Konten dari Pengguna

Hidup Minimalis: Belajar Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tak Pernah Puas

Muhammad Gumilar Mulyana
Seorang lulusan baru dari program studi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang dan seorang penulis junior di suatu lembaga kajian bernama "Lingkar Kajian Kolaboratif".
2 September 2025 13:56 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hidup Minimalis: Belajar Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tak Pernah Puas
Esai reflektif tentang pengalaman pribadi menjalani hidup minimalis: melawan budaya konsumtif, menemukan arti “cukup”, dan meraih ketenangan batin. #userstory
Muhammad Gumilar Mulyana
Tulisan dari Muhammad Gumilar Mulyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Gaya Hidup Minimalis (Foto dibuat dengan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gaya Hidup Minimalis (Foto dibuat dengan AI)
Hidup minimalis tiba-tiba terlintas dalam benak saya. Beberapa waktu yang lalu, saya buka lemari pakaian di pojok kamar saya. Di dalamnya, ada banyak baju yang telah lama tak saya pakai. Ada beberapa kemeja yang belum pernah saya pakai sekalipun, bahkan labelnya masih tertempel di kemeja-kemeja itu. Selain itu, ada juga beberapa jaket yang seingat saya baru saya pakai sekali dalam hidup saya. Kemudian, ada juga banyak kaus yang belum pernah saya pakai sekalipun. Sontak, saya tersadar, betapa seringnya saya belanja untuk sesuatu yang sebenarnya tidak saya butuhkan, namun saya tergoda untuk membelinya.
Mungkin bukan saya saja yang mengalami kejadian seperti ini, namun banyak orang mengalami juga. Kita hidup di zaman promo dan iklan hadir di setiap detik melalui layar gawai kita. Mulai dari marketplace hingga media sosial, semuanya seakan mendorong kita untuk membeli sesuatu agar kita merasa bahagia, padahal sebenarnya kita tidak begitu membutuhkannya. Tapi, apakah benar kebahagiaan itu bisa selalu kita beli? Atau kita malah terjebak dalam ilusi yang tak pernah merasa puas?

Budaya Konsumtif

Tanpa kita sadari bersama, budaya konsumtif seakan telah mengakar dalam keseharian kita. Buktinya, ketika Shopee mengadakan promo besar-besaran di tanggal kembar, seperti 9.9, 10.10, atau 11.11, tanpa sadar kita terbujuk untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak begitu kita butuhkan. Kemudian, di media sosial kita sering melihat para influencer mengiklankan barang-barang seperti skincare, gawai keluaran terbaru, hinggaberbagai outfit, yang tanpa sadar membuat kita terhasut untuk cepat-cepat mempunyai barang-barang tersebut, padahal kita tak membutuhkannya, melainkan intensinya hanya karena mengikuti tren saja.
Saya pun kerap kali tergoda dengan adanya promo besar-besaran tersebut. Suatu saat, saya pernah membeli sebuah gawai hanya karena ingin mengikuti tren saja. Padahal, gawai saya masih bagus dan dapat bekerja dengan baik. Pada akhirnya, gawai baru yang saya beli itu hanya sering terletak di meja kamar dan jarang sekali saya gunakan. Dari hal tersebut, saya pun tersadar bahwa saya sering kali membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan hanya karena tak ingin ketinggalan tren.
Pada zaman sekarang, kita didorong untuk ikut dalam budaya yang berpedoman "lebih banyak itu lebih baik", entah itu lebih banyak barang, lebih banyak uang, maupun lebih banyak pencapaian. Padahal, semakin kita menimbun sesuatu, secara otomatis kita akan merasa sesak: bukan hanya sesak di kamar, namun juga sesak di kepala.
Ilustrasi menabung. Foto: Shutterstock

Minimalisme Sebagai Jalan Hidup

Di tengah rasa sesak yang hinggap, saya mulai kenal dan belajar sebuah konsep hidup minimalisme. Pada awalnya, saya kira bahwa minimalisme itu hidup tanpa barang, semuanya serba sederhana, dan terkesan membosankan. Namun, setelah saya mempelajarinya dan mencobanya, saya menemukan arti minimalisme. Minimalisme bukan soal jumlah barang, melainkan soal kesadaran dalam memilih dan memilahnya.
Menurut saya, minimalisme ialah seni dalam memilah. Memilah mana yang dibutuhkan dan mana yang hanya keinginan sesaat. Minimalisme itu bukan berarti tidak punya apa pun, melainkan pilihan untuk merasa cukup: cukup baju untuk dipakai, cukup ruang untuk bernapas, dan cukup barang untuk digunakan.
Saya mencoba mulai hidup minimalis dengan langkah kecil terlebih dahulu, seperti merapikan lemari pakaian saya. Dari banyaknya baju yang saya punya, saya hanya menyimpan beberapa baju saja yang benar-benar saya suka dan sering saya pakai. Kemudian, baju yang lainnya, saya sumbangkan. Ternyata, semakin sedikit pilihan baju, semakin ringan hidup yang saya jalani. Tak ada lagi waktu yang terbuang untuk merasa bingung dalam memilih baju yang akan saya pakai.
Perubahan hidup yang sudah saya praktikkan itu lantas membuat saya berpikir: jika dengan pakaian saja saya bisa membuat hidup saya terasa bebas dan ringan, bagaimana jika saya juga menerapkan minimalisme ini ke hal lain? Misalnya gawai, hobi, hingga interaksi sosial. Akibatnya, saya mencoba untuk menerapkan minimalisme pada gaya hidup, bukan hanya seputar cara berbenah.

Dampak Positif Hidup Minimalis

Seiring berjalannya waktu, saya merasakan banyak manfaat dari gaya hidup minimalis yang saya terapkan. Pertama, saya merasa rumah lebih lega. Barang-barang di rumah menjadi lebih tertata dan lebih mudah untuk mencari apa yang dibutuhkan. Saya merasa seperti punya ruangan ekstra di rumah, tanpa saya harus pindah rumah.
Kedua, saya merasa lebih hemat sehingga finansial aman. Saya menjadi lebih berhati-hati ketika akan membeli sesuatu. Sebelum membeli sesuatu, saya berpikir terlebih dahulu, “apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?” Apabila tidak sedang membutuhkan, maka saya akan menahan diri untuk tidak membelinya. Dengan melakukan hal itu, saya dapat menyisihkan lebih banyak uang untuk ditabung dan dapat menggunakan uang yang ditabung untuk belajar hal-hal baru dan traveling.
Ketiga, pikiran saya menjadi lebih tenang. Tanpa saya sadari, barang-barang yang menumpuk di rumah dapat membuat stres. Secara tidak langsung, timbul rasa bersalah ketika ada barang yang jarang dipakai. Selain itu, ada pula kecemasan di saat berbagai ruangan di rumah terasa begitu sempit. Ketika saya telah menerapkan gaya hidup minimalis, hidup menjadi terasa lebih ringan, lebih fokus, dan menjadi lebih mudah untuk bersyukur.
Selain itu, dengan menerapkan gaya hidup minimalis, saya dapat keluar dari budaya pamer. Dulu, saya merasa bahwa hidup harus mengikuti tren agar tidak dianggap “ketinggalan zaman”. Namun, sekarang, saya merasa lebih nyaman dengan diri sendiri. Saya menyadari bahwa nilai seseorang itu bukan diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari bagaimana cara hidup dan dari seberapa banyak manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Ilustrasi menabung. Foto: Shutterstock

Tantangan dan Kesalahpahaman

Tentu tidak selalu mudah ketika menerapkan gaya hidup minimalis. Godaan demi godaan untuk membeli sesuatu pasti akan selalu ada, apalagi di era digital seperti saat ini di mana iklan dan promo mengalir deras di linimasa media sosial kita. Terkadang, saya juga masih tergoda untuk membeli atau menambah koleksi barang hanya karena merasa bosan dengan barang yang dimiliki. Selain itu, komentar orang sekitar pun silih berganti datang memengaruhi, seperti “ngapain sih hidup terlalu sederhana, nanti malah kelihatan seperti orang miskin dan susah”. Padahal, gaya hidup minimalis bukanlah soal kaya dan miskin, namun tentang kesadaran untuk memilih dan memilah.
Terkadang, terdapat juga sebuah kesalahpahaman, bahwa minimalisme itu ialah hidup yang kaku, anti-teknologi, dan harus tinggal di rumah yang "serba putih". Padahal, minimalisme itu tidak ada bentuk pastinya. Bagi sebagian orang, minimalisme berarti cukup punya 30 pakaian saja. Sebagian yang lain mengira bahwa minimalisme berarti cukup dengan berhenti membeli barang yang tidak dibutuhkan. Pada intinya, minimalisme itu tergantung dari personal masing-masing.
Bagi saya pribadi, minimalisme bukan tentang mengurangi sesuatu sebanyak mungkin, namun tentang bagaimana kita menemukan titik di mana kita merasa “cukup”. Pada faktanya, titik “cukup” tiap orang tentunya berbeda-beda. Poin pentingnya ialah kita harus sadar bahwa untuk merasa "cukup", kita tidak perlu mengejar sesuatu berdasarkan “kuantitas”.

Saatnya Melambat dan Merasa “Cukup”

Di dunia yang makin riuh ini, minimalisme bukan hanya sekadar gaya hidup, namun juga sebuah bentuk perlawanan. Pertanyaannya: perlawanan kepada apa? Jawabannya ialah perlawanan terhadap budaya yang terus merasa “kurang”, padahal seharusnya kita sudah layak bersyukur dengan apa yang kita punya.
Saya tidak mengatakan bahwa semua orang harus hidup dengan mempunyai 10 barang saja atau hidup dengan menolak teknologi. Minimalisme bukanlah menyoal angka, namun menyoal kualitas hidup. Dengan hidup yang sederhana, kita bisa lebih fokus pada apa yang benar-benar penting bagi kita: hubungan dengan orang lain, pengalaman berharga, rasa syukur, dan kesehatan mental.
Jadi, ketika kita merasa lelah dengan tuntutan hidup modern yang tak ada habisnya, mungkin sudah waktunya kita mencoba untuk melambat dan bertanya pada diri sendiri: Apakah itu benar-benar penting bagi hidup saya? Mungkin jawabannya ialah tidak berdasarkan “banyaknya jumlah”, namun berdasarkan bagaimana kita merasa “cukup”. Dari situlah kebahagiaan yang sebenarnya akan datang.
Trending Now