Konten dari Pengguna

Dragon vs Eagle: Mengapa Tiongkok Tidak Gentar Hadapi Serangan Tarif Trump

Muhamad Taufik
Mahasiswa jurusan S1 Hubungan Internasional di Universitas Singaperbangsa Karawang (Undergraduate)
6 Juni 2025 14:22 WIB
·
waktu baca 9 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dragon vs Eagle: Mengapa Tiongkok Tidak Gentar Hadapi Serangan Tarif Trump
Trump naikkan tarif 145%, China balas 125% sambil tersenyum. Rahasia di balik keberanian Beijing menghadapi serangan ekonomi Amerika terbesar dalam sejarah.
Muhamad Taufik
Tulisan dari Muhamad Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi
Ketika Presiden Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025 dan memperkuat kebijakan proteksionisnya yang dikenal sebagai America First, dunia langsung bersiap menghadapi gejolak ekonomi baru. Dalam waktu kurang dari empat bulan sejak pelantikan, Trump kembali meluncurkan serangan tarif yang agresif, termasuk produk impor dari Tiongkok. Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif hingga 145% terhadap produk-produk asal Tiongkok dengan dalih melindungi industri domestik dan mengurangi defisit perdagangan.
Tentu saja Tiongkok tidak tinggal diam menghadapi tekanan ini. Alih-alih kecut seperti yang diharapkan Washington, Beijing justru melakukan serangan balasan yang tegas dan terukur. Pemerintah Tiongkok tidak hanya menyamakan tarif sebesar 125% terhadap produk Amerika Serikat namun juga menunjukkan secara simbolik bahwa mereka tak gentar menghadapi tekanan dari negara adidaya sekalipun. Kepercayaan diri Tiongkok ini tentu menimbulkan pertanyaan besar. “Kok Beijing berani banget ya ngelawan Washington?”
Jawabannya tentu tidak semata-mata karena kekuatan ekonominya. Tiongkok memiliki persiapan yang matang dalam berbagai aspek strategisnya. Kemandirian teknologi menjadi salah satu fondasi utama kepercayaan diri mereka. Strategi politik jangka panjang yang telah disusun dengan matang juga memberikan Beijing ruang gerak yang luas. Yang tak kalah penting adalah dukungan masyarakat yang total terhadap narasi negara. Hal ini memberikan legitimasi kuat bagi pemerintah Tiongkok untuk mengambil kebijakan retaliasi yang keras tanpa khawatir akan adanya gejolak internal.

Kronologi Eskalasi — Dari Diplomasi ke Konfrontasi

Fase I: Pembukaan yang Terukur (April 2025)

Trump memulai dengan tarif 10% pada seluruh impor Tiongkok, sebuah langkah yang relatif moderat dibanding retoriknya saat kampanye. Beijing merespons dengan tarif 34% pada produk Amerika, menargetkan komoditas dari negara bagian yang menjadi basis elektoral Partai Republik.

Fase II: Eskalasi Dramatis (April - Mei 2025)

Ketika Beijing tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalah, Washington menaikkan tarif menjadi 145% yang menjadi angka yang tidak pernah terlihat dalam sejarah perdagangan modern. Tiongkok kembali membalas dengan tarif 125%, sekaligus mengumumkan investigasi anti-trust terhadap Google dan pembatasan ekspor logam tanah jarang.

Fase III: Genjatan Senjata Pragmatis

Setelah Washington kewalahan dan mendapatkan tekanan dari sektor bisnis Amerika ataupun volatilitas pasar saham akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk bernegosiasi. Dalam kesepakatan yang diumumkan pada 12 Mei 2025, AS menurunkan tarif Tiongkok dari 145% menjadi 30%, sementara Tiongkok mengurangi tarifnya dari 125% menjadi 10%.

Mengapa Tiongkok Begitu Berani?!

Ekonomi yang Tak Rapuh Lagi

Tiongkok hari ini bukan lagi "pabrik dunia" yang bergantung pada satu pasar. Dengan PDB nominal mencapai $17,7 triliun pada 2024, Tiongkok telah menjadi ekonomi yang diversifikasi dan mandiri. Dan tak kalah penting, Tiongkok menguasai rantai nilai global dalam sektor-sektor kritis, dari produksi baterai lithium (70% pasar global); panel surya (80%); hingga rare earth elements (85%).
Ketika Trump memberlakukan tarif ekstrem, Tiongkok tidak panik karena mereka sudah memiliki pasar alternatif yang matang. Misalnuya ekspor China ke ASEAN yang telah melampaui ekspor ke AS sejak 2020. Pasar Afrika dan Amerika Latin juga menyerap produk China dengan antusiasme tinggi

Strategi Diversifikasi Melalui Diplomasi Ekonomi

Belt and Road Initiative (BRI) yang diluncurkan pada 2013 kini membuahkan hasil strategis. Tiongkok telah membangun infrastruktur senilai lebih dari $1 triliun di 150 negara, menciptakan jaringan perdagangan yang tidak bergantung pada sistem Barat. Ketika AS memutus akses, Tiongkok memiliki jalur alternatif yang sudah teruji.
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang mengikat 15 negara Asia-Pasifik dalam satu zona perdagangan bebas, juga memberikan Tiongkok akses ke pasar dengan total populasi 2,2 miliar jiwa. Ini bukan lagi sekadar rencana, ini adalah realitas ekonomi yang berjalan.

Kemandirian Teknologi: Ekosistem yang Tertutup dan Canggih

Inilah kunci terpenting yang membedakan Tiongkok dari negara-negara lain yang pernah "diserang" oleh Amerika. Sejak 2010, Beijing secara sistematis membangun ekosistem digital yang sepenuhnya mandiri:
Infrastruktur Digital Mandiri:
Kemandirian Semiconductor:
Meskipun masih bergantung pada teknologi Barat untuk chip canggih, Tiongkok telah membangun industri semikonduktor domestik yang kuat. SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation) kini mampu memproduksi chip 7nm, sementara investasi pemerintah dalam sektor ini mencapai $150 miliar.
Seperti yang ditulis dalam The Digital Silk Road oleh Jonathan Hillman (2021), Tiongkok telah menciptakan "internet paralel" yang tidak hanya mandiri, tetapi juga mulai diekspor ke negara-negara lain melalui program Digital Silk Road.

Dukungan Masyarakat dan Nasionalisme Strategis

Berdasarkan data yang ditemukan oleh Ma Shikun (China US Focus) dari beberapa lembaga penelitian internasional menunjukkan tingkat kepuasan publik yang tinggi terhadap pemerintah di Tiongkok. Pew Research Center mencatat bahwa 85 persen warga Tiongkok pada tahun 2013 merasa puas dengan pemerintah mereka, kontras dengan hanya 35 persen warga Amerika. Survei Universitas California pada Mei 2020 menemukan bahwa 88 persen warga Tiongkok lebih menyukai sistem politik negara mereka. Studi Harvard Ash Center menunjukkan kepuasan warga Tiongkok terhadap pemerintah pusat meningkat dari 86,1 persen pada tahun 2003 menjadi 93,1 persen pada tahun 2016. Ini bukan hanya soal propaganda tetapi hasil dari kebanggaan nasional yang tumbuh seiring dengan pencapaian ekonomi dan teknologi yang dibangun oleh pemerintahnya.
Media sosial di Tiongkok juga dipenuhi dengan narasi "wolf warrior diplomacy" yang membanggakan kemampuan negara untuk tidak tunduk pada tekanan asing. Generasi-generasi muda Tiongkok yang tumbuh di era kemakmuran, memiliki rasa percaya diri yang tinggi terhadap masa depan negara mereka.

Dampak Global: Siapa Menang, Siapa Kalah?

Pemenang Tak Terduga

Vietnam dan Meksiko menjadi penerima manfaat terbesar dari perang tarif ini. Vietnam mencatat pertumbuhan FDI 35% pada kuartal pertama 2025, dengan Samsung, Apple, dan Foxconn memindahkan sebagian produksi dari China. Meksiko, dengan USMCA (perjanjian perdagangan Amerika Utara), menjadi alternatif yang menarik untuk industri otomotif dan elektronik.
India juga menikmati keuntungan dari relokasi manufaktur, terutama dalam sektor farmasi dan tekstil. Program "Make in India" mendapat momentum baru ketika perusahaan-perusahaan global mencari alternatif Tiongkok.

Korban Utama

Konsumen Amerika merasakan dampak langsung melalui kenaikan harga. Sektor elektronik mengalami inflasi 15-20%, sementara industri otomotif terpukul oleh kenaikan biaya komponen. Ironisnya, tarif yang dimaksudkan untuk melindungi industri Amerika justru merugikan konsumen Amerika sendiri.
Ekonomi Global mengalami kontraksi. Dalam laporan Juni 2025 IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan global dari 3,2% menjadi 2,8%, dengan alasan utama adalah disruption pada rantai pasok global dan penurunan volume perdagangan internasional

Kesepakatan Mei 2025: Gencatan Senjata atau Strategi Jangka Panjang?

Kesepakatan yang dicapai pada 12 Mei 2025 disambut dengan antusiasme di pasar saham global. Dow Jones naik 800 poin dalam satu hari, sementara indeks Shanghai Composite mengalami rally 6%. Namun, para analis mengingatkan bahwa ini adalah gencatan senjata taktis, bukan solusi strategis.

Isi Kesepakatan:

Skeptisisme Pakar:

Marcus Noland selaku ekonom dari Peterson Institute for International Economics, menyatakan bahwa kesepakatan ini hanya membeli waktu. Akar masalah berada pada apdpersaingan teknologi dan geopolitik yang tidak terselesaikan. "Ini adalah jeda, bukan kedamaian," katanya.

Implikasi Jangka Panjang: Dunia Pasca-Hegemoni Amerika

Munculnya Tatanan Ekonomi Baru

Perang tarif ini mengakselerasi fragmentasi ekonomi global menjadi dua blok: blok Barat yang dipimpin AS dan blok Timur yang dipimpin Tiongkok. Negara-negara di tengah dipaksa untuk memilih, atau dalam kasus Indonesia, mencoba untuk menjaga keseimbangan.

Revolusi Teknologi Paralel

Tiongkok kini berinvestasi $200 miliar per tahun dalam R&D, melampaui investasi AS dalam banyak sektor. Teknologi 5G, artificial intelligence, dan quantum computing menjadi arena persaingan yang menentukan siapa yang akan memimpin ekonomi global di masa depan.

Redefinisi Globalisasi

Konsep globalisasi yang didominasi Barat selama 30 tahun terakhir kini berubah. Kita memasuki era "multi-polar globalization" di mana tidak ada satu negara yang dapat mendikte aturan global. Tiongkok telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga thriving dalam sistem mereka sendiri.

Pelajaran Untuk Negara Berkembang, Termasuk Indonesia

Kemandirian Strategis

Tiongkok mengajarkan pentingnya membangun kemandirian dalam sektor-sektor kritis. Indonesia dengan posisi sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki potensi untuk mengembangkan ekosistem digital dan ekonomi yang mandiri.

Diversifikasi Ekonomi

Ketergantungan pada satu pasar atau satu sektor terbukti berbahaya. Strategi diversifikasi Tiongkok (dari manufaktur ke teknologi dan dari ekspor ke konsumsi domestik) layak menjadi rujukan.

Diplomasi Ekonomi

Tiongkok membuktikan bahwa diplomasi ekonomi yang konsisten dapat membangun aliansi yang kuat. Indonesia, dengan posisi strategis di ASEAN dan G20, memiliki peluang untuk menjadi pemain penting dalam tatanan ekonomi baru.

Era Baru Telah Dimulai

Perang tarif Trump-China bukan hanya tentang angka ekspor-impor atau defisit perdagangan. Ini adalah pertarungan untuk menentukan siapa yang akan memimpin tatanan ekonomi global dalam 50 tahun ke depan. Tiongkok telah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya siap untuk pertarungan ini, tetapi juga memiliki strategi jangka panjang yang matang.
Kemandirian teknologi, diversifikasi ekonomi, dan dukungan masyarakat yang kuat telah membuat Tiongkok menjadi kekuatan yang tidak dapat diabaikan. Sementara AS masih terjebak dalam dinamika politik domestik yang volatile, Tiongkok terus membangun sistem ekonomi alternatif yang tidak bergantung pada Barat. Bagi dunia, ini adalah sinyal bahwa era dominasi satu negara telah berakhir. Masa depan akan ditentukan oleh negara-negara yang mampu berpikir strategis, berinvestasi jangka panjang, dan membangun sistem yang mandiri namun terbuka untuk kerjasama.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Tiongkok akan menjadi kekuatan global, tetapi bagaimana negara-negara lain akan menyesuaikan diri dengan realitas baru ini.

Referensi

Cash, J., Chen, X., Lee, L. (2025, April). China urges US to immediately lift tariffs, vows retaliation. Reuters
Hillman, J. (2021). The digital silk road: China's quest to wire the world and win the future.
Moritsugu, K., Wu, H. (2025, Februari). China imposes 15% tariffs on coal, LNG in response to Trump's tariffs. AP News.
Shikun, M. (Mei, 2021). Why Chinese People Support Their Government. China US Focus
Stevenson, A. (2025, April). China Raises Tariffs on U.S. Imports to 125%, Calling Trump’s Policies a ‘Joke’. The New York Times.
White House. (2025, Mei). Fact Sheet: President Trump secures a historic trade win.
Trending Now