Konten dari Pengguna
Mengapa Banyak Generasi 90-an Menunda Menikah?
10 Desember 2025 12:00 WIB
Ā·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Banyak Generasi 90-an Menunda Menikah?
Generasi 90-an banyak menunda menikah bukan karena takut berkomitmen, melainkan karena trauma, tuntutan karier, tekanan sosial, dan mahalnya biaya hidup. Menunggu jadi pilihan sadar. #userstoryMuhamad Aditya Setiawan
Tulisan dari Muhamad Aditya Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, usia 30 tahun sering dianggap sebagai ābatas amanā untuk menikah. Siapa pun yang melewati usia itu tanpa pasangan kerap dipandang aneh, terlalu pemilih, atau bahkan dikhawatirkan ātak kebagian jodohā.
Namun hari ini, pemandangan itu berubah. Banyak generasi 90-an justru memasuki usia 30-an dalam keadaan sendiriābukan karena tak ingin menikah, melainkan karena semakin sadar bahwa pernikahan bukan sekadar soal asmara, melainkan keputusan hidup yang sangat besar.
Saya termasuk bagian dari generasi itu. Bukan anti terhadap pernikahan, bukan pula menolak komitmen. Justru karena memandang pernikahan sebagai ikatan suci dan tanggung jawab seumur hidup, keputusan untuk menunggu menjadi pilihan yang terasa paling masuk akal. Di titik inilah, menunda menikah bukan lagi soal takut berkomitmen, melainkan soal kesadaran.
Trauma Masa Lalu dan Kesadaran Baru tentang Keluarga
Banyak generasi 90-an tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak selalu ideal. Ada yang menyaksikan pertengkaran orang tua secara terus-menerus, tekanan ekonomi, kekerasan verbal, pengabaian emosional, fatherless, bahkan perceraian. Semua itu meninggalkan jejak psikologis yang tidak sederhana.
Trauma-trauma tersebut membentuk cara pandang baru terhadap pernikahan. Pernikahan tidak lagi dipahami sebagai tujuan akhir hidup semata, tetapi sebagai ruang yang seharusnya aman, sehat, dan menumbuhkan. Ketakutan terbesar bukanlah terlambat menikah, melainkan mengulang luka yang sama kepada pasangan dan anak-anak di masa depan.
Orang tua tidak hanya melahirkan dan membesarkan tanpa kesiapan, tetapi juga harus mendidik dengan ilmu, memberikan kehidupan yang layak, dan selalu hadir secara utuh tidak sekadar raga. Cara pandang inilah yang membuat sebagian generasi 90-an memilih menunda, bukan karena ragu, melainkan karena terlalu serius memandang makna keluarga.
Karier, Finansial, dan Pendidikan sebagai Bentuk Ikhtiar
Faktor lain yang sangat kuat adalah soal karier, finansial, dan pendidikan. Generasi 90-an hidup di masa ketika biaya hidup terus meningkat, lapangan kerja semakin kompetitif, dan stabilitas ekonomi tidak semudah generasi sebelumnya. Rumah semakin sulit dijangkau, sementara kebutuhan hidup terus bertambah.
Di tengah kondisi tersebut, banyak yang memilih menata hidup melalui karier dan pendidikan. Tidak sedikit yang menunda menikah karena masih mengejar gelar S2 bahkan S3. Data kependudukan dan pendidikan menunjukkan bahwa jumlah lulusan pascasarjana di Indonesia memang masih tergolong kecil, tetapi tren melanjutkan studi terus meningkat dalam satu dekade terakhir, seiring terbukanya akses beasiswa dan kebutuhan pasar kerja terhadap tenaga ahli.
Bagi generasi ini, pendidikan tinggi bukan sekadar ambisi akademik, melainkan bagian dari ikhtiar hidup: memperkuat kapasitas diri, membuka peluang karier yang lebih stabil, dan pada akhirnya membangun fondasi yang lebih kokoh sebelum membentuk keluarga. Menunda menikah dalam konteks ini bukan kemunduran, melainkan strategi bertahan hidup.
Tekanan Sosial yang Tak Ringan, Terutama bagi Perempuan
Sayangnya, pilihan untuk tetap sendiri bagi banyak generasi 90-an bukan keputusan yang mudah secara sosial. Budaya kita masih memandang pernikahan sebagai fase hidup yang āwajibā dilalui. Ukuran kedewasaan sering kali diikatkan pada status pernikahan kemudian punya anak, bukan pada kedewasaan berpikir atau kemampuan bertanggung jawab.
Tekanan ini terasa jauh lebih berat bagi perempuan. Mereka tidak hanya ditanya kapan menikah, tetapi juga kerap disudutkan dengan stigma āterlalu pilih-pilihā, ātakut berkomitmenā, atau āterlalu fokus karierā. Bahkan, tidak jarang mereka terus-menerus dibanding-bandingkan dengan āanak tetangga yang sudah menikah dan katanya hidupnya baik-baik sajaā, seolah-olah hidup memiliki satu pola baku yang harus diikuti oleh semua orang.
Padahal, memiliki pasangan yang salahātidak sejalan nilai, prinsip hidup, dan visi masa depan akan membuat pernikahan berisiko gagal. Dalam banyak kasus, dampak terberat sering kali justru dialami oleh perempuan. Mendapatkan pasangan yang tidak tepat bisa membuat pernikahan terasa seperti āpenjara seumur hidupā, dengan beban emosional, sosial, dan psikologis yang jauh lebih berat.
Ironisnya, masyarakatābahkan keluarga intiāmenuntut perempuan agar tidak salah memilih pasangan, tetapi pada saat yang sama mencela ketika mereka terlalu lama menimbang pilihan. Di titik inilah dilema generasi 90-an semakin mengeras: antara mengikuti tekanan sosial atau setia pada prinsip hidup.
Hidup yang Kian Mahal dan Ketakutan akan Masa Depan
Realitas ekonomi hari ini juga turut membentuk keputusan generasi 90-an untuk menunda menikah. Harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Biaya sewa tempat tinggal meningkat dan harga rumah di wilayah Jabodetabek serta kota-kota besar di Jawa kini sudah menembus angka miliaran rupiah, bahkan untuk rumah di kawasan pinggiran.
Di luar Jawa, harga properti memang relatif lebih rendah, tetapi tetap menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dibandingkan satu dekade lalu. Di sisi lain, biaya pendidikanāterutama untuk jenjang perguruan tinggi dan sekolah berkualitasāsemakin mahal dan menjadi beban besar jika tidak direncanakan dengan matang sejak awal.
Bukan karena cinta dianggap tidak penting, melainkan karena cinta saja tidak cukup untuk menopang kehidupan rumah tangga di tengah realitas hidup yang semakin mahal.
Menunda Menikah dalam Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, menikah bukanlah kewajiban mutlak bagi setiap individu tanpa kecuali. Hukum menikah memiliki tingkatan: bisa mubah, sunnah, wajib, makruh, bahkan haram, tergantung pada kondisi seseorang. Jika seseorang belum mampu secara mental, ilmu, dan finansial, ia tidak diwajibkan untuk menikah.
Memang benar bahwa rezeki adalah karunia Allah. Namun, Islam juga menekankan pentingnya ikhtiar. Menikah dengan persiapan yang matang jauh lebih utama daripada menikah dengan modal nekat tanpa kesiapan. Keberanian tanpa perencanaan sering kali justru melahirkan konflik, bukan ketenangan.
Oleh karena itu, keputusan menunda menikah sejatinya bukan bentuk pembangkangan terhadap ajaran agama, melainkan bentuk kehati-hatian agar pernikahan benar-benar menjadi jalan ibadah, bukan sumber penderitaan baru.
Sendiri di Usia 30-an Bukan Kegagalan
Generasi 90-an hidup di persimpangan zaman: antara nilai-nilai tradisi yang menuntut kepatuhan pada fase hidup tertentu dan realitas modern yang menuntut kesiapan yang semakin kompleks. Mereka yang masih sendiri di usia 30-an bukan berarti gagal, tidak sukses dalam hidup, apalagi menyimpang. Banyak di antara mereka justru sedang menyiapkan diri dengan penuh kesadaran.
Hal yang seharusnya dipersoalkan bukanlah mereka yang menunda menikah, melainkan budaya yang terlalu mudah menghakimi pilihan hidup orang lain. Sebab, pernikahan yang terburu-buru tanpa kesiapan justru lebih berisiko melahirkan konflik, kekerasan dalam rumah tangga, dan perceraian.
Dan bagi sebagian generasi 90-an, memilih untuk sendiri di usia 30-an bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab paling dewasa yang bisa diambil atas hidup dan masa depan mereka sendiri.

