Konten dari Pengguna

Pergeseran Mimbar: Ketika Popularitas Pendakwah Menafikkan Otoritas Keilmuan

Muhammad Izzul Islam An Najmi
Dosen Tetap di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen Tidak Tetap di Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang Kandidat Doktor Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Khidmah di PP. Bahrul Ulum Tambakberas
20 November 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pergeseran Mimbar: Ketika Popularitas Pendakwah Menafikkan Otoritas Keilmuan
artikel ini mengulas geser­nya otoritas keilmuan para pendakwah di era digital, ketika popularitas dan algoritma lebih menentukan mimbar siapa yang didengar daripada kedalaman ilmu
Muhammad Izzul Islam An Najmi
Tulisan dari Muhammad Izzul Islam An Najmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada masa ketika mimbar adalah ruang yang sunyi sekaligus sakral tempat ilmu diturunkan perlahan, dengan suara lembut seorang kiai yang rambutnya mulai memutih. Dakwah berjalan seperti air yang mengalir dari mata air: jernih, tenang, dan berhati-hati.
Tetapi kini, mimbar yang dulu kokoh itu terasa mulai bergeser. Ada yang berubah, entah pada mimbar itu, para pendakwah, atau kita sebagai pendengarnya. Istilah “pergeseran mimbar” dapat dipahami sebagai perubahan otoritas, ruang, dan cara dakwah yang berlangsung di era dewasa ini.
Perubahan itu datang pelan-pelan, dibawa era digital seperti angin yang tak kasat mata. Tiba-tiba, dakwah tidak lagi menunggu jemaah di masjid atau majelis. Ia meloncat ke layar ponsel, masuk ke sela-sela aktivitas, muncul di For You Page antara video kucing lucu dan resep mie goreng viral. Di sana, popularitas mendahului hampir segalanya
Dalam satu dekade terakhir, wajah dunia dakwah berubah cepat. Jika dulu panggung dakwah lebih banyak dihuni oleh ulama pesantren yang memiliki sanad keilmuan jelas, kini barisan pendakwah baru muncul dari berbagai latar belakang dari ustaz lulusan Timur Tengah hingga content creator yang merintis karier dari kanal YouTube atau TikTok.

Ketika Karisma Melampaui Kitab

Di dunia digital, suara lantang, gestur teatrikal, atau punchline yang memikat sering kali lebih efektif daripada penjelasan panjang tentang tafsir dan fikih. Seorang pendakwah yang cerdas membaca algoritma bisa mengungguli seorang ulama yang menghabiskan puluhan tahun menekuni kitab-kitab kuning.
Bukan karena yang terakhir kurang ilmu, melainkan karena dunia baru ini tidak mengenal sanad selain jumlah pengikut dan jumlah views. Di titik ini, kita menyaksikan sesuatu yang ganjil: mimbar tidak lagi berdiri di atas otoritas ilmu, tapi di atas kecakapan tampil.

Pendakwah sebagai Bintang, Jemaah sebagai Penonton

Dakwah memang selalu berkaitan dengan komunikasi, tapi jarang sekali kita membayangkan pendakwah sebagai entertainer. Namun kini, panggung dakwah sering bekerja dengan logika yang sama: siapa yang lebih lucu, lebih dramatis, lebih emosional dialah yang lebih mudah dicari, dibagikan, dan dipuja. Dengan sebutan apa pun dan dengan persona bagaimanapun.
Sumber Gambar: AI
Fanbase terbentuk, lengkap dengan jargon, identitas kelompok, dan loyalitas tanpa syarat. Di sini, pendakwah bergeser menjadi figur publik yang tak ubahnya selebritas. Dan ketika seseorang sudah menjadi selebritas, kontroversi pun mulai berdatangan. Sementara itu, para ulama tradisional yang berjalan dengan kehati-hatian, memilih kata dengan pertimbangan hukum, dan bicara tanpa sensasi yang sering terlihat “kurang menarik” bagi ritme digital.
Maka istilah "Dari Mimbar ke Layar, Dari Ilmu ke Konten" menjadikan internet sebagai pemberi peluang besar. Dakwah menjangkau jutaan orang tanpa batas ruang. Tetapi ia juga membawa jebakan, yaitu ilmu yang berubah menjadi konten. Ketika ilmu menjadi konten, ia dituntut untuk: pendek, mudah nge-hook, mudah dibagikan, dan (yang paling berbahaya) mudah di permukaan.
Pendakwah yang mengikuti tekanan ini perlahan belajar untuk menyesuaikan isi dakwah agar lebih viral. Akibatnya, kedalaman ilmu sering dikorbankan demi keterjangkauan. Kekayaan tradisi keilmuan Islam dipadatkan menjadi potongan satu menit. Kita semua tahu bahwa sesuatu yang dipadatkan terlalu keras lama-lama berubah bentuk.

Masyarakat yang Menginginkan Jawaban Cepat

Barangkali popularitas para pendakwah bukan semata karena mereka berusaha populer, tapi karena kita sebagai audiens menginginkan kesederhanaan. Kita ingin jalan keluar yang cepat, petunjuk hidup yang langsung, atau nasihat praktis yang memudahkan hidup. Di tengah hidup yang serba terburu-buru, kita mencari jawaban agama lewat cara yang sama seperti mencari tutorial memasak.
Maka wajar bila mereka yang berbicara lugas, emosional, dan penuh energi akan lebih disukai daripada mereka yang mengajak kita berpikir pelan-pelan. Dalam konteks ini, “mimbar yang tergelincir” bukan hanya tentang pendakwah, akan tetapi juga tentang kita sendiri.

Otoritas Keilmuan yang Tak Boleh Ditinggalkan

Meski begitu, tidak sedikit pendakwah muda yang punya ilmu mapan dan tetap menjaga integritas di tengah derasnya arus digital. Mereka melangkah di dua dunia sekaligus: dunia pesantren yang mendalam dan dunia algoritma yang cepat berubah. Di tangan mereka, harapan itu masih ada.
Namun apa pun bentuk dakwah hari ini, kita perlu mengingat bahwa agama adalah jalan panjang, bukan kilatan lampu kamera. Ia membutuhkan kesabaran, bukan sekadar keterkenalan; membutuhkan kecermatan, bukan sekadar kelancaran berbicara.
Mimbar yang tergelincir bukan berarti akan jatuh. Ia hanya butuh ditopang kembali oleh para pendakwah yang rendah hati, oleh publik yang kritis, dan oleh kesadaran bahwa popularitas tak pernah bisa menggantikan kedalaman ilmu.

Perlu Menemukan Titik Tengah

Tidak semua pendakwah populer minim ilmu, dan tidak semua ulama tradisional gagap teknologi. Banyak tokoh muda yang menguasai ilmu agama dengan baik sekaligus terampil berdakwah di media sosial. Tantangannya bukan memilih antara “yang populer” atau “yang berilmu”, tetapi bagaimana menyatukan keduanya agar dakwah tetap relevan tanpa kehilangan kedalaman.
Popularitas yang dianggap menjadi parameter kredibilitas, karena banyak jemaah baru menilai kualitas pendakwah dari jumlah pengikut, bukan dari latar belakang pendidikan atau sanad. Generasi baru pendakwah menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius.
Popularitas memang bisa membantu dakwah menjangkau lebih banyak orang, tetapi otoritas keilmuan tetap harus menjadi landasan. Di era digital, keduanya perlu berjalan beriringan agar dakwah tidak hanya viral, tetapi juga bermanfaat dan bertanggung jawab.
Trending Now