Konten dari Pengguna

Agama dan Pendidikan: Dua Jalan Menuju Generasi yang Beretika dan Berwawasan

Muhammad Haikal
Mahasiswa Prodi Ilmu Al- Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8 Juli 2025 21:58 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Agama dan Pendidikan: Dua Jalan Menuju Generasi yang Beretika dan Berwawasan
Tulisan ini menjelaskan tentang pentingnya agama dan pendidikan dalam pembentukan karakter yang beretika dan berwawasan.
Muhammad Haikal
Tulisan dari Muhammad Haikal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan (sumber: Pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Pendidikan (sumber: Pixabay.com)
Agama dan pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi dalam membentuk karakter, moral, dan pandangan hidup individu. Agama menjadi sumber nilai dan etika yang menjadi dasar dalam pendidikan, mengajarkan prinsip-prinsip moral seperti kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab yang penting untuk pembentukan karakter.
Agama: Pondasi Moral yang Tak Tergantikan
Bayangkan sebuah rumah yang tidak memiliki fondasi seberapa pun megahnya, rumah itu pasti akan ambruk jika tidak memiliki dasar yang kuat. Demikian juga, karakter anak-anak kita tidak akan kokoh. tanpa prinsip-prinsip moral yang ditanamkan melalui pendidikan agama.
Sebuah studi dari Atikah Novia Putri di Jurnal Pedagogik (2024) membuktikan bahwa anak-anak yang diajarkan nilai keislaman secara kontekstual dan kreatif cenderung memiliki empati yang lebih tinggi dan perilaku yang lebih baik. Bahkan, pendekatan yang menggabungkan agama dan teknologi ternyata bisa sangat efektif dalam mendidik generasi digital saat ini.
Sementara itu, Sofwan Jamil dalam Jurnal Wistara menegaskan bahwa pendidikan agama bukan hanya soal hafalan ayat atau ritual ibadah, tetapi tentang menanamkan kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan rasa hormat. Nilai-nilai inilah yang menjadi kompas moral dalam menghadapi derasnya tantangan zaman.
Pendidikan Formal: Jendela Dunia yang Tak Boleh Tertutup
Namun, akhlak tanpa wawasan adalah seperti peta tanpa arah. Di sinilah pendidikan formal berperan: membuka cakrawala berpikir, mengenalkan logika, sains, budaya, dan tentu saja, nasionalisme.
Penelitian oleh Ruwaidah dkk. dalam Indo-MathEdu Journal (2024) menyebutkan bahwa pelajaran seperti Pendidikan Pancasila bukan hanya soal hafalan sila—tetapi tentang membangun karakter kebangsaan, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
Lebih lanjut, studi dari Miswar Rasyid Rangkuti (Jurnal Al-Mau’izhoh) menyoroti peran guru dalam pendidikan karakter. Kadang, bukan kata-kata bijak yang paling berkesan, tapi sapaan ramah, keteladanan sederhana, dan konsistensi guru dalam bersikap yang menjadi panutan siswa.
Tantangan Zaman Digital: Perlukah Kita Khawatir?
Tentu saja. Dunia digital membawa kemudahan, tapi juga godaan. Generasi sekarang tak hanya berhadapan dengan nilai-nilai baik di rumah dan sekolah, tapi juga dunia maya yang penuh konten tak terkontrol.
Dalam jurnal Aktivisme (2024), para peneliti merekomendasikan model pendidikan agama yang lebih aktif dan relevan misalnya, diskusi kasus etika di media sosial atau membuat konten dakwah kreatif yang relatable. Karena faktanya, anak zaman sekarang butuh nilai yang bisa “dihidupkan”, bukan hanya dihafalkan.
Sinergi yang Dibutuhkan: Rumah, Sekolah, dan Masyarakat
Tak bisa dipungkiri, pendidikan terbaik adalah yang menyatukan tiga unsur penting: keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Anak tidak cukup hanya diajari akhlak di sekolah, lalu dibiarkan menonton konten toksik di rumah.
Menurut Heriyadi (Jurnal JUANGA, 2021), model kolaboratif inilah yang berhasil meningkatkan empati anak-anak Gen Z. Mereka lebih peduli, lebih sadar, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup bukan karena diajari satu dua mata pelajaran, tapi karena semua unsur di sekeliling mereka bergerak seirama.
Menghadapi masa depan bukan hanya soal persiapan teknologi dan skill digital. Lebih dari itu, kita harus memastikan bahwa generasi kita memiliki nilai, akhlak, dan arah hidup yang benar. Pendidikan agama dan pendidikan umum bukan dua jalan yang berbeda, melainkan dua rel yang saling melengkapi, mengantar anak-anak kita ke masa depan yang bukan hanya cemerlang, tapi juga benar.
Karena pada akhirnya, dunia butuh lebih banyak orang baik yang cerdas, bukan hanya orang cerdas yang belum tentu baik.
Trending Now