Konten dari Pengguna
Jalan Sunyi ke Perpustakaan
16 September 2025 14:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Jalan Sunyi ke Perpustakaan
Hari kunjung perpustakaan refleksi jalan sunyi perpustakaan karena minat baca rendah, generasi muda perlu membangun literasi digital. perpusnas dorong tumbuhnya ekosistem literasi yang kuatMunawar Khalil N
Tulisan dari Munawar Khalil N tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita baru saja melewati hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap tanggal 14 September. Momentum ini lahir dari kesadaran akan rendahnya minat baca masyarakat. Berkunjung ke perpustakaan bertujuan untuk membangkitkan kegemaran membaca dan menanamkan tradisi menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik pengetahuan.
Namun sejak ditetapkan Presiden Soeharto melalui Surat Keputusan tanggal 14 September 1995, hampir 30 tahun yang lalu, pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini adalah, apakah perpustakaan sudah menjadi destinasi favorit bagi semua orang khususnya generasi muda, ataukah hanya sekadar situs sunyi yang menjadi destinasi segelintir orang?
Hasil survei Litbang Kompas pada pertengahan Agustus 2025 menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan. Dalam survei tersebut, ditanyakan seberapa sering responden mengunjungi perpustakaan dalam 12 bulan terakhir. Hasilnya, 67,4 persen tidak pernah, 19,4 persen berkunjung ke perpustakaan 1 โ 2 kali (sangat jarang), sebanyak 7,9 persen kadang-kadang berkunjung 3 โ 6 kali, dan hanya 4,8 persen yang sering atau lebih dari 6 kali berkunjung ke perpustakaan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa menuju ke perpustakaan masih seperti jalan sunyi yang tidak menarik bagi banyak orang. Meskipun di beberapa perpustakaan di pusat kota terdapat geliat literasi yang menunjukkan harapan. Seperti Perpustakaan Cikini dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang kerap dipadati pengunjung.
Pengalaman saya di Perpustakaan Cikini, di akhir pekan, antrean panjang menjadi pemandangan biasa. Ruang baca dipenuhi pengunjung yang sebagian besar nampaknya generasi muda. Bulan Mei 2025, Gubernur Jakarta Pramono Anung mengeluarkan kebijakan uji coba perpanjangan jam operasional perpustakaan dari semula tutup pukul 17.00 WIB menjadi 22.00 WIB.
Perpanjangan ini meningkatkan jumlah pengunjung mencapai 53 persen yang mencapai 3.200 di hari biasa dan 3.600 di akhir pekan. Meningkatnya jumlah pengunjung ini bukan hanya karena penambahan jam operasional, tetapi juga layanan yang ditata lebih ramah, serta fasilitas yang ditingkatkan, sehingga perpustakaan ini mampu menjadi magnet bagi publik.
Akan tetapi, tidak semua perpustakaan di Indonesia memiliki wajah seramai itu. Data Perpusnas tahun 2023 menunjukkan terdapat lebih dari 170 ribu perpustakaan di seluruh Indonesia. Meskipun dari sisi kuantitas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, namun sebaran dan kualitasnnya timpang. Banyak perpustakaan sekolah dan daerah tidak memiliki pustakawan profesional, koleksi buku yang mutakhir, ataupun ruang baca yang nyaman. Sebagian bahkan tidak memenuhi standar nasional perpustakaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.
Situasi ini menciptakan jurang yang cukup besar, di satu sisi ada perpustakaan besar yang menjadi pusat aktivitas literasi. Di sisi lain ada ribuan perpustakaan sunyi yang hadir hanya sekadar formalitas. Berada di antara ada dan tiada. Nyaris tanpa pengunjung.
Perkembangan teknologi digital dipandang sebagai solusi dari sepinya perpustakaan. Banyak perpustakaan membuka kanal digital dan dapat meluaskan jangkauan literasi ke masyarakat tanpa sekat wilayah bahkan waktu. Perpustakaan kini bisa diakses kapan dan dimanapun.
Akan tetapi, e-resource Perpusnas RI sebagai barometer perpustakaan menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, tren jumlah pengunjung atau pengakses daring e-resource menurun. Pada tahun 2019 sebanyak 536.758 pengunjung, turun drastis menjadi 448.809 pengunjung. Di masa pandemi, angka ini melandai di 444.023 pengunjung di tahun 2021 dan 432.422 pengunjung di tahun 2022. Lalu pada tahun 2023 dan 2024 terus menurun masing-masing 370.206 pengunjung dan 273.423 pengunjung.
Data ini menunjukkan bahwa penetrasi digital tidak serta merta meningkatkan minat baca masyarakat. Meskipun tetap saja, digitalisasi membuka peluang baru literasi dan menjadi tantangan tersendiri bagaimana agar mereka yang tumbuh di era digital (digital native) bisa membentuk budaya literasi baru berbasis digital di tengah rendahnya minat baca.
Hasil survei tingkat literasi dari PISA (Programme for Internasional Student Assesment) tahun 2023 menempatkan Indonesia di peringkat ke-70 dari 80 negara. Namun demikian, BPS mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) sebagai indikator dalam menilai minat baca mengalami pertumbuhan yang cukup baik. TGM di tahun 2024 sebesar 72,44 naik dari tahun sebelumnya sebesar 66,70.
Ini menjadi harapan bahwa sebetulnya, rendahnya minat baca tersebut, bisa jadi bukan karena dari individunya sendiri yang tidak mau berkembang, tapi lebih ke faktor eksternal, seperti ekosistem literasi yang masih belum terbentuk, kesempatan untuk mengakses buku-buku berkualitas kurang, termasuk di dalamnya fasilitas perpustakaan yang masih perlu ditingkatkan, hingga kurangnya komunitas literasi.
Sejatinya, individu itu sendiri sebetulnya punya rasa ingin tahu yang besar. Menurut Pramudya Oktavinanda, orang Indonesia itu punya rasa โkepoโ yang tinggi. Hanya saja, kepo itu digunakan ke hal-hal yang tidak produktif dan tidak membangun seperti gosip artis, hiburan, dan lain-lain. Ini harus dipecahkan dengan membangun budaya diskusi dan literasi yang kuat, sehingga kualitas percakapan publik kita bisa meningkat.
Coba kita lihat di sekeliling, jika anda mahasiswa berapa orang atau berapa persen teman anda yang baca buku, di luar buku wajib perkuliahan. Jika anda karyawan berapa persen atau berapa orang yang anda tahu punya kebiasaan membaca. Pengalaman subyektif saya, sangat-sangat minim. Bahkan bisa dihitung jari.
Ini sebetulnya alarm yang cukup besar bagi kita bahwa urusan literasi dan budaya baca sebagai problem serius yang mesti ditangani, tidak hanya oleh kelompok masyarakat, tapi peran โpengurus negaraโ - meminjam istilah mantan pimpinan KPK Chandra Hamzah - sangat penting dan strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945.
Selamat Hari Kunjung Perpustakaan!

