Konten dari Pengguna

Renungan Perihal Inkompetensi di Balik Bencana Banjir dan Longsor Pulau Sumatra

Muhammad Ilham Akbar B
Dosen Program Studi Pendidikan Masyarakat FKIP Universitas Mulawarman
2 Desember 2025 14:54 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Renungan Perihal Inkompetensi di Balik Bencana Banjir dan Longsor Pulau Sumatra
Kita berhak menuntut kompetensi sebagai fondasi. Sebab sebuah bangsa tidak runtuh oleh hujan. Ia runtuh oleh tangan-tangan yang tidak mampu, namun tetap diberi kuasa memegang payungnya.
Muhammad Ilham Akbar B
Tulisan dari Muhammad Ilham Akbar B tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi orang dengan inkompetensi seperti payung yang bocor (sumber: chatgpt)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang dengan inkompetensi seperti payung yang bocor (sumber: chatgpt)
Kita kembali berduka. Pulau Sumatra, khususnya Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara digulung banjir dan longsor yang merenggut ratusan nyawa, sementara banyak lainnya masih belum ditemukan. Di tengah hiruk-pikuk penyelamatan dan kabar duka yang seperti tak berhenti datang, perlahan terbit sebuah tanya.
Benarkah semua ini semata-mata akibat cuaca ekstrem yang dipicu Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka? Atau justru ada ruang-ruang kesiapan, kompetensi, serta tata kelola yang mestinya terisi namun dibiarkan kosong, sehingga alam bekerja tanpa penyangga? Pertanyaan ini lirih, tetapi tak dapat kita enyahkan. Sejatinya tragedi ini meminta jawaban yang jujur. Jawaban yang bukan sekadar kita yang bersuara. Tapi dari mereka yang memegang kompetensi untuk menjawabnya dengan kejujuran yang terang.
“Bagi yang tidak kompeten, gerimis pun menjadi nubuat bencana.” Begitu ungkap Bagus Muljadi dalam sebuah unggahan gambar di Instagramnya. Kalimat sederhana yang menyindir lembut kenyataan yang pahit. Bahwa bahaya tidak selalu lahir dari niat jahat, mungkin. Bahaya justru datang dari ketidakmampuan yang dibiarkan tumbuh, mengeras, dan akhirnya memecah sesuatu yang seharusnya utuh.
Inkompetensi yang dibiarkan dapat merambah menjadi sebuah kejahatan yang tidak berniat menyakiti, mungkin. Tetapi membiarkan lara itu terjadi. Ia tidak merencanakan tragedi, mungkin. Namun melapangkan jalannya. Ia tidak menginginkan korban, mungkin. Tetapi menciptakan kondisi di mana korban gampang muncul. Dan ia melakukannya tanpa wajah, tanpa pengakuan, tanpa rasa bersalah, mungkin.
Sejarah bangsa kita sudah begitu banyak menampung peristiwa atau tragedi yang menjadi pengingat. Bukan untuk mengorek luka lama, tapi sejarah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ketika kompetensi diabaikan, risiko berubah menjadi tragedi. Mulai dari yang lawas, tragedi bintaro 1987, tabrakan dua kereta akibat kekeliruan sinyal dan kelalaian prosedur menewaskan 139 jiwa. Adapula tragedi yang imbasnya berumur panjang seperti lumpur lapindo di tahun 2006. Ribuan warga mengungsi, dan hingga kini semburan lumpur lapindo itu belum benar-benar berhenti.
Dalam lima tahun terakhir juga masih segar di ingatan kita. Seperti Tragedi Stadion Kanjuruhan 2022 silam, menjadi duka nasional. Ratusan nyawa hilang dalam kekacauan yang seharusnya dapat diantisipasi melalui standar keselamatan stadion yang benar, manajemen kerumunan yang matang, dan penggunaan pengamanan yang proporsional. Serta yang baru-baru ini, runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo pada 29 September 2025, yang memakan puluhan korban, membuka kembali pertanyaan mengenai kualitas konstruksi dan pengawasan bangunan di negeri ini. Terutama gedung-gedung pendidikan yang semestinya menjadi ruang aman.
Setiap tragedi itu tidak berdiri sebagai insiden terpisah. Mereka adalah mozaik suram yang menunjukkan pola. Bukan sekadar “kesialan kolektif”. Sebuah hasil dari keputusan yang ditunda, pengawasan yang diabaikan, dan tata kelola yang diremehkan. Semua itu dengan senyap meledak menjadi sebuah malapetaka.
Oleh mereka yang memangku kepentingan, masyarakat seperti kita kerap dibujuk menerima bahwa tragedi adalah takdir. Bahwa musibah adalah bagian dari kehidupan. Padahal hal-hal seperti ini boleh jadi bisa dicegah atau setidaknya diminimalisir akibatnya. Dengan apa? Dengan kompetensi, integritas, dan profesionalitas. Jangan justru melanggengkan semua ini dengan sebuah formalitas semata.
Maka dari itu, kompetensi bukan perihal teknis semata. Kompetensi juga perkara etika dan tanggung jawab. Perkara memahami setiap jabatan dan setiap posisi adalah sebuah amanah. Tak peduli besar kecilnya tanggung jawabnya, amanah tetaplah amanah. Meskipun pada akhirnya masih ada ruang belajar di dalamnya, tapi amanah itu bukan ruang untuk sekadar coba-coba.
Dari tragedi-tragedi ini kita diajarkan hal yang teramat penting. Bahwa inkompetensi atau ketidakmampuan jikalau dibiarkan akan menjelma menjadi kerugian, duka, atau bahkan sampai bencana. Dan bagi masyarakat, kita berhak menuntut kompetensi sebagai fondasi. Sebab sebuah bangsa tidak runtuh oleh hujan. Ia runtuh oleh tangan-tangan yang tidak mampu, namun tetap diberi kuasa memegang payungnya.
Trending Now