Konten dari Pengguna

Saat Gunung Mengajarkan Taqwa di Bulan Agustus

Muhammad Idris
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan Universitas Muslim Indonesia (UMI)
17 Agustus 2025 7:04 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Saat Gunung Mengajarkan Taqwa di Bulan Agustus
Menjelang peringatan HUT RI ke 80, minat mendaki anak muda kembali meninggi, terlebih sejak kasus Rinjani terekspos. Namun, banyak orang mendaki hanya untuk gaya-gayaan lalu update status
Muhammad Idris
Tulisan dari Muhammad Idris tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pendaki gunung Foto: thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendaki gunung Foto: thinkstock
Usia Saya saat itu baru 16 tahun. Seorang siswa SMA kelas satu yang tengah mencari jati diri. Darah muda yang sedang membara, seperti kebanyakan remaja lain yang ingin selalu menantang diri, membuktikan keberanian dan menjajal batas dengan nyali bergelora.
Bersama enam teman satu kompleks, tanpa rapat dan debat panjang seperti anggota dewan, kami memutuskan mendaki Gunung Bawakaraeng β€˜Mulut Tuhan’ atau β€˜Mulut Raja”, kurang lebih 75 kilometer dari Kota Makassar. Gunung yang sejak lama menjadi favorit para pendaki karena pemandangan alamnya yang eksotik. Ketinggiannya sekitar 2840 mdpl. Gunung yang dipercaya sebagai tempat pertemuan para wali.
Pendakian ini adalah yang pertama bagi Saya dan lima lainnya. Yang punya pengalaman mendaki hanya ketua regu kami, seorang mahasiswa semester tiga. Kami ingin mengikuti prosesi upacara bendera HUT kemerdekaan RI, yang setiap 17 Agustus dirayakan para pecinta alam. Karena sifatnya dadakan, Kamipun tidak membawa perlengkapan memadai, minim pengalaman pendakian dan tidak punya pemandu. Sebuah keputusan nekat, namun kala itu terasa penuh semangat dan keberanian.
Berbekal tekad dan rasa ingin tahu, kami sepakat berjalan kaki dengan menumpang kendaraan secara bergantian hingga menuju kaki gunung. Total perjalanan memakan waktu hampir 8 jam. Jika memakai kendaraan pribadi, bisa ditempuh paling lama dua jam. Lelah tentu saja, tapi rasa ingin menaklukkan puncak lebih kuat daripada segalanya.
Setibanya di kaki gunung pukul 19.00, kami putuskan menginap semalam. Keesokan harinya, seusai salat Subuh, kami memulai pendakian. Namun, bukan melalui jalur resmi, melainkan jalur yang menurut kami lebih singkat, padahal kami tidak tahu persis arahnya. Pilihan ini menjadi titik awal dari pengalaman yang nyaris berakhir tragis. Kami tersesat.
Berjam-jam mendaki tanpa petunjuk arah yang jelas, kabut turun, malam mulai menyergap dan suhu udara jatuh drastis. Kami semua tidak membawa jaket gunung. Saya sendiri hanya memakai baju planel dan jaket jeans . Sementara kompas tidak membantu karena kami tidak tahu ke mana seharusnya kami menuju. Kami kehilangan arah.
Hari mulai gelap, kabut turun begitu cepat, dingin merayap menembus pakaian tipis kami. Bekal pun nyaris habis. Peta? Kami tidak bawa. Pengetahuan dasar survival? Nihil. Tubuh mulai menggigil. Satu teman nyaris pingsan, badannya mulai lemas, ada juga yang menangis dan berteriak histeris, sebagian hanya bisa terdiam menahan rasa takut dan kecemasan tinggi. Tidak tahu harus berbuat apa.
Saya sendiri dalam kondisi terdiam, hanya bisa pasrah. Dalam benak, Saya memutar semua kesalahan, teringat orang tua dan segala dosa yang selama ini saya lakukan. Rasa menyesal datang bertubi-tubi. Dingin semakin menusuk. Keadaan saat itu begitu mencekam.
Seolah tragedi belum cukup, seekor babirusa muncul dari semak dan menyerang kami. Kami kaget dan nyaris panik. Untung tidak ada korban. Situasi semakin dibuat mencekam. Dalam benak Saya, mungkin beginilah cara ajal menjemput kami. Di punggung gunung, jauh dari siapa-siapa dan kami bahkan belum tahu arah puncak, apalagi jalan pulang.
Kami berjalan tanpa arah hingga tubuh kami benar-benar lelah. Bermodalkan satu lampu senter, tanpa cahaya bulan, tiada suara manusia, tiada tanda kehidupan. Di titik ini, Saya merasa begitu kecil dihadapan alam. Tidak ada lagi keangkuhan, tidak ada lagi keberanian kosong. Yang ada hanya rasa takut, sesal dan penuh harap kepada Allah SWT Sang Maha Kuasa.
Hingga akhirnya, dua pemburu lokal menemukan kami dalam kondisi hampir tidak berdaya. Mereka membawa kami turun, memberi makanan dan menuntun kami kembali ketempat aman. Dalam pelukan api unggun yang mereka nyalakan, saya menangis dalam hati. Kami semua selamat. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, batinku.
Sepulang dari pengalaman ini, Saya tidak lagi memandang gunung sebagai tempat petualangan semata. Gunung, bagi Saya kini adalah ruang kontemplasi. Bukan hanya tempat untuk uji nyali. Gunung adalah ruang spiritual. Tempat kita bisa merendahkan diri, menyadari betapa kecilnya kita di tengah semesta yang luas.
Mengakui bahwa hidup bukan soal menantang alam, tapi menyatu dengannya dalam hormat dan kesadaran spiritual. Disanalah Saya belajar bahwa keberanian tidak cukup tanpa kebijaksanaan dan nekat bukanlah tanda hebat, tapi kadang justru bentuk paling nyata dari kebodohan.
Pengalaman itu mengajarkan saya empat hal penting
Pertama, mencintai alam berarti menghormatinya, dengan persiapan matang, dengan pengetahuan dasar survival dan dengan etika bertindak. Gunung bukan tempat untuk gagah-gagahan, bukan juga tempat bermain-main. Ia adalah ruang suci, yang harus dimasuki dengan penuh hormat.
Kedua, taqwa tidak hanya dibawa ke dalam masjid, tapi juga ke puncak gunung tertinggi sekalipun. Ini karena, kita tidak pernah tahu dimana Allah ingin menguji kita. Taqwa harus dibawa kemana saja. Ketaqwaan Lahir dari Kepasrahan.
Ketiga, solidaritas sesungguhnya teruji dalam kondisi genting. Di gunung, rasa peduli dan saling menjaga adalah perisai keselamatan. Solidaritas bukan hanya soal berbagi tawa, tapi juga soal saling menjaga saat bahaya didepan mata. Di gunung, satu orang lemah, semua bisa celaka.
Keempat, kerendahan hati adalah kekuatan yang sesungguhnya. Pendaki sejati tidak banyak bicara, tidak banyak pamer, mereka tenang tapi tangguh, sangat siap dan bertanggung jawab atas tiap langkahnya. Tidak seperti kami waktu itu, sok gagah tapi kosong.
Mendaki dengan Mata Hati
Dibulan Agustus, demi memeriahkan peringatan HUT ke-80 RI, minat mendaki anak muda kembali meninggi, terlebih sejak kasus Rinjani terekspos. Namun, banyak orang mendaki hanya untuk gaya-gayaan, swafoto lalu update status demi konten atau sekadar mengklaim "aku bisa". Tapi gunung bukan ajang pembuktian diri. Gunung adalah tempat belajar mencintai Allah melalui ciptaan-Nya.
Kami selamat karena pertolongan-Nya, tapi kami juga nyaris celaka karena kecerobohan sendiri. Mendaki butuh persiapan fisik, mental, pengetahuan dan bekal yang cukup. Jangan seperti kami, yang nekat tanpa perhitungan.
Gunung mengajarku bahwa mencintai alam bukan sekadar menikmati keindahan-Nya, tapi juga menghormati kekuatan-Nya, tunduk pada hukum-Nya dan bersyukur atas setiap nafas yang masih diberi-Nya. Di atas semua itu, gunung mengingatkanku, "Kamu kecil. Allah Maha Besar."
Mendaki bukan tentang sampai ke puncak, tapi tentang pulang dengan selamat dan pulang sebagai manusia yang lebih baik. Mencintai alam adalah bagian dari mencintai Pencipta-Nya. Merusak alam atau meremehkan kekuatan-Nya adalah bentuk ketidaksadaran akan kebesaran-Nya. Berharap tulisan ini jadi pengingat, bahwa mendaki bukan soal menaklukkan puncak, tapi tentang bagaimana kita menaklukkan ego. Gunung itu suci, jadi perlakukanlah ia dengan taqwa@
Trending Now