Konten dari Pengguna
4 Hal di Balik Laki-laki Tidak Bercerita
29 November 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
4 Hal di Balik Laki-laki Tidak Bercerita
Laki-laki boleh dan perlu untuk bercerita. Memberikan ruang bagi laki-laki untuk bercerita adalah langkah penting menuju masyarakat yang setara dan berwelas asih.Muhammad Ilham Akbar B
Tulisan dari Muhammad Ilham Akbar B tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Barangkali banyak dari kalian pernah melihat ayahnya termenung di teras setiap pagi atau sore, sembari menatap kosong ke jalanan. Berdiam diri dengan secangkir kopi yang uapnya sudah mulai hilang. Dengan sebuah tarikan napas pelan seolah ada sesuatu yang ingin keluar dari pikirannya, tapi urung diucapkan.
Lantas boleh jadi karena itulah celotehan “laki-laki tidak bercerita” terdengar begitu wajar dan masuk akal bagi kebanyakan kita. Celotehan yang kerap kita lihat di media sosial, atau bahkan kita dengar langsung di persimpangan meja tongkrongan. Meski hanya candaan ringan, ungkapan seperti ini tampaknya sudah jadi cerminan budaya bagaimana semesta memandang jalan hidup laki-laki.
Fenomena seperti ini bahkan bukan lagi jadi isu nasional. Karena sebagian besar laki-laki di muka bumi ini memilih menikmati keheningannya, daripada harus bercerita. Khalayak media sosial pun memperkuat budaya ini. Narasi “laki-laki tidak bercerita” menjadi bukti bahwa satu-satunya bahasa emosional yang mereka perlukan hanyalah diam, dan menikmati keheningan yang menusuk.
Walaupun kesadaran publik tentang kesehatan mental makin meningkat. Warisan budaya dari diamnya laki-laki ini, masih menancap kuat. Jalan hidup laki-laki yang lebih memilih untuk diam, membuat mereka menjadi golongan orang yang jarang mencari bantuan, dan paling terlambat mengenali distress mental emosionalnya.
Padahal secara global, harapan hidup mereka lebih rendah, dan tekanan kesehatan mentalnya pun lebih berat. Begitupun dengan angka bunuh diri laki-laki yang masih lebih tinggi dibanding perempuan. Mangkanya bukan hal yang aneh, kalau hal-hal ini menjadi harga yang mesti dibayar dari ketidakinginan laki-laki untuk bercerita.
Untuk menelisik kenapa pola semacam ini mengakar begitu kuat, ada setidaknya empat hal penting yang bisa ditelisik. Bukannya untuk menyalahkan laki-laki, melainkan untuk memahami mengapa semesta sedari awal memelihara mereka untuk diam.
1. Sedari kecil sudah diset untuk “kuat terus”
Sedari kecil laki-laki kerap diajarkan kalau emosi itu harus dikendalikan, ditahan, diredam, dan bukan untuk dibicarakan. Sejak kecil mereka dicekoki sugesti bahwa rasa sakit itu perihal privat, bukan sesuatu yang pantas dibagi.
Ungkapan “jangan cengeng” atau “laki-laki harus kuat” sebenarnya bukanlah hal yang keliru. Hanya saja, terkadang orang tua mengucapkan hal ini dalam pola asuh yang tidak secara utuh diberikan dalam prosesnya.
Sehingga banyak laki-laki pada masa remajanya, semakin menjauh dari komunikasi emosionalnya dengan orang tua. Tak pelak ketika beranjak dewasa, memori masa-masa itu membuat mereka gagal memahami batasan ekspresi emosionalnya.
Ingatan semacam ini tertanam kuat dalam memori laki-laki. Ingatan bahwa mereka itu sudah sepatutnya menanggung hidupnya sendiri, tanpa perlu membebani orang lain, atau setidaknya mencari pertolongan. Dalam benak mereka, diam itu lebih gagah daripada harus mengakui kerapuhan. Laki-laki harus tahan banting dari peliknya kehidupan.
Semua ini semakin membuat laki-laki berpikir wajar untuk menyembunyikan tekanan yang dialaminya, bahkan dari orang terdekat. Mereka sedari awal dibesarkan untuk menghadapi badai dengan senyum tipis. Menutupi setiap retakan sebelum orang lain melihat.
2. Maskulinitas toksik
Ada semacam budaya yang menormalisasi keheningan pria sebagai bentuk identitas maskulinitas. Sebut saja maskulinitas toksik. Norma maskulinitas ini melihat sisi emosional seperti mengekspresikan kesedihan, ketakutan, atau kerentanan sebagai bentuk kelemahan. Norma ini acapkali membuat mereka memprioritaskan identitas ketangguhannya di atas kesejahteraan dirinya sendiri.
Akibatnya norma semacam ini menempatkan laki-laki sebagai pihak yang dirugikan, karena terlampau menjungjung tinggi rasa ketegaran dan kemandirian diri secara ekstrem. Pada beberapa studi, maskulinitas toksik menjadi pemicu besar laki-laki enggan bercerita atau mengungkapkan kondisi distress mentalnya. Semakin besar tekanan bagi mereka untuk “tidak boleh terlihat lemah”, semakin kecil pula peluang mencari pertolongan, bahkan ketika mereka membutuhkannya.
Fenomena hening, sepi, dan diamnya laki-laki tak ubahnya menjadi kewajaran yang diromantisasi sebagai tanda ketangguhan. Laki-laki merasa perlu bercerita dan hanya bercerita, jika itu tentang kemenangannya, keberhasilannya, atau perannya menjadi penopang hidup orang lain. Mereka jarang mau terbuka jika itu tentang dirinya sendiri, apalagi perihal luka yang ia simpan.
3. Lingkaran pertemanan lebar, tapi tidak ada ruang cukup untuk bercerita
Rasa kesepian yang dialami laki-laki juga menjadi salah satu pemicu ketidakmampuannya untuk bercerita. Rasa sepi yang dirasakan laki-laki dalam hidupnya, secara perlahan menggerus kemampuan mereka mengekspresikan emosinya.
Pada beberapa kasus, banyak laki-laki memiliki lingkaran pergaulan yang luas, tapi semua itu seringkali terasa dangkal secara emosional. Mereka beranggapan dinamika semacam ini sebaiknya dijadikan sebagai aktivitas tongkrongan saja, tempat bertukar tawa, dan hobi.
Itulah mengapa laki-laki cenderung menjadikan pertemanan hanya sebatas pada aktivitas yang mengesampingkan sisi emosional. Hal ini bukan karena mereka saling tidak peduli, tetapi karena lingkungan sosial semacam ini memang tidak dirancang untuk percakapan emosional. Mereka lebih nyaman membicarakan hal-hal seputar hobi, candaan, atau semacamnya. Sehingga kegelisahan pribadi cukup disimpan untuk sendiri.
Secara tidak langsung, laki-laki belajar bahwa curhat bukan hal yang tepat di ruang ini. Pun kalau mereka ingin, terkadang hanya berujung dalam diskusi yang sepotong-potong. Bahkan rasa menarik diri dari pembicaraan seperti ini muncul, kala arah diskusinya merambah menjadi ajang adu nasib di antara mereka.
Meski demikian, ketika pada akhirnya laki-laki diberi ruang aman untuk bercerita, meski hanya kebetulan. Keterbukaan itu perlahan bisa muncul. Artinya, masalah utama datang dari ketidakhadiran ruang yang membuat keterbukaan emosional terasa wajar. Bukan datang dari ketidakinginan untuk bercerita.
4. Layanan kesehatan mental masih dianggap bukan untuk laki-laki
Sekalipun dalam ranah profesional, masih banyak laki-laki yang menemui keraguan untuk bercerita. Termasuk ketika menyentuh layanan kesehatan mental. Pemicunya muncul dari rasa ketidaknyamanan. Ketika mereka ketahuan mencari bantuan, mereka tidak nyaman dengan itu. Mereka takut dianggap lemah.
Sebagian laki-laki juga merasa layanan seperti ini belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan mereka. Hal ini muncul karena ada stigma bahwa laki-laki tidak mesti menjumpai tenaga profesional hanya untuk mengurusi kekacauan dalam hidupnya.
Bagi sebagian dari mereka, layanan kesehatan mental hanya diperuntukkan untuk perempuan, dengan asumsi bahwa perempuan lebih rapuh darinya secara emosional. Padahal layanan seperti ini dirancang untuk siapa saja. Sisa tenaga profesional saja yang menyesuaikan pendekatannya dengan pribadi orangnya.
Masalahnya makin parah karena banyak dari laki-laki kesulitan mengenali tanda-tanda distress mental sejak dini. Mereka tidak terbiasa memberi nama pada apa yang mereka rasakan. Hal-hal semacam ini seringkali menunda mereka mencari bantuan. Akibatnya mereka baru datang ketika kondisinya sudah buruk, atau justru tidak datang sama sekali.
Mengubah cara kita memahami keberanian
Keheningan laki-laki sejatinya adalah hasil warisan budaya sosial yang dimaknai secara keliru, bukan hanya sekadar persoalan individual. Kita perlu melihat keberanian dengan cakrawala baru. Keberanian untuk bercerita ketika hidup terasa berat, karena keberanian bukan hanya tentang kuat berdiri sendirian. Laki-laki boleh dan perlu untuk bercerita. Memberikan ruang bagi laki-laki untuk bercerita adalah langkah penting menuju masyarakat yang setara dan berwelas asih.

