Konten dari Pengguna

Hanafi dan Krisis Identitas: Cermin Benturan Budaya dalam Salah Asuhan

Muhammad Yusran Andika
Saya mahasiswa yang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
26 Mei 2025 13:56 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hanafi dan Krisis Identitas: Cermin Benturan Budaya dalam Salah Asuhan
Hanafi digambarkan sebagai sosok ambisius yang terpesona oleh kemajuan dan kebebasan ala Barat, hingga ia meremehkan budaya dan nilai-nilai lokal. Konfliknya bermula ketika ia jatuh cinta pada Corrie,
Muhammad Yusran Andika
Tulisan dari Muhammad Yusran Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber gambar: https://www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: https://www.pexels.com
Sebagai pembaca, saya merasa Salah Asuhan karya Abdoel Moeis adalah sebuah novel yang menggugah pikiran karena mengangkat tema benturan budaya Timur dan Barat melalui tokoh utamanya, Hanafi. Dalam membaca kisah Hanafi, saya merasakan dilema batin yang ia alami ketika mencoba mengadopsi cara hidup Barat di tengah masyarakatnya yang masih memegang teguh adat dan tradisi. Konflik ini terasa relevan, bahkan hingga kini, karena menggambarkan kebingungan identitas yang kerap dialami banyak orang dalam menghadapi modernitas.
Tokoh Hanafi dalam novel ini menggambarkan seseorang yang terperangkap dalam kekaguman terhadap budaya asing, hingga kehilangan jati dirinya. Ia terdidik secara Barat dan merasa bahwa segala hal yang berasal dari Barat lebih unggul, termasuk dalam hal nilai dan gaya hidup. Sebagai pembaca, saya merasa simpati sekaligus kecewa terhadap pilihan-pilihannya, karena dalam usahanya mengejar gaya hidup modern, ia justru menjauh dari akar budaya dan nilai moral yang seharusnya menjadi fondasi hidupnya.
Yang membuat kisah Hanafi menarik adalah pergolakan batin yang ia alami sepanjang cerita. Ia bukan tokoh jahat, tetapi lemah dalam mempertahankan prinsip. Saat membaca, saya bisa merasakan betapa sulitnya bagi Hanafi untuk menyeimbangkan keinginannya dengan realita sosial yang mengikatnya. Keputusannya mencintai Corrie dan meninggalkan Rapiah menjadi gambaran nyata bagaimana bias terhadap budaya asing bisa menyesatkan seseorang yang tidak memiliki pijakan kuat.
Saya juga mengapresiasi bagaimana Abdoel Moeis menggambarkan kehancuran Hanafi secara perlahan. Penulis tidak memaksakan penyelesaian yang dramatis, tetapi membiarkan pembaca menyaksikan bagaimana pilihan-pilihan Hanafi membawa dampak besar bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Tragedi yang ia alami di akhir cerita menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mengenal dan menghargai budaya sendiri sebelum mengagungkan yang lain.
Kisah cinta segitiga antara Hanafi, Rapiah, dan Corrie juga menjadi simbol dari konflik yang lebih besar. Rapiah mewakili nilai-nilai lokal yang sederhana dan setia, sementara Corrie mencerminkan daya tarik budaya asing yang gemerlap namun rapuh. Saya sebagai pembaca merasa bahwa pilihan Hanafi untuk mengabaikan Rapiah menunjukkan betapa ia belum dewasa dalam mengenali cinta sejati dan nilai-nilai hidup yang bermakna.
Membaca Salah Asuhan juga membuat saya merenung tentang bagaimana pendidikan dan pengaruh luar bisa membentuk pola pikir seseorang. Hanafi bukanlah tokoh yang sepenuhnya salah, tetapi ia adalah produk dari lingkungan dan sistem pendidikan yang memuja Barat secara berlebihan. Opini ini menegaskan bahwa modernisasi yang tidak diiringi dengan kebijaksanaan justru bisa mencabut seseorang dari akar budaya dan moralnya.
Dari sudut pandang saya, Salah Asuhan bukan hanya kisah tragis tentang cinta yang gagal, tetapi juga kritik sosial terhadap penjajahan budaya yang lebih halus: penjajahan pola pikir. Novel ini menantang saya sebagai pembaca untuk berpikir ulang tentang apa arti kemajuan, dan apakah modernitas selalu identik dengan budaya Barat. Lewat Hanafi, saya belajar bahwa kehilangan identitas bisa berujung pada kehilangan arah hidup.
Secara keseluruhan, Salah Asuhan adalah novel yang kaya makna dan sangat relevan untuk dibaca lintas zaman. Hanafi adalah potret tokoh yang rapuh di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, dan kisahnya menyimpan banyak pelajaran tentang pentingnya memiliki prinsip, kesadaran budaya, dan keberanian untuk memilih jalan hidup yang bijak. Novel ini layak untuk terus dikenang dan dijadikan bahan renungan dalam memahami identitas bangsa dan diri sendiri.
Trending Now