Konten dari Pengguna
Terlanjur Dikenal Sebagai Anak Abah: Ada Sukanya, Banyak Dukanya
15 Mei 2025 10:04 WIB
·
waktu baca 8 menit
Kiriman Pengguna
Terlanjur Dikenal Sebagai Anak Abah: Ada Sukanya, Banyak Dukanya
Tulisan ini mengulas refleksi seorang pendukung Anies Baswedan setelah Pilpres 2024. Meski mengaku tidak berekspektasi tinggi pada kemenangan Anies, penulis tetap merasa bangga atas pilihannya.Muchlis Fatahillah
Tulisan dari Muchlis Fatahillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya rasa, hampir semua orang sepakat kalau Pilpres tahun 2024 adalah pilpres paling seru, setidaknya dalam 15 tahun terakhir. Mengingat dalam kontestasi ini, masyarakat diberikan pilihan yang lebih variatif dibandingkan sebelumnya yang hanya bicara soal Jokowi atau Prabowo; cebong atau kampret saja. Melainkan, ada tiga pasang calon yang memiliki plus minus masing-masing. Kalau ada poin plus pada capresnya biasanya minus pada wapresnya, begitu pula sebaliknya. Pencalonan presiden yang diikuti oleh lebih dari 50% pemilih pemula ini tentu bukan tanpa dinamika. Mulai dari proses pencalonan salah satu capres yang dianggap cacat, kecurangan dengan memanfaatkan orang dalam di MK, penggorengan isu agama, hingga hal remeh-temeh soal 'el-chudai' cukup membuat masyarakat bimbang atas hak suaranya harus dijatuhkan pada siapa. Meski membingungkan, namun menurut saya letak keseruan pilpres justru ada disini. Pikiran kita benar-benar diuji serta dituntut untuk tetap rasional pada pilihan yang mungkin sama-sama brengseknya.
Seorang kawan pernah menyarankan kepada saya bahwa untuk memilih seorang pemimpin, setidaknya harus mempertimbangkan dua hal; Kepentingan secara ideologis dan kepentingan secara pragmatis. Kalau ada nilai-nilai dari pemimpin yang cocok dengan apa yang kamu yakini sekarang, maka pilih itu. Tapi jika tidak, pilih pempimpin yang bisa memberikan keuntungan buat dirimu sendiri atau setidaknya tidak merugikan kamu sendiri. Kenapa saya mengulang kata diri kamu sendiri? Sebab, jika politik adalah soal kepentingan, maka dalam hal ini diri kita sendiri yang punya kepentingan. Persetan soal orang banyak, selamatkan diri sendiri dulu, baru bisa menyelamatkan orang lain. Itu teori sederhananya.
Saya bukan timses salah satu paslon, artinya kepentingan saya secara pragmatis otomatis gugur. Dengan demikian, saya punya PR besar untuk mencocokkan nilai yang saya yakini dengan ketiga paslon ini. Dengan banyak pertimbangan, pilihan saya mengerucut pada dua nama, Prabowo dan Anies. Selain karena pengalaman di dunia militer, Pak Prabowo adalah first love saya di dunia politik. Sebab, pertama kali saya mencoblos di tahun 2019 —tentunya dengan pengetahuan politik yang nol besar— saya jatuhkan pilihan pada Pak Prabowo. Tidak sampai disitu, ketika Pak Prabowo akhirnya diakomodir oleh rivalnya sebagai Menteri Pertahanan, saya termasuk orang yang menangis haru, Jiangkrik!
Singkat cerita, pilihan saya jatuh pada Anies Baswedan. Sosok yang dikenal sebagai rivalnya Ahok ini berhasil membuat saya berpaling dari Pak Prabowo lewat kata-kata magisnya. Dari sini saya sadar bahwa mungkin love language saya bukan physical attack melainkan word of affirmation. Mungkin banyak yang mengatakan (red: menghakimi) bahwa saya termakan janji-janji manis. Ah, saya tidak ambil pusing. Melihat Jakarta yang sukses dengan transportasi umumnya terutama di era pak Anies membuat saya berimajinasi kalau suatu saat tanah kelahiran saya, Gunungkidul juga akan memiliki transportasi terintegrasi serupa. Membayangkan kelak ketika akan pulang dari Wonosari ke Tepus, saya hanya cukup menyiapkan kartu, naik MRT sampai Semanu kemudian dilajut naik TransGK sampai Tepus. Sungguh imajinasi ini hanya akan terwujud ketika pak Anies Baswedan terpilih menjadi Presiden. Maka, sejak pikiran saya diisi oleh imajinasi liar tersebut, saya resmi menyatakan diri sebagai Anak Abah. Tentu, orang-orang juga mengenal saya demikian.
Menjadi Anak Abah dengan Segala Risikonya
Sebutan anak abah memang sudah bergema dari sebelum Pilpres. Bagi yang belum tau, sebutan ini sebenarnya berawal dari salah satu podcast yang bintang tamunya adalah Mutiara Baswedan, putri Pak Anies. Saat itu, ketika ditanya apa panggilan Tia untuk Pak Anies? Beliau menjawab “Abah”. Kemudian, ditanya “Boleh ngga yang lain panggil Abah juga?” dengan senyum khasnya, dibolehkan lah panggilan abah ini disematkan kepada Pak Anies. Namanya media sosial, satu orang panggil abah, yang lain pun mengikuti dengan panggilan serupa. Seingat saya kata anak abah pernah menduduki trending di twitter, sehingga kata ini semakin meluas pada banyak kalangan, termasuk pada obrolan-obrolan di warung kopi. Tentu, yang sudi memanggil Pak Anies dengan kata Abah adalah orang-orang yang mendukungnya. Sangat tidak lucu kalau pendukung Pak Prabowo atau Pak Ganjar memanggil Abah juga.
Media sosial dengan kehidupan nyata memang tidak selalu berjalan beriringan. Meskipun banyak yang tidak keberatan dilabeli anak abah di media sosial, nyatanya di kehidupan nyata hal ini seakan menjadi beban atau bahkan aib tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan pada fase awal mendukung pak Anies. Bukan tanpa alasan, saya hidup di Kabupaten yang secara umum menjatuhkan pilihan pada 02. Alasannya karena mereka punya ketakutan hal baik yang sudah dilakukan Pak Jokowi, khususnya bansos yang rutin diberikan akan di-stop apabila Pak Prabowo tidak jadi presiden. Dengan demikian, bagi siapapun yang tidak mendukung misi yang kelihatannya mulia ini tentu akan dipandang sinis. Saya sangat memahami situasi ini dan alasan tersebut cukup rasional dibandingkan dengan alasan mendukung karena kasihan sudah nyalon empat kali, jangan sampai gagal.
Secara pribadi saya memiliki duka yang mendalam saat dicap sebagai anak abah. Hal ini bermula saat ramai kasus pencalonan Mas Gibran yang konon katanya dibantu pamannya di MK. Saat itu, saya merasa ada hal yang harus dipahami setidaknya pada adek-adekku, yang baru pertama kali nyoblos. Tetap memilih atau tidak itu hak, tapi faham bahwa ada satu hal yang salah dan dilanggar itu hukumnya mutlak. Dengan bahasa sehalus mungkin, saya buatkan konten edukatif ala-ala kemudian saya upload ke tiktok. Seperti masuk ke sarang buaya, konten tersebut diserbu oleh warganet dengan komentar-komentar menohok yang jauh dari substansi konten. Saya masih ingat komentar paling menyakitkan yang tidak bisa saya tulis ulang disini. Berat-beraaat!.
Operasi Senyap Pada Orang-Orang Terdekat
Sejak awal mendukung pak Anies, saya sudah punya keyakinan bahwa beliau tidak akan menang atau dibuat tidak menang, apapun caranya. Kalau kata Bang Pandji, mana ada orang yang rela menyerahkan kunci lacinya kepada orang yang tidak ia percaya. Dengan demikian, saya tidak berekspektasi banyak. Bisa melihat beliau konsisten dengan nilai-nilai yang ia pegang khususnya setelah pilpres tanpa saya merasa dikhianati saja sudah lebih dari cukup. Meskipun jiwa kompetitif tetap saja ada dalam hati dan sanubari. Setidaknya kalah rapopo tapi yo ojo kebangeten.
Keluarga dan orang-orang terdekat menjadi target operasi senyap saya. Tentu, saya takut dan malu ketika menyatakan dukungan secara terang-terangan. Biasanya, saya akan buka obrolan dengan dalih kekosongan saya dalam menentukan pilihan di pilpres kemudian saya minta pendapat mereka. Setelah terjadi diskusi yang membandingkan masing-masing calon biasanya nanti akan mengerucut pada satu nama yang secara rekam jejak, proses pencalonan, serta kompetensi paling mumpuni. Inilah saat yang tepat saya menyodorkan nama Anies Baswedan. Sebenarnya tidak terlalu sulit mempromosikan bapak satu ini, mengingat track recordnya bahkan jauh sebelum jadi Menteri Pendidikan sudah mentereng. Namun, masalah muncul ketika ditanya “Bagaimana wakilnya? Bisakah dia konsisten?” Wah, saya sendiri juga punya keraguan mendalam soal ini.
Kalah dan Tidak Masuk Pemerintahan, Anehnya Saya Bangga!
Tidak ada hari paling kelam dalam hidup saya selain ketika pengumuman perolehan suara Pilpres oleh KPU. Bukan sedih karena Anies tidak menang, sekali lagi itu sudah saya prediksi sejak awal. Melainkan, melihat respon dari orang-orang terdekat saya yang mengatakan bahwa saya menjatuhkan pada pilihan yang salah. Saya juga dianggap sebagai orang yang hanya membuang-buang hak suara. Mereka berdalih, akan lebih baik jika suara saya digunakan untuk mendukung seseorang yang secara peta politik, menang telak. Entah bagaimana, argumen semacam itu sampai hari ini belum bisa saya fahami secara penuh. Tapi tidak apa-apa, setiap orang tentu punya hak untuk berpendapat yang jelas dijamin oleh undang-undang.
Waktu terus berlalu, banyak hal yang berubah. Tapi melihat sosok yang saya dukung tetap konsisten di jalan perubahan seperti katanya dulu, seakan menjadi kemenangan tersendiri bagi saya. Bahkan, edukasi politik yang dilakukan melalui podcast atau review buku di channel pribadinya dan baru saja beliau menginisiasi gerakan "Aksi Bersama", seolah menjadi bukti bahwa kami bukan hanya dijadikan alat untuk mendulang suara. Meskipun, saya tetap pada madzab sisakan ruang ketidakpercayaan pada politisi. Tentu, saya tidak akan mengomentari wakilnya, terserah beliau mau bagaimana dan melakukan apa, saya sudah muak.
Jika sebelumnya dikenal sebagai anak abah itu adalah hal yang memalukan, hari ini saya sudah ada pada fase berhenti peduli. Bahkan sesekali saya justru bangga pernah berada di barisan yang mayoritas orang menyebutnya “Barisan sakit hati”. Saya hanya bisa mengambil hikmah baiknya saja. Dengan mengikuti Pak Anies dalam dua tahun terakhir ini saya belajar banyak hal. Belajar soal bagaimana konsep pendidikan yang ideal, pentingnya meritokrasi, konsep negara hukum hingga belajar satu hal yang sering dilupakan kebanyakan politisi Indonesia yaitu etika politik.
Sesekali, saya juga bisa tertawa kecil ketika pemerintahan sekarang melakukan kesalahan. Sebab, tak jarang isu-isu yang luput dari penglihatan pemerintah justru menjadi isu yang sudah ditulis secara terstruktur dalam visi-misi Pak Anies. Biasanya, Pak Anies merespon dengan kata “Dulu sudah kami tawarkan”, seolah-olah ingin memberi tau bahwa beliau sudah mengkaji isu tersebut dan menawarkannya ketika pilpres, tapi rakyat Indonesia justru memilih yang lain. Rispek, Pak!.

