Konten dari Pengguna

Teman Saya Sarjana tapi Menganggur, Bukan karena Malas

Muhammad Rizky
Mahasiswa S1 Sistem Informasi di Universitas Pamulang
27 November 2025 11:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Teman Saya Sarjana tapi Menganggur, Bukan karena Malas
Artikel ini membahas realitas pengangguran sarjana melalui kisah lulusan cumlaude yang sulit mendapat kerja. Bukan karena malas, tapi karena sistem yang belum siap.
Muhammad Rizky
Tulisan dari Muhammad Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suasana Job Fair Indonesia Career Expo Jakarta 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (16/10/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Job Fair Indonesia Career Expo Jakarta 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (16/10/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Tulisan ini saya buat bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk membuka mata bahwa realitas setelah wisuda tidak seindah yang sering ditampilkan di media sosial.
โ€œSudah lulus kok masih nganggur?โ€
Kalimat itu sering sekali terdengar, bukan hanya di lingkungan saya, tapi juga di sekitar teman saya, sebut saja R. Ia lulus dari salah satu universitas negeri dengan predikat cumlaude. IPK-nya nyaris sempurna. Aktif organisasi, ikut seminar, pernah magang, bahkan punya beberapa sertifikat tambahan di luar kampus. Secara โ€œkertasโ€, R adalah tipe mahasiswa yang sering disebut siap kerja.
Tapi setelah wisuda, satu hal yang tidak pernah benar-benar diajarkan kampus justru menghantamnya: realitas dunia kerja yang tidak seramah buku teks.
Sudah lebih dari delapan bulan ia menganggur.
Bukan karena ia malas. Bukan karena ia pilih-pilih pekerjaan. Tapi karena pekerjaan di dunia nyata tidak sesederhana yang digambarkan di ruang kuliah.

Lulusan Banyak, Lapangan Kerja Terbatas

Setiap tahun, ribuan bahkan jutaan mahasiswa di Indonesia diwisuda. Setiap kampus bangga memamerkan kelulusan mahasiswanya. Tapi yang jarang dibahas adalah: berapa banyak dari mereka yang benar-benar terserap kerja dengan layak?
Lowongan kerja tidak tumbuh secepat jumlah lulusan. Dan saat ada lowongan, sering kali syaratnya hampir tidak masuk akal:
Di sinilah letak masalahnya. Sistem menciptakan banyak sarjana, tapi tidak cukup jembatan yang mempertemukan mereka dengan dunia kerja yang realistis.
R pernah bercerita, ia melamar lebih dari 70 perusahaan. Dari semua lamaran itu, yang membalas bisa dihitung dengan jari. Sisanya? Sunyi. Tak ada penjelasan. Tak ada evaluasi. Hanya diam.
Bagaimana seseorang bisa berkembang jika ia bahkan tidak tahu di mana letak kekurangannya?

Yang Dipelajari di Kampus, Tak Selalu Dipakai di Dunia Nyata

Di bangku kuliah, R mempelajari teori dengan sungguh-sungguh. Presentasi, makalah, diskusi, ujian, proyek. Namun di dunia kerja, yang lebih banyak dibutuhkan justru hal-hal yang jarang ditekankan di kelas:
Banyak lulusan yang pintar secara akademik, tapi gagap secara praktis. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena kurikulum belum sepenuhnya bergerak seiring kebutuhan zaman.
Kampus masih sibuk mencetak nilai. Dunia kerja sibuk mencari manusia yang siap pakai. Di tengah-tengah itulah para sarjana sering terjatuh, lalu dilabeli sebagai โ€œpengangguranโ€.
Padahal, yang menganggur itu bukan hanya orangnya. Sistemnya juga sedang menganggur dari tanggung jawabnya.

Stigma Lebih Menyakitkan daripada Penolakan

Yang terasa paling berat bukan hanya soal uang atau karier yang belum jelas. Tapi justru datang dari lingkungan sekitar.
โ€œLulus kapan kerja?โ€
โ€œSayang kan, kuliah capek-capek tapi nganggur.โ€
โ€œAnak si A sudah kerja di perusahaan besar, masa kamu belum?โ€
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lama-lama menggerus rasa percaya diri. Membuat seseorang mulai meragukan dirinya sendiri, meskipun ia tahu ia sudah berusaha sekuat tenaga.
R pernah berkata kepada saya,
โ€œYang bikin capek itu bukan lamaran ditolak, tapi rasa kayak kita nggak ada gunanya.โ€
Kalimatnya singkat, tapi dampaknya sangat dalam.

Pengangguran Sarjana Bukan Masalah Individu, Tapi Masalah Struktur

Sering kali masyarakat melihat pengangguran sebagai kesalahan pribadi: kurang usaha, kurang doa, kurang relasi. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Ada persoalan di sistem pendidikan, persoalan industri yang tidak merata, persoalan koneksi, bahkan situasi ekonomi nasional. Tapi yang tetap disalahkan hanya satu: individu.
Jika satu atau dua orang mengalami kegagalan, mungkin bisa disebut malas. Namun jika jutaan sarjana berada dalam kondisi yang sama, itu bukan lagi persoalan kemauan. Itu adalah tanda bahwa ada yang pincang dalam sistem kita.
Kita Butuh Lebih Banyak Jalan, Bukan Lebih Banyak Penghakiman
Bukan berarti tidak ada harapan. R perlahan mulai bangkit. Ia mengikuti pelatihan, mempelajari keterampilan baru, membangun portofolio, dan mencoba pekerjaan lepas walau dari hal kecil. Ia tidak menyerah. Tapi semua itu harus ia cari sendiri, di luar sistem resmi yang seharusnya mendukungnya setelah lulus.
Dari sini saya menyadari satu hal:
Sarjana itu tidak gagal. Yang gagal adalah sistem yang tidak menyiapkan jalan setelah toga dilepas.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menyalahkan individu, dan mulai bertanya lebih serius:
Apa yang bisa kita perbaiki bersama dari sistem pendidikan dan dunia kerja kita?
Trending Now