Konten dari Pengguna

Indoautonesia: Negara dalam Mode Autopilot

Muhamar Fakhri Usman
Muhamar Fakhri Usman is a second semester student in the political science study program at Muhammadiyah University of Jakarta.
28 Juli 2025 7:56 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Indoautonesia: Negara dalam Mode Autopilot
ChatGPT said: Artikel ini menggambarkan Indonesia seperti pesawat dalam mode autopilot: tanpa arah jelas, di tengah krisis, dan elite sibuk berkampanye. Serta ajakan kembali sadar dan peduli.
Muhamar Fakhri Usman
Tulisan dari Muhamar Fakhri Usman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Photos created using AI Chat GPT
zoom-in-whitePerbesar
Photos created using AI Chat GPT
Dalam dunia penerbangan atau pelayaran, penumpang tidak pernah benar-benar tahu kapan kendaraan mereka dikendalikan langsung oleh kapten, dan kapan sedang dalam mode autopilot. Sistem kemudi otomatis bekerja berdasarkan sensor dan algoritma yang telah diprogram sebelumnya, memungkinkan kendaraan melaju dengan stabil selama kondisi memenuhi syarat. Penumpang tak bisa, dan memang tidak seharusnya, masuk ke kokpit hanya untuk mengecek siapa yang sedang mengendalikan pesawat. Semua seolah berjalan normal, padahal kendali telah diserahkan kepada sistem.
Namun, autopilot bukanlah mode yang bisa diandalkan dalam segala situasi. Ia tidak bisa diaktifkan saat lepas landas, dalam cuaca buruk, atau ketika kondisi darurat melanda. Di titik inilah peran kapten menjadi krusial. Ia harus mampu membaca situasi, memutuskan kapan harus mengambil alih kemudi, dan bertindak cepat saat sensor gagal mengenali ancaman. Kapten bukan hanya pengemudi, tetapi pengambil keputusan tertinggi yang menentukan keselamatan semua penumpang.
Jika analogi ini kita bawa ke ranah kenegaraan, maka bisa dikatakan bahwa sebuah negara pun dapat memasuki mode autopilot. Bukan berarti negara itu tanpa presiden, menteri, atau aparatur. Namun, kebijakan dan jalannya pemerintahan hanya mengikuti alur yang sudah terbentuk. Sistem bergerak sekadar merespons dinamika dunia dan tekanan sosial-ekonomi, tanpa inisiatif baru yang visioner. Pembangunan disokong oleh utang luar negeri, bukan oleh kekuatan ekonomi domestik yang tumbuh dari rakyat. Negara menjadi sekadar kendaraan menuju target-target jangka pendek, bukan kapal besar yang mengarungi samudra menuju tujuan kebangsaan yang sejati.
Dan kini, pesawat bernama Indoautonesia tampaknya sedang mengalami turbulensi hebat. Sistem manajemen tidak tertata dengan baik, bahkan cenderung rusak dari tahun ke tahun. Mesin-mesinnya sudah tak layak pakai, kabin tak lagi kondusif. Kapten dan co-pilot punya kepentingan sendiri-sendiri, sementara awak kabin sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Penumpang? Mereka saling bertengkar, berebut kursi, dan tak peduli arah tujuan.
Situasi makin parah saat badai politik ikut menerjang. Gesekan demi gesekan tidak hanya terjadi di antara elite penguasa, tapi juga merembes ke masyarakat akar rumput. Perbedaan pandangan politik dipelintir menjadi bahan konflik identitas, ekonomi, dan hukum. Opini dibentuk, dikemas, dan disebar untuk membenturkan rakyat dengan rakyat. Bangsa ini mempertontonkan perpecahan yang nyata hanya karena perbedaan pilihan politik.
Sementara itu, radar negara menunjukkan banyak titik merah: cuaca ekstrem, bahan bakar menipis, dan mesin nyaris berhenti bekerja. Tapi kapten tetap menjalankan peran formalnya, seakan semua baik-baik saja. Sebagian penumpang masih percaya penuh padanya, sebagian lain mencaci maki tanpa solusi. Mereka bertengkar, menyulut emosi, alih-alih bersatu mencari jalan keluar dari krisis.
Tahun 2024 adalah tahun terakhir dari seperlima masa terbang pesawat Indoautonesia sebelum pergantian kapten. Seperti biasa, menjelang pemilu, awak pesawat yang juga berperan sebagai politisi mulai membagi fokus: setengah mengurus negara, setengah berkampanye. Mereka bekerja sambil mempersiapkan kemenangan untuk periode berikutnya. Energi, waktu, dan sumber daya negara sebagian besar terserap untuk kepentingan politik elektoral, bukan untuk melayani penumpang.
Padahal, jika kita kembali pada semangat demokrasi, pemerintahan semestinya bekerja sepenuh waktu selama lima tahun, sesuai amanah yang mereka ucapkan saat pelantikan. Tapi kenyataannya, sistem yang ada justru memaksa mereka menjadi operator ganda: pelayan publik sekaligus pemain politik aktif.
Bisa jadi, ini semua adalah konsekuensi dari dunia modern, era Revolusi Industri 4.0, di mana segala hal cenderung bergerak secara otomatis. Barangkali kita memang sudah terlalu terbiasa dengan autopilot. Rakyat Indonesia pun dikenal tangguh, mandiri, dan tak mudah patah meski seringkali ditinggal oleh para pemimpinnya. Banyak dari mereka menyadari bahwa siapa pun pemimpinnya, tak banyak yang berubah dalam hidup mereka.
Namun tetap saja, kita tidak boleh menyerah. Indonesia bukan sekadar Indoautonesia, meski gejalanya makin mirip. Tulisan ini bukan untuk mengecilkan peran kapten dan awak pesawat, melainkan untuk mengingatkan: badai sedang mendekat, dan kita harus bersiap. Indonesia membutuhkan sahabat — sahabat sejati yang bukan hanya ada di saat senang, tapi hadir ketika kapal mulai oleng. Sahabat yang tidak menuntut apa-apa, tetapi terus berusaha melakukan sesuatu. Bahkan jika tindakannya tak dianggap, setidaknya ia tidak menambah masalah.
Indonesia terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan sendiri dalam mode autopilot. Sudah saatnya kita semua, sebagai bagian dari penumpang pesawat ini, berhenti bertengkar dan mulai peduli. Karena jika pesawat ini jatuh, tidak ada satu pun dari kita yang akan selamat.
by: Muhamar Fakhri
Trending Now