Konten dari Pengguna

Kebahagiaan Berganti Kesedihan, Pertemuan Berakhir dengan Perpisahan

Murdiono
Murdiono adalah dosen dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memiliki keahlian dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab
12 Oktober 2025 13:16 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kebahagiaan Berganti Kesedihan, Pertemuan Berakhir dengan Perpisahan
Kebersamaan Mahasiswa KSU di luar negeri menghadirkan tawa, diskusi, dan momen belajar yang membangun ikatan batin. Namun, dunia tidak pernah abadi: setelah menyelesaikan studinya, satu per satu mahas
Murdiono
Tulisan dari Murdiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap pertemuan meninggalkan jejak, dan setiap kebersamaan mengajarkan makna. Mahasiswa KSU yang menempuh studi di luar negeri merasakan pengalaman ini secara intens. Tawa bersama, diskusi akademik, kegiatan belajar dan berbagi pengalaman menjalin ikatan yang tak mudah dilupakan. Mereka menemukan teman, sahabat, bahkan keluarga baru dalam perjalanan studi mereka. Semua momen itu memberi kebahagiaan yang terasa penuh dan mendalam, seakan waktu berhenti sejenak untuk menikmati hangatnya persahabatan.
Namun, sebagaimana Allah tetapkan dalam sunatullah, tidak ada yang abadi di dunia ini. Setelah menuntaskan studinya, satu per satu mahasiswa KSU harus kembali ke Indonesia, meninggalkan kebahagiaan yang kini berganti kesedihan. Perpisahan yang datang membawa rindu, kenangan, dan refleksi batin yang mendalam.
Dok Penulis Perpisahan Mahasiswa KSU setelah menuntaskan pendidikan di luar negeri
zoom-in-whitePerbesar
Dok Penulis Perpisahan Mahasiswa KSU setelah menuntaskan pendidikan di luar negeri
Perpisahan dan Perspektif Psikologi Modern
Dari perspektif psikologi modern, perpisahan memicu proses emosional yang wajar. Teori attachment (Bowlby, 1980) menjelaskan bahwa manusia cenderung membentuk ikatan emosional yang kuat dengan orang-orang yang bermakna dalam hidupnya. Saat ikatan itu harus berpisah, muncul rasa kehilangan (grief) dan kesedihan. Namun, pengalaman ini juga penting untuk pertumbuhan emosional. Kesadaran bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah bagian dari kehidupan membantu manusia belajar mengelola emosi dan menerima ketidakkekalan dunia.
Konsep mindfulness juga relevan di sini. Dengan mempraktikkan kesadaran penuh terhadap momen perpisahan, mahasiswa dapat menyimpan kenangan indah tanpa terjebak dalam kesedihan. Mereka belajar merayakan momen kebersamaan dan menerima bahwa setiap pertemuan pasti ada akhirnya.
Sastra dan Hikmah Perpisahan
Dalam sastra dan filsafat, perpisahan sering digambarkan sebagai awal dari perjalanan baru. Rumi menulis, โ€œSetiap perpisahan adalah kelahiran yang lain; setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru.โ€ Kutipan ini mengajarkan bahwa kesedihan bukan sekadar kehilangan, tapi kesempatan untuk refleksi, pembelajaran, dan pertumbuhan jiwa.
Bagi Mahasiswa KSU, kenangan kebersamaan tetap hidup sebagai catatan batin yang berharga. Setiap diskusi, canda, dan kerja sama dalam proyek akademik menjadi fondasi bagi hubungan yang abadi dalam ingatan. Perpisahan hanyalah fisik; ikatan emosional dan spiritual tetap hidup meski jarak memisahkan.
Menerima Sunatullah dalam Kehidupan
Perjalanan mahasiswa KSU mengingatkan kita bahwa dunia ini sementara. Kebahagiaan berganti kesedihan, pertemuan berakhir dengan perpisahanโ€”itulah sunatullah yang Allah tetapkan. Kehidupan mengajarkan manusia untuk menghargai setiap detik kebersamaan, menerima perubahan, dan menyimpan kenangan dengan lapang dada.
Dengan memahami hikmah ini, manusia mampu menghadapi kesedihan tanpa kehilangan harapan. Mereka belajar bahwa setiap akhir bukanlah kehilangan total, melainkan pembuka jalan bagi pengalaman baru, pertumbuhan pribadi, dan pemaknaan lebih dalam tentang hidup.
Refleksi Akhir
Ketika Mahasiswa KSU kembali ke Indonesia, mereka membawa lebih dari ijazah. Mereka membawa kenangan, persahabatan, dan hikmah dari setiap pertemuan dan perpisahan. Dunia mungkin tak abadi, tetapi pengalaman dan pembelajaran dari kebersamaan tetap hidup, membentuk manusia yang lebih matang dan bijaksana.
Hidup ini penuh siklus: kebahagiaan berganti kesedihan, pertemuan berakhir dengan perpisahan, dan melalui itu semua, kita belajar menerima sunatullah dengan hati yang lapang dan jiwa yang damai.
Trending Now