Konten dari Pengguna

Saat Beruk Sumatera Barat Melawan Penjajahan Habitat oleh Manusia

Muhammad Arief Wirasa
Saya merupakan seorang Guru di salah satu sekolah swasta di Kota Pekanbaru. Saya mempunyai hobi menulis dan aktif mengikuti perlombaan menulis baik secara offline maupun online.
11 September 2025 13:30 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Saat Beruk Sumatera Barat Melawan Penjajahan Habitat oleh Manusia
Tulisan ini akan mengupas penyebab konflik, dampak dan solusi cerdas untuk mengatasi konflik antara manusia dan beruk di Sumatera Barat.
Muhammad Arief Wirasa
Tulisan dari Muhammad Arief Wirasa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Foto: Patrik Cahyo Lumintu/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Foto: Patrik Cahyo Lumintu/ANTARA FOTO
Konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya beruk (Macaca fascicularis) telah menjadi isu yang semakin besar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Beruk sebagai primata yang adaptif dan cerdas, sering kali terlibat dalam interaksi negatif dengan manusia, terutama di kawasan pertanian dan permukiman masyarakat.
Di Sumatera Barat, konflik ini dipicu oleh perubahan penggunaan lahan, deforestasi dan ekspansi pertanian yang mengurangi habitat alami beruk. Fenomena ini bukan hanya soal gangguan fisik, tetapi juga mencerminkan ketidakseimbangan ekosistem dan tantangan kehidupan antara manusia dan satwa liar. Konflik ini tidak hanya merugikan petani yang kehilangan hasil panen, tetapi juga mengancam kelestarian beruk sebagai spesies penting dalam ekosistem hutan (Rahman, 2021).

Latar Belakang Konflik Beruk dan Manusia di Sumatera Barat

Sumatera Barat, dengan alamnya yang kaya akan hutan tropis, sawah dan perkebunan, menjadi rumah bagi populasi beruk yang signifikan. Beruk dikenal sebagai hewan oportunis yang mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan, termasuk di dekat permukiman manusia.
Namun, ekspansi pertanian, pembangunan infrastruktur dan deforestasi hutan telah mempersempit ruang hidup mereka. Akibatnya, beruk sering masuk ke lahan pertanian untuk mencari makanan, seperti pisang, jagung, dan padi yang menyebabkan kerugian ekonomi bagi petani.
Di beberapa daerah seperti Kabupaten Agam dan Tanah Datar, laporan kerusakan tanaman oleh beruk meningkat sejak 2020, dengan kerugian mencapai jutaan rupiah per musim tanam (Susanti, 2022). Konflik ini diperparah oleh persepsi negatif masyarakat terhadap beruk.
Banyak petani menganggap beruk sebagai hama yang harus diusir atau bahkan dibunuh. Di sisi lain, beruk juga mengalami tekanan karena kehilangan habitat dan sumber makanan alami. Pendekatan yang hanya berfokus pada pengusiran atau pengendalian populasi beruk sering kali gagal karena tidak mengatasi akar masalah, yaitu hilangnya keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, diperlukan sudut pandang yang lebih holistik untuk mengelola konflik ini.

Memahami Beruk sebagai Bagian dari Ekosistem dan Budaya

Sepasang Beruk di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sumber: Arsip Penulis
Salah satu cara untuk memahami konflik ini adalah dengan melihat beruk tidak hanya sebagai hama, tetapi juga sebagai bagian integral dari ekosistem dan budaya lokal. Dalam tradisi Minangkabau, satwa liar seperti beruk sering dianggap sebagai bagian dari alam yang memiliki hak untuk hidup berdampingan dengan manusia. Filosofi "alam takambang jadi guru" mengajarkan bahwa manusia harus belajar dari alam, termasuk bagaimana berbagi ruang dengan makhluk hidup lain. Pendekatan ini dapat menjadi landasan untuk membangun solusi yang tidak hanya teknis, tetapi juga menghormati nilai-nilai budaya lokal (Yusuf, 2023).
Dari perspektif ekologi, beruk memiliki peran penting dalam penyebaran biji dan regenerasi hutan. Kehadiran mereka membantu menjaga keanekaragaman hayati di hutan Sumatera Barat. Namun, ketika habitat mereka terganggu, beruk terpaksa mencari makanan di lahan pertanian yang akan memicu konflik antara beruk dan warga.
Pendekatan inovatif yang diusulkan dalam tulisan ini adalah mengintegrasikan nilai budaya Minangkabau dengan teknologi modern untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Sudut pandang yang harus kita tanamkan ialah menganggap beruk sebagai β€œsistem alarm” alami dari alam. Jika beruk datang mencari makan ke pemukiman masyarakat, maka jadikan itu sebagai pertanda bahwa hutan sedang bermasalah.

Solusi Inovatif: Program Harmoni Beruk dan Manusia

Untuk mengatasi konflik antara beruk dan manusia di Sumatera Barat, penulis mengusulkan program Harmoni Beruk dan Manusia yang terdiri dari tiga pilar utama, yaitu restorasi habitat, teknologi pengendalian beruk dan edukasi berbasis budaya Minangkabau. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing pilar yang telah penulis rumuskan:

Restorasi Habitat dan Koridor Ekologi

Salah satu penyebab utama konflik adalah hilangnya habitat alami beruk akibat deforestasi dan konversi lahan. Program ini mengusulkan pembangunan koridor ekologi yang menghubungkan fragmen hutan yang terpisah. Koridor ini dapat berupa jalur hijau yang ditanami pohon buah-buahan lokal seperti rambutan dan durian, yang menjadi makanan alami beruk.
Dengan menyediakan sumber makanan alternatif, beruk akan cenderung tetap di hutan dan mengurangi kunjungan ke lahan pertanian. Pemerintah daerah, bekerja sama dengan LSM dan komunitas lokal, dapat memanfaatkan lahan marginal untuk proyek ini. Studi menunjukkan bahwa koridor ekologi dapat mengurangi konflik satwa-manusia hingga 40% di wilayah tropis.

Teknologi Pengendalian Beruk

Pengusiran beruk secara tradisional, seperti menggunakan petasan atau anjing, sering kali tidak efektif dan dapat meningkatkan stres pada hewan. Sebagai gantinya, program ini mengusulkan penggunaan teknologi berbasis sensor dan suara ultrasonik untuk mengalihkan perhatian beruk dari lahan pertanian.
Alat ini dapat dipasang di sekitar lahan pertanian dan diaktifkan hanya ketika beruk mendekat, sehingga tidak mengganggu ekosistem secara keseluruhan. Selain itu, drone kecil dengan suara predator alami beruk, seperti elang, dapat digunakan untuk mengarahkan mereka kembali ke hutan. Teknologi ini telah terbukti efektif di beberapa wilayah di Asia Tenggara dan dapat diadaptasi dengan biaya terjangkau untuk petani lokal.

Edukasi Berbasis Budaya Minangkabau

Edukasi masyarakat adalah kunci untuk mengubah persepsi negatif terhadap beruk. Program ini akan melibatkan tokoh adat, ulama, dan sekolah-sekolah lokal untuk menyebarkan nilai-nilai koeksistensi yang selaras dengan budaya Minangkabau. Misalnya, kegiatan "cerita alam" dapat diadakan di sekolah untuk mengajarkan peserta didik tentang pentingnya beruk dalam ekosistem.
Selain itu, pelatihan bagi petani tentang teknik bercocok tanam yang ramah satwa, seperti menanam tanaman pengusir alami, seperti cabai atau serai di pinggir lahan, dapat mengurangi kerusakan tanpa menyakiti beruk. Pendekatan ini tidak hanya praktis, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal.
Implementasi program Harmoni Beruk dan Manusia memerlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, LSM, akademisi, dan komunitas lokal. Pemanfaatan dana dapat bersumber dari anggaran daerah, hibah lingkungan atau memanfaatkan dana dan program CSR sektor swasta yang peduli pada alam dan keberlanjutan. Tantangan utama termasuk resistensi dari petani yang ingin solusi instan, keterbatasan anggaran, dan koordinasi antarpihak. Untuk mengatasi ini, program dapat dimulai dengan proyek percontohan di daerah dengan konflik tinggi, seperti Kabupaten Agam, sebelum diperluas ke wilayah lain.
Program ini tidak hanya akan mengurangi konflik, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang. Restorasi habitat akan meningkatkan keanekaragaman hayati dan mendukung pariwisata ekologi di Sumatera Barat. Teknologi pengendalian beruk dapat menjadi model untuk pengelolaan konflik antara beruk dan manusia di wilayah lain. Sementara itu, edukasi berbasis budaya akan memperkuat hubungan masyarakat dengan alam, menciptakan generasi yang lebih peduli pada alam.
Monyet ekor panjang membawa sampah air minum dalam kemasan. Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
Konflik antara beruk dan manusia di Sumatera Barat adalah cerminan dari tantangan yang lebih besar dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam. Dengan mengadopsi sudut pandang yang mengintegrasikan ekologi, budaya Minangkabau dan teknologi modern, kita dapat mengubah konflik ini menjadi peluang untuk koeksistensi yang harmonis.
Program "Harmoni Beruk dan Manusia" menawarkan solusi yang tidak hanya praktis, tetapi juga menghormati nilai-nilai lokal dan mendukung keberlanjutan ekosistem. Dengan komitmen dari semua pihak, Sumatera Barat dapat menjadi contoh sukses dalam pengelolaan konflik antara beruk dan manusia, serta menunjukkan bahwa manusia dan alam dapat hidup berdampingan dengan damai.
Trending Now