Konten dari Pengguna

Ke Puncak Gunung Sangar: Tenang, Tak Sesangar Namanya!

Mugi Muryadi
Wiraswastawan, pegiat literasi, pemerhati sosial, lingkungan, dan pendidikan. Penulis buku fiksi dan nonfiksi.
22 Desember 2025 15:13 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ke Puncak Gunung Sangar: Tenang, Tak Sesangar Namanya!
Gunung Sangar bukan tentang kesangaran, melainkan ketenangan. Ia mengajarkan keberanian tanpa teriak. Gunung ini cocok untuk pemula dan anak muda.
Mugi Muryadi
Tulisan dari Mugi Muryadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selama pendakian, mata disuguhi pemandangan yang menyejukkan. Pepohonan berdiri seperti penjaga jalur yang setia. Daun-daun bergesekan menciptakan irama alami. Semakin ke atas, pemandangan kota mulai terlihat dari kejauhan (Foto: Dokumen Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Selama pendakian, mata disuguhi pemandangan yang menyejukkan. Pepohonan berdiri seperti penjaga jalur yang setia. Daun-daun bergesekan menciptakan irama alami. Semakin ke atas, pemandangan kota mulai terlihat dari kejauhan (Foto: Dokumen Penulis)
Gunung Sangar terletak di selatan Bandung, tepatnya di Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Gunung ini berdiri tenang di kaki Pegunungan Malabar yang terkenal hijau dan subur. Dari kejauhan, bentuknya menyerupai setengah kubah yang membumi, tidak menjulang sombong. Ketinggian Gunung Sangar sekitar 1.690 meter di atas permukaan laut. Angka ini menjadikannya ramah bagi pendaki pemula dan anak-anak muda. Gunung Sangar tidak menakut-nakuti, tetapi mengajak berkenalan perlahan. Jalurnya relatif singkat dan jelas, cocok untuk pendakian santai. Gunung ini seperti teman baru yang menyapa lebih dulu. Ia tidak menuntut pengalaman, hanya kesiapan dan sikap hormat.
Nama Gunung Sangar sering membuat orang ragu sebelum berangkat. Kata sangar terdengar seperti ancaman yang mengernyitkan dahi. Banyak orang membayangkan jalur ekstrem dan cerita mistis. Padahal, Gunung Sangar hari ini jauh dari kesan menakutkan. Ia justru menjadi ruang belajar bagi pendaki pemula. Banyak anak muda menjadikannya gunung pertama dalam hidup mereka. Gunung Sangar seperti guru sabar yang tidak suka membentak. Ia membiarkan pendaki mengenali batas tubuh sendiri. Setiap langkah terasa seperti percakapan ringan dengan alam. Gunung ini membuktikan bahwa nama tidak selalu mencerminkan watak.
Perjalanan pendakian dimulai dari pos registrasi yang mudah diakses kendaraan. Lokasinya berada dekat permukiman warga dan masjid setempat. Suasananya hidup namun tetap bersahaja. Kita diwajibkan melakukan registrasi sebelum mendaki. Nama, alamat, dan nomor kontak dicatat dengan rapi. Biaya registrasi sebesar Rp15.000 terasa wajar dan terjangkau. Kendaraan bisa diparkir aman di sekitar pos. Setelah administrasi selesai, perjalanan kaki segera dimulai. Dari titik ini, langkah berubah menjadi cerita.
Gerbang pendakian berjarak sekitar satu kilometer dari pos registrasi. Jalan menuju gerbang sedikit menanjak dan melewati kebun sayur warga (Foto: Dokumen Penulis)
Gerbang pendakian berjarak sekitar satu kilometer dari pos registrasi. Jalan menuju gerbang sedikit menanjak dan melewati kebun sayur warga. Daun-daun sawi dan kol seolah ikut mengamati langkah kita. Tanah liat dan batu kecil menjadi saksi pemanasan awal. Nafas mulai menyesuaikan diri dengan ritme baru. Gerbang pendakian berdiri sederhana tanpa kemegahan berlebihan. Namun, suasananya terasa berbeda. Alam seolah membuka pintu dengan senyum tenang.
Sesaat setelah melewati gerbang, suara gemericik air menyambut telinga. Sungai kecil mengalir dari tubuh Gunung Sangar seperti urat nadi kehidupan. Suaranya lembut dan menenangkan pikiran. Di titik ini, pendakian resmi dimulai. Rasa lelah perlahan tergantikan rasa penasaran. Udara terasa lebih bersih dan ringan. Paru-paru seperti mendapat hadiah kecil. Gunung Sangar seolah berkata, perjalanan ini akan menyenangkan.
Pendakian menuju puncak melewati empat pos istirahat. Jarak antarpos ditempuh sekitar tiga puluh hingga lima puluh menit. Waktu sangat bergantung pada ritme berjalan dan istirahat. Jalur menuju pos satu tergolong ramah dan bersahabat. Tanjakan masih ringan dan tidak memaksa. Banyak pendaki memanfaatkan pos satu untuk beristirahat lebih lama. Di sini terdapat warung kecil yang menjual makanan dan minuman. Pos satu menjadi ruang jeda sebelum cerita berlanjut.
Tanjakan Ebel menjadi pembuka tantangan yang sesungguhnya. Kemiringannya mencapai lebih dari lima puluh derajat. Langkah harus diperhitungkan dengan cermat (Foto: Dokumen Penulis)
Setelah pos dua, karakter jalur mulai berubah. Tanjakan terasa lebih panjang dan menantang. Nafas mulai berdialog dengan tekad. Dari pos dua hingga pos empat, jalur dibagi menjadi tiga tanjakan utama. Tanjakan tersebut dikenal sebagai Ebel, Ceri, dan Manis. Nama-nama ini terdengar manis, tetapi kenyataannya cukup menguras tenaga. Gunung Sangar mulai menunjukkan wajah aslinya. Namun, ia tetap adil dan tidak kejam.
Tanjakan Ebel menjadi pembuka tantangan yang sesungguhnya. Kemiringannya mencapai lebih dari lima puluh derajat. Langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Di sisi tebing, bambu dipasang sebagai pegangan alami. Bambu itu seperti tangan penolong yang setia. Namun, kehati-hatian tetap menjadi kunci. Permukaan tanah bisa licin terutama setelah hujan. Di sinilah konsentrasi benar-benar diuji. Gunung Sangar mengajarkan bahwa fokus adalah bentuk penghormatan.
Nama sangar pada Gunung Sangar memiliki makna historis dan kultural. Dalam bahasa Sunda, sangar berarti berbahaya atau membawa celaka. Dahulu, kawasan ini dikenal angker dan jarang dijamah. Hutan lebat menyimpan banyak cerita tentang binatang liar. Mitos harimau dan kisah mistis menambah ketakutan warga. Tanah sangar dianggap membawa kesialan bagi yang ceroboh. Namun waktu mengubah banyak hal. Jalur dibuka, alam dijaga, dan mitos perlahan luruh. Sangar kini tinggal jejak sejarah.
Selama pendakian, mata disuguhi pemandangan yang menyejukkan. Pepohonan berdiri seperti penjaga jalur yang setia. Daun-daun bergesekan menciptakan irama alami. Semakin ke atas, pemandangan kota mulai terlihat dari kejauhan. Bangunan tampak kecil dan jinak dari ketinggian. Gunung-gunung lain berdiri mengelilingi seperti sahabat lama. Udara sejuk membelai kulit tanpa diminta. Kesegaran ini menjadi kemewahan yang sulit ditemukan di kota. Gunung Sangar memberi ruang bernapas bagi pikiran.
Pendaki muda banyak ditemui sepanjang jalur pendakian. Ada rombongan sekolah, komunitas, dan pesantren. Tawa dan canda sering terdengar di sela langkah. Ketika berpapasan dengan pendaki yang turun, sapaan ramah selalu mengalir. Kalimat penyemangat menjadi bahasa universal pendaki. β€œSedikit lagi,” sering terdengar di jalur. Kalimat itu bukan soal waktu, tetapi soal harapan. Gunung Sangar mengajarkan solidaritas tanpa mengenal nama.
Pendakian Gunung Sangar membutuhkan persiapan yang sederhana namun penting. Bekal makanan dan minuman harus disiapkan dari bawah. Setelah pos satu, tidak ada warung yang berjualan. Tongkat pendakian membantu menjaga keseimbangan. Sepatu gunung sangat disarankan agar tidak licin. Jaket wajib dibawa karena udara puncak cukup dingin. Kamera menjadi saksi bisu setiap momen. Persiapan yang baik membuat pendakian lebih menyenangkan.
Gunung Sangar menunggu dengan sabar. Tenang saja, ia benar-benar tak sesangar namanya (Foto: Dokumen Penulis)
Sesampainya di puncak, rasa lelah langsung terbayar lunas. Pemandangan terbuka menyambut dengan keheningan megah. Hamparan alam membentang sejauh mata memandang. Angin berhembus membawa aroma hutan. Banyak pendaki memilih bermalam di puncak. Tenda didirikan bersama kawan-kawan seperjalanan. Malam diisi tawa, cerita, dan lagu sederhana. Bintang menjadi lampu alami tanpa saklar.
Gunung Sangar bukan tentang kesangaran, melainkan ketenangan. Ia mengajarkan keberanian tanpa teriak. Gunung ini cocok untuk pemula dan anak muda. Tidak ada tuntutan heroisme berlebihan. Cukup niat, persiapan, dan rasa hormat pada alam. Gunung Sangar menunggu dengan sabar. Tenang saja, ia benar-benar tak sesangar namanya.
Trending Now