Konten dari Pengguna

Metafora Alam Semesta Umat Manusia

Muhammad Arya Diva
Penulis Esai Personal Interpretatif Reflektif & Mahasiswa S1 Antropologi Sosial di Universitas Andalas Ingin berdiskusi/berkolaborasi? IG: @aryad1va
27 November 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Metafora Alam Semesta Umat Manusia
Tulisan ini mengeksplorasi secara antropologis kompleksnya ragam hasil pemikiran dan interpretasi makna umat manusia, mengajak kita semua untuk menghargai keragaman itu melalui metafora alam semesta.
Muhammad Arya Diva
Tulisan dari Muhammad Arya Diva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar : https://images.pexels.com/photos/884788/pexels-photo-884788.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
Gambar : https://images.pexels.com/photos/884788/pexels-photo-884788.jpeg
Aku duduk bersandar di sudut kamarku sembari membuka laptop dan mulai mengetik kata demi kata yang terasa penuh untuk dapat diutarakan pikiran yang sesak. “Halo teman-teman, perkenalkan namaku Muhammad Arya Diva. Kalian bisa memanggilku Arya, Diva, atau Ardip, panggilan yang kusuka saat aku mendengarnya.
Aku adalah seorang mahasiswa Antropologi Sosial dari Universitas Andalas yang saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di semester 3”. Begitulah mulanya beberapa kalimat yang berhasil kurangkai di layar laptop yang remang untuk bercerita. Sejak kecil, aku sangat suka menyemai benih bunga dan menyaksikannya tumbuh bermekaran dengan indah.
Oleh karenanya, pada setiap diksi yang kutulis ini kusemai benih “bunga” dan memupuknya dengan taburan refleksi yang berakar dari pengalaman intelektualku tentang hidup di alam semesta yang fana. Tentu, dengan harapan agar tiap bait yang kutanamkan dalam setiap mata yang melihat dan kepala yang meresap dapat menjadi bukti bahwa tunas keberadaanku pernah mekar dalam peradaban umat manusia.
Gambar : Pixabay
Tulisan ini kubuat untuk menelusuri ragam kognitif dan makna yang pernah dicipta oleh umat manusia menggunakan metafora alam semesta. Sebab, alam semesta merupakan rumah bagi segala pemilik ras dan suku bangsa hidup dan bertumbuh di dalamnya.
Terasa dekat, namun terkadang masih terasa asing karena dihalang oleh benteng etnosentrisme. Berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan menyebutnya dengan banyak sekali nama. Dialah yang disebut oleh para saintis sebagai Homo sapiens yang berasal dari jutaan tahun hasil evolusi.
Dialah yang disebut oleh para teolog Abrahamik sebagai Bani Adam, Ben Adam, atau Ben Enosh, makhluk cerdas yang dicipta oleh Sang Kuasa dari tanah. Dialah yang disebut oleh para antropolog sebagai Homo culturalis atau makhluk pencipta makna yang dibentuk melalui proses sosialisasi dan internalisasi lingkungan sosial-budaya.
Aku mengajak kita semua untuk berani menelusuri dualisme sudut pandang antropologi yang sangat kaya, yang menghargai segala cabang ilmu dan pengetahuan atas kisah perjalanan panjang alam semesta dan umat manusia.
Bilamana kalian mencoba untuk kembali ke ruang memori masa lalu, entah apakah dahulu kalian pernah bertanya “siapa aku?”, “mengapa aku ada di dunia ini?”, bahkan pertanyaan “untuk apa aku disini?”. Ya, karena begitulah sejatinya tabiat manusia. Manusia adalah makhluk yang selalu mempertanyakan apa yang ada di sebalik tirai makna.
Pada akhirnya, makna itu membuat jiwa raga mereka reda atas badai misteri dan kemungkinan-kemungkinan dari semesta raya yang tak berujung. Sebagian besar dari mereka memilih untuk rebah di atas variasi titah dan pilar cahaya. Sebagiannya lagi memilih untuk tetap menyelam dalam gemerlap singularitas dan evolusi semesta. Semuanya adalah fakta sosial yang mewarnai segala sudut ras dan perbedaan umat manusia.
Mewarnai sebagaimana hijaunya pucuk daun yang menari karena rintik. Birunya butiran ombak yang menyembur. Jingganya langit di kala senja mulai memamerkan diri. Hidup mereka laksana tuas yang pada ujungnya ingin mencapai keseimbangan atau yang dikatakan oleh para jenius sebagai equilibrium.
Bagiku, ini bukan lagi tentang mana yang benar dan mana yang salah. Bukan pula mana yang mungkin benar atau mana yang paling benar. Wahai engkau para nakhoda bijak yang berlayar dengan dermaga pemikiran yang terbuka. Pahamilah bahwa bait-bait yang kau lihat dalam tulisanku ini adalah kebenaran bagi mereka yang berada dalam kebenaran itu.
Janganlah engkau angkuh terhadap mereka, karena kebenaran pun pada akhirnya adalah tentang permainan konsepsi dan konvensi yang tak pernah benar-benar mutlak. Tercipta dari variasi kognitif umat manusia yang kemudian menjadi cikal-bakal lahirnya relativisme budaya.
Bukti bahwa keberadaan semesta dan umat manusia pun sama rumitnya. Setidaknya, bait yang kuciptakan ini berhasil membuat engkau tenggelam dalam arus pikiran dan diksiku yang sederhana. Izinkan aku menebak satu hal yang mungkin engkau lewatkan bahkan sampai di akhir bait tulisan ini. Bahwa sejak awal bait ini dibuka, aku tidak pernah memberitahumu “bunga” apa yang aku tanam, bukan? Inilah ruangmu untuk bebas menafsirkan segala kemungkinan makna dari tiap kalimat yang kurangkai dengan tulus.
Menebak bahkan menentukan “bunga” apa yang kutanam tersebut. “Bunga” itu sejatinya bukan hanya milikku, tetapi juga adalah milikmu, milik setiap umat manusia. Inilah yang aku sebut sebagai "Metafora Alam Semesta Umat Manusia".
Trending Now