Konten dari Pengguna
Tantangan Strategis Auditor Internal di Era Ketidakpastian
21 November 2025 16:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Tantangan Strategis Auditor Internal di Era Ketidakpastian
Auditor internal makin krusial, namun tetap menghadapi risiko independensi, kesenjangan kompetensi, dan disrupsi etis-teknologis dari era digital dan AIMuhammad Nirwan Farbianto SH MH CLA CMCLS
Tulisan dari Muhammad Nirwan Farbianto SH MH CLA CMCLS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi dan praktik tata kelola yang kuat, peran auditor internal semakin vital dalam menjaga kepercayaan pemangku kepentingan. Namun berbagai penelitian menunjukkan auditor internal menghadapi tantangan fundamental mulai dari independensi yang rentan, kompetensi yang tidak merata, disrupsi etis akibat teknologi digital, hingga gelombang baru otomatisasi berbasis Artificial Intelligence (AI).
Bukti akademik dari berbagai universitas di Indonesia menegaskan bahwa kualitas audit tidak hanya bergantung pada prosedur, tetapi terutama ditentukan oleh integritas sistem organisasi dan kapasitas sumber daya manusia auditor itu sendiri.
Independensi yang Terus Diuji
Independensi auditor internal menjadi isu yang semakin kompleks di era digital. Penelitian Chelsea Abigail Rosaria da Costa dan Susanto Salim (Universitas Tarumanagara) menemukan bahwa penggunaan teknologi seperti AI dan blockchain memang meningkatkan efisiensi audit, namun secara bersamaan βberpotensi mengurangi independensi dan memengaruhi objektivitas auditor dalam pengambilan keputusan.β
Ketika perusahaan mulai mengandalkan algoritma untuk menilai risiko, auditor dapat menghadapi dilema baru: apakah mereka harus mengikuti rekomendasi AI yang tidak sepenuhnya dipahami, atau menggunakan penilaian profesional yang mungkin bertentangan dengan hasil sistem. Risiko ini dapat memunculkan ketergantungan teknologi sehingga independensi auditor dari system-driven bias menjadi semakin kritikal.
Beberapa studi turut menegaskan bahwa auditor dengan independensi tinggi lebih mampu mendeteksi kecurangan bahkan di tengah tekanan manajemen sebuah temuan yang relevan ketika perusahaan mulai mengotomatisasi sebagian proses pengendalian internal.
Kompetensi Auditor: Pilar Kualitas Audit di Era AI
Pemanfaatan AI dalam audit internal menuntut auditor memiliki kompetensi baru. Praktik lapangan menegaskan bahwa kompetensi auditor memiliki hubungan positif signifikan terhadap efektivitas audit.
Ketika AI digunakan untuk predictive analytics, deteksi anomali data, dan continuous auditing, auditor harus memahami:
Penelitian Romasi Lumban Gaol (Universitas Santo Thomas) menunjukkan bahwa kompetensi, independensi, dan integritas menjelaskan lebih dari 72% faktor penentu kualitas audit. Tambahan teknologi hanya akan meningkatkan kualitas audit apabila ketiga faktor manusia tersebut terpenuhi. Tanpa itu, AI justru dapat mendorong auditor pada kesalahan interpretasi, over-reliance, atau kesimpulan yang tidak mempertimbangkan konteks operasional.
Skeptisisme Profesional: Kompetensi yang Semakin Penting di Tengah Otomatisasi
Tekanan terhadap skeptisisme profesional meningkat seiring masuknya AI. Penelitian Keiko Alina Panggabean dan Hisar Pangaribuan menunjukkan bahwa sikap kritis auditor memiliki dampak signifikan terhadap kualitas audit. Namun di era AI, skeptisisme tidak hanya diarahkan pada data dan manajemen, tetapi juga pada alat digital yang digunakan.
Pertanyaan kritis auditor kini mencakup, Apakah model AI menggunakan data yang akurat? Apakah algoritma menghasilkan false positive atau false negative? Apakah interpretasi hasil analisis sistem sudah sesuai konteks operasional?
Ketika birokrasi organisasi terlalu hierarkis, sikap kritis ini semakin terhambat, apalagi jika manajemen sudah mempercayai output AI sebagai βkebenaran absolut.β
Etika Digital, Keamanan Data, dan Risiko Baru
Digitalisasi audit menghadirkan risiko etis yang sebelumnya tidak ada. Da Costa dan Salim menegaskan bahwa penggunaan teknologi audit membawa risiko privasi dan kerahasiaan data sensitif. Temuan dari Jurnal Komitmen (UIN Sunan Gunung Djati) menyoroti bahwa banyak auditor internal belum memiliki keahlian memadai dalam audit berbasis teknologi informasi.
Ketika AI masuk dalam proses audit, risiko baru muncul:
1. Ketergantungan terhadap penyedia teknologi
Perusahaan bisa kehilangan kendali atas proses audit ketika algoritma dikembangkan pihak ketiga tanpa transparansi penuh.
2. Bias algoritmik
AI dapat menguatkan bias historis dalam data dan memberikan kesimpulan yang tidak objektif, memengaruhi keputusan auditor.
3. Risiko keamanan data
Model AI membutuhkan data besar yang sering kali berisi informasi sensitif. Kebocoran dapat berimplikasi hukum dan reputasi yang serius.
4. Pengaburan akuntabilitas
Ketika auditor mengandalkan AI, pertanyaan etis muncul: siapa yang bertanggung jawab jika hasil audit keliru auditor, penyedia teknologi, atau algoritma itu sendiri?
Analisis: Agenda Penguatan Auditor Internal di Era AI
Untuk menjawab tantangan baru ini, organisasi memerlukan agenda strategis yang lebih komprehensif:
1. Menjamin independensi struktural dan digital auditor
Auditor harus mampu bersikap independen tidak hanya dari manajemen, tetapi juga dari pengaruh algoritma dan hasil sistem AI.
2. Investasi besar pada literasi digital dan AI governance
Auditor internal harus dibekali pemahaman mendalam tentang data analytics, machine learning, keamanan siber, dan interpretasi algoritma.
3. Memperkuat skeptisisme profesional terhadap teknologi
Aktivitas audit harus memastikan bahwa auditor dapat mengkritisi output teknologi, bukan sekadar menerimanya.
4. Standarisasi etika audit digital
Organisasi perlu mengembangkan pedoman etika baru terkait penggunaan AI, pengelolaan data, transparansi algoritmik, dan akuntabilitas digital.
Berbagai penelitian menunjukkan satu benang merah yaitu teknologi termasuk AI tidak secara otomatis meningkatkan kualitas audit. Justru peran manusia menjadi semakin sentral. Auditor internal tetap menjadi penjaga akuntabilitas perusahaan, tetapi efektivitasnya hanya dapat dicapai apabila independensi terjaga, kompetensi meningkat, dan organisasi mampu beradaptasi dengan etika serta risiko baru di era kecerdasan buatan.
Tanpa penguatan pada aspek-aspek tersebut, perusahaan berisiko kehilangan kontrol atas tata kelola internal di tengah percepatan teknologi dan ketidakpastian bisnis modern.

