Konten dari Pengguna
Gaya Hidup, FOMO, dan Fenomena Gen Z yang Bingung
10 Juni 2025 12:58 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Gaya Hidup, FOMO, dan Fenomena Gen Z yang Bingung
Tulisan ini membahas kegelisahan Generasi Z terhadap investasi tanah yang makin tidak terjangkau di tengah kenaikan harga dan stagnasi penghasilan. M Abdul Rahman
Tulisan dari M Abdul Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konon katanya, investasi tanah adalah bentuk investasi yang aman secara harga wajar maupun harga perolehan. Bagaimana tidak ? Bila dihitung secara lini bisnis dan akuntansi, aset berupa tanah merupakan satu-satunya aset yang tidak memiliki nilai depresiasi yang artinya tidak ada masa penurunan. Jadi sudah bisa dipastikan, harga tanah itu, dari tahun ke tahun pasti tidak mengenal arti penurunan, terkecuali kalau tanah itu merupakan tanah sengketa, tanah sitaan, atau tanah kuburan yang betul-betul tidak bisa dijadikan ladang yang produktif, maka segala aspek tentang kriteria aset ideal tidak bisa dimasukkan ke dalamnya.
Bila melihat kondisi saat ini, di dalam berbagai seminar maupun kampanye literasi keuangan, baik di media sosial atau di kampus, maupun nasihat dari berbagai sanak famili pada saat kumpul bersama, lagi-lagi, tanah adalah aset yang tetap menjadi idola. Namun nyatanya, bila dilihat dari realitas yang ada, harga tanah, makin hari makin tidak masuk akal saja harga perolehannya. Disamping harga tanah yang terus melonjak dari tahun ke tahun, tanpa kita bisa pahami apa yang menjadi variabel pertimbangan kenaikannya, hal tersebut tentu tidak sebanding dengan pertumbuhan penghasilan rata-rata di Gen Z, yang masih saja bergelut dengan UMR, dan tidak sedikit diantara mereka yang lebih mementingkan urusan domestik rumah tangga ketimbang investasi di pertanahan.
Bila dilihat lebih mendalam lagi, Generasi Z, saat ini tumbuh di tengah-tengah realitas yang bergitu kompleks di masa yang begitu sulit. Ketika dahulu Generasi Baby Boomers atau Generasi X, yang mendapatkan penghasilan dari PNS saja sudah bisa membeli tanah di berbagai titik wilayah tempat mereka-mereka didinaskan, rasanya berbanding terbalik dengan kondisi Generasi Z saat ini. Terkadang membeli tanah saja, untuk membangun rumah impian rasanya sangat sukar untuk direalisasi, mengingat, membeli tanah tidak bisa diakomodasi dengan skema KPR, yang rasanya akan lebih sulit untuk mencicil.
Fenomena ini, menjadi menarik untuk dibahas lebih mendalam, tentang bagaimana Generasi Z yang konon katanya âbaperan nan manjaâ, namun pada kenyataannya, hidup di zaman sekarang lebih keras dan lebih menguji mental. Melihat bagaimana potret secara struktural, tentang aset properti yang kian menjadi previlege atau bentuk kesuksesan dibandingkan kebutuhan primer berupa âkebutuhan papanâ.
Pergeseran Perilaku Investasi dan Hasil Instan yang Ingin Diperoleh
Sebagai Akademisi, saya membaca begitu banyak artikel ilmiah tentang âfinancial behaviorâ tentang banyaknya pergeseran bentuk perilaku para Generasi Z khususnya yang lebih mengutamakan return yang cepat dibandingkan aset yang returnnya diperoleh dalam jangka panjang. Salah satunya seperti artikel yang ditulis oleh Inga PaĆĄiuĆĄiene dan kawan-kawan pada tahun 2024 yang berjudul âExploring Generation Zâs Investment Patterns and Attitudes toward Greennessâ menjelaskan bahwa Gen Z, lebih cenderung menyukai investasi yang memberikan hasil dalam waktu singkat dan mudah diakses dengan platform digital yang tersedia, khususnya di Smartphone yang mereka miliki. Hal ini, cenderungnya terhadap preferensi aset likuid seperti saham, reksadana, maupun aset digital lainnya, dibandingkan dengan investasi yang memberikan return dan sifatnya jangka panjang seperti aset properti misalnya.
Hal tersebut, bukan tanpa alasan, sebab, di kondisi saat ini, di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, di samping itu, terjadi kondisi âforce majeurâ diberbagai tempat seperti peperangan yang mempengaruhi perdagangan bebas dan internasional, perusahaan akan cenderung menahan diri terutama dalam membuka lowongan pekerjaan, dan bahkan tidak jarang dari kebanyakan perusahaan akan melakukan efisiensi anggaran berupa pengurangan tenaga kerja atau memberikan gaji sesuai dengan standar UMR misalnya. Hal tersebut yang menyebabkan, keterbatasan fund yang dimiliki oleh Gen Z, sehingga pilihannya dua âmencari tambahan penghasilan dengan side jobâ atau âinvestasi di instrumen keuangan yang sifatnya likuidâ.
Akibat pergeseran budaya dan perilaku keuangan yang menjadi objek penelitian tersebut, bila ditimbang dan dilihat, aset properti tidak lagi menjadi pilihan yang âseksiâ di mata Gen Z, kecuali mereka memiliki orang tua yang kaya raya, dan mendapatkan limpahan atas warisan dari keluarga besar mereka.
Fenomena ini, tentu saja ditangkap oleh para âinfluencerâ di bidang personal finance dan lembaga perbankan untuk menjual jasa dan produk keuangan mereka kepada para Gen Z yang memang lebih tergiur untuk menghasilkan profit yang lebih besar dibandingkan investasi di aset properti. Banyaknya kampanye di media sosial tentang pentingnya literasi edukasi keuangan, nyatanya tidak berdampak pada tumbuhnya pengetahuan, yang ada hanyalah cekokan-cekokan âjualanâ para influencer yang tidak sedikit dari mereka telah bekerja sama dengan lembaga perbankan untuk menjual produk keuangan. Ya memang tidak salah, namun harusnya mereka paham apa itu âedukasi literasi keuanganâ bukan âjualan produk keuanganâ dan ini harus menjadi sisi kritik yang terkadang ditangkap atas fenomena-fenomena yang terjadi di kalangan Gen Z.
FOMO dan Gaya Hidup
Selain pergeseran perilaku keuangan, fenomena Fear of Missing Out atau fenomena takut ketinggalan zaman menjadi faktor pendukung mengapa Gen Z beralih dalam menentukan gaya investasi mereka. Sadar atau tidak, Gen Z merupakan generasi yang hidup di masa dimana teknologi merupakan penopang hidup di dunia nyata. Berbagai platform digital sebut saja seperti Instagram, TikTok, X, dan sejenisnya merupakan platform yang digunakan mereka untuk membentuk pola pikir dalam menentukan sebuah keputusan, keputusan keuangan misalnya. Dari berbagai faktor, FOMO adalah fenomena yang bukan lagi membahas tentang logika semata, namun adanya tekanan sosial, validasi secara digital, dan juga berbicara tentang estetika gaya hidup dari seseorang.
Seperti yang telah saya jelaskan di awal tadi, FOMO mendorong Gen Z untuk bertindak bukan karena adanya pertimbangan bisnis di dalamnya, namun murni karena adanya dorongan sosial yang memberikan pengaruh secara psikologis agar Gen Z tersebut, tidak merasa ketinggalan tren. Sebab, dengan menunjukkan bahwa mereka ketinggalan tren, maka yang dipertaruhkan adalah validasi secara identitas sosial yang mempengaruhi mereka secara emosional juga. Fenomena-fenomena seperti ini juga yang ditangkap oleh influencer finansial yang gemar menyajikan kiat-kiat sukses dalam berinvestasi, atau bahkan memberikan judul yang serasa tidak masuk akal seperti âPensiun di Usia Mudaâ. Hal-hal jualan mimpi tersebut yang terus terang saja, membuat saya sebagai seorang Perencana Keuangan resah dan geli. Kami belajar tentang bagaimana memahami edukasi keuangan secara matang, namun para influencer ini hanya bermodalkan Followers yang bejibun tanpa ada latar belakang pendidikan keuangan yang jelas, namun dengan gagah berani menjual harapan yang belum tentu bisa dicapai oleh para Gen Z.
Terakhir, Gen Z cenderung menjadikan penghasilan mereka adalah bentuk âself rewardâ yang terkadang mengesampingkan kebutuhan finansial lainnya, seperti pilihan untuk berinvestasi untuk masa depan misalnya. Konteks ini makin liar, dimana mereka memiliki mindset âsaya kan sudah kerja, masa tidak boleh menikmati hasil dari kerja keras sayaâ. Oke, pernyataan itu betul, tapiâŠ
âSudah berapa lama sih kamu bekerja ?â
âApakah sudah bisa menghasilkan uang Miliaran sampai harus dihambur-hamburkan seperti itu ?â
Dan menurut saya itu kondisi yang benar-benar berbahaya untuk Gen Z. Jangankan untuk berinvestasi dalam bentuk properti, menabung pun saya rasa mereka tidak sanggup.
Berhenti Percaya Kaya Itu Bisa Instan
Setelah panjang lebar, kita membahas, mengapa perilaku investasi itu bergeser di kalangan Gen Z. Saya pun sebagai Gen Z, tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa kita hidup di dunia yang penuh paradoks, di satu sisi mereka dijejali konten âjualan mimpiâ berkedok motivasi dan literasi keuangan di media sosial, di sisi lain, mereka juga dibombardir dengan gaya hidup yang betul-betul tidak masuk akal. Kombinasi inilah yang biasa kami sebut sebagai kondisi âdarurat literasi keuanganâ, yang bisamendorong Gen Z berbuat nekat tanpa berfikir panjang, dan saat ini terbukti dengan maraknya Judi Online dan Pinjaman Online yang mostly korbannya adalah para Gen Z. Ini menjadi tanggung jawab moral kita bersama untuk terus menyadarkan rekan-rekan terdekat kita akan pentingnya literasi dan edukasi keuangan yang tidak tergiur dengan harapan-harapan yang tidak masuk akal.
Saya tetap percaya, kekayaan dan kesuksesan dari seseorang, tumbuh dari hasil kerja keras, bukan karena mencuri atau mengandalkan hal-hal gaib untuk memperoleh kekayaan secara instan. Fenomena kaya mendadak yang saat ini kerap dijual di kalangan Gen Z, terbukti banyak menimbulkan korban dan tidak sedikit pula dari mereka harus meregang nyawa akibat, kegagalan sistematik dalam memahami edukasi dan literasi keuangan. Kekayaan yang sehat dibangun dari disiplin, bukan dari clickbait YouTube atau TikTok misalnya. Lebih baik, mereka investasikan dana mereka ke dunia pendidikan khususnya keuangan agar mereka paham dan sadar betapa pentingnya literasi keuangan.
Hal ini tentu menjadi refleksi kita bersama, untuk berhenti mimpi kalau mau kaya cepat.
Bangun, banyak usaha, dan jangan lupa berdoa.

