Konten dari Pengguna

Tesso Nilo Rumah Perjuangan

Muhammad Arya Dwiki Ressa Adriani
Dosen Pendidikan Ekonomi, FKIP Univeristas Mulawarman, Samarinda. Menulis tentang Pendidikan, Lingkungan, Kearifan Lokal dan hal-hal absurd dalam Kehidupan
9 Desember 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tesso Nilo Rumah Perjuangan
Tesso Nilo, gajah dan harimau masih numpang hidup, sementara manusia sibuk berebut lahan yang bukan miliknya.
Muhammad Arya Dwiki Ressa Adriani
Tulisan dari Muhammad Arya Dwiki Ressa Adriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tesso Nilo: persimpangan sunyi antara harapan dan kehilangan. (Sumber: ChatGPT).
zoom-in-whitePerbesar
Tesso Nilo: persimpangan sunyi antara harapan dan kehilangan. (Sumber: ChatGPT).
Di tengah bentang dataran rendah Riau, Tesso Nilo berdiri seperti rumah tua yang terus dipreteli gentingnya satu per satu. Diresmikan sebagai taman nasional pada 2004, kawasan seluas ±81.739 hektare ini awalnya dianggap sebagai salah satu hutan dataran rendah paling kaya biodiversitas di Asia Tenggara. Para peneliti mencatat sedikitnya 218 jenis tumbuhan dari 65 famili, angka yang biasanya cuma bisa ditemukan di hutan tropis yang benar-benar “perawan.” Salah satu hasil penelitian bahkan menyebut bahwa meskipun kawasan ini banyak yang sudah ditebang, “keanekaragaman hayati hutan bekas tebangan di TNTN masih tergolong tinggi dan layak dipulihkan.” Temuan itu menegaskan satu hal, meski babak belur, Tesso Nilo belum kehilangan jati dirinya.
Pada kenyataannya ini jauh dari kata romantis. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut bahwa sekitar 40.000 hektare TNTN telah berubah menjadi kebun sawit ilegal. Dalam rilis resmi 2025, KLHK menegaskan bahwa “TNTN menghadapi tekanan serius akibat penanaman kelapa sawit ilegal dalam jumlah besar yang mengancam habitat satwa kunci.” Laporan lain menyebut hanya 19.000 hektare yang masih berupa hutan alam asli—sisanya berubah menjadi kebun, permukiman, atau tanah terbuka. Bahkan sebuah laporan media nasional menulis bahwa sertifikat kebun sawit “ditemukan di zona yang jelas-jelas merupakan kawasan gajah dan harimau.” Ironi ini seperti menaruh meja makan di tengah kandang singa lalu pura-pura bingung saat terjadi konflik.
Setelah semua yang terjadi, TNTN masuk daftar prioritas penindakan pada 2025. Pemerintah membentuk Satgas PKH bersama Garuda Task Force for Forest Recovery untuk menangani perambahan secara terstruktur. Dalam laporan penegakan hukum yang dirilis Juli 2025, KLHK menyebut, “Sebanyak 775 hektare kebun sawit ilegal di dalam TNTN telah dimusnahkan pada periode Mei–Juli 2025.” Selain itu, petugas melakukan patroli di 993 titik rawan untuk mencegah kebakaran hutan—ancaman paling mematikan bagi ekosistem dataran rendah yang kering dan rapuh. Langkah ini penting karena TNTN bukan sekadar hutan: ia rumah bagi Gajah Sumatera, Harimau Sumatera, dan ratusan spesies lain yang tidak bisa pindah mendadak seperti manusia ketika ruang hidupnya rusak. KLHK menegaskan bahwa “perubahan fungsi hutan Tesso Nilo telah menyebabkan penurunan populasi satwa asli secara signifikan.”
Tetapi konservasi tidak sesederhana menekan tombol “hapus.” Di sekitar TNTN, hidup masyarakat yang sudah puluhan tahun menetap, bekerja, dan mengandalkan lahan yang ternyata berada dalam kawasan konservasi. Sebagian dari mereka membeli lahan dengan dokumen yang kemudian diketahui bermasalah. Sebuah studi antropologis mencatat bahwa konflik di TNTN bukan semata-mata tentang batas kawasan, tetapi tentang identitas, ekonomi keluarga, dan ketidakpastian hidup. Dalam sebuah jurnal sosial, menulis bahwa konflik konservasi di Riau “sering dipicu oleh ketidaksiapan kebijakan dan lemahnya mekanisme resolusi berbasis komunitas.” Artinya, tanpa keadilan sosial, konservasi mudah berubah menjadi ketegangan baru.
Di sinilah pendidikan dan kearifan lokal menjadi fondasi yang sebenarnya sudah lama ada. Generasi muda di desa sekitar TNTN perlu melihat hutan bukan sebagai “lahan kosong menunggu bibit sawit,” tetapi sebagai ruang hidup yang menjaga keberlanjutan komunitas mereka sendiri. Bayangkan sekolah lingkungan berbasis desa: anak-anak memetakan jalur gajah, belajar mengenali jenis pohon, atau mendengar petuah tetua adat tentang pantangan membuka lahan dekat sumber air. Kearifan seperti ini bukan sekadar tradisi; ia adalah pengetahuan ekologis yang diwariskan, namun sering diabaikan dalam membuat sebuah kebijakan.
Masyarakat lokal punya nilai konservasi yang kuat—mulai dari aturan tidak tertulis soal mengambil hasil hutan non-kayu hingga larangan membuka lahan di titik-titik tertentu. Namun nilai ini tidak pernah tumbuh menjadi kebijakan yang dihargai. Padahal, tanpa menggandeng masyarakat, konservasi hanya akan menjadi proyek jangka pendek yang terhenti saat dana habis atau pejabat berganti.
Pada prinsip yang paling sederhana, perjuangan menyelamatkan Tesso Nilo bukan hanya urusan pemerintah atau aktivis, tetapi urusan moral seluruh masyarakat Indonesia. Bila hutan adalah nafas terakhir yang kita punya, maka melindunginya adalah cara paling sederhana untuk memastikan masa depan tetap terjaga. Tesso Nilo adalah rumah perjuangan—bukan hanya bagi satwa, tetapi bagi manusia yang ingin hidup selaras dengan alam. Jika kita diam, rumah ini akan roboh pelan-pelan. Jika kita ikut menjaga—melalui pendidikan, kebijakan adil, dan keberanian menolak eksploitasi—maka Tesso Nilo bisa pulih, bukan sebagai cerita kehilangan, tetapi sebagai ruang hidup yang kembali bernapas.
Trending Now