Konten dari Pengguna
Mengapa Perlawanan Selalu Identik dengan Warna Hitam?
31 Agustus 2025 16:43 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Perlawanan Selalu Identik dengan Warna Hitam?
Hitam kerap jadi simbol perlawanan karena melambangkan duka, kekuatan, dan keberanian. Namun, makna sejati perlawanan bukan sekadar warna, melainkan tuntutan nyata atas keadilan dan perubahan sosial.Muhamad Ferdiansah
Tulisan dari Muhamad Ferdiansah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam sejarah peradaban manusia, warna selalu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar wujud visual. Ia adalah simbol, bahasa tanpa kata, dan pesan yang dapat dimengerti lintas zaman maupun budaya. Dari sekian banyak warna yang melekat pada peristiwa sosial dan politik, warna hitam kerap menjadi identitas kuat bagi mereka yang memilih jalur perlawanan. Pertanyaan βmengapa perlawanan selalu identik dengan warna hitam?β mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya menyentuh banyak dimensi: historis, psikologis, kultural, hingga politis.
Hitam sejak lama dimaknai sebagai warna yang menandakan duka, kehilangan, dan penderitaan. Dalam banyak budaya, pakaian hitam dikenakan saat berkabung. Makna ini kemudian bergeser menjadi simbol perlawanan, sebab penderitaan kolektif suatu bangsa atau kelompok masyarakat kerap menjadi alasan utama lahirnya gerakan melawan kekuasaan yang menindas. Ketika orang-orang turun ke jalan dengan pakaian hitam, mereka bukan hanya menunjukkan identitas kelompok, tetapi juga menegaskan luka sosial yang dialami bersama. Dengan kata lain, hitam menyimpan memori tentang kesedihan yang terorganisasi menjadi energi perlawanan.
Sejarah mencatat banyak perlawanan besar yang membawa simbol hitam sebagai identitas. Gerakan anarkisme di Eropa abad ke-19, misalnya, menjadikan bendera hitam sebagai lambang perjuangan melawan negara dan kapitalisme. Sejarawan George Woodcock dalam bukunya Anarchism: A History of Libertarian Ideas and Movements (1962) menjelaskan bahwa bendera hitam dipilih karena melambangkan ketiadaan-tiadanya negara, hukum, dan otoritas yang menindas. Demikian pula pada abad ke-20, gerakan Black Panther Party di Amerika Serikat menggunakan warna hitam untuk merepresentasikan kekuatan, keberanian, dan identitas perlawanan kaum kulit hitam terhadap diskriminasi rasial. Angela Davis, salah satu tokoh feminis kulit hitam, menegaskan bahwa warna hitam bukan hanya tanda protes, tetapi juga simbol pembebasan dan kebanggaan identitas.
Dalam konteks Indonesia, simbol hitam juga kerap hadir dalam berbagai gerakan sosial. Pada masa Orde Baru, misalnya, aksi mahasiswa yang mengenakan pakaian serba hitam sering dianggap sebagai bentuk ekspresi radikal melawan rezim. Edward Aspinall dalam Opposing Suharto (2005) mencatat bahwa pakaian hitam menjadi tanda visual yang kuat untuk menunjukkan keberanian melawan represi politik. Bahkan hingga kini, warna hitam tetap dipakai sebagai bahasa perlawanan dalam berbagai demonstrasi, baik oleh mahasiswa maupun kelompok masyarakat sipil yang menuntut keadilan.
Mengapa hitam begitu lekat dengan perlawanan hingga hari ini? Jawabannya terletak pada sifat warna itu sendiri. Hitam tidak menyilaukan mata, tidak memanjakan pandangan, tetapi justru mengintimidasi. Ia sederhana sekaligus absolut. Dalam psikologi warna, hitam dipersepsikan sebagai lambang kekuatan, misteri, dan pemberontakan. Dengan demikian, memilih hitam sebagai warna perlawanan adalah pilihan simbolik yang efektif: ia mampu menyatukan massa tanpa perlu kata-kata, memberikan kesan solid, tegas, dan tak tergoyahkan.
Namun, ada sisi kritis yang perlu disorot. Mengidentikkan perlawanan hanya dengan warna hitam juga berpotensi menyederhanakan makna perjuangan. Perlawanan tidak semestinya terjebak pada romantisasi simbol, melainkan pada substansi tuntutan yang diperjuangkan. Jika warna hitam sekadar dijadikan gaya tanpa kesadaran politik, maka ia akan kehilangan makna historisnya. Justru tantangan hari ini adalah bagaimana menghadirkan perlawanan yang tidak hanya gelap dalam simbol, tetapi juga terang dalam gagasan.
Dalam konteks kontemporer, kita bisa melihat bagaimana warna hitam masih mendominasi demonstrasi dan gerakan protes. Dari aksi solidaritas internasional seperti Black Lives Matter hingga aksi-aksi mahasiswa di Indonesia, hitam tetap menjadi warna dominan yang merepresentasikan kemarahan sekaligus harapan. Tetapi pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: apakah perlawanan hari ini masih menyimpan kedalaman makna sebagaimana para pendahulu yang menorehkannya dalam sejarah? Ataukah ia sekadar menjadi tren visual yang kehilangan daya kritisnya?
Pada akhirnya, warna hitam adalah bahasa visual yang mampu menyatukan mereka yang ingin melawan. Ia lahir dari duka, tumbuh dalam penderitaan, dan berkembang menjadi simbol solidaritas. Tetapi kita tidak boleh lupa, di balik warna hitam selalu ada cerita manusia: cerita tentang ketidakadilan, tentang keberanian menentang kekuasaan, dan tentang harapan akan perubahan. Jika perlawanan masih identik dengan hitam, itu bukan semata karena keindahan simboliknya, melainkan karena hitam adalah cermin dari realitas sosial yang terus berulang: gelapnya kekuasaan yang melahirkan cahaya perlawanan.
Di dunia yang terus bergerak, hitam akan tetap menjadi tanda tanya sekaligus tanda seru. Tanda tanya karena selalu mengingatkan kita: mengapa masih ada ketidakadilan yang membuat rakyat harus melawan? Tanda seru karena ia adalah seruan untuk tidak tinggal diam terhadap ketimpangan yang nyata di depan mata. Maka ketika kita melihat massa berpakaian hitam turun ke jalan, kita tidak hanya melihat sekumpulan orang dalam satu warna, melainkan sedang menyaksikan simbol perjuangan kolektif yang lahir dari luka sejarah dan keberanian untuk menolak tunduk.
Mungkin, justru di situlah kekuatan hitam: ia bukan hanya warna, melainkan pesan yang tidak bisa dipadamkan. Selama masih ada penindasan, selama suara rakyat masih dibungkam, selama ketidakadilan masih merajalela, hitam akan selalu hadir sebagai perlawanan yang tak bisa dipisahkan dari perjalanan manusia mencari keadilan.

