Konten dari Pengguna
Dari Gelisah Menjadi Tenang: Perjalanan Hati Menemukan Islam
9 Juli 2025 16:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Dari Gelisah Menjadi Tenang: Perjalanan Hati Menemukan Islam
Tulisan ini menceritakan kisah nyata dari perjalanan seorang hamba dari kegelisahan sampai kemudian menemukan ketenangan.Muhammad Haikal
Tulisan dari Muhammad Haikal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kesibukan dunia yang tak berujung, banyak dari kita mencari satu hal yang sama: ketenangan batin. Sayangnya, kedamaian sejati tidak selalu datang dari hal-hal yang tampak luar, seperti kekayaan, ketenaran, atau pencapaian. Kadang-kadang, kedamaian tersebut muncul dari sumber yang tidak terduga: petunjuk dari Allah.
Disini saya akan menceritakan kisah seorang pemuda yang menemukan kembali arti kehidupan dan ketenangan jiwa melalui jalan Islam.
Dunia yang Sibuk, Hati yang Sepi
Sebut saja Namanya Ican, ia dibesarkan dalam keluarga Muslim biasa. Dan ia mengetahui cara melakukan salat, hafal beberapa doa, dan bisa membaca Al-Qur’an. Namun, semua itu hanya terasa sebagai rutinitas belaka, tanpa makna yang mendalam. Ketika memasuki dewasa, ia lebih terpaku pada mengejar karier, gaya hidup modern, dan ketenaran di media sosial.
Dari luar, kehidupan Ican terlihat menyenangkan. Namun, di balik seluruh pencapaian tersebut, ia sering merasakan kekosongan yang mendalam. Malam-malamnya dipenuhi dengan pertanyaan:
“Kenapa aku tidak pernah merasa tenang? Kenapa hati ini terus-menerus gelisah meski sudah memiliki segalanya?”
Jawaban atas pertanyaan itu datang ketika Allah mempertemukannya dengan suatu ujian.
Ketika Dunia Tak Lagi Menawarkan Jawaban
Setelah bisnisnya mengalami kebangkrutan dan hubungannya berantakan, Ican mengalami masa tergelap dalam hidupnya. Ia merasa terpuruk, bahkan sempat berpikir bahwa hidupnya tidak ada artinya.
Di dalam kesedihan itu, ia secara tidak sengaja membuka Al-Qur’an yang sudah tidak terpakai di rak buku. Dan tiba-tiba, matanya tertuju pada ayat ini:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Air matanya mulai mengalir. Ayat tersebut bukan sekadar teks, itu adalah jawaban atas semua kegelisahan yang ia rasakan selama ini.
Perjalanan Hijrah: Dari Gelisah Menuju Damai
Sejak saat itu, Ican memutuskan untuk berubah. Ia belajar kembali dasar-dasar ajaran Islam, memperbaiki salatnya, memperbanyak dzikir, dan membaca Al-Qur’an setiap hari. Ia juga mulai mencari sahabat-sahabat yang dapat membimbingnya ke jalan yang baik.
Secara bertahap, ia mulai merasakan ketenangan yang selama ini tidak pernah ia miliki. Ini bukan karena masalahnya sudah terpecahkan, tetapi karena hatinya mulai mengenal Allah.
“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Dulu, ia berpaling. Kini, ia kembali. Dan hidupnya pun berubah.
Kedamaian yang Sejati: Tidak Selalu Tanpa Masalah, Tapi Penuh Makna
Saat ini, Ican masih menjalani kehidupan dengan berbagai tantangan. Namun, ia menjalani semua itu dengan hati yang lebih kuat. Ia menyadari bahwa Allah selalu menyertai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Hidayah Itu Nyata, dan Bisa Datang Kapan Saja
Kisah Ican mengingatkan kita semua. Bahwa Allah tidak pernah menutup pintu-Nya bagi siapa saja yang ingin kembali. Kedamaian yang sejati tidak bisa ditemukan di luar diri, tetapi saat hati kita kembali terhubung dengan Sang Pencipta.
Jika kamu merasa kosong, gelisah, atau tidak tahu arah, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk kembali. Baca Al-Qur’an, perbaiki ibadahmu, dan mintalah kepada Allah:
“Ya Allah, Engkaulah pemberi hidayah. Jangan Engkau palingkan hatiku setelah Engkau beri petunjuk.”
(QS. Ali Imran: 8)
Karena sebenarnya, hati yang merujuk kembali kepada Allah adalah hati yang paling tenteram.

