Konten dari Pengguna

Filantropi Spiritual: Modal Sosial yang Terlupakan di Tengah Carut-Marut Bangsa

MUH RIZKI
Dosen Universitas Cokroaminoto Yogyakarta - Peneliti PS2PM Yogyakart
3 September 2025 17:27 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Filantropi Spiritual: Modal Sosial yang Terlupakan di Tengah Carut-Marut Bangsa
Bukan sekadar konsep dalam wacana akademik, Filantropi hadir dalam bentuk nasihat yang menenangkan hati, bimbingan yang menuntun, atau bahkan sekadar menjadi pendengar yang tulus. #userstory
MUH RIZKI
Tulisan dari MUH RIZKI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Praktik Filantropi Spiritual. Foto: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Praktik Filantropi Spiritual. Foto: Dokumentasi Pribadi.
Ketika mendengar kata filantropi, bayangan kita biasanya langsung tertuju pada aktivitas memberi uang: zakat, infak, sedekah, atau donasi ketika bencana datang. Seolah-olah filantropi hanya terbatas pada pemberian materi. Padahal, hakikatnya jauh lebih luas. Filantropi juga bisa hadir dalam bentuk nasihat yang menenangkan hati, gagasan yang mencerahkan, bimbingan yang menuntun, atau bahkan sekadar menjadi pendengar yang tulus. Semua itu lahir dari cinta kasih yang ikhlas, tanpa pamrih imbalan. Inilah yang saya sebut sebagai filantropi spiritual.
Konsep ini sederhana, namun punya kekuatan yang luar biasa. Ia tidak bergantung pada ketebalan dompet, tetapi pada kelapangan hati. Justru di tengah masyarakat kita yang sedang dilanda banyak masalah, nilai-nilai filantropi spiritual terasa semakin relevan. Sayangnya, modal sosial ini sering terlupakan karena terlalu banyak energi yang tersedot oleh urusan materi, politik praktis, atau bahkan perpecahan identitas.

Bangsa yang Krisis Nilai Batin

Lihatlah Indonesia hari ini. Kita masih harus berhadapan dengan praktik politik uang yang seakan menjadi tradisi setiap kali musim pemilu tiba. Misalnya Pilkada 2024 lalu, lagi-lagi diwarnai laporan tentang serangan fajar dan politik transaksional. Demokrasi yang seharusnya jadi ruang adu gagasan justru terjebak dalam logika "siapa bayar, dia yang dipilih." Bukankah ini tanda bahwa bangsa kita sedang miskin nilai batin, meski tampak kaya secara materi?
Belum lagi kasus korupsi bantuan sosial (bansos) yang menyeret nama pejabat publik. Ironisnya, dana yang seharusnya menyelamatkan rakyat kecil justru diperas demi kepentingan segelintir orang. Skandal bansos ini bukan hanya melukai hati rakyat, tetapi juga memperlihatkan betapa rapuhnya moralitas dalam tata kelola negara. Apakah kita masih bisa berharap perubahan hanya dengan memperbanyak anggaran, tanpa memperkuat nilai kemanusiaan yang mendasarinya?
Konflik sosial juga tidak pernah absen dari panggung Indonesia. Kasus Rempang tahun lalu menjadi contoh nyata bagaimana ketegangan bisa muncul ketika pembangunan tidak sensitif terhadap identitas lokal dan budaya masyarakat. Rakyat kecil yang merasa tanahnya terancam, tergusur bangkit melakukan perlawanan. Sayangnya, penyelesaiannya justru sering melibatkan aparat bersenjata, bukan dialog yang penuh empati. Jika saja pendekatan filantropi spiritual menghargai martabat, mendengar keluhan, dan memberi solusi dengan kasih dijadikan pijakan, mungkin konflik semacam itu bisa lebih damai diselesaikan.
Ilustrasi Masyarakat Indonesia. Foto: Shutterstock

Belajar dari Pemikiran RAH

Dalam sejarah pemikiran Indonesia, RAH (seorang tokoh pemikir dan ulama nusantara) pernah menekankan pentingnya menggabungkan aspek spiritual, moral, dan sosial dalam membangun masyarakat. Menurutnya, transformasi sosial sejati tidak cukup dengan pembangunan fisik atau bantuan materi. Yang terpenting adalah membangun relasi yang tulus antarsesama, menjaga persatuan di tengah perbedaan, dan menghargai identitas budaya lokal.
RAH hidup di tengah masyarakat yang juga penuh konflik, termasuk gesekan antara etnis Bugis dan Melayu. Namun ia melihat konflik bukan sebagai alasan untuk terpecah, melainkan tantangan untuk memperkuat solidaritas. Pandangan ini amat relevan dengan kondisi kita sekarang. Ketika politik identitas masih menjadi senjata untuk memecah belah, ajaran RAH mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan dan spiritualitas bisa menjadi perekat yang lebih kuat daripada sekadar kepentingan pragmatis.
Nilai filantropi spiritual dalam pemikiran RAH mencakup tiga hal utama: religiusitas, moralitas, dan humanisme. Ia menegaskan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang didorong oleh nilai-nilai etis dan religius, bukan sekadar oleh kepentingan ekonomi atau kekuasaan. Dengan kata lain, filantropi spiritual bukan hanya amal ibadah personal, tetapi juga fondasi untuk membangun sistem sosial yang adil dan harmonis.

Saatnya Menghidupkan Kembali Filantropi Spiritual

Indonesia saat ini sebenarnya memiliki banyak potensi filantropi. Data menunjukkan bahwa masyarakat kita termasuk yang paling dermawan di dunia. Namun, jika filantropi hanya dipahami sebatas "memberi uang," maka dampaknya akan terbatas. Justru yang kita butuhkan adalah semangat memberi tanpa pamrih dalam dimensi non-materi.
Bayangkan jika para elite politik tidak hanya sibuk berbagi sembako saat kampanye, tetapi juga menghidupkan budaya menasihati dengan kasih, membuka ruang dialog, dan menunjukkan empati yang tulus. Bayangkan jika pejabat publik melihat kekuasaan sebagai sarana pelayanan, bukan ladang memperkaya diri. Bayangkan pula jika kita sebagai masyarakat mulai membiasakan diri untuk saling menghargai perbedaan, tanpa harus merasa paling benar.
Filantropi spiritual memberi kita energi moral untuk melampaui sekat-sekat sosial. Ia bisa menjembatani jurang antara kaya dan miskin, pusat dan daerah, mayoritas dan minoritas. Ia juga bisa menjadi fondasi bagi pembangunan yang lebih manusiawi, di mana keadilan sosial tidak hanya slogan, tetapi kenyataan.
Dua warga beraktivitas di rel kereta api di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (16/7/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dari Wacana ke Aksi

Hari ini, kita menghadapi tantangan berat: krisis kepercayaan publik, maraknya radikalisme, ketidakadilan sosial, hingga polarisasi politik yang makin tajam. Program formal dari pemerintah tentu penting, tetapi itu tidak cukup. Kita butuh energi baru, energi moral yang mampu menggerakkan masyarakat dari dalam.
Itulah mengapa filantropi spiritual menjadi sangat penting untuk dihidupkan kembali. Bukan sekadar konsep dalam wacana akademik, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari hal kecil: memberi senyum, menolong tanpa pamrih, mendengarkan dengan empati, hingga membangun dialog yang sehat di tengah perbedaan.
Jika nilai-nilai ini benar-benar dijalankan, maka Indonesia bisa melangkah menuju masyarakat yang lebih adil, harmonis, dan beradab. Sebab, pada akhirnya, kemajuan bangsa bukan hanya ditentukan oleh gedung-gedung yang menjulang atau anggaran yang besar, tetapi dari sejauh mana warganya mampu memberiβ€”dengan cinta, dengan moral, dan dengan hati yang tulus.
Trending Now