Konten dari Pengguna

Kampung Haji Indonesia di Makkah: Tonggak Soft Power Islam Nusantara

Muh Khamdan
Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bekerja sebagai Widyaiswara Balai Diklat Hukum dan HAM Jawa Tengah
2 Agustus 2025 11:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kampung Haji Indonesia di Makkah: Tonggak Soft Power Islam Nusantara
Kampung Haji Indonesia (KHI) di Makkah, tonggak soft power Islam Nusantara. Pemberian lampu hijau oleh Kerajaan Arab Saudi atas rencana pembangunan KHI di sekitar Masjidil Haram. #userstory
Muh Khamdan
Tulisan dari Muh Khamdan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemberian lampu hijau oleh Kerajaan Arab Saudi atas rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia (KHI) di sekitar Masjidil Haram bukan sekadar respons diplomatik terhadap Prabowo Subianto, Presiden terpilih Indonesia. Lebih dari itu, ini adalah pergeseran paradigmatik dalam kebijakan investasi dan kepemilikan lahan Arab Saudi, yang selama berabad-abad mempertahankan ketertutupan dalam urusan kepemilikan properti suci.
Revisi Undang-Undang Kepemilikan Real Estat oleh bukan warga Saudi, termasuk korporasi dan lembaga nirlaba, menandai momen historis dalam perjalanan kebijakan ekonomi Arab Saudi. Ini merupakan kelanjutan visi reformasi besar yang digulirkan Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) dalam kerangka Vision 2030, yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada minyak dan mengundang investasi asing.
Inisiasi Presiden Prabowo, yang disambut dengan delapan plot lahan strategis dari Arab Saudi, membuka babak baru diplomasi ekonomi Indonesia di Timur Tengah. Bukan hanya jemaah haji Indonesia yang akan diuntungkan, tetapi juga industri layanan, arsitektur, teknologi, dan keuangan yang dapat bersinergi dalam ekosistem investasi Danantara.
Dalam perspektif ekonomi multinasional, proyek KHI mencerminkan foreign direct investment (FDI) yang tidak biasa, berbasis keagamaan, berskala negara, namun tetap beroperasi dalam mekanisme pasar global. Ini adalah bentuk baru dari diplomasi ekonomi yang memadukan nilai religius, kepentingan nasional, dan aliansi strategis.
Bendera Indonesia dan Arab Saudi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Arab Saudi, dengan membuka Makkah bagi kepemilikan asing, sedang menguji ambang batas sosial dan historisnya. Sejak era kekhalifahan hingga kerajaan modern, Makkah selalu dianggap tak tersentuh kepentingan non-Muslim, apalagi asing. Kini, konsep β€œasing” diredefinisi sebagai mitra strategis.
Pemerintah Arab Saudi menunjukkan bahwa perubahan hukum dapat dilakukan jika dilandasi state-to-state trust. Kepercayaan ini tidak muncul tiba-tiba. Hubungan erat antara Prabowo dan MBS, yang terbentuk melalui diplomasi keamanan dan ekonomi selama satu dekade terakhir, menjadi fondasi kuat bagi keputusan besar ini.
Dari sisi manajemen haji, pembangunan KHI adalah langkah menuju smart pilgrimage ecosystem. Dengan memiliki tanah dan infrastruktur sendiri, Indonesia dapat memotong rantai birokrasi penyewaan, meningkatkan efisiensi logistik, dan menyusun sistem layanan berbasis data yang lebih adaptif.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi, mengemban peran penting. Ia menjadi jembatan antara arsitek pembangunan nasional Indonesia dan birokrasi investasi Arab Saudi. Target Oktober 2025 untuk pengajuan desain bukan sekadar tenggat administratif, tetapi momentum pengukuhan kredibilitas Indonesia di ranah multinasional.
Pertanyaan kunci yang muncul adalah: bagaimana desain KHI mampu merepresentasikan identitas Indonesia, memenuhi regulasi Saudi, dan tetap menguntungkan dalam jangka panjang? Di sinilah peran ilmu hubungan internasional dan ekonomi lintas-budaya menjadi sentral.
KHI akan menjadi laboratorium urbanisasi spiritual. Tak hanya hunian, tapi juga pusat layanan kesehatan, pelatihan manasik haji, pusat UMKM halal, dan penguatan identitas Indonesia di kawasan Makkah. Ini merupakan soft power projection dengan elemen permanen.
Secara geopolitik, proyek ini akan meningkatkan posisi tawar Indonesia di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, Indonesia kini menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pengirim jemaah terbesar, tapi juga sebagai mitra konstruktif pembangunan kawasan suci.
CEO Danantara Rosan Roeslani melaporkan perkembangan pembelian lahan di Makkah untuk Kampung Haji Indonesia kepada Presiden Prabowo, Rabu (30/7/2025). Foto: Instagram/ @sekretariat.kabinet
Bagi Arab Saudi, proyek seperti ini dapat direplikasi untuk negara-negara Muslim besar lainnya. Dalam skema multinational pilgrimage economy, MBS bisa menjadikan Makkah sebagai hub ekonomi spiritual global, tidak lagi terbatas pada ritual, tapi berkembang sebagai pusat peradaban Muslim modern.
Implikasi lainnya adalah pada sistem tenaga kerja dan keuangan. KHI akan menciptakan lapangan kerja multinasional, baik bagi warga Indonesia, pekerja lokal Saudi, maupun tenaga ahli global. Sistem pembiayaan juga dapat membuka inovasi dalam sukuk, wakaf produktif, dan reksadana haji.
Kampung Haji Indonesia bukan sekadar properti, namun menjadi entitas budaya, ekonomi, dan diplomatik. Jika sukses, ia dapat menjadi model transnational religious infrastructure pertama di dunia yang dikelola oleh negara pengirim jemaah, bukan hanya oleh negara tuan rumah.
Proyek ini juga akan berdampak pada reformasi internal pengelolaan haji Indonesia. Kementerian Agama dan BPKH harus bersinergi erat dengan Danantara untuk memastikan akuntabilitas, efisiensi, dan kesinambungan investasi yang mendukung nilai manfaat jangka panjang bagi jemaah.
Dari kacamata Teori Ekonomi Multinasional, proyek ini menunjukkan bagaimana Indonesia sebagai home country dapat memainkan peran aktif dalam host country atau Arab Saudi, tidak hanya dalam bentuk ekspansi perusahaan, tapi melalui diplomasi negara berbasis kepentingan komunitas religius.
Dengan kata lain, KHI adalah transnational state-led enterprise, yang memadukan fungsi pelayanan, investasi, dan identitas kolektif. Inilah bentuk baru hubungan bilateral yang tak sekadar berbicara soal minyak atau TKI, tetapi berbasis pada kesejahteraan dan spiritualitas umat.
Pada akhirnya, keberhasilan Kampung Haji Indonesia akan ditentukan bukan hanya oleh kemampuan Indonesia membangun fisik kawasan tersebut, tetapi oleh komitmen kedua negara menjaga kemitraan berbasis saling percaya, nilai keislaman global, dan visi modernisasi yang inklusif. Jika KHI berhasil, ia akan menjadi landmark sejarah baru dalam hubungan Indonesia-Arab Saudi dan warisan peradaban Islam masa depan.
Trending Now