Konten dari Pengguna
Ketika Bahasa jadi Pagar: Memahami Eksklusivitas dalam Walikan
7 November 2025 9:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Bahasa jadi Pagar: Memahami Eksklusivitas dalam Walikan
Bahasa walikan bukan sekadar permainan kata, melainkan juga simbol identitas dan resistensi budaya lokal di era digital. #userstoryMuhammad Wildan Suyuti
Tulisan dari Muhammad Wildan Suyuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi yang menyapu Indonesia, ada fenomena linguistik unik yang masih bertahan hingga kini: bahasa walikan. Lebih dari sekadar permainan kata-kata atau keunikan fonetik semata, bahasa walikan adalah manifestasi kompleks dari kebutuhan akan komunikasi rahasia, identitas komunitas, dan resistansi budaya yang dikemas dalam bentuk kreativitas berbahasa. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan bagaimana bahasa bisa menjadi alat sekaligus simbol dari dinamika sosial yang lebih luas.
Fungsi Kerahasiaan dalam Konteks Sosial
Bahasa walikan pada dasarnya adalah sistem enkripsi analog yang lahir dari kebutuhan praktis akan komunikasi tersembunyi. Koentjaraningrat (1974) pernah menegaskan bahwa bahasa merupakan cermin dari kebudayaan, tempat nilai-nilai masyarakat tersimpan dan diwariskan. Walikan adalah salah satu bentuk kreativitas budaya yang mencerminkan kebutuhan masyarakat akan ruang komunikasi eksklusif.
Secara historis, kemunculan bahasa walikan erat kaitannya dengan konteks perlawanan dan strategi bertahan hidup. Pada masa kolonial dan revolusi, para pedagang dan pejuang kemerdekaan membutuhkan cara berkomunikasi yang tidak mudah dipahami pihak lawan. Walikan menjadi solusi brilian sederhana, tetapi efektif. Yang menarik adalah, meski konteks politik sudah berubah drastis, fungsi kerahasiaan ini tetap relevan hingga hari ini.
Dalam kehidupan sehari hari, beberapa pedagang menggunakan walikan untuk membicarakan harga atau strategi dagang tanpa pelanggan mengerti. Komunitas tertentu menggunakannya untuk menjaga privasi percakapan di ruang publik. Ini adalah bukti bahwa kebutuhan akan komunikasi rahasia bersifat universal dan melampaui konteks historis tertentu.
Bahasa sebagai Penanda Identitas Kolektif
Fishman (1991) dalam karyanya Reversing Language Shift mengingatkan bahwa kehilangan bahasa adalah kehilangan budaya, dan kehilangan budaya adalah kehilangan identitas. Pernyataan ini sangat relevan ketika kita membahas bahasa walikan. Kemampuan berbahasa walikan bukan sekadar keterampilan linguistik, melainkan penanda keanggotaan dalam komunitas tertentu.
Woolard (1998) menekankan bahwa bahasa mengandung ideologi, cara pandang, dan nilai-nilai yang dibawa dalam setiap penggunaannya. Walikan membawa ideologi komunalisme dan eksklusivitas. Ketika seseorang fasih berbahasa walikan, ia langsung dikenali sebagai bagian dari komunitas lokal, bukan pendatang atau orang luar. Ini menciptakan boundary marker yang jelas antara "kita" dan "mereka".
Penting dicatat bahwa boundary ini bukan hanya tentang eksklusivitas negatif yang menolak orang luar. Lebih dari itu, ini adalah mekanisme untuk memperkuat kohesi internal dan rasa memiliki bersama. Dardjowidjojo (2003) menjelaskan bahwa aspek sosiologis dalam kebijakan bahasa sangat krusial dan walikan adalah contoh sempurna bagaimana bahasa memenuhi kebutuhan sosiologis komunitas.
Resistansi Budaya di Era Digital
Di era algoritma yang mampu menerjemahkan ratusan bahasa dalam sekejap mata, keberadaan bahasa walikan menjadi semacam anomali yang menarik. Harari (2018) menggambarkan fenomena "kolonialisasi digital" yang mengubah lanskap kebahasaan global. Platform digital cenderung menghomogenkan bahasa dan cara berkomunikasi. Di tengah tekanan homogenisasi inilah, bahasa lokal seperti walikan menjadi bentuk resistansi budaya yang tidak terucap, tetapi sangat nyata.
Hagège (2009) mengingatkan bahwa ketika suatu bahasa hilang, cara berpikir dan melihat dunia yang unik juga ikut hilang. Walikan adalah cara berpikir kreatif yang menolak untuk tunduk pada standardisasi. Ia adalah bukti bahwa kreativitas lokal masih memiliki ruang untuk bernapas, bahkan ketika tekanan globalisasi semakin kuat.
Namun, tantangannya juga nyata. Generasi muda lebih terpapar bahasa gaul nasional dan istilah istilah digital yang datang dari platform media sosial. Revolusi bahasa yang dijelaskan Woolard (1998) sedang terjadi pergeseran fundamental dalam cara bahasa digunakan, dinilai, dan dipahami. Pertanyaannya kemudian: Apakah walikan bisa bertahan dalam revolusi ini?
Strategi Pemertahanan yang Organik
Pelestarian bahasa walikan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan nostalgik atau artifisial. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa bahasa adalah isi dari kebudayaan itu sendiri, bukan sekadar alat. Artinya, walikan harus tetap hidup dalam konteks yang organik, bukan dipaksakan dalam situasi yang tidak natural.
Beberapa komunitas kreatif sudah menunjukkan jalan yang menarik: mengintegrasikan walikan ke dalam konten digital, merchandise, dan identitas brand lokal. Ini bukan pelestarian museum yang kaku, melainkan adaptasi yang dinamis. Walikan tidak perlu dipertahankan dalam bentuk yang sama persis dengan masa laluβia boleh berevolusi selama esensinya tetap terjaga.
Han (2020) mengkritisi bahwa komunikasi digital menghapus kesakralan. Dalam konteks walikan, kesakralan itu adalah nilai komunalitas, kreativitas, dan identitas lokal yang melekat padanya. Selama nilai-nilai ini masih dibutuhkan masyarakat, walikan akan menemukan caranya sendiri untuk bertahan.
Pramoedya Ananta Toer pernah menyebut bahasa sebagai "pendekar budaya, benteng terakhir dari sebuah identitas". Bahasa walikan adalah salah satu pendekar yang masih tegak berdiri. Ia mengajarkan kita bahwa keberagaman linguistik bukan hanya tentang jumlah bahasa yang ada, melainkan juga kreativitas dan inovasi dalam berbahasa.
Di tengah invasi digital yang mengancam keunikan lokal, walikan membuktikan bahwa identitas budaya tidak harus mati ditelan modernisasi. Dengan strategi yang tepat dan adaptasi yang organik, bahasa-bahasa lokal seperti walikan bisa terus hidup bukan sebagai fosil masa lalu, melainkan entitas yang terus berevolusi bersama komunitasnya. Ini adalah pelajaran berharga tentang resiliensi budaya yang patut kita renungkan dan teladani.

