Konten dari Pengguna

DARI SATIR KE SARKAS : Menerka Arah Humor Pandji Pragiwaksono

Muhammad Rafiq
Praktisi Penyiaran, Ketua Umum PP. PRSSNI (2023 - 2027)
11 Januari 2026 17:18 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
DARI SATIR KE SARKAS : Menerka Arah Humor Pandji Pragiwaksono
Mens Rea, pertunjukan terbaru Pandji Pragiwaksono di Netflix, hadir bukan hanya sebagai tontonan komedi, tapi sebagai penanda perubahan penting dalam cara humor bekerja di ruang publik.
Muhammad Rafiq
Tulisan dari Muhammad Rafiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Komika Pandji Pragiwaksono. Foto : Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Komika Pandji Pragiwaksono. Foto : Kumparan
Tayangan Mens Rea di Netflix menghanyutkan pikiran ke masa lalu, ketika saya setiap hari berinteraksi dengan para komedian di Radio Humor SK dan Lembaga Humor Indonesia.
Di Radio SK, almarhum Temmy Lesanpura mengajarkan kepada saya, bagaimana menyampaikan humor kepada telinga pendengar: humor untuk telinga. Di Lembaga Humor Indonesia, almarhum Arwah Setiawan mengajarkan bagaimana menghadirkan humor ke seluruh pancaindra penonton: humor total.
Baik Temmy Lesanpura maupun Arwah Setiawan memiliki keyakinan yang serupa, pertama “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”, kedua “melawak itu susah, hanya untuk membuat orang tertawa, anda harus memikirkannya secara serius”, ketiga “negara yang membutuhkan humor, adalah negara yang pemimpinnya korup dan/atau otoriter”.
Tagline ketiga menjelaskan, mengapa kelompok lawak tumbuh subur di era Orde Baru - dan mengapa hari ini open mike menjamur hingga ke pelosok negeri.
Tubagus Dedi “Mi’ing” Gumelar pernah mengatakan bahwa komedian adalah reflektor: ia memantulkan kembali apa yang terjadi di masyarakat ke atas panggung. Tujuannya, agar pengambil kebijakan dan mereka yang terdampak kebijakan itu, sama-sama bisa bercermin. Indro Warkop menambahkan bahwa humor adalah perpaduan bakat, kecerdasan, spontanitas dan satir sosial yang tidak menggurui.
Bagi Mi’ing dan Indro, puncak kualitas humor adalah ketika pihak yang ditertawakan ikut tersenyum dan bertanya dalam hati: “apa iya ya?”
Pada masa Orde Baru, para komedian harus berhati-hati dalam menyusun materi, baik untuk panggung, radio dan televisi. Salah ucap bisa berujung pemanggilan oleh Departemen Penerangan atau bermalam di kantor Kopkamtib. Kini ruang itu terasa lebih longgar, tetapi bukan berarti tanpa pengawasan sama sekali. Radio dan televisi masih di awasi oleh KPI. Di sinilah Netfilx menjadi ruang yang relatif bebas – dan "menurut keyakinan saya", itulah sebabnya Mens Rea tampil disana.
Untuk dapat memahami apa yang dilakukan Pandji Pragiwaksono, kita perlu membedakan beberapa aliran humor. “Menurut keyakinan saya”, setidaknya ada beberapa aliran utama dalam komedi.
SLAPSTICK
Humor yang bertumpu pada fisik dan situasi. Slapstick yang paling mudah dikenali adalah gaya Srimulat yang mentertawakan orang terpeleset, jatuh dan ekspresi Bambang Gentolet ketika memperkenalkan namanya. Perang styrofoam antara Sule, Aziz Gagap dan Olga dalam Opera Van Java, juga bisa dikategorikan ke dalam slapstick. Mr. Bean adalah contoh slapstick klasik yang dikemas dengan sangat cerdas dan serius.
SATIR
Aliran ini mengkritik kekuasaan, sistem dan nilai sosial melalui ironi sambil tetap menjaga jarak. Ketika naik ke panggung sebagai Pak RT yang budek, sebetulnya Haji Bolot sedang mentertawakan pimpinan yang tidak pernah mendengar aspirasi rakyat. Tatkala, almarhum Gata berperan sebagai hansip yang gagap, sesungguhnya dia menyampaikan sindiran halus kepada aparat penegak hukum yang kadang ragu dalam bertindak. Haji Bolot dan almarhum Gata bukan sedang menyerang individu tertentu, melainkan mewakili struktur kekuasaan untuk ditertawakan.
SARKAS
Sarkasme adalah serangan langsung. Ia menunjuk subjek yang dapat diidentifikasi dan menutup ruang tafsir. Sarkasme sering kali terasa pedas, mengejek, bahkan merendahkan - dan karena maknanya tunggal, ia mudah berujung pada konflik dan pelaporan. Menjadikan fisik seseorang sebagai bahan komedi bisa masuk ke dalam sarkas. Sarkas bukan melulu soal fisik. Menjadikan sikap, penyataan, cara hidup orang atau kelompok sebagai bahan komedi, juga dapat dikategorikan ke dalam genre sarkas.
SELF DEPRECATING
Self deprecating biasanya mentertawakan kebodohan dan kesialan diri sendiri. Ben Dhanio yang menjadi pembuka Mens Rea adalah contoh untuk ini. Ben berhasil menjual “kecinaan’nya”, kesialannya, dan perlakuan istri kepada dirinya. Dengan cara ini Ben Dhanio berhasil membuat 10.000 penonton yang hadir di Indonesia Arena terbahak-bahak. Kalau anda tidak setuju dengan pendapat ini, “silahkan tulis di komen!”.
BLACK COMEDY
Humoris dengan aliran ini sering menjadikan isu-isu sensitif seperti sex, musibah, penyakit, tragedi, umpatan dan makian sebagai materi lawakan. Pengusung aliran ini seringkali menggunakan sudut pandang yang tidak biasa, bahkan “salah”. Contoh black comedy disampaikan dengan baik oleh Dany Beler: “betapa dia sakit hati setelah tahu video Sri Mulyani ternyata hasil AI, tapi kenapa semua video Gibran, termasuk tragedi asam sulfat justru asli”.
MENGAPA HUMOR PANDJI LEBIH TEPAT DISEBUT SARKASTIK?
Satir selalu menjaga jarak. Ia mengabstraksi kekuasaan dan membuka ruang refleksi. Sarkasme sebaliknya: ia menunjuk, mengunci dan menegaskan makna.
Satir adalah kritik terhadap sistem, kekuasaan dan nilai sosial melalui ironi dan humor dengan tujuan koreksi moral. Satir selalu menyasar reprentasi struktur, berbeda dengan sarkas yang menyasar aktor aktual yang dapat diindentifikasi. Satir juga selalu memberi ruang untuk refleksi dan harus bisa ditertawakan oleh orang atau kelompok yang sedang disindir.
Sedangkan sarkas adalah serangan langsung yang mengejek individu atau kelompok secara tajam, untuk merendahkan atau bahkan mempermalukan. Sarkas selalu menyasar orang atau lembaga spesifik, maknanya tunggal dan tidak memberi ruang tafsir. Tujuan sarkas bukan refleksi, melainkan penegasan posisi moral seorang komedian.
Dalam Mens Rea, Pandji tidak sedang mengabstaksikan kekuasaan, dia juga tidak membangun ironi yang terbuka. Yang dilakukan oleh Pandji adalah menyebut, menunjuk dan mengunci subjek-subjek tertentu sebagai sasaran tawa. Ketika komedi tidak lagi memberi ruang bagi yang ditertawakan untuk ikut bertanya “apa iya saya segitunya?”, maka ia telah keluar dari satir dan masuk ke wilayah sarkastik.
Pilihan ini bukan kebetulan. Pandji tahu betul bahwa Netflix berada di luar jangkauan KPI dan Undang-Undang Penyiaran. Ia secara sadar memanfaatkan ruang ini untuk menggeser komedi Indonesia dari tradisi satir reflektif ke arah sarkasme konfrontatif. Ini bukan sekedar soal selera humor, melainkan perubahan paradigma.
Ketika humor berhenti menjadi cermin dan berubah menjadi martil, yang terjadi bukan lagi refleksi, melainkan polarisasi. Mereka yang menjadi sasaran tidak lagi di ajak tertawa bersama, tapi didorong untuk tersinggung, marah atau melawan.
Kita boleh berbeda pendapat apakah ini merupakan fenomena baik atau buruk, tapi satu yang pasti: Mens Rea menandai titik balik. Dan dalam iklim sosial politik Indonesia belakangan ini, pergeseran dari satir reflektif ke sarkasme konfrontatif bukanlah hal yang bisa dianggap sepi. Dia bisa menandakan bahwa elit tidak bisa lagi sekedar disindir, atau komedi kita telah kehilangan sentuhannya.
Apa kira-kira isi kepala Gibran, Dharma Pongrekun, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, NU dan Muhammadiyah setelah menonton Mens Rea di Netflix?
“Menurut keyakinan saya” kurang lebih begini : "Kita hanya bisa berharap kepada diri kita sendiri. Mau berharap sama siapa? Undang Undang Penyiaran cuma mengatur radio dan televisi. KPI tidak bisa menghukum Netflix. Mayoritas netizen tidak terganggu. Dan pelawak kita ….. Pandji!".
Trending Now