Konten dari Pengguna

Kekuatan Manusia: Dari Air Mata Menuju Ketahanan dan Pemulihan Diri

Murdiono
Murdiono adalah dosen dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memiliki keahlian dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab
14 Oktober 2025 11:34 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kekuatan Manusia: Dari Air Mata Menuju Ketahanan dan Pemulihan Diri
Artikel ini mengulas makna sejati dari kekuatan manusia: bukan ketegaran tanpa air mata, melainkan kemampuan untuk bangkit setelah jatuh berkali-kali. Dalam perspektif agama Islam, menangis bukan tand
Murdiono
Tulisan dari Murdiono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam perjalanan hidup, banyak dari kita memaknai kekuatan sebagai ketegaran tanpa cela—tidak menangis, tidak rapuh, tidak goyah. Namun, sejatinya kekuatan bukanlah ketiadaan air mata, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri setelah badai mengguncang. Dalam kesedihan dan keterpurukan, justru di sanalah manusia menemukan hakikat ketahanan diri.
Ilustrasi Seorang pria bangkit dari jatuh, menatap ke depan dengan semangat dan tekad, simbol kekuatan dan ketabahan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seorang pria bangkit dari jatuh, menatap ke depan dengan semangat dan tekad, simbol kekuatan dan ketabahan
Menangis dalam Pandangan Agama: Tanda Kehalusan Hati
Dalam Islam, menangis bukanlah simbol kelemahan. Rasulullah Sollallahu alaihi wasallam sendiri pernah menangis—ketika kehilangan orang yang dicintai, saat berdoa di malam hari, dan ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan:
“Sesungguhnya mata menangis, hati bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai oleh Allah.”
Tangisan, dalam makna spiritualnya, adalah ekspresi kejujuran batin dan bentuk penyerahan diri kepada Allah Subhana wata‘ala. Menangis menunjukkan bahwa hati masih hidup, masih peka terhadap ujian, dan tidak terperangkap dalam kesombongan. Seorang mukmin sejati bukanlah yang menolak kesedihan, tetapi yang menundukkan egonya di hadapan takdir, lalu bangkit dengan doa dan tawakal.
Dalam Lensa Sastra: Kekuatan yang Lahir dari Luka
Sastra sering kali menjadi cermin kehidupan yang paling jujur. Dalam banyak karya besar—dari puisi Jalaluddin Rumi hingga sajak Chairil Anwar—kekuatan justru muncul dari penderitaan. Rumi menulis,
“Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”
Kata-kata ini mengajarkan bahwa setiap luka bukan akhir, tetapi awal dari proses pemurnian jiwa. Sementara Chairil Anwar dalam puisinya yang legendaris “Aku” menegaskan semangat hidup yang tak mau tunduk, bahkan ketika tubuh dan waktu bersekongkol melawan:
“Aku mau hidup seribu tahun lagi.”
Sastra menyadarkan kita bahwa tangisan adalah bagian dari narasi manusia. Orang yang kuat bukan tokoh tanpa air mata, melainkan mereka yang belajar berdamai dengan luka, menjadikannya sumber energi untuk melangkah lagi.
Resiliensi dan Kekuatan Psikologis
Dalam psikologi modern, konsep resilience atau ketahanan mental menjadi kunci memahami makna kekuatan sejati. Psikolog Amerika, Emmy Werner, yang dikenal sebagai pelopor studi tentang resiliensi, menemukan bahwa individu yang mampu “bangkit kembali” setelah menghadapi trauma memiliki tiga ciri utama:
Makna hidup yang kuat – mereka percaya bahwa setiap peristiwa memiliki tujuan.
Hubungan sosial yang sehat – dukungan dari orang lain memperkuat daya tahan mental.
Kemampuan adaptasi – mereka mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Teori ini sejalan dengan ajaran Islam tentang ṣabr (kesabaran) dan tawakal (ketergantungan kepada Allah). Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk tetap bergerak maju meski tertatih. Tawakal bukan menyerah, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah berjuang sepenuh hati.
Bangkit dari Jatuh: Jalan Panjang Menuju Kedewasaan
Hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada masa di mana manusia jatuh dalam kekecewaan, kehilangan, atau kegagalan. Namun, setiap kali jatuh, manusia diberi dua pilihan: menyerah atau bangkit. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap penderitaan selalu diiringi harapan. Tak ada kesulitan yang abadi, sebagaimana tak ada kesenangan yang kekal. Kekuatan manusia terletak pada kemampuannya menemukan makna di tengah badai, bukan hanya pada keberhasilannya berdiri di puncak.
Air Mata dan Kekuatan: Dua Sisi dari Kemanusiaan
Menangis tidak menghapus keberanian, justru memperlihatkan sisi paling manusiawi dari kekuatan itu sendiri. Air mata adalah bahasa hati yang tidak bisa diterjemahkan oleh logika. Ia adalah pengakuan bahwa kita pernah lemah, tetapi tidak berhenti berusaha.
Dalam dunia yang sering menuntut kesempurnaan, mengakui keletihan adalah bentuk keberanian. Orang yang kuat bukan mereka yang selalu tersenyum di atas luka, tetapi mereka yang berani mengakui kesedihan dan tetap melangkah.
Kekuatan yang Tidak Bersuara
Kekuatan sejati tidak selalu berteriak lantang. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana—dalam diamnya seseorang yang tetap berdoa meski hatinya hancur, dalam keteguhan seorang ibu yang tetap tersenyum meski kehilangan, atau dalam langkah kecil seseorang yang memilih untuk mencoba lagi hari ini.
Mereka inilah orang-orang kuat yang sejati: bukan karena mereka tidak pernah menangis, tetapi karena setiap kali air mata jatuh, mereka menatap langit dan berkata,
“Aku akan bangkit lagi, dengan izin Allah.”
Trending Now