Konten dari Pengguna

Part 3: Mengingat Kedekatan Wanita Desa dengan Diam

Muhammad Rojak Hidayat S,S
Sastra Indonesia - Kritik dan mengangkat kebenaran media berdasarkan analisis mendalam. "Bergerak dengan sastra, bertindak secara hukum."
29 Juli 2022 11:13 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Part 3: Mengingat Kedekatan Wanita Desa dengan Diam
Hati yang berduka dengan mengingat orang yang kita sayangi tidak peduli.
Muhammad Rojak Hidayat S,S
Tulisan dari Muhammad Rojak Hidayat S,S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
G ambar milik pribadi
zoom-in-whitePerbesar
G ambar milik pribadi
Masih tentangnya, mengenai ingatan saya terhadapnya. Berlanjut dari part 2 yang lalu, seakan membawa saya untuk terus menulis dengan cerita ini pada saat dengannya. Untuk itu saya tidak akan berhenti untuk menuangkannya di sini, dengan harapan bisa tercurahkan semua cerita agar dapat kalian rasakan betapa sulitnya melupakan seseorang yang kita sukai saat pandangan pertama.
Karena itu, sebisa mungkin saya akan melanjutkan setiap ceritanya saat bersamanya, dengan ingatan saya yang terombang-ambing di lautan rindu. Mudah-mudahan ia dapat membacanya, dan mau menambahkan, melengkapi pada cerita ini untuk lebih detailnya. Untuk itu, saya mengajak kalian semua untuk berbincang dikolom komentar, agar saya bisa menuangkan cerita yang terlupa saat itu.
Baiklah kalau begitu langsung saja kita coba untuk mengingat, dan siapa tahu saja bisa dapat dengan mudah terbit untuk menyimpan semua cerita ini agar bisa mengingatnya sewaktu-waktu. Dan semoga tidak ditolak oleh media karena betapa buruknya cerita saya ini, karena ini semua asli cerita yang saya alami saat itu dan pada saat bersamanya. Langsung saja pada part 3 sebagai berikut:
Masih mengenai tentangnya, ketika saya sudah bingung mau bagaimana lagi untuk bisa memperjuangkannya. Pada kesempatan masuknya kuliah saat tatap muka pada semester 4, seakan semua ide dan bisa dibilang semua cara ingin mencoba kembali dekat dengannya seakan goyah saat datangnya kabar ia telah dekat dengannya. Saya pun dengan sadarnya untuk mundur, dan hanya diam saja untuk itu.
Tentunya saya bukan menyerah semudah itu, melainkan saya cari waktu yang tepat agar semua itu dapat terealisasikan. Dengan cara saya yang berbeda, saya pun mencoba untuk sabar selama itu. Dengan harapan cara saya bisa berjalan lancar, saya pun menahan semuanya secara diam-diam seperti sebagaimana biasa saja, tentunya dengan perasaan yang membuat jantung semakin menggebu-gebu.
Namun saya risau, untuk mengenai seseorang yang kita sayang tentunya harus dengan ihklas. Karena saya tidak mau ada salah paham, takutnya nanti malah bermusuhan, bahkan saya pun ngerinya ia malah benci dengan saya. Dengan saya menanyakan hal tidak penting dan sebagainya, saya mencoba untuk bisa terhubung kembali dengannya. Namun semua itu sia-sia, dan ia tidak peduli untuk itu.
Karena itu, saya terus mencoba dengan hal-hal tidak penting lainnya, dengan harapan ia bisa mengerti dari semua cara yang saya lakukan untuknya. Merasa bodohnya saya sampai saya pun bisa dibilang jarang sekali dekat sama seseorang, dan saya lakukan untuknya. Yang saya kira bisa dimengerti, ternyata ia pun tetap biasa saja, dan bisa dibilang semakin bodoh amat dan tidak ada urusan untuk itu.
Seiring cerita yang saya ingat pada semester 4, ia pun masuk dan menjabat sebagai salah satu himpunan mahasiswa (HIMA). Tentunya itu membuat saya semakin jauh dengannya, dengan kesibukannya ia pun seakan tidak ada waktu untuk orang seperti saya. Karena itu saya pun semakin membara, terlebih ia lebih asik dengan dunianya sekarang. Seakan-akan sudah benar-benar lupa dengan ia yang dulu.
Meskipun saya tahu, ia sepertinya bukan orang yang seperti itu. Ia itu sebenarnya asik, baik, dan tidak sombong. Tentu semua itu bisa kita dapatkan asalkan kita salah satu teman terbaiknya, kalo bukan tentunya ia akan biasa saja. Karena realitanya pun saya dan kalian semua tentu bisa saja seperti itu, masa tidak kenal pura-pura asik. Menurut pandangan saya, gak tahu kalo aslinya seperti apa.
Sebagai mana saya mengenalnya sampai saat ini, ia itu tentunya jelas terlihat sangat baik, dan tidak sama sekali sombong untuk diajak berteman. Namun alangkah baiknya, kalau berteman dengannya tentu dengan kebaikan pula. Kalau saja sebaliknya, saya akan dengan senang hati untuk memukul siapa pun yang berani membuatnya sedih. Tanpa maksud lain, setidaknya ia teman di kelas saya.
Untuk sekarang yang bisa saya lakukan mungkin hanya sebatas teman kelas. Di luar itu saya bukanlah siapa-siapa untuknya. Karena fokusnya ia sudah terlanjur untuknya, di mana dia yang lebih dekat dengannya seperti yang sudah saya terangkan sebelumnya. Seakan hanya selembar kertas yang tidak terpakai, lalu dijadikan pesawat untuk membuangnya. Semoga, dapat diambil kembali pesawat itu.
Namun rasanya harapan itu sangatlah jauh sekali dari harapan si pesawat kertas, seakan tidak mungkin. Namun kertas akan terus berusaha dengan semua keajaiban dari semua jalannya yang tercurahkan. Meskipun semua hanyalah cerita dunia, setidaknya cerita itu sudah mampu menemani sejauh ini. Intinya, setiap usaha yang dilakukan dengan baik, maka akan ada sedikit hasil terbaik.
Selanjutnya saya akan mencoba menuangkan pada part 4, untuk mengingat semua cerita yang lalu membutuhkan waktu. Dengan itu semua dapat keluar dari kepala saya yang buntu, buntu akan hal tidak penting yang saya simpan begitu lama. Akhir kata, semoga kalian dapat menikmati sebagian cerita pada artikel ini. Dengan harapan, kalian semua berpendapat pada kolom komentar di bawah ini.
"salam satu aspal, nikmat sehat nikmat rejeki untuk kita semua".
Trending Now