Konten dari Pengguna

Membentuk Pilar Moral melalui Peran Akademisi

M Abdul Rahman
Konsultan Pajak - Financial Planner - Dosen Universitas Nasional - Mahasiswa Doktoral Universitas Brawijaya
15 Mei 2025 12:55 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membentuk Pilar Moral melalui Peran Akademisi
Akademisi memiliki peran penting dalam membentuk moral generasi bangsa, yang tidak hanya dianalisa dari aspek akademis namun dari aspek praktis pula
M Abdul Rahman
Tulisan dari M Abdul Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membentuk Pilar Moral melalui Peran Akademisi
zoom-in-whitePerbesar
Saya teringat pesan Ayah saya dahulu, setiap kali akan belajar suatu hal baru terutama belajar ilmu agama untuk selalu mencari Guru yang tepat dan tidak belajar ke sembarang orang, apalagi hanya sekedar membaca buku atau menonton media Youtube misalnya yang bisa berpotensi salah tafsir yang ujung-ujungnya akan menimbulkan “kedunguan” yang tidak berujung, begitulah kira-kira kalau saya boleh mengutip kata-kata legendaris dari Pengamat Politik Rocky Gerung. Maklum saja, karena latar belakang keluarga saya yang berasal dari “Warga Nahdliyin” agak tulen jadi kurang Khittah rasanya kalau mengaji, menuntut ilmu, kalau tidak langsung “ndeprok” langsung ke Kiyai. Begitulah kira-kira saya memulai prolog di dalam artikel saya kali ini.
Selama saya, menjalani profesi sebagai Akademisi, mata saya terbuka dengan kondisi-kondisi dimana terjadi kemerosotan nilai-nilai etika khususnya bagi para generasi muda dalam menghadapi krisis identitas yang semakin kompleks, disamping, derasnya arus informasi, tantangan globalisasi, yang menambah variabel-variabel tantangan yang harus dihadapi para orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya sebagai generasi penerus bangsa. Senang atau tidak, generasi muda, kerap terjebak dalam pragmatisme sempit yang terkadang kehilangan arah maupun moral serta intelektual yang terkadang hal tersebut merusak nilai-nilai moralitas yang terjadi di kehidupan bermasyarakat.
Menyambung dengan prolog saya di awal tadi, peran Guru, Dosen, Pendidik, atau Akademisi adalah garda terdepan dalam membentuk peran moralitas generasi bangsa yang memang disiapkan sebagai pemimpin bangsa di masa yang akan datang.
Seperti pesan yang sempat Ayah saya sampaikan dahulu, dan akan terus saya ingat sampai saat ini, bisa anda bayangkan bila generasi muda tumbuh tanpa adanya bimbingan para Guru ?
Bisa anda bayangkan pilar moralitas tidak ditekankan sejak dini oleh para Akademisi di lembaga pendidikan yang memiliki tanggung jawab moralitas bersama ? Kita harus berkaca seberapa baik lembaga pendidikan kita, sehingga bisa menciptakan generasi bangsa yang baik pula. Ini adalah tanggung jawab bersama yang seharusnya tidak bisa dipikul dan dibebankan kepada orangtua para generasi muda saja, tetapi ini tanggung jawab moril kita bersama.
Akademisi sebagai Pilar Moral
Dalam buku karya Larry Nucci, Darcia Narvaez, dan Tobias Krettenauer yang berjudul “Handbook of Moral and Character Education” terbitan Routledger by Taylor & Francis Group terbitan tahun 2008 menjelaskan beberapa poin menarik yang menurut saya dapat dijadikan pelajaran berharga dan penting bagi para Pendidik yang tidak hanya terbatas bagi para Akademisi di Perguruan Tinggi namun Guru di seluruh Pendidikan baik di tingkat Dasar, Menengah, dan Atas. Di dalam karya tersebut, menjelaskan bahwa peran Gurus dan Akademisi bukan hanya terbatas sebagai seorang fasilitator ilmu yang bertugas sebagai “transfer knowledge” semata, namun memiliki tanggung jawab yang lebih besar di lingkungan yakni “moral mentors” yakni model nyata yang nantinya dijadikan contoh dan prototype bagi para siswa dan anak didiknya di lingkungan akademik yang tujuannya adalah membentuk karakter etis yang bermartabat.
Para Akademisi juga diharapkan dapat menciptakan pengaruh signifikan kepada anak didik maupun siswa maupun mahasiswanya tentang bagaimana pendidikan karakter itu sangat penting untuk dapat diterapkan di lingkungan akademik, yang harapannya dapat diterapkan dan dipraktikkan di lingkungan masyarakat. Sebab, hanya kepada Institusi Pendidikan sajalah para orangtua dapat berharap, anak-anaknya dapat dididik dan dibentuk secara moral maupun akademik untuk menciptakan generasi yang bermartabat.
Tantangan Para Akademisi dalam Membentuk Moral dan Etika
Ada satu artikel menarik yang saya baca, berjudul “Character education empirical research: A thematic review and comparative content analysis” oleh Peter Oldham (2014), di dalam penelitian ini, Peneliti mengulas lebih dari 200 studi yang terkait dengan pendidikan karakter yang temuannya pun tidak kalah mengejutkan. Dari hasil temuan yang saya ketahui, bahwa, para Akademisi nyatanya kesulitan dalam mengimplementasikan antara teori-teori dengan implementasi terapan di lingkungan akademik, sehingga masih banyak kondisi dimana perlu reformasi pada lingkungan di pendidikan tinggi khususnya terhadap penguatan peran moral, dan kondisi ini tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi terjadi hampir di setiap negara, yang berarti hal ini merupakan masalah bersama yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
Terakhir, dan ini yang mungkin menjadi yang paling berat, adalah kita hidup dimana era digital dipenuhi dengan sumber yang validitasnya tidak dapat diuji, bagaimana kecerdasan buatan saat ini dengan mudahnya memanipulasi dapat memanipulasi asas-asas etik akademik bila tidak disikapi dengan bijak, juga penggunaan sosial media yang unfiltered yang secara langsung maupun tidak langsung membentuk karakter generasi yang sulit terkontrol, yang justru menambah beban besar bagi para pendidik, hal ini yang harus menjadi evaluasi bagi para pendidik, bahwa peran mereka dibutuhkan untuk membatasi ruang gerak akan bebasnya pengaruh media sosial dan era digital yang makin liar dan sulit terkontrol, dan bebasnya budaya populer yang seakan-akan menggeser kearifan dan nilai-nilai luhur yang sudah diterapkan sebagai filter pembentuk moral dan etika generasi bangsa.
Disisi lain, para Akademisi pun harus terus berkaca, mereka pun manusia biasa juga, yang tidak luput dari kesalahan, kelemahan, maupun kealpaan. Sudah berapa kasus, skandal, atau bahkan kejadian amoral yang bersinggungan dengan lingkungan pendidikan ? Dan mirisnya, ada beberapa kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan Agama, yang seharusnya, amanah serta tanggungjawab dari orangtua para Santir itu mereka jalankan dengan sepenuh hati, malah mereka rusak, karena sikap amoral mereka.
Jangan-jangan apa sebenarnya mereka yang butuh dievaluasi ?
Refleksi dan Harapan
Harapan saya, ya sama seperti harapan para pengajar dan seluruh pendidik di negeri tercinta ini, saya haqqul
yaqqin, bagi para pengajar yang sedang study abboard pun, “pasti” ingin kembali ke Indonesia untuk membesarkan dan mengabdi kepada bangsa, wong mereka pun sebetulnya punya tanggung jawab moril untuk membentuk karakter bangsa agar bisa bersaing secara global. Jangan minder untuk bisa bersaing. Namun, seyogyanya, Pemerintah pun harusnya bisa memberikan perhatian yang lebih ke dunia pendidikan, sebab peran Akademik pun harus seimbang dengan pembentukan karakter bangsa. Saya sudah panjang lebar, cerita diatas bahwa pentingnya pembentukan karakter memang dimulai dari lingkungan akademik, maka untuk menciptakan karakter yang baik, ya harus dimulai dari sumber daya yang baik, dan pendidik yang baik pula.
Oleh sebab itu, inilah yang harus menjadi perhatian bagi Pemerintah untuk memperhatikan “Guru”, seperti kata Bapak saya, orang kalau nuntut ilmu, ndak ada gurunya, bisa keblinger.
Lha kalau Gurunya sudah tidak mau ngajar kita ?
Trus kita kapan pintarnya ??
Trending Now