan UMM, tadinya saya tidak mau berkomentar apapun. Saya menganggap bahwa cuitan Raffi hanyalah bentuk ekspresi kekecewaan seorang mahasiswa biasa yang ekspektasinya tidak dapat dipenuhi oleh pihak kampus.
Kalau kata anak zaman sekarang, ia sedang dikhianati oleh ekspektasi sendiri. Karena merasa kecewa, Raffi kemudian curhat di media sosial, seperti yang dilakukan oleh banyak gen Z seumurannya. Bagi saya, di era media sosial seperti sekarang, tweet Rafi adalah hal yang wajar tidak perlu ditanggapi secara serius. Toh, Raffi bukan siapa-siapa.
Saya yakin bahwa eksistensi, prestasi, bahkan sisi baik UMM selama ini tidak akan terancam hanya karena satu tweet "nakal" dari seorang anak bernama Rafi. Namun, yang cukup mengejutkan adalah keputusan pihak kampus mengeluarkan somasi/peringatan secara tertulis kepada Raffi.
β€œWow, keputusan yang sangat disayangkan,” pikir saya. Keputusan pihak kampus untuk melayangkan somasi inilah yang akan saya bahas dalam tulisan ini.

Somasi Adalah Keputusan yang Berlebihan

Ilustrasi surat somasi. Foto: Shutter Stock
Sebagai orang yang pernah dan sedang belajar soal management krisis, saya menganggap bahwa keputusan UMM untuk mengeluarkan somasi adalah keputusan yang berlebihan. Kita semua tau, bahwa Muhammadiyah dengan berbagai amal usaha yang dimiliki, termasuk UMM, namanya sudah sangat besar serta manfaatnya sudah banyak dirasakan oleh masyarakat.
Sebagai organisasi yang besar, sudah sangat wajar apabila diterpa banyak ujian, termasuk dikritik dan dihujat. Selama ini, Muhammadiyah sudah cukup santai dan elegan dalam menghadapi ujian itu. Sebut saja saat kasus pencopotan plang di masjid Banyuwangi dan ancaman dari salah satu anggota BRIN kepada Muhammadiyah.
Sikap yang ditunjukkan Muhammadiyah sangat santai, terukur, dan menyerahkan seluruh prosesnya kepada pihak yang berwenang. Dalam kasus Raffi dan UMM, ruang lingkup dan skala permasalahan ini cukup kecil.
Pembahasan soal fasilitas dan birokrasi kampus mungkin hanya akan menjadi perdebatan sengit di kalangan pengguna Twitter atau lebih luas akan dijadikan bahan diskusi oleh dosen dan mahasiswa di beberapa kampus. Itu saja. Selebihnya, tweet Raffi akan menghilang dan berganti dengan isu baru yang lebih menarik untuk dibahas.
Sayangnya, saat perdebatan antara netizen dengan Raffi sudah cukup kondusif, muncul somasi dari pihak kampus yang dilayangkan kepada Raffi. Hal ini seolah menjadi bahan bakar baru dalam kasus ini. Banyak netizen yang kemudian berbalik menyerang UMM karena dianggap anti kritik dan menutup ruang diskusi.
Padahal, jika UMM memiliki iklim akademik yang baik, harusnya ia membuka ruang diskusi seluas-luasnya kepada siapapun. Di sisi lain, keputusan melayangkan somasi seolah-olah mengonfirmasi bahwa semua tuduhan Rafi selama ini adalah benar dan harus ditanggapi secara serius oleh pihak kampus. Jika tidak benar, harusnya pihak kampus tidak perlu ambil pusing, dong.

Media Sosial Adalah Tempat Paling Liar

Ilustrasi dampak media sosial. Foto: SrideeStudio/Shutterstock
Meskipun banyak netizen yang menyerang keputusan somasi yang dilayangkan oleh UMM kepada Raffi, nyatanya tidak sedikit yang membenarkan keputusan UMM. Banyak yang mengatakan bahwa somasi adalah hak siapapun yang merasa dirugikan.
Selain itu, menurut hemat mereka, somasi juga pantas didapatkan oleh Raffi yang tidak memiliki adab dan sopan santun dalam menyampaikan kritik. Biar introspeksi, kapok dan lebih terukur dalam menyampaikan kritik.
Bagi saya, UMM memang memiliki hak untuk marah dan memberikan peringatan kepada siapapun yang menyerang nama baiknya. Akan tetapi, UMM juga harus sadar bahwa di era media sosial seperti sekarang, ia bukan hanya menghadapi satu orang, akan tetapi banyak orang; netizen yang multikultur.
Somasi tidak akan menjadi masalah apabila tidak sampai bocor ke media sosial. Akan tetapi, saat ini sepertinya sulit. Jika bukan pelaku atau korban yang mengunggahnya sendiri, pasti ada "tangan-tangan jail" yang entah lewat jalur mana dan dengan cara seperti apa akan sampai ke tangan netizen untuk sama-sama "dirujak" tanpa ampun.
Memang, di satu sisi kalau positioning-nya kuat, pihak yang melayangkan somasi akan mendapatkan dukungan penuh dari netizen. Namun jika tidak, somasi akan menjadi bumerang yang justru merugikan citra instansi itu sendiri.
Alih-alih didukung, sebuah instansi justru dihujat habis-habisan. Bahkan yang paling parah, netizen dengan skill dewanya akan mencari kesalahan terdahulu dan mengangkatnya menjadi santapan hangat. Mengerikan!.

Kita Semua Dituntut Adaptif

Ilustrasi mahasiswa. Foto: Shutter Stock
Perbedaan pemahaman antar generasi dalam sering menjadi masalah yang rumit. Banyak yang menggunakan cara-cara lama untuk menyelesaikan permasalahan baru. Contohnya, orang-orang dulu yang memukul anak atau muridnya ketika tidak disiplin dan melanggar peraturan, menjadi hal yang sah-sah saja untuk dilakukan.
Namun, jika hal yang sama dilakukan di zaman sekarang, mungkin orang tua yang memukul anak akan dikenai pasal KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) dan guru yang memukul muridnya akan dituntut. Begitu pula dalam kasus ini. Somasi bagi orang-orang dulu mungkin hanya dimaknai sebagai peringatan tertulis.
Namun, bagi anak zaman sekarang, somasi seolah menunjukkan bahwa sebuah instansi/perusahaan ingin dianggap berkuasa saat mampu mengintervensi pihak lain untuk memohon maaf. Perbedaan semacam ini menuntut kita semua untuk adaptif. Dengan adaptasi yang dilakukan, saya rasa ini akan menjadi cara baru untuk saling mendengar, berdiskusi dan memahami satu sama lain.

Ada Cara yang Lebih Elegan untuk Meng-counter Kritik

Ilustrasi. Foto: Soumyadeep Paul via Flickr
Saat sebuah institusi dihadapkan pada krisis, sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sayangnya, tidak semua instansi paham dan mengukur dengan cermat sebab-akibat yang dihasilkan dari sebuah keputusan.
Salah satu cara yang cukup relevan dilakukan di zaman sekarang dalam meng-counter kritik adalah dengan menunjukkan atau memberikan sesuatu yang dibutuhkan netizen. Dalam case ini, netizen hanya menuntut β€œjika yang dituduhkan itu tidak benar, mana buktinya?” dan β€œjika kampus ini bersih dan nggak banyak tai, ya tunjukkin dong!” Itu saja.
Maka, pihak UMM hanya memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan ini dengan data-data bandingan yang lebih meyakinkan. Kalau ditanya, β€œMisalnya kamu jadi PR di UMM, apa yang akan kamu lakukan?” Jawaban saya sederhana.
Pertama, saya tentu akan meminta maaf kepada Raffi karena bagaimanapun ia adalah mahasiswa yang sudah seharusnya mendapatkan pelayanan dan fasilitas terbaik.
Kedua, saya akan menyampaikan terima kasih kepada Raffi karena berkat dia, sekarang banyak orang yang mengenal dan mengetahui keberadaan UMM. Di samping itu, kritik dan masukan adalah hal yang sangat berharga demi kemajuan sebuah institusi.
Ketiga, karena media sosial didominasi oleh anak muda, saya akan membuat konten bandingan yang saya kemas dengan tidak terlalu serius, guyon, bahkan sedikit cringe. Biar bagaimanapun, konten semacam itu yang selama ini disukai netizen.
Buktinya, banyak orang yang akhirnya notice keberadaan UNISA (Universitas Aisyiyah Yogyakarta) hanya karena melihat konten-konten TikToknya. Dalam konten yang saya buat, akan saya tunjukkan bagaimana kinerja tenaga kebersihan, upaya-upaya yang dilakukan pihak kampus dalam menunjang fasilitas dan berbagai prestasi yang telah diraih oleh UMM selama ini.
Saya rasa, konten sederhana seperti ini cukup untuk menjawab kritik yang dilayangkan Raffi, tanpa harus melayangkan somasi. Eits, tidak lupa juga saya akan mendoakan Raffi agar ia mendapatkan sesuatu yang ia impikan dan terbebas dari jeratan masalah di kampus barunya. Hehe...
Trending Now