Konten dari Pengguna
Menyiapkan Transformasi Sektor Pariwisata Indonesia
28 Desember 2020 16:41 WIB

Kiriman Pengguna
Menyiapkan Transformasi Sektor Pariwisata Indonesia
Sektor pariwisata Indonesia selama ini begitu-begitu saja. Menteri Parekraf yang baru perlu menyiapkan transformasi menyongsong era pasca pandemi. Ada 4 pilar transformasi yang diusulkan. #userstoryMuhamad Fakhryrozi
Tulisan dari Muhamad Fakhryrozi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru hasil dari reshuffle yang diumumkan Presiden pada 22/12/2020, Bapak Sandiaga Salahudin Uno, dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah.
Betapa tidak, bahkan sebelum Pandemi Covid-19 pun, sektor pariwisata Indonesia hanya berkontribusi sekitar 4% terhadap PDB nasional. Lebih rendah dibanding Thailand sekitar 18% dan Malaysia sekitar 13%. Dari besaran kontribusi tersebut, berdasarkan indikator-indikator yang ada, mayoritas masih disumbang oleh Bali dengan PDRB sebesar Rp 252,6 Triliun di 2019. Padahal, sektor pariwisata bisa menjadi sektor yang bisa mendongkrak pertumbuhan PDB nasional maupun menjadi instrumen pemerataan ekonomi daerah.
Saat ini, pandemi Covid-19 telah memukul sektor pariwisata cukup dalam secara nasional maupun global. Pertumbuhan PDRB Bali terperosok ke β6,8% di kuartal III 2020 secara tahunan lebih rendah dari pertumbuhan nasional yaitu -3,49%. Namun demikian, rencana vaksinasi di berbagai negara yang akan dimulai di 2021 -bahkan telah dimulai di negara seperti Inggris- menghasilkan adanya optimisme menatap tahun depan. Bahkan McKinsey & Company, sebuah konsultan manajemen global memproyeksikan bahwa herd immunity akan terbentuk di Amerika Serikat akan pada Kuartal III atau IV tahun 2021.
Kita pun berharap sektor pariwisata dan perekonomian secara umum di Indonesia bisa berangsur pulih setidaknya di kuartal III atau IV 2021 dan kembali ke level sebelum pandemi di tahun 2022. Dengan catatan program vaksinasi nasional berjalan lancar dan efikasi vaksin mampu menahan keganasan strain virus baru yang bermutasi. Selama periode vaksinasi tersebut protokol kesehatan haruslah dijaga dengan ketat.
Pandemi Covid-19 ini menjadi momentum untuk mengimajinasikan ulang sektor pariwisata di Indonesia. Sehingga ketika pandemi ini berakhir sektor ini telah βterlahir kembaliβ dengan lebih kuat dan siap menyambut era baru pasca pandemi. Setidaknya ada beberapa catatan yang dapat penulis berikan terkait dengan mendorong adanya perubahan transformasional dari sektor pariwisata di Indonesia.
Berubah dari Pekerjaan Sektoral ke Kolaborasi Lintas Sektor.
Pembangunan sebuah destinasi pariwisata harusnya beranjak dari paradigma menata sebuah tempat wisata secara βstandaloneβ menjadi mengembangkan sebuah kawasan menjadi sebuah βhubβ pariwisata. Sebagai contoh, ketika mengembangkan Destinasi Pariwisata Borobudur sebaiknya tidak dilihat sebatas menata area di sekitar Candi Borobudur semata namun hal ini harus dilihat sebagai mengembangkan kawasan DIY menjadi hub pariwisata dengan Candi Borobudur sebagai pusat atraksi utama.
Dengan paradigma tersebut, membenahi sektor pariwisata bukanlah sekadar tugas Kemenparekraf. Pekerjaan ini merupakan bentuk kolaborasi dan koordinasi lintas K/L pusat dan pemerintah daerah serta badan usaha.
Dukungan yang diberikan K/L misalnya dari segi pembangunan infrastruktur baik infrastruktur konektivitas yang menghubungkan sebuah lokasi wisata dengan lokasi-lokasi lain seperti jalan, bandar udara, dan transportasi darat serta dukungan pembangunan infrastruktur utilitas seperti listrik, air, serta sarana prasarana lain. Tak kalah penting adalah infrastruktur telekomunikasi seperti jaringan 4G (dan nantinya 5G).
Dukungan non-fisik pun diperlukan. Sebagai contoh, dukungan penyederhanaan perizinan untuk investor baik oleh pemerintah pusat dan daerah. Dukungan lainnya adalah dukungan untuk pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur pariwisata dan mengelola segala dinamika dan konflik yang mungkin muncul. Diperlukan pula dukungan penyiapan SDM unggul yang berkiprah di sektor ini di masing-masing daerah. Belum lagi peran BUMN, Badan Otorita Pariwisata dan swasta dalam mengelola kawasan wisata dan menjalankan program-program promosi dan atraksi.
Kemenko Perekonomian dan Kemenko Marinvest dapat berperan aktif dalam memimpin koordinasi pekerjaan lintas sektor tersebut. Pekerjaan koordinasi ini merupakan pekerjaan yang amat kompleks dan memerlukan leadership yang berorientasi hasil.
Berubah dari Rencana Kerja Tahunan ke Strategi Jangka Panjang
Dengan perubahan ke paradigma berbasis pengembangan wilayah, maka diperlukan peta jalan jangka panjang yang berlandaskan pada perencanaan strategis untuk sebuah destinasi pariwisata.
Jangan sampai rencana induk sebuah destinasi pariwisata hanyalah kompilasi program-program tahunan K/L beserta anggarannya yang direncanakan secara βsiloβ tanpa konsep yang jelas dari arah pembangunan sebuah destinasi. Rencana Induk haruslah berisi strategi dengan hitungan dampak ekonomi yang konkret yang merupakan hasil dari kajian daya saing kawasan serta analisa kebutuhan pasar dan tren ke depan. Strategi ini menjadi haluan dari program kerja K/L. Di sinilah menurut penulis Kemenparekraf dan didukung Bappenas memposisikan dirinya, yakni menjadi βguardianβ dari Rencana Induk Pariwisata.
Penulis mengapresiasi langkah Kemenparekraf mengawal penyusunan Integrated Tourism Master Plan (ITMP) untuk 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP). Untuk itu, kualitas kajian menjadi penting. Menyusun ITMP merupakan pekerjaan berat karena menuntut adanya sebuah desain pembangunan multi-aspek dengan spektrum yang komprehensif dari sebuah kawasan. Tidak ada salahnya melibatkan bantuan pihak asing yang berpengalaman untuk mengerjakan pekerjaan ini untuk memanfaatkan lessonlearned khususnya dari negara-negara yang sudah sukses memajukan kepariwisataan.
Masing-masing dari 10 DPP tersebut harus memiliki roadmap dan beserta pentahapan yang jelas serta visi yang ambisius. Prinsip "amati, tiru dan modifikasi" bisa dilakukan dalam penyusunan rencana induk ini setelah melakukan benchmarking dari negara-negara yang sukses.
Berubah dari Kuantitas ke Kualitas
Jumlah kunjungan wisman dan wisnus seringkali menjadi ukuran utama dari kinerja pariwisata. Padahal, yang tak kalah penting adalah seberapa banyak wisman dan wisnus berbelanja sehingga bisa berdampak pada pendapatan asli daerah dan peningkatan PDRB. Oleh karenanya mendorong spending per tourist menjadi penting selain mendorong angka kunjungan.
Naiknya spending per tourist berbanding lurus dengan pengembangan kawasan pariwisata yang nyaman untuk wisman dan wisnus membelanjakan uangnya. Hal ini ditunjang dengan konektivitas satu tempat wisata dengan tempat lain, safety yang terjaga, keberadaan sarana penunjang stay yang nyaman, banyaknya pusat-pusat perbelanjaan yang nyaman, dan wahana-wahana yang menawarkan pengalaman unik yang bisa dimonetisasi. Tak kalah penting adalah adanya tempat-tempat wisata premium.
Untuk itu, paradigma βman-madeβ tourism menjadi penting di mana perlu lebih banyak didorong investasi untuk wahana wisata βbuatanβ untuk melengkapi wahana berbasis keindahan alam. Inovasi dalam mengembangkan peluang-peluang monetisasi baru ini memerlukan partisipasi sektor swasta yang masif.
Berubah dari Konvensional ke Digital
Sudah waktunya pariwisata Indonesia dimodernisasi dengan penerapan teknologi digital. Teknologi digital sangat berpotensi untuk meningkatkan kinerja dari sebuah destinasi pariwisata. Teknologi digital dapat diterapkan di sepanjang rantai nilai dari industri pariwisata.
Dalam hal pemasaran, penggunaan data analytics dan algorithm dapat membantu untuk pemasaran dan menawarkan destinasi kepada segmen yang tepat melalui platform online. Data analytics yang terintegrasi dengan platform spesial juga digunakan bagi Badan Otorita Pariwisata, pengelola kawasan pariwisata maupun pemerintah untuk memantau program-program pengembangan pariwisata beserta indikator-indikator kinerjanya secara real time. Teknologi digital bisa juga menjadi sarana untuk meningkatkan pengalaman wisatawan dan disaat yang bersamaan mengurangi biaya pengelolaan kawasan wisata. Contoh sederhananya adalah penerapan digital tourist guide.
Menanti Gebrakan
Latar belakang Menteri Parekraf baru yang entrepereneur menjadi harapan adanya ide-ide inovatif yang segar untuk mentransformasikan sektor pariwisata Indonesia. Publik menanti gebrakan-gebrakan Menteri Parekraf baru untuk menjadi penggerak inisiatif-inisiatif yang bisa mentransformasi sektor pariwisata Indonesia yang selama ini begitu-begitu saja.
*Penulis adalah pemerhati kebijakan publik dan transformasi korporasi

