Konten dari Pengguna
Pendidikan Lingkungan Masuk Silabus: Sekolah Siap?
7 Desember 2025 14:00 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Pendidikan Lingkungan Masuk Silabus: Sekolah Siap?
Pendidikan lingkungan digadang menyelamatkan bumi. Namun, guru masih sibuk bertahan hidup dari beban kurikulum yang tak pernah selesai. #userstoryMuhammad Arya Dwiki Ressa Adriani
Tulisan dari Muhammad Arya Dwiki Ressa Adriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan lingkungan kembali ramai dibicarakan setelah Presiden Prabowo menyampaikan gagasan untuk memasukkan materi tersebut ke dalam silabus saat peringatan Puncak Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena pada akhir November lalu. Saya menonton pidato itu melalui kanal YouTube Kemdikdasmen dan ada satu bagian yang membuat saya terdiam cukup lama.
Arahan tersebut terdengar sangat sederhana, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan lama yang terus berputar di kepala saya: Apakah sekolah-sekolah kita benar-benar siap menampung tujuan baru yang jumlahnya makin hari makin bertambah?
Sebagai dosen yang mengajar Ekonomi Pembangunan, saya sering melihat bagaimana isu lingkungan sebenarnya selalu muncul dalam diskusi kelas. Namun, sering kali posisinya hanya sebagai āpengantarā atau āpelengkapā dari topik yang dianggap lebih utamaāseperti pertumbuhan ekonomi, investasi, atau pembangunan infrastruktur.
Padahal, setiap kali saya bertanya kepada mahasiswa tentang kebiasaan yang mereka temui di kampung halamanācara orang tua merawat kebun, kebiasaan penggunaan air, aturan tak tertulis menjaga hutan kecil di sekitar tempat tinggalāmereka hampir selalu punya cerita menarik. Cerita yang sangat relevan dengan teori pembangunan berkelanjutan, meski tidak pernah dibingkai dengan istilah teknis yang rumit.
Saya bukan anti konsep atau teori. Saya memahami bahwa kerangka akademik diperlukan agar mahasiswa bisa membaca persoalan secara sistematis. Namun, saya selalu mengingatkan mereka bahwa ilmu pembangunan tidak pernah hidup di ruang hampa.
Nilai dan praktik lokal yang diwariskan turun-temurun sering kali sudah mencerminkan prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah āsustainable developmentā populer. Pola menanam yang mengikuti musim, aturan adat mengenai penebangan pohon, hingga kerja sama warga menjaga lingkunganāitu semua bentuk pembangunan yang berpihak pada alam, meskipun tidak pernah dibungkus jargon kekinian.
Jika kelak mereka menjadi guru, pola pikir seperti itu sangat mudah diterjemahkan ke dalam pembelajaran yang dekat dengan keseharian siswa. Tidak perlu memulai dengan definisi ekologi yang panjang, cukup bertolak dari hal-hal sederhana yang mereka lihat setiap hari.
Anak sekolah dasar pun bisa memahami pentingnya merawat alam jika guru memberi contoh nyata: menanam pohon di halaman sekolah, memilah sampah, atau sekadar membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Pengalaman langsung, sesederhana apa pun, biasanya jauh lebih membekas dibandingkan serangkaian teori.
Namun di sisi lain, saya paham betul kegelisahan guru. Dunia pendidikan kita terkadang terasa seperti seseorang yang terus ditambah beban tanpa diberi waktu bernapas. Administrasi menumpuk, format laporan berubah-ubah, kurikulum diperbarui setiap beberapa tahun, lalu datang lagi wacana baru.
Gagasan menghadirkan pendidikan lingkungan memang baik, tetapi pertanyaannya: Apakah guru diberi ruang, pelatihan, dan dukungan untuk menjalankannya? Atau jangan-jangan, materi baru hanya menambah daftar tugas tanpa benar-benar memberikan manfaat bagi pembelajaran?
Guru tidak membutuhkan panduan tebal yang akhirnya hanya disimpan di lemari sekolah. Mereka jauh lebih memerlukan contoh yang bisa langsung dipraktikkan: proyek kebersihan sekolah yang sederhana, cerita lokal tentang bagaimana menjaga alam, atau kegiatan rutin mengamati perubahan lingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Bentuk pembelajaran semacam ini bukan hanya relevan, melainkan juga membuat siswa merasa betul-betul terlibat. Mereka tidak sekadar menghafal, melainkan belajar bertanggung jawab atas ruang hidupnya.
Kearifan lokal dapat menjadi jembatan yang elegan antara pengetahuan lama dan tuntutan pendidikan di era revolusi industri. Hampir setiap daerah memiliki cerita rakyat, petuah adat, atau kebiasaan yang mengajarkan cara hidup selaras dengan alam.
Guru dapat memanfaatkan cerita-cerita tersebut sebagai bahan diskusi tanpa perlu memaksa siswa memahami konsep ilmiah yang rumit. Nilai seperti larangan menebang pohon tertentu, hemat air, atau gotong royong membersihkan lingkungan adalah pelajaran ekologi yang paling autentikādan biasanya lebih mudah dipahami anak-anak karena dekat dengan realitas mereka.
Gagasan Presiden patut diapresiasi, tetapi implementasinya tidak boleh terburu-buru. Pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti sebagai slogan baru dalam dokumen kurikulum. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa guru diberdayakan, bukan dibebani; dan siswa memperoleh pembelajaran yang masuk akal, dekat dengan kehidupan mereka, dan dapat dipraktikkan.
Melestarikan lingkungan tidak membutuhkan jargon besar nan kekinian. Ia membutuhkan kebiasaan kecil, ruang belajar yang jujur, dan guru yang memiliki daya untuk menjalankan perannya. Jika pendidikan ingin membentuk generasi yang benar-benar peduli alam, seluruh sistem harus bekerja untuk mendukung mereka yang berada di garis depan. Sebab pembangunan yang abai terhadap lingkungan hanya menunggu waktu untuk runtuhādan sekolah adalah tempat paling awal untuk mencegah keruntuhan itu terjadi.

