Konten dari Pengguna
Konflik AS-Venezuela, Antara Perang Dingin Baru dan Perebutan Energi Dunia
15 November 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Konflik AS-Venezuela, Antara Perang Dingin Baru dan Perebutan Energi Dunia
Konflik AS-Venezuela, Antara Perang Dingin Baru dan Perebutan Energi Dunia. Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali mengemuka setelah Caracas mengumumkan pengerahan militer.Muh Khamdan
Tulisan dari Muh Khamdan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali mengemuka setelah Caracas mengumumkan pengerahan militer besar-besaran pada Selasa (11/11/2025). Langkah itu diambil sebagai respons atas kehadiran armada laut dan udara Amerika Serikat di lepas pantai Venezuela. Pemerintah di bawah Presiden Nicolas Maduro menyebut pengerahan ini mencakup seluruh matra: angkatan darat, laut, udara, pasukan sungai, satuan rudal, dan milisi sipil. Ketegangan ini menandai babak baru dalam rivalitas lama antara Washington dan Caracas, yang kini berkembang menjadi potensi krisis militer di jantung kawasan Amerika Latin.
Amerika Serikat berdalih bahwa kehadiran militernya di kawasan Karibia merupakan bagian dari operasi antinarkotika global. Gugus tugas yang melibatkan kapal induk USS Gerald R. Ford, enam kapal perang, serta jet tempur siluman F-35 ditempatkan di Puerto Rico dan perairan Karibia. Namun, operasi yang diklaim untuk memberantas kartel narkoba ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengamat internasional. Sebab, hingga kini belum ada bukti publik yang menunjukkan bahwa kapal-kapal yang diserang benar-benar terkait dengan penyelundupan narkoba.
Bagi Venezuela, manuver militer Amerika Serikat adalah bentuk provokasi yang nyata. Pemerintah Caracas melihat langkah Washington sebagai upaya menciptakan ketidakstabilan dan menggoyang pemerintahan Maduro yang berhaluan kiri. Ketegangan meningkat setelah Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menyebut pihaknya berhasil menggagalkan rencana serangan terhadap kapal perang AS, USS Gravely. Serangan tersebut, menurut Caracas, didanai oleh CIA untuk memancing konflik terbuka di perairan Karibia selatan.
Langkah militer AS ini mencerminkan pola lama kebijakan luar negeri Washington yang kerap menggunakan alasan moral atau keamanan global untuk memperluas pengaruh geopolitiknya. Sejak era Perang Dingin, Amerika Serikat telah berkali-kali mengintervensi kawasan yang dianggap strategis, dari Amerika Tengah, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara. Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, pola lama itu muncul kembaliâdengan Karibia sebagai panggung terbaru.
Maduro menuduh pemerintahan Trump âmenciptakan perangâ untuk menggulingkannya. Pernyataan Trump pada 2 November 2025 bahwa âhari-hari Maduro sudah selesaiâ semakin mempertegas aroma perubahan rezim yang menjadi ciri khas intervensi Amerika Serikat. Meskipun Trump menegaskan tidak berniat berperang, tindakan militer di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya.
Situasi ini berpotensi mengancam stabilitas ekonomi global. Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Jika konflik bersenjata benar-benar meletus, dampaknya akan merembet ke pasar energi internasional, memicu lonjakan harga minyak, dan mengguncang keseimbangan geopolitik energi antara Rusia, China, dan Amerika Serikat.
Lebih dari itu, konflik ini menunjukkan bahwa Washington belum melepaskan tradisi geopolitik hegemonik yang selalu berupaya menegaskan dominasi di kawasan Amerika Latinâwilayah yang oleh doktrin Monroe sejak abad ke-19 dianggap sebagai âhalaman belakangâ Amerika Serikat. Di bawah Trump, doktrin itu tampak dihidupkan kembali dalam bentuk modern: intervensi bersenjata dengan dalih perang terhadap kartel narkotika.
Venezuela tak sendiri. Dukungan dari Rusia, China, dan Iran menjadi penyeimbang strategis yang mengubah konstelasi kekuatan regional. Moskow, yang selama ini menjadi sekutu utama Caracas, telah mengirimkan penasihat militer dan sistem pertahanan udara canggih. Beijing, sementara itu, menawarkan bantuan ekonomi dan teknologi dalam menghadapi sanksi ekonomi AS. Iran, di sisi lain, menyediakan dukungan intelijen dan logistik.
Konstelasi ini memperlihatkan bahwa konflik Venezuela-AS bukan semata urusan bilateral, melainkan bagian dari persaingan global yang lebih besar antara blok Barat dan Timur. Jika konflik berkembang, Karibia dapat menjadi medan baru dari perang proksi antara kekuatan besar dunia, layaknya Ukraina di Eropa atau Suriah di Timur Tengah.
Dalam konteks hubungan internasional, fenomena ini menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap berperan sebagai global agitatorânegara yang, dengan dalih menjaga stabilitas dunia, justru sering kali menciptakan instabilitas baru. Tradisi ini dapat ditelusuri dari intervensi di Irak, Afghanistan, Libya, hingga sanksi terhadap Iran dan Korea Utara. Kini, pola itu menjalar ke kawasan Amerika sendiri.
Kebijakan Trump yang agresif juga menunjukkan transformasi dari soft power diplomacy ke coercive diplomacy. Pendekatan diplomatik yang dulu mengandalkan ekonomi dan ideologi kini bergeser menjadi tekanan militer dan ancaman langsung. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan terjadinya militarization of diplomacy, di mana dialog antarnegara semakin digantikan oleh demonstrasi kekuatan.
Venezuela, meskipun lemah secara ekonomi, memiliki kekuatan simbolik sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat di Amerika Selatan. Pengerahan militer besar-besaran oleh Caracas bukan semata upaya pertahanan, tetapi juga pesan politik kepada dunia: bahwa kedaulatan nasional tetap harus dijaga meski menghadapi tekanan global superpower.
Krisis ini juga memperlihatkan perubahan psikologi politik regional. Negara-negara Amerika Latin mulai memperlihatkan ketegangan lama terhadap dominasi Washington. Brasil, Kuba, Bolivia, dan Nikaragua telah menyuarakan dukungan diplomatik bagi Venezuela, menandakan munculnya solidaritas baru yang berbasis pada resistensi terhadap dominasi global.
Bagi Amerika Serikat, operasi militer ini juga memiliki dimensi politik domestik. Trump, yang tengah menghadapi tekanan politik di dalam negeri, menggunakan manuver luar negeri sebagai alat pengalihan perhatian dan pembuktian ketegasan kepemimpinannya. Strategi ini mengingatkan pada pola lama ârally around the flagâ yang sering digunakan pemimpin AS dalam menghadapi tekanan politik internal.
Namun, dinamika ini membawa risiko besar. Setiap kesalahan perhitungan militer dapat memicu konflik terbuka yang tak hanya mengguncang Venezuela, tetapi juga melibatkan kekuatan global lainnya. Dalam konteks keamanan internasional, ini adalah situasi high-risk diplomacy yang dapat dengan mudah bertransformasi menjadi low-intensity conflict atau bahkan perang regional.
Dari perspektif pertahanan militer, langkah Caracas memperluas kesiagaan di seluruh matra menunjukkan kesiapan menghadapi perang asimetris. Venezuela sadar, kekuatannya tidak sebanding dengan Amerika Serikat secara konvensional, sehingga mereka mengandalkan pertahanan teritorial, milisi sipil, dan dukungan eksternal untuk menahan dominasi AS di wilayah udara dan lautnya.
Sebagai penutup, ketegangan ASâVenezuela adalah cerminan bahwa dunia belum belajar dari sejarah intervensi. Dari Afrika hingga Asia, dari Timur Tengah hingga Eropa Timur, kini giliran Amerika Latin kembali menjadi panggung geopolitik global. Amerika Serikat, dalam tradisinya menciptakan gejolak, sekali lagi memposisikan dirinya bukan sebagai penjaga stabilitas, tetapi sebagai katalis konflik baru di abad ke-21.


