Konten dari Pengguna
Realitas Dakwah: Antara Keluarga, Tujuan, dan Kebutuhan Hidup
15 Juni 2025 15:25 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Realitas Dakwah: Antara Keluarga, Tujuan, dan Kebutuhan Hidup
Di balik semangat dakwah, para dai menghadapi dilema antara tanggung jawab keluarga, idealisme tujuan, dan tuntutan kebutuhan hidup. Artikel ini mengajak kita memahami realitas itu dengan lebih utuh.Muhamad Fadhilah Putra Maulana
Tulisan dari Muhamad Fadhilah Putra Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagian dari kita pasti pernah memaknai dakwah sebagai sebuah jalan suci. Kenapa? Karena untuk memulainya, kita membutuhkan persiapan yang matang. Bukan hanya mengandalkan ilmu saja, tetapi juga harus disertai keikhlasan dan keberanian.
Namun, di balik semua itu, ada realitas yang sering dipandang sebelah mata: bagaimana seorang dai menjaga keluarganya, tetap fokus pada tujuan penting dalam dakwah, dan menghadapi tuntutan hidup yang terus bertambah.
Dakwah: Jalan Panjang yang Tidak Mudah
Bagi sebagian orang, berdakwah bukan lagi aktivitas pekanan, melainkan telah menjadi identitas dalam hidup. Kita membutuhkan keikhlasan yang besar saat berbagi ilmu dan menyebar nilai kebaikan.
Penting untuk kita ketahui bersama bahwa idealisme semacam ini tidak hidup di ruang hampa. Ketika tanggung jawab dunia mulai datang, dari urusan dapur hingga biaya sekolah, muncullah berbagai dilema antara visi spiritual dan realitas domestik.
Tidak heran, banyak dai yang akhirnya mencari jalan alternatif untuk menyudahi dilema ini, dengan cara menyeimbangkan antara tujuan dakwah dan kebutuhan hidup.
Keluarga: Amanah Pertama yang Sering Terabaikan
Sering kali, keluarga menjadi pihak yang paling terdampak dari kesibukan aktivitas dakwah. Mulai dari jadwal yang padat, waktu yang tersita, hingga kelelahan fisik dan mental, menyebabkan hubungan keluarga terabaikan begitu saja.
Padahal, keluarga adalah ladang dakwah yang paling pertama. Bahkan Rasulullah SAW pun mencontohkan pentingnya membina rumah tangga secara utuh, di tengah kesibukan memimpin dan mengurusi umat.
Tuntutan Hidup yang Tidak Bisa Diabaikan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan hidup adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh siapa pun, termasuk para pendakwah.
Banyak dai yang hidup dalam keterbatasan. Amplop dakwah yang kecil dan tidak tetap, bahkan hanya ucapan terima kasih yang diberikan. Lalu, bagaimana mereka mencukupi kebutuhan rumah, membayar sekolah, atau sekadar mengisi dapur?
Dakwah memang bukan jalan untuk mencari uang, tetapi bukan berarti para pendakwah tidak berhak hidup layak seperti masyarakat pada umumnya.
Menemukan Titik Keseimbangan
Setiap dai akan menemukan jalannya masing-masing. Ada yang berdakwah penuh waktu dengan dukungan lembaga atau yayasan, ada juga yang berdakwah paruh waktu sambil berwirausaha, mengajar, atau menulis.
Hal yang terpenting dalam dakwah adalah menjaga keseimbangan antara tujuan dakwah dan kebutuhan hidup. Sebab, keseimbangan adalah kunci untuk mengarungi samudra kehidupan. Bukan untuk meminimalkan dakwah, tetapi untuk menjadikannya lebih kuat, lebih manusiawi, dan lebih berkelanjutan.
Karena sejatinya, dakwah bukan hanya tentang mimbar atau forum-forum besar saja. Ia adalah tentang bagaimana cahaya kebaikan hadir di rumah terlebih dahulu, sebelum disebarluaskan ke masyarakat.

